RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Sebuah Apotek 3


"Maurice?!" Maura masih berusaha memanggil sahabatnya itu, tapi tak ada respon apapun dari sana.


Tuut.. Tuut.. Tuut..


Sambungan telpon terputus begitu saja, membuat Maura semakin panik dia meminta Ardian untuk cepat melajukan mobilnya, dia tak mau menyesal nantinya jika terjadi sesuatu terhadap sahabatnya itu.


"Kenapa? Apa yang terjadi?!" tanya Ardian ikut panik juga.


"Aku gak tau, dia tak menyahutiku lagi. Sambungan telpon juga tiba-tiba mati sendiri, cepatlah! Perasaanku jadi tak enak.." ucap Maura gelisah.


"Baiklah, pegangan!" ujar Ardian, bersiap untuk mengebut.


Untung saja kota tempat tinggal mereka sekarang ini bukan kota besar atau kota sibuk, meskipun jam orang-orang pulang kerja atau pulang ke rumah semua, jalanan masih lancar dan tidak macet, sehingga memudahkan Ardian melajukan mobilnya lebih cepat lagi.


Sementara itu, Maurice tidak bisa mendengar suara Maura lagi di sambungan telponnya. Saking sibuknya di ponselnya dia tak sadar memutar handel pintu rumahnya hingga terbuka sedikit.


"Cece, aku.. boleeeh.. masuk?" terdengar suara serak dan pelan dari luar rumah, tepat didepan pintu.


Maurice terkejut saat mendengar suara itu, dia sadar telah melakukan kesalahan dan buru-buru menutup pintu itu kembali, tapi tak semudah itu, merasa dirinya diterima sosok dibalik pintu itu mengintip sedikit kearah Maurice, sehingga mereka saling bertatapan.


Maurice tak melihat dengan jelas, dia sudah ketakutan duluan dia hanya melihat sekilas seorang wanita keturunan Tionghoa memakai baju khasnya berwarna merah tanpa alas kaki, badannya sangat kotor dengan kuku panjang dan menghitam, rambutnya setengah disanggul dan memakai konde khas ornamennya.


Rambutnya juga tak tersanggul rapi tapi lebih berantakan dan acak-acakan, mata itu.. Matanya putih membulat sempurna, dia menyeringai menatap Maurice, saat tangannya ingin meraih tangan Maurice, gadis itu buru-buru menutup pintu dan menguncinya.


Tokk!


Tokk!


Tokk!


Tokk!


Pintunya diketuk berulang kali, tiada henti oleh makhluk itu, Maurice ketakutan dia mundur dari depan pintu, tiba-tiba dia teringat kembali jika gorden yang menutupi jendela belum dia tutup, semua jendela dan pintu sudah dia tutup dan kunci, tapi dia membiarkan gordennya terbuka karena cuaca masih terang meskipun sudah sore hari.


Dia buru-buru ingin menutup semua gorden yang masih terbuka, seolah tau apa yang dipikirkannya, makhluk itu mengikutinya dengan muncul tiba-tiba didepan jendela sambil menyeringai minta dibukakan pintu ataupun jendelanya.


"Hihihi.. Biarkan aku masuuk.. Akan aku temani kauuu.." ucap makhluk itu pelan dengan suara serak mengerikan.


"Tidaak!! Pergi, kehadiranmu tak diinginkan, aku takkan membiarkanmu masuk ke rumah ini!" teriak Maurice.


Entah dia merasakan ketakutan yang amat sangat saat berhadapan dengan makhluk itu, meskipun mereka terhalang jendela kaca, tapi dia merasa makhluk itu sangat dekat dengannya.


"Buka! Biarkan aku masuk!" kali ini makhluk itu mendesaknya untuk membiarkan dirinya masuk.


Maurice sadar, makhluk itu tidak akan bisa masuk tanpa diundang, jadi selama dia berada didalam rumah dan menutup dan mengunci semua pintu dan jendela, meskipun sosok itu adalah makhluk halus, dia takkan masuk begitu saja tanpa diundang.


"Aku harus menghubungi Maura lagi, dia pasti mengkhawatirkan aku.." ucapnya.


Saat dia ingin menelpon Maura dia teringat ponselnya tertinggal diruang tamu, dia buru-buru menuju ruang tamu untuk mengambil ponselnya, saat dia hendak menghubungi Maura, tiba-tiba..


Dhuaaakk!!


Pintu depan terbuka lebar dengan kencangnya, angin kencang dari luar masuk kedalam rumah membuat beberapa perabotan menjadi berjatuhan dan berantakan.


Maurice terduduk saat angin kencang menerpanya, dia tak bisa melihat kearah depan saking kencangnya angin itu, samar-samar dia melihat sosok wanita bergaun merah ala pakaian Tionghoa, masuk pelan-pelan kedalam rumah.


Sreekk.. Sreekk.. Sreekk..


Bukan melangkahkan kakinya dengan anggun, tapi makhluk itu menyeret kakinya dengan pelan seolah ada yang menahannya, dan benar saja Maurice melihat ada sosok lain yang bergelayutan dikaki makhluk itu.


Sosok itu begitu kecil, seperti boneka bayi plontos dengan mata bulat merah, menatap tajam kearahnya, dia menampakkan gigi-giginya yang tajam.


"Ceceee... Toloonnggg..." makhluk bergaun merah tadi meraung sambil mendekati Maurice, tangannya menjulur kearahnya, dan..


Bhaaasss!


Tiba-tiba saja Maura datang bersama Ardian dan menghantam makhluk itu dengan selendang kuning milik Dewi Srikandi. Makhluk bersama sosok kecil tadi langsung menghilang begitu saja.


"Apa ini, hilang begitu saja?! Aku pikir ini sangat berbahaya, sampai nekat masuk kedalam rumah tanpa diundang.." ucap Maura kebingungan.


"Mungkin tidak se berbahaya itu, aku pikir dia hanya ingin menakuti-nakuti saja.." sahut Ardian.


"Masa menakuti sampai nekat masuk rumah, setahuku makhluk wexian itu tidak akan berani masuk kedalam rumah tanpa diundang, dan dia datang juga karena mencium bau harum wanita hamil.. Tunggu, Maurice kamu beneran hamil?" tanya Maura baru ngeh dengan sahabatnya itu.


"Bukannya nolongin aku yang lagi jatuh, malah sempat-sempatnya nanya begituan!" Maurice cemberut menatap dua orang tersebut.


"Sorry, kamu gak apa-apa?" tanya Ardian.


"Telat!" jawab Maurice, dia langsung menuju ke kamar mandi, membersihkan diri termasuk ingin mengetes urinenya.


Selang beberapa saat, dia selesai mandi dan membawa testpack nya tadi dan memperlihatkan hasilnya kepada Maura dengan wajah lesu dan sedih.


Maurice menggelengkan kepalanya dengan lesu, nampak wajahnya begitu sedih. Maura tersenyum lalu merangkul sahabatnya itu.


"Sabar, mungkin belum saatnya. Allah punya rencana yang sangat bagus bagi umatnya yang bersabar, anggap saja ini sebagai latihan untuk kamu agar bersiap jika suatu saat nanti Allah memberikan amanah kepada kalian," ujar Maura menguatkan sahabatnya itu, meskipun dirinya tak yakin juga bisa atau tidak menyakinkan sahabatnya itu.


Karena dirinya sendiri belum pernah merasakan diposisi Maurice, jadi dia sebisa mungkin memberikan yang terbaik untuk sahabatnya itu.


"Ya udah, kita sholat aja dulu. Udah magrib, Ardian udah nungguin mau sholat berjamaah di ruang tamu, dia mau jadi imam buat kita.." ujar Maura.


"Aku gak mau, imamku cuma satu aja yaitu Kevin. Sana gih, sholat diimamin sama Ardian.." ujar Maurice sambil terkekeh.


"Kamu gak sholat?" tanya Maura, berusaha mengalihkan perhatian Maurice agar tak menggodanya lagi.


"Gak!" sahut Maurice cemberut sambil mengambil pembalut bersayap miliknya, memperlihatkannya kepada Maura.


"O alah, pantesan gak jadi, orang lagi dapet!" ucap Maura nyengir.


"Baru juga dateng, pas mau buka celana, eh malah dapet! Gimana mau test, udah jelas pasti kok hasilnya.." sahut Maurice pula.


"Terus, kenapa tadi memperlihatkannya kepadaku?" tanya Maura bingung sambil menunjuk testpack tadi.


"Haha, biar lebih dramatis aja" jawab Maurice sambil tergelak.


"Dasar, bocah uedan!" sahut Maura mengikuti dialek salah satu dosennya yang berasal dari pulau Jawa.


"Sudah, temui Ardian sana dia pasti nungguin tuh.." ucap Maurice sambil tersenyum geli.


Maura dengan langkah ragu menghampiri Ardian untuk sholat berjamaah di rumah itu, entah dia merasa sedang di imami oleh seseorang yang akan menjaganya kelak, vibes nya udah kayak suami istri.


Maurice hanya tersenyum saja dan berdoa yang terbaik untuk kedua sahabatnya itu, sementara itu dia berharap suatu saat nanti dia dan Kevin akan diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk diberikan seorang makhluk lucu ditengah-tengah mereka.


"Btw, ada yang mencurigakan.. Aku kan tidak hamil, kenapa makhluk itu bisa datang dan menemukan diriku? Apa darah haid ini bisa mengundangnya juga? Ah, tak mungkin! Dan makhluk kecil tadi apa? Jika benar tebakan Maura tadi, Wexian tak mungkin memaksa masuk kedalam tanpa diundang.


Dan makhluk tadi memaksa masuk, sedangkan aku dalam kondisi tak hamil. Sangat aneh,, dan apa tadi, dia meminta tolong atau apa? Sepertinya aku salah dengar.." gumamnya sendiri, lalu kembali masuk kedalam kamar mandi.


Sedangkan diruang tamu tadi, Maura dan Ardian nampak kikuk saat sholat berjamaah berdua saja, karena ini untuk pertama kalinya mereka sholat berjamaah bersama, berdua lagi.


.


.


Sementara itu, disebuah bangunan mirip kelenteng terletak dibelakang apotek milik seorang wanita paruh baya bermata sipit, dia terlihat sedang bersemedi, dibandingkan sedang berdoa kepada Tuhannya, dia lebih terlihat seperti sedang merapalkan mantra-mantranya.


"Hoeek!" dia memuntahkan darah dari mulutnya.


Dia bangkit dari duduknya hingga terhuyung jatuh, dia berpegangan pada meja kayu berornamen khas oriental.


"Sial! Pasti dia gagal lagi, bukan wanita hamil tapi wanita yang lagi haid saja rupanya, tapi bau darahnya begitu wangi seperti wanita yang sedang hamil, segitu istimewakah gadis itu?" gumamnya sendiri sambil menyeringai.


Dia melihat ada kabut putih menyelimuti ruangan itu dan tiba-tiba muncul sosok makhluk tadi, seorang wanita bergaun merah dengan wajah oriental, dia nampak ketakutan melihat wanita paruh baya didepannya itu.


"Kau gagal lagi, tapi tak apa. Aku sudah telanjur tertarik dengan gadis itu, temui lagi dia nanti, aku menginginkan dirinya.. Bau darahnya begitu wangi, bahkan lebih wangi daripada wanita hamil biasanya, aku tak bisa membayangkan jika dia hamil beneran, seberapa wanginya tubuh itu, hahahaha!" ucap wanita paruh baya itu sambil tertawa menggelegar.


Seolah alam semesta mengutuk perbuatannya, tiba-tiba saja guntur saling bersahutan, kilat cahaya membela langit malam itu, hujan turun dengan derasnya.


Di rumah, Maurice dan Maura menyiapkan makan malam, Maura menemani sahabatnya itu di rumah karena dia tak mungkin meninggalkan Maurice berdua saja dengan Ardian, takutnya terjadi fitnah dan lainnya.


Biasanya Ardian akan pergi entah kemana, jika tak ada Kevin di rumah karena dia tak ingin berdua saja dengan Maurice, bahkan ia berencana ingin indekost aja, tapi dilarang oleh Kevin dan Maurice.


Tapi malam ini dia memutuskan berada di rumah, dia tak ingin kejadian tadi sore terulang kembali, tapi dengan syarat tentu saja harus ada Maura di sana, jadi mau gak mau Maura harus tinggal setidaknya sampai Kevin pulang.


"Kenapa kau nampak gelisah sekali?" tanya Maura bingung.


"Diluar hujan sangat deras, Kevin gak bawa jas hujan dia pasti nekat pulang menerobos hujan.." ucap Maurice khawatir.


"Tenang, dia bukan bocah lagi. Dia pasti tau apa yang harus dia lakukan.." sahut Ardian ikut bergabung dengan mereka di meja makan.


"Lagian didalam jok motorku ada kok jas hujan, karena aku selalu standby jika sewaktu-waktu ada hujan datang, btw.. Si Kevin tau gak yah didalam jok motor ada jas hujannya?" gumam Ardian ragu.


"Aku akan coba hubungi dia, kasih tau didalam jok motor ada jas ujannya.." ujar Maurice sambil berdiri dan meraih ponselnya.


"Nanti saja, Kevin pulangnya jam 8 malam ini kan? Makan aja dulu, habis itu baru telpon dia.." ujar Ardian lagi.


"Aku belum tenang jika belum menelepon dirinya, kalian makan aja duluan, aku bareng Kevin aja!" sahut Maurice dan seraya pergi meninggalkan mereka berdua saja.


Kembali keduanya dihadapkan dengan situasi canggung seperti ini, setelah sholat berjamaah bersama, sekarang makan malam berdua saja, dan nanti apa lagi..


......................


Bersambung