RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Jalan Yang Salah


Maura terus berjalan melangkah tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri, diapun tak perduli dengan segala suara teriakan meminta tolong, dia sadar dimana dia sekarang ini, entah itu neraka, atau lubang hitam tempat para tumbal atau jiwa-jiwa manusia yang tersesat lainnya, dia tak tahu pasti, yang jelas tempat itu sangat mengerikan.


"Tempat apa lagi ini?" gumamnya.


Dia sekarang sudah keluar dari lubang itu, dan sekarang dia berada di padang pasir yang begitu gersang. Sinar cahaya matahari atau apapun itu sangat menyilaukan, dan juga menyengat kulit. Mendadak tenggorokan begitu kering, dia terus berjalan tanpa arah dan berusaha mengikuti arah angin yang datang begitu kencang.


Angin panas yang sesuai dengan keadaan cuaca dan situasi tempat itu, kemudian Maura melihat ada seseorang menaiki sebuah kuda besar dan hitam, orang itu memiliki mata merah menyala dengan tatapan aneh, dia memakai pakaian seperti dari timur tengah, lengkap dengan sorbannya, yang sebagian menutup mulutnya, hanya menyisakan mata merah dan kulit hitam legam seperti terbakar itu.


Makhluk itu menaiki kuda sambil menarik sesuatu ditangannya, sosok itu memegang tali panjang dan besar yang diikatkan kepada orang-orang yang berbaris mengikutinya, puluhan manusia dalam keadaan mengenaskan mengikutinya dengan pasrah, hanya memakai kain jarik dipinggang sampai selutut, tanpa alas kaki menginjak pasir panas bagaikan para api, dengan badan penuh luka seperti terbakar, sedangkan sosok itu hanya menatap lurus ke depan, dia tak memegang tali kekang, karena kedua tangannya memegang tali dan juga cambuk disebelahnya.


Kuda itu yang menuntut mereka entah pergi kemana, Maura menatap kepergian mereka antara ngeri, sedih dan juga marah. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, karena ini bukan wilayahnya, dia tak bisa berbuat seenaknya.


"Sekarang apa lagi," gumamnya lagi.


Dan seiring datangnya angin begitu kencang menerpanya, saat dia berusaha menghalau angin yang ingin menghempaskannya, dia tak sadar jika dia sudah beralih tempat lagi, kali ini hutan belantara yang begitu rimbun, gelap dan dingin.


"Gggrrr.."


Maura mendengar suara geraman dibalik rerimbunan semak-semak belukar didepannya, seekor macan tutul keluar dari sana, melompat kearahnya. Maura diam tak bergeming, dia yakin makhluk itu tidak akan memperdulikan kehadirannya di sana seperti yang sebelum-sebelumnya.


Tapi dugaannya ternyata salah ketika sosok macan tutul itu mulai menatapnya tajam, berjalan memutar mengelilinginya. Maura mulai was-was, apa dia harus bersiap jika ada sebuah serangan?


"Ggraaarrgh!!"


Macan itu mengaum kencang menimbulkan sebuah reaksi yang mengerikan didalam hutan itu, semua penghuninya menyahuti suaranya dengan berbagai suara aneh lainnya, dan itu semuanya adalah suara binatang-binatang mengerikan.


"Baiklah, sepertinya ini akan dimulai dari sini!" gumamnya lagi.


Dia tak menunggu lebih lama lagi, menggunakan waktu yang sedikit itu berlari menjauhi macan tutul itu, dan berlari menuju tempat yang menurutnya lebih aman dibandingkan tempat ifu tadi, sekali lagi dugaannya salah.. Kini dihadapannya ada seekor ular raksasa, menggeliat bergelung di pohon besar didepan Maura, Maura bagaikan kelinci kecil dimatanya, sebuah mangsa yang mudah.


"Sssst... Sssst!"


Ular itu berdesis berlahan mendekati Maura, makhluk itu menatap Maura dengan tajam, mencoba menghipnotisnya tapi gadis itu bukanlah lawan yang mudah baginya, dalam keadaan genting seperti itu Maura langsung menarik kondenya yang masih menancap di rambutnya.


Craaass!


Dia menancapkannya tepat di moncong ular itu, sebelum ular itu membuka mulutnya lebar-lebar untuk melahap dirinya.


"Grrr.. Ssst!"


Ular itu langsung berdesis kesakitan, Maura langsung melompat keatas kepala ular itu, dia berusaha menarik kembali kondenya dari moncong ular itu.


Dia juga harus menyeimbangkan diri di atasnya, karena ular itu terus menggeliat berusaha mencoba melepaskan diri dari tusukan konde tajam dan beracun baginya, dan Maura juga harus bertahan di sana karena tubuh sosok melata itu terus menggeliat kesakitan.


"Aaarrgh!" teriak Maura sambil menarik kuat kondenya dari moncong ular itu.


Konde itu langsung terlepas dan Maura juga terhempas dari atas kepala ular itu, dia terlempar cukup jauh. Ular itu langsung menggelepar sesaat cairan hijau kental berlendir keluar dari moncongnya, dan ular itupun berhenti bergerak, mati.


Tiba-tiba angin kencang bertiup dari segala arah, suara-suara aneh terus berdatangan, entah suara tawa, tangisan, teriakan, lolongan, orang bergumam, bahkan terdengar juga beberapa suara-suara binatang yang mengeluarkan suaranya juga.


Hutan semakin gelap, dingin dan mendadak sunyi. Pohon besar tempat ular tadi bersarang, tiba-tiba bergerak dan membuat sebuah lubang hitam ditengahnya, Maura belum bisa mencerna apa yang akan terjadi selanjutnya, dan..


"Siapa yang berani-beraninya telah memasuki wilayahku?! Siapa yang telah mengusik ketenanganku?! Siapa yang telah membunuh penjagaku?!!" terdengar suara berat berteriak dengan suara begitu murka.


Maura tercengang, dia tak menyangka kalau saat ini dia berada ditempat asli pohon keramat itu, pohon Gaharu. Pohon itu hidup, akar-akar yang menancap ditanah mencuat keluar dan menyerang apa saja didepannya, akar itu mengangkat bangkai ular raksasa itu dan meletakkannya diatas dahan-dahan pohonnya.


Kemudian pohon itu berhenti mengamuk, dia seperti sedang mengamati sesuatu, akar-akar itu menjalar seperti sedang mencari sesuatu, seolah akar-akar itu seperti signal yang mencari mangsanya, Maura bersembunyi dibalik pohon besar lainnya, seketika dia bingung tidak tahu harus apa.


"Aku sudah di depan pohon ini, seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya aku berada di sebuah sungai dibalik hutan ini, dan aku akan melakukan ritual pemanggilan semua makhluk masuk dan terperangkap di dunia ini, dan membuat jebakan untuk mereka, agar besok malam mereka tidak bisa keluar dari dunianya selama-lamanya.


Tapi aku salah langkah, bukannya berlari kearah sungai malah kearah pohon ini berada, terpaksa aku harus melakukan ritual itu disini saja. Kepalang tanggung, aku juga tak bisa kemana-mana lagi," ujar Maura.


Dia mulai duduk bersila, memegang kondenya dengan erat sambil melafalkan beberapa mantra yang dia pelajari dari Phoem.


Cress!


Maura menggores sedikit tangannya dengan kondenya itu, dan meneteskannya dipohon tempat dia bersembunyi itu, sebagai media perangkap bagi para demit itu.


Dan salahnya dia, tak menyadari jika dia harus memiliki pantangan yaitu untuk tidak terluka, karena bau darahnya itu mampu memancing semua makhluk ada di dunia itu, tanpa melakukan ritual apapun, dengan darahnya saja sudah cukup untuk memancing mereka semua.


Seharusnya, ritual itu dilakukan di sungai dekat hutan itu, karena sungai itu memiliki sebuah penangkal ataupun sesuatu yang bisa melindungi Maura dari serangan para demit itu, karena sungai itu sendiri adalah perbatasan antara dunia demit dan dunia manusia.


"Ahahaha! Anak gadesku lah datang, menyerahkan diri dengan cara yang tak biasa! Baiklah, aku takkan menghukummu karena telah membunuh Mahesa, ular penjagaku! Tapi sebagai gantinya serahkan darah perawanmu, maka kau kumaafkan!" ujar Pohon itu.


Maura sadar ada yang tak beres ini, dan dia yakin dia telah melakukan kesalahan besar. Dari kejauhan sudah terlihat beberapa jenis iblis dan jin melayang, berlari cepat menuju kearahnya, mereka seperti sedang berburu harta karun, dan harta karun itu adalah Maura itu sendiri.


Di dimensi lain, tiba-tiba Kerajaan Bayangan bergetar hebat. Semua penghuninya begitu panik, semua para pengawal dan prajurit sedang bersiap menunggu perintah sang ratu, Ratu Kenanga Ungu. Karena Maharaja BalaputraDewa memutuskan untuk segera pergi menghadap langit bersama putri Dadar Bulan, Dewi Srikandi terdahulu, maka tahta selanjutnya putri Mahkota yang akan menggantikannya menjadi ratu dan mengawasi semuanya.


"Kalau sudah seperti ini, pasti ada sesuatu yang menimpa Dewi Srikandi! Panggil semua prajuritnya dan suruh mereka melacak keberadaannya! Aurora, temui panglima Arialoka, sampaikan padanya jika nyawa Dewi Srikandi dalam bahaya, segera!" perintahnya cepat.


Kemudian dengan kecepatan penuh Aurora terbang melayang menghampiri panglima Arialoka yang sedang berjaga didepan rumah Ardian, makhluk kayangan itu biasanya terlihat lembut dan anggun, kali ini dia terlihat begitu gagah dan perkasa, murka terlihat jelas diwajahnya.


"Jangan pernah ada yang berani menyentuh putriku!" teriaknya sambil mengepakan sayap lebarnya, seketika angin kencang meniup bumi bagaikan badai akan datang, jika Aurora sudah murka, maka habislah..


......................


Bersambung