RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Kisah Julian


"APAA?!" teriak Ardian begitu terkejut dengan ucapan Panglima.


Panglima tersenyum melihat ekspresi Ardian, lalu dia mencoba menghampirinya dan duduk disisi ranjang itu.


"Benar 'kan, kamu mencintainya" sahutnya lagi.


"Bicara apa kau?! Jangan berlebihan, aku tak memiliki perasaan apapun padanya. Perhatianku selama ini hanya bagian dari tugas saja, kau tau sendiri tidak mudah bagiku harus menjaganya dari jauh.


Setidaknya aku harus dekat dengannya agar bisa lebih mudah lagi menjaganya, jangan salah faham kamu!" Ujar Ardian setengah berteriak.


Dia menahan emosinya, dadanya naik turun mengatur nafasnya. Ruangan dingin di kamarnya seketika menjadi panas baginya, keringat dingin mengucur ditubuhnya.


Sekali lagi dia berusaha mengontrol emosinya, dia berusaha bersikap biasanya saja dan mencoba menenangkan diri. Ketika mau minum, air di gelasnya sudah habis tertumpah.


"Ah, si*l! Pake tumpah segala!" gerutunya seraya keluar kamar mengambil air minum baru untuknya.


Panglima sedari tadi diam memperhatikannya, dia hanya tersenyum simpul. Dia mencoba mengerti perasaan Ardian.


"Memang sakit rasanya, mencintai seseorang yang tak bisa dimiliki. Dulu aku tak bisa memiliki karena perbedaan kasta dan tahta.


Sekarang dimasa mu ini tidak ada lagi perbedaan seperti itu, Ardian... Jika kamu mencintainya, kejarlah dia. Jangan kamu tahan hanya karena gengsi.


Aku tahu, kamu mengira perasaan itu muncul karena aku penyebabnya yang masih mencintainya Dewi Srikandi.


Tapi satu hal kamu tidak ketahui, Ardian... Tubuh mungkin bisa bereinkarnasi, tapi hati tidak bisa diubah.


Jika perasaan itu ada pada dirimu, itu murni dari hatimu bukan orang lain atau dariku" ujarnya bergumam sendiri.


Sementara itu Ardian bingung dengan perasaannya sendiri, dia baru menyadari sikapnya tadi berlebihan dalam menanggapi pertanyaan dari Panglima.


"Dia pasti kecewa sekali dengan sikapku tadi, ah dasar! Kekanak-kanakan sekali sifatku ini.


Aku harus segera kembali, dan mencoba memberitahu padanya kalau aku tidak seperti itu" ujarnya seraya kembali ke kamarnya lagi.


Saat dia masuk, dia tak melihat keberadaan Panglima. Kemana dia, apakah dia pergi?


Biasanya Panglima tidak pernah pergi jauh dari Ardian, dan lebih suka berdiam diri di tubuhnya.


"Jangan-jangan dia marah lagi padaku, ah... Bagaimana ini, semoga dia tidak pergi jauh" ucapnya dengan nada khawatir.


*


Sementara itu, disebuah taman ditengah kota.


Julian masih sibuk membujuk Joanna yang masih marah padanya, dia sudah melakukan banyak hal tapi tak bisa menggoyahkan hati Joanna.


"Sudah berapa kali aku menjelaskan semuanya padamu, aku tak berniat ataupun bermaksud begitu padamu. Jadi kumohon jangan marah lagi yah...


Aku gak tahan jika kamu diam saja sedari tadi, aku harus bagaimana agar kamu percaya padaku. Apa aku harus berjingkrak-jingkrak seperti monyet atau bernyanyi didepanmu agar kamu terhibur, hem?!" Tanya Julian.


Kali ini Joanna merespon cepat, dia nampak terkejut dengan pernyataan Julian. Dia melihat wajah kekasihnya itu, julian berusaha tersenyum manis didepannya.


"Jangan coba-coba kamu yah?! Yang ada kamu bikin malu aku?!" Ujarnya dengan ketus.


Julian tertawa melihat ekspresi wajah kekasihnya itu, lalu dia memeluknya dengan mesra.


"Jangan khawatir, aku gak akan bikin kamu malu apalagi membuatmu kecewa yah. Satu hal yang aku pelajari hari ini, jangan buat Joanna kecewa kalau gak mau didiami seharian. Haha!" Katanya sambil menggoda kekasihnya itu.


Joanna hanya tersenyum melihat tingkah Julian itu, memang begitulah sifat Julian. Tidak pernah bisa serius, selalu santai menghadapi apapun.


Kecuali itu menyangkut pekerjaan dan Ardian, kadang dia seringkali dibuat cemburu oleh keduanya. Dia seperti orang ketiga bagi mereka berdua.


Tapi dia bisa mengerti dan memaklumi, memang pekerjaannya seperti itu harus menemani dan membantu Ardian dalam keadaan apapun.


Apalagi ini soal hidup dan mati Julian juga, salah satu penyebab Julian begitu berbakti padanya itu adalah ada kisah dimasa lalunya dulu.


*


Jaman Kerajaan masa lalu, saat Kerajaan masih dipimpin oleh Raja dan Ratu sebelum Balaputradewa memimpin dan naik tahta.


Saat itu Balaputradewa dan Arialoka masih anak-anak.


Ayah Arialoka masih memimpin pasukan kerajaan, Kerajaan dimasa itu memiliki ratusan ribu pasukan gagah berani dan sangat kuat dipimpin langsung Panglima tertinggi di masa itu.


Panglima Cakrawibawa, ayah kandung Arialoka. Saat itu Panglima Cakrawibawa sedang berkeliling desa dan daerah-daerah untuk mencari para pemuda gagah berani yang ingin dijadikan prajurit.


Jaman dahulu, tidak mudah menjadi seorang prajurit. Harus mengikuti seleksi berat dan ujian tak masuk akal agar bisa diterima menjadi prajurit Kerajaan.


Bisa bekerja di Istana merupakan impian semua rakyat, dibayang-bayangi hidup berkecukupan untuk keluarga mereka dan juga berbagai jaminan lainnya.


Apalagi menjadi seorang prajurit, bukan hanya menjadi bagian dari Kerajaan dan Istana tapi juga bagi negeri ini. Mengamankan bangsa dari jajahan dan peperangan antar saudara lainnya.


Tibalah di suatu desa, desa jauh sekali dari kata makmur. Kekeringan melanda desa itu, banyak hasil panen yang tidak mencukupi. Belum lagi para tengkulak yang terus menerus menggerogoti mereka.


Banyak kematian yang datang, sehingga banyak juga warga yang meninggalkan desa tersebut untuk mencari tempat lebih subur, lebih makmur lagi.


Pada saat itu, rombongan panglima Cakrawibawa sedang beristirahat sebentar di desa tersebut. Dia tahu tidak ada apa-apa didesa itu, mereka hanya numpang lewat dan ingin beristirahat saja.


Saat Panglima dan prajuritnya membuat tenda di hutan yang tidak jauh dari rumah warganegara, ada seorang pemuda kurus kering sedang mengendap-endap masuk ke salah satu tenda prajurit.


Setelah itu dia keluar dari tenda itu dengan sepotong roti dan ubi, tapi sayangnya dia ketahuan oleh salah satu prajurit yang ada di sana.


Maka habislah dia diinterogasi dan dipukuli prajurit karena berani mencuri makanan mereka. Mendengar ada keributan diluar, Panglima pun keluar ingin mencari tahu apa yang terjadi.


Dia melihat seseorang terkapar ditanah, badan penuh luka dan memar. Terlihat mulutnya memuntahkan darah karena mengalami pendarahan diperutnya, karena kena pukulan dan tendangan kuat dari para prajurit itu.


Panglima menghentikan mereka, lalu menghampiri pemuda itu.


"Apa yang kau lakukan disini, kau tahu mencuri itu perbuatan yang dilarang oleh Hyang Widhi?" tanya Panglima.


Jaman dulu, Islam belum masuk ke tanah Nusantara. Jadi kepercayaan mereka masih menyembah patung dan beragama Hindu kuno.


"Sa-saya lapar Tuan, ma-maafkan hamba... telah lancang mencuri dari kalian. Adikku, sedang menunggu, ayahku belum kembali dari hutan untuk berburu.


Sedangkan ibuku sedang sakit, tak bisa memberi kami makan. Sehingga saya terpaksa mencuri makanan ini" ujar pemuda kurus itu.


Dia masih meringis kesakitan, badan ringkih itu tak kuat menerima pukulan dan tendangan kuat. Dia terus meringkuk kesakitan di tanah kering itu.


"Kalian bantu aku membawanya kedalam tenda, dan yang lainnya teruskan pekerjaan kalian dan tetap jaga keamanan wilayah ini" perintah sang Panglima.


Semua prajurit mematuhi perintahnya, dan beberapa orang membawa pemuda itu masuk kesalah satu tenda milik prajurit.


"Letakkan dia disini, dan bawakan aku beberapa obat. Aku akan mengobatinya, dan sekalian bawakan juga beberapa makanan dan air minum untuknya" ujarnya lagi memberi perintah.


Dalam sakitnya, pemuda itu masih bisa mendengar dengan jelas perkataan-perkataan sang Panglima. Dia takjub sekaligus kagum dengannya, begitu baik dan pemurah sekali.


"Dengar, aku dan prajuritku sudah memaafkanmu. Aku harap ini tidak terulang kembali, jika kau kembali dan mencuri lagi maka tak segan-segan aku akan memotong kedua tanganmu itu!" Ujar Panglima sambil mengobati luka pemuda itu.


"Baik Tuan, saya mengerti. Saya tidak akan mencuri kembali" katanya pelan, suaranya terlalu lemah karena sakit dan kelaparan menundanya.


Setelah makan dan minum dengan banyak, dia nampak kekenyangan sehingga mengantuk melandanya. Pemuda itu pun tertidur pulas.


"Enak sekali dia, sudah makan cuma-cuma banyak pula. Sekarang malah enak-enak tiduran pula dia!


Sekarang bahan makanan kita hampir habis, sudah dia makan semua sisa makanan hari ini" ujar salah satu prajurit bertubuh tambun, dia bagian urusan persediaan makanan.


"Sudah tidak apa, jika habis kita bisa berburu di hutan ini" ujar salah satu prajurit, temannya itu.


"Apanya yang diburu, apa kau tak lihat hutan dan desa ini? Jangankan hewan, tumbuhan segar untuk dimakan saja tak ada!" Ucap prajurit tambun itu.


"Tapi kata pemuda itu, ayahnya pergi berburu di hutan ini. Berarti ada binatangnya 'kan?! Tidak mungkin dia berburu angin?" jawab temannya lagi.


"Mungkin saja, tapi dia bilang tadi sudah lama berburu, berarti dia sampai saat ini belum kembali.


Jangan-jangan ayahnya kabur lagi, meninggalkan dia beserta ibu dan adik-adiknya. Berpura-pura berburu, padahal pergi meninggalkan mereka" ujar prajurit tambun itu.


Ternyata pemuda tadi tidak terlalu nyenyak tidurnya, dia masih kepikiran adik-adik dan ibunya yang belum makan, sedangkan dia kekenyangan disini.


Saat mendengar mereka membicarakan ayahnya, terbersit dihatinya untuk tidak percaya dengan ayahnya itu dan mengira apa yang dibicarakan mereka itu benar.


Tapi disisi lain, hatinya menolak itu semua. Ayahnya orang baik dan bertanggung jawab, tidak mungkin dia pergi meninggalkan mereka semua.


Dia bertekad mencari ayahnya saat itu juga, untuk membuktikan itu semua bahwa ayahnya benar dan mereka semua salah menilainya.


Saat para prajurit itu lengah, dia berhasil kabur keluar tenda dan berlari ketengah hutan. Dia berteriak memanggil nama ayahnya berulang kembali, tetapi tidak ada sahutan apapun.


Pada saat itu prajurit bertubuh tambun tadi masuk kembali dan tidak mendapati pemuda tadi didalam tenda, dia berteriak kepada prajurit lain mengatakan bahwa pemuda itu kabur.


Panglima pun mengetahui berita tersebut, dia merasa dikhianati olehnya. Dia memimpin para prajurit itu mencari pemuda itu sampai ketengah hutan.


Sampailah mereka ketitik dimana seorang pemuda menangis dibawah pohon besar di hutan itu. Pemuda itulah yang mereka cari.


"Apa yang kau lakukan disini?! Mau kabur yah?!" teriak seorang prajurit sambil menghunuskan sebuah tombak didadanya.


Pemuda itu tidak menjawab, dia hanya menangis sambil menatap kesatu arah. Panglima mencoba menelusuri arah pandangannya.


Alangkah kagetnya dia dan para prajurit yang di sana, melihat sebujur mayat manusia tergeletak dibawah salah satu batu besar yang di sana sambil memeluk batu yang lumayan besar juga.


Mayat manusia yang diperkirakan seorang lelaki tua sambil memeluk batu seperti memeluk orang terkasih meninggal di sana.


"Semoga dia berada di syurga tempat Hyang Widhi berada" ujar panglima itu.


......................


Bersambung