
"Maura, sudah selesai! Terima kasih ya udah temani ibu sekaligus bantuin juga, ya udah.. Ini udah sore banget, kamu boleh pulang sekarang.." ujar bu Desy ke Maura.
"Iya, bu.. Permisi," ucap Maura.
Dia keluar dari kampus, langit sudah hampir mau gelap saja, ternyata cukup lama mereka membersihkan tempat itu hingga benar-benar bersih dan rapi.
"Ugh, badanku capek dan pegal-pegal.. Huft, seharusnya aku sudah pulang dan beristirahat tapi ini masih berada disini.." gumamnya sambil melangkah keluar dari gerbang kampusnya.
Dibalik pohon besar tidak jauh dari pos security ada sosok lain yang sedang memperhatikan Maura, sosok yang memiliki sayap besar dan berbulu. Entah datang dari mana, ada burung besar mirip dengan burung Phoenix, berbulu perak kehijauan dengan sedikit biru di sayapnya, begitu indah dan cantik.
Tapi tidak dengan mata dan sifatnya yang agresif, matanya menatap tajam kearah Maura dengan pandangan menyelidiki. Dia terbang naik keatas lebih tinggi daru atas awan gelap sambil mengamati Maura dari kejauhan.
Pandangannya yang begitu tajam bisa menebus dibalik awan gelap itu, dia lebih leluasa mengawasi Maura dari atas langit senja itu.
"Kok aku merasa ada yang aneh, kayak ada yang memperhatikan aku.." gumam Maura sambil celingukan tapi dia tak menemukan orang ataupun makhluk lain disekitarnya.
"Maura, sini!" ternyata didepan gerbang sudah ada Ardian yang menunggunya.
"Kamu kok disini?" tanya Maura bingung.
"Aku dari tadi nungguin kamu, aku hubungi tapi telponnya gak diangkat.." jawab Ardian sambil memberikan helm kepada Maura.
"Aku tadi mau pulang, tapi malah dipintai tolong sama bu Desy buat bantuin dia beberes ruangan G, gak tau buat apaan.." ucap Maura memberikan penjelasan.
"Oh, mungkin sinyalnya kurang dapet dari sana. Itu kan ruangannya lumayan jauh dan terisolir dari ruangan lain, untung ketemu sama Ichan tadi, jadi aku gak perlu muter-muter nyariin kamu.." ujar Ardian bersiap pulang bersama Maura.
"Oo, iya! Yuk, pulang.." ucap Maura lagi.
Kemudian mereka pulang dengan diiringi oleh burung Phoenix tadi yang masih diatas pohon, tiba-tiba..
Jhegeeerr!
Kilat datang hampir menyambar burung itu, dan tentu saja itu mengagetkan Maura dan Ardian juga orang-orang disekitarnya, mereka pikir akan hujan dan sedikit mengebut jalannya.
"Apa yang kau lakukan, kau menghalangi buruanku!" bentak burung Phoenix itu kepada sosok ular besar yang terbang menghampirinya.
Pergulatan tak bisa dihindari, pada dasarnya hukum alam, ular takkan bisa mengalahkan burung, malah ular menjadi santapan burung. Tapi tidak bagi mereka, pertarungan seimbang yang sedang terjadi saat ini.
Kemudian burung itu turun dari langit dan hinggap disalah satu dahan pohon didalam kampus Maura. Sedangkan ular tadi turun dan berubah menjadi sosok ular setengah manusia, menatap tajam kepada burung yang masih bertengger diatas pohon.
"Aku tidak menghalangimu, tapi aku datang untuk memperingatimu! Ingat, tempat ini adalah dunia kita dan kita takkan bisa keluar dari sini, sampai hukuman kita selesai dan sang Penguasa mengampuni kita.
Aku tak perduli jika kau terluka hangus terbakar oleh petir itu tadi, tapi kau harus tau jika kau ketahuan menyusup keluar, maka hukumannya akan bertambah dan tidak ada ampun dari sang Penguasa, dan kau tau betul itu juga berdampak denganku!" ujar Garaga, si siluman ular.
"Hahaha, alasan! Katakan saja jika kau tak terima jika mangsamu mau aku ambil! Dengar, dari fisikku saja aku lebih unggul darimu. Manusia lebih tertarik dengan makhluk sepertiku dibandingkan wujudmu yang mengerikan itu, maka tak susah bagiku memikatnya dibandingkan dengan kau!" ucap burung Phoenix itu.
Setelah itu burung Phoenix tadi turun dan berlahan sinar terang menyelimutinya, dan wujud burung itu berubah menjadi sosok lelaki bak pangeran dari negeri dongeng. Rambutnya yang sebahu dengan warna perak berkilauan dengan sedikit warna hijau kebiruan seperti warna bulu sayapnya, kulit seputih salju dengan memakai pakaian berjubah besar mirip dengan sayap dan bulunya.
"Disini kau memang paling berkuasa, tapi kekuatanmu tak lebih besar dibandingkan denganku! Apa jadinya jika sang Phoenix anggun dan berkuasa tak memiliki kharisma, apa kau mau dianggap makhluk rendahan oleh yang lain?" tanya Garaga sambil memandangi sosok itu dengan tajam.
"Bukankah aku dan kau sudah rendah dimata mereka, kenapa kau masih mengkhawatirkan itu?" tanya Phoem, sang burung Phoenix.
"Jika kau mau bersabar sedikit, kita pasti bisa melewati ini semua dan keluar dari kurungan ini.." jawab Garaga sambil pergi meninggalkan Phoem yang masih menatapnya tajam.
Garaga dan Phoem berjalan berlawanan arah dengan pikiran masing-masing, pikiran yang mengingatkan mereka tentang masa lalu yang membuat mereka jadi seperti ini.
Puluh ribuan tahun yang lalu, jauh sebelum Kerajaan Sriwijaya belum dikuasai oleh penguasa raja-raja yang bersatu menyerang para penyihir, dimana saat itu Kerajaan dan rakyatnya masih hidup makmur, datanglah seorang ahli sihir menghadap ke raja iblis dibawah kerajaan bawah tanah, tepatnya diatas kerak bumi diatas neraka, dia meminta pertolongan berupa kekuatan, kekayaan dan kekuasaan.
Raja iblis itu memiliki seorang anak buah yang setia, yaitu seekor ular raksasa yang memiliki kekuatan yang luar biasa, dengan segala kekuatannya dia bahkan mampu menghancurkan manusia dalam sekejap.
Sementara itu, di Kerajaan Langit. Seorang utusan sang Penguasa meminta salah satu jendral terbaiknya yang berwujud burung Phoenix untuk menggagalkan rencana mereka untuk menguasai bumi dan menghancurkan manusia, dan bisa ditebak jika raja iblis dari kerajaan bawah tanah merupakan musuh bebuyutan dari sang Penguasa dari kerajaan langit.
Disaat ular raksasa itu sedang dalam perjalanan menuju dunia manusia, menjalankan tugasnya dia dicegat oleh burung Phoenix dan pertarungan tak terelakkan. Sang Penguasa meminta burung Phoenix untuk menangkap dan mengintrogasi sang ular, untuk menanyakan tujuannya yang sebenarnya.
Tapi sang burung yang memiliki ego yang tinggi tak ingin terlihat lemah dan kalah dihadapan ular itu, maka dia melakukan pertarungan sampai masing-masing terluka, hingga sang burung berhasil membawa ular tersebut kedalam istana langit.
"Apa yang kau lakukan?! Apa kau ingin melanggar perintahku? Kau ingin mengubah peraturan yang aku buat?! Kenapa kau kembali dalam keadaan terluka dan membawanya seperti seorang tahanan kejam?!" sang Penguasa terlihat murka.
"Urusan manusia bukan jadi prioritas kita, sudah hukum alam jika manusia akan dihadapkan dua hawa nafsu, entah itu nafsu duniawi atau nafsu spritual. Dengan adanya penyihir dan iblis itu, maka dianggap sebagai ujian bagi mereka.
Urusan kita adalah untuk menjaga keamanan, kenyamanan dan ketenangan kerajaan ini tanpa harus melibatkan diri dari mereka, tujuanku mengutusmu adalah untuk mengawasi mereka agar tidak melibatkan Langit dalam urusannya, aku hanya ingin tau urusan mereka apa, itu saja!" ucap sang Penguasa, yang sedari tadi menatap tajam kearahnya dan ular itu yang terkurung dalam sangkar dari sejumlah kekuatan energi yang dibuat oleh burung itu.
Yang sebenarnya adalah sang Penguasa tak ingin Jenderalnya gelap mata dan lupa diri akan dirinya, dan melupakan tujuan utama mereka, yaitu melindungi bumi dan seisinya, termasuk manusia, tapi dia tidak ingin mengatakan hal itu didepan panglima ular karena akan melanggar aturannya sendiri dalam menjaga rahasia kerajaan.
"Sekarang kita sudah tau tujuannya, kembalikan dia ke negerinya. Sebelumnya obati dia jangan sampai raja iblis tau dan mengira kita memulai peperangan dengan menyerang panglimanya.." sang Penguasa memberi perintah.
Tapi sayangnya, isu berhembusnya kabar tentang mereka sudah tercium raja iblis, dan dia salah faham mengira sang panglima miliknya telah berkhianat.
"Jika dia datang, usir dan hukum dia! Letakkan dia didalam penjara paling bawa dan terdekat dengan kerak bumi, tempat terdekat dengan neraka ini! Tak ada ampun bagi seorang pengkhianat, siapapun itu! Tak pandang dia siapa, seorang penghianat tetaplah pengkhianat!" teriak raja iblis murka.
Dan benar saja, saat panglima ular itu sampai dan mengatakan apa yang terjadi, dia langsung ditahan tanpa diberi penjelasannya apa. Sadar posisinya dalam keadaan sulit, dia berusaha melarikan diri dan bertarung habis-habisan melawan para rekannya dulu, tepatnya mantan rekannya.
Pada saat itu burung Phoenix sang Jendral Langit kebetulan lewat melihat semuanya, dia sebenarnya tak ingin ikut campur tapi rasa kepeduliannya dan rasa tanggung jawabnya bergerak ingin menolong si siluman ular. Dan pertarungan tak terelakkan lagi.
"Apa yang kau lakukan, pergi sana! Aku tak butuh bantuanmu," teriak sang panglima disela-sela pertarungan mereka.
"Aku sebagai seorang jenderal yang adil dan bijaksana, tidak akan diam saja saat melihat makhluk lain terluka akibat dikeroyok seperti itu," sahut burung Phoenix itu sambil melawan beberapa pasukan iblis lainnya.
"Apa aku terlihat dikeroyok oleh mereka?! Lihatlah, aku lebih unggul dari mereka dari segala hal! Karena mereka banyak bukan berarti aku kalah!" ucap panglima ular itu tak terima.
"Sudahlah, suatu saat nanti kau akan berterima kasih denganku!" sahut burung Phoenix itu.
Tidak lama kemudian, mereka menang telak dari para pasukan iblis itu. Tapi satu hal yang tidak mereka sadari, pertarungan itu memacu peperangan antara kerajaan bawah tanah dengan kerajaan langit.
Meskipun kerajaan langit menang dan kerajaan bawah tanah berhasil dipukul mundur, tetap itu tak mempengaruhi sang Penguasa untuk menghukum sang Jendral akibat kegaduhan yang dia buat.
"Kau turunlah ke bumi, sebagai hukuman untukmu aku perintahkan kau dengan panglima ular itu untuk menjaga dan melindungi beberapa prasasti didalam bangunan-bangunan di sana, yaitu prasasti yang disimbolkan sebagai perjanjian antara tanah dan langit.
Aku tak ingin itu semua hancur dan hilang akibat ulah manusia-manusia tak bertanggung jawab, setidaknya itu yang bisa kalian lakukan tanpa harus menghancurkan sesuatu, aku harap kalian bisa merenung dan memahami semua ini dan belajar lebih bisa mengendalikan diri dan amarah kalian.
Aku tau kalian dua makhluk yang berbeda, tetaplah bersama dan mau menerima satu sama lain, saling bantu dan menjaga jika satu dari kalian melakukan kesalahan dan melanggar aturan, maka keduanya akan mendapatkan hukumannya, jika tak ingin maka saling awasi agar tak melakukan kesalahan dari kalian.
Tempat itu sangat luas, kalian boleh berbagi tempat. Aku juga akan memberikan beberapa pengawal dan pelayan untuk menjaga dan melayani kalian, karena kalian tetaplah seorang jenderal langit dan panglima bawah tanah, sebagai penjaga prasasti perjanjian kerajaan langit dan kerajaan bawah tanah.." ucap sang Penguasa memberi perintah.
"Tapi aku bukan bagian dari kerajaan bawah tanah lagi, aku bebas sekarang.." sahut Garaga tak terima.
"Itu tidak mempengaruhi keberadaanmu di tiga dunia ini, selama kau masih hidup dan berkeliaran aku yakin raja iblis tetap memburumu, memperbudakmu atau mungkin menghukummu seumur hidupmu sampai kiamat itu tiba.." ucap sang Penguasa membuat Garaga ragu dengan keputusannya sendiri untuk pergi dari sana.
"Baiklah, apa ada jaminan untuk keselamatanku?" tanya Garaga bernegosiasi.
"Ini bukan sebuah permintaan, tapi perintah bagiku! Laksanakan perintah dan hukumannya, jika kalian berhasil maka aku bebaskan kalian tanpa ada hukuman apapun lagi, pergi!" perintah sang Penguasa tegas dan berwibawa.
Dengan berat hati Garaga dan Phoem turun ke bumi, dunianya manusia. Mereka harus mengisolasi diri sendiri dari para manusia bahkan pada makhluk lainnya, kalau tidak mereka akan mendapatkan masalah besar nantinya.
Pernah suatu saat, pada masa itu prasasti-prasasti itu berbentuk seperti batu biasa dengan berbagai ukiran relief yang dianggap manusia sebagai seni pada jamannya, padahal itu merupakan isi dari perjanjian raja iblis dan sang Penguasa agar tidak melakukan saling serang ataupun saling ganggu dan berbagai perjanjian lainnya.
Mereka tak sengaja menampakkan diri dihadapan manusia, begitu banyak anak manusia yang terhipnotis oleh ketampanan mereka, para wanita yang jatuh cinta pada mereka tidak mengenal usia bahkan para lelaki rela saling bunuh agar bisa seperti mereka.
Sedangkan para makhluk akan saling serang untuk berusaha memperebutkan mereka untuk dijadikan sekutu, majikan ataupun pelindung mereka agar bisa lebih kuat dan berkuasa di wilayahnya.
Akhirnya dengan bantuan sang Penguasa dan beberapa tetua pihak manusia yang memiliki kemampuan istimewa untuk mempagari mereka dari pandangan dan gangguan dari manusia dan makhluk lainnya.
Sampai pada tiba masa kini, tak ada seorangpun yang sadar dengan kehadiran mereka ataupun merasakan keberadaan mereka, mau sehebat apapun manusia-manusia ataupun para makhluk itu jika keduanya tak mengizinkan, maka mereka takkan bisa melihat ataupun merasakan keberadaan mereka.
Termasuk beberapa makhluk yang bersemayam didalam kampus, hingga saat kedatangan Maura dan Ardian merubah segalanya. Para makhluk jahat dikurung dan disingkirkan dari sana, membuat keduanya menjadi tenang kembali.
Ibarat parasit yang mendiami rumah mereka, kini keduanya tak perlu merasa risih kembali dan bebas melakukan apapun tanpa harus bersembunyi-sembunyi lagi.
......................
Bersambung