RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Melepaskan Dengan Ikhlas


"Daripada saling menyalahkan, lebih baik kalian introspeksi diri dan meminta maaf kepada Kadarsih Adam, Sitha! Apa tidak malu kalian dengannya? Bagaimanapun yang paling dirugikan disini adalah dia.." ucap guru yang paling mereka hormati itu.


"Sudahlah, Bu! Bukankah Ibu juga sama saja dengan kami semua yang ada disini?! Kita ini juga semuanya bersalah dengannya, tapi aku juga dirugikan disini, aku kira wanita yang kucintai ini tulus, dan meninggalkan wanita yang benar-benar tulus denganku.


Baiklah aku salah dengannya, dan aku benar-benar minta maaf denganmu, Kadarsih. Jika kau masih marah padaku, aku ikhlas menerimanya segala hukuman yang kau berikan nantinya.." ucap Adam, dia benar-benar manipulatif, setelah memojokkan Sitha dan gurunya, lalu dia meminta maaf kepada Kadarsih.


Membuat yang lain ingin menimbali benar-benar merasa muak, pintar sekali dia menempatkan kata-katanya. Sepertinya dia tak benar-benar meminta maaf.


"Siapa aku yang bisa memberikan hukuman kepada kalian semua? Segala bentuk dosa kalian di dunia ini akan dibalas nanti oleh Allah SWT, bukan aku!


Sudahlah, aku mendatangkan kalian semuanya hanya ingin bertemu terakhir kalinya, sebelum aku pergi dan melupakan semuanya hal di dunia ini.


Apapun urusan kalian, selesaikan saja urusan kalian sendiri! Yang jelas aku sudah tak ada sangkut pautnya lagi, jika merasa bersalah, bertobatlah, dan jangan melakukan kesalahan itu lagi" ucap Kadarsih untuk terakhir kalinya.


Setelah itu dia menjauhi mereka semuanya, lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum manis dan ikhlas, dan tiba-tiba saja dunia mereka yang ada di sana tiba-tiba gelap dan berlahan mundur menjauh dari tempat Kadarsih berada.


Entah bagaimana caranya, mereka semuanya kompak terbangun dari tidurnya, tersenyum lega dengan tetesan air mata kebahagiaan. Ada rasa yang begitu plong dihati setelah merasakan perasaan bersalah bertahun-tahun.


Di rumah orang tua kandung Kadarsih, orang tuanya bangun saling berpelukan dan menangis haru telah bermimpi bertemu dengan putri yang sangat mereka rindukan.


Begitu juga dengan sang kakak, dia yang tadinya hanya diam sendiri dipojokkan disalah satu ruang rumah sakit jiwa, mulai bergerak dan berjalan kedepan pintu dan memanggil petugas, mengatakan jika dia merindukan anaknya, membuat para petugas nampak heran dengan perubahan sikap dan mentalnya, karena memiliki perubahan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.


Sementara di penjara, ketiga orang itu merasa heboh sendiri karena memiliki mimpi yang sama dan saling berhubungan, mereka hanya bersyukur saja karena Kadarsih telah memaafkan mereka.


Berbeda dengan Adam dan Sitha, setelah terbangun dari mimpinya, mereka memilih saling diam membisu, tidak bersikap hangat seperti biasanya. Karena telah menyadari jika selama ini mereka menjalin hubungan penuh kepalsuan.


Sementara sang guru, hanya terguguh dalam sujudnya setelah memohon ampun kepada sang Khaliq, dia benar-benar merasa menyesal dan sangat merindukan muridnya itu.


.


.


Sementara, masih di dunia gaib itu. Maura masih menatap sendu kearah Kadarsih, hantu gadis itu jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Terlihat dengan jelas, senyumnya mengembang cerah saat menyambut kedatangan Maura.


"Kenapa kau diam saja, Kadarsih?" tanya Maura.


"Aku hanya merasa lega saja, Maura. Dan tentu saja karena aku menunggu kedatanganmu..," ucap Kadarsih dengan senyuman ikhlasnya.


"Baiklah, karena kau sudah lama menungguku dan aku lihat kau terlihat lebih tenang dan lega, aku simpulkan urusanmu di dunia manusia telah usai, bagaimana.. Apakah sudah siap kembali ke Yang Maha Kuasa?" tanya Maura kepadanya.


"Iya, antarkan aku pergi menuju Rabb-ku, Maura.. Aku sudah terlalu lama tersesat disini.." ucapnya dengan senyuman tulus.


Maura mengantarkan Kadarsih menuju pintu Gerbang yang tinggi menjulang tanpa batas, didepan mereka didalam pintu gerbang itu, ada dua sosok berjubah menutupi seluruh tubuhnya sedang menunggu kedatangan keduanya.


"Masuklah, mereka sudah lama menunggumu. Dan serahkan semua urusan di dunia kepada mereka yang masih berada di sana.." ucap Maura kepada Kadarsih.


Kali ini roh Kadarsih hanya mengangguk saja sambil tersenyum, dia melangkah dengan pasti menuju pintu gerbang itu tanpa menoleh kearah Maura, langkahnya sangat begitu mantap meniggalkan dunia ini.


.


.


.


Sementara saat ini, lebih tepatnya malam ini Kara dan beberapa teman kost lainnya sibuk mencoba menyadarkan Kalista yang masih pingsan saja, hingga bu Kost datang pun dia belum sadar juga.


"Ini kalau belum bangun-bangun juga, kepaksa dah Ibu panggil orang tuanya biar dibawa pulang aja!" ucap bu kost juga pusing lihatnya.


"Ini kenapa kita sering banget ngalamin hal-hal mistis si, Bu? Dulu kayaknya gak pernah deh!" ucap salah satu anak kost itu.


"Mana ada, jangan ngaco ya kamu?! Ibu gak pernah lihat atau dengar ada yang lihat hantu atau kesurupan disini?" ucap bu Kost sedikit kesal dengan ucapan penghuni kost itu.


"Ih, beneran bu! Dulu si Meera kesurupan di kampus, terus ada beberapa anak sering lihat kayak bayangan-bayangan hitam lewat itu, sampe kita pernah denger ada suara orang cekikikan dikamar sebelah padahal kamar bekas Meera sebelum Kara datang kan kosong, Bu!" ucap si Bianca, salah satu biang kerok tukang gosip di kostan itu.


"Udah, jangan suka ngarang-ngarang kamu, Bianca! Lihat tuh Kara makin parnoan kan, udah ah! Ibu gak mau nanti kostan ibu makin sepi gara-gara denger gosipan kamu itu!" ucap bu Kost kesal.


"Idih si Ibu, dibilangin juga! Ini menurut aku yah, semenjak kedatangan si Maura nih kost-kostan jadi horor gini.." ucap si Bianca tak menghiraukan ucapan bu kost tadi, mulai dah bibir dower tukang gosip mulai berghibah.


"Kok aku kayak ngalamin de javu lagi deh.." gumam Maura, ternyata tuh anak sudah ada dari tadi di sana cuma gak ada yang nyadar aja.


"Bianca!" hardik bu kost.


"Permisi.." Maura tiba-tiba aja datang membuat semuanya jadi kaget terkejut saat melihatnya.


"Tuh kan, Bu.. Dia aja datang begitu aja, gak ada hujan, gak ada angin tiba-tiba nongol gitu!" ucap Bianca dengan sinisnya menatap Maura.


Maura meskipun dia titisan Dewi Srikandi, dia juga manusia yah, punya perasaan sakit, marah, kecewa, sedih bahkan rasa benci itu sudah pasti ada, tapi tidak berlebihan dan tidak akan membahayakan buat manusia, tapi lain hal jika ada manusia-manusia laknat lainnya, maka tak ada ampun baginya.


"Emang aku apaan kudu ada angin ama hujan dulu baru keliatan?! Situ kali tiba-tiba bae nyerocos ngomongin orang semangat banget! Tiati, aku punya temen diintilin mulu sama jurig gegara suka ngegosip mulu!" ucap Maura setelah itu langsung masuk kedalam kamarnya tanpa permisi.


"Noh, betul tuh kata Maura! Jangan-jangan gara-gara kamu dedemit pada nongkrong dimari semua!" hardik juga bu kost kesel.


Kemudian, dia memberikan beberapa ramuan jamu kepada Kara untuk diberikan kepada Kalista kalau sudah bangun nantinya.


"Ini jambu racikan ibu sendiri, tenang aja, amaaan.. Kamu juga minum biar lebih rileks, dan yang lainnya juga kalau mau boleh minum, kali aja masih kaget dengan kejadian ini, minum jamu buatan itu agar lebih tenang dan fresh!" ucap bu kost sambil mempromosikan ramuannya sendiri.


"Bushet, tehnik marketing bu kost boleh juga.." ucap Maura cekikikan dengar bu kost nyodorin ramuannya.


"Tuh, Maura mulai lagi kan bu! Cekikikan lagi, cek deh! Kali aja kesurupan!" ketus Bianca gak terima diomelin bu kost.


"Maura, kamu ngapain!" ucap bu kost sambil ngetuk pintu Maura.


Dia agak takut juga sih jika benar Maura kesurupan, Bianca nampak senang melihat bu kost terlihat seperti mau memarahi Maura.


"Ada apa, Bu?" tanya Maura, dia keluar sambil memegangi ponselnya dengan earphone di telinganya.


"Kamu kenapa cekikikan sendirian di kamar?" tanya bu kost, Bianca terlihat tersenyum licik kearahnya.


"Lagi nonton yout*bu, Bu! Lihat seru deh, gara-gara suka nyebar fitnah, mulutnya langsung bau kayak abis makan ta*, karma teman kost laknat!" ucap Maura tanpa dosa menyodorkan ponselnya kearah bu kost memperlihatkan video yang dia tonton.


Mendengar itu, Bianca langsung mendelik kearahnya, Maura pura-pura gak lihat saja, sedangkan teman-teman yang lain sedang menahan tawa mendengar itu.


"Eh, iya yah! Kasihan banget, udah mulutnya bau, matinya juga penasaran.." ucap bu kost ikut-ikutan mengomentari tontonan Maura.


"Eh, kok malah ngomentarin nih film Azab! Ibu juga mau nawarin kamu jamu, ini asli ramuan jamu buatan ibu, kalau suka bisa order lagi sama ibu.." ucap bu kost sambil mengerlingkan matanya.


"Okee!" ucap Maura dengan semangat mengambil botol minuman itu, yang katanya ramuan jamu manjur ala bu kost Lentera hati, jiwa, cinta apalah itu.


Sebenarnya Maura tak yakin dengan racikan bu kost ini, tapi demi menyenangkan hati seseorang apa salahnya ya kaann??


"Ini Ibu jualan?! Kirain mau bagi-bagi gratis, kasihan bu, Kalista masih pingsan udah digerogotin aja!" ucap mulut pedesnya Bianca.


"Ini ngasih gratis buat sampel, Bianca. Kalau suka Alhamdulillah, kalau gak, ya udah.. Gak apa! Ibu tau, gak mungkinlah ibu sejahat itu, ibu benar-benar tulus mau ngasih Kalista sama Kara.." ucap bu kost, matanya berkilat berkaca-kaca, entah dia sedang menahan emosi atau sedang menahan air mata kecewa, hanya dia tau.


"Yaaaa, kirain.." sahut Bianca tanpa dosa.


"Bianca!" hardik Maura.


"A-apa?!" tanya Bianca kaget melihat Maura nampak kesal dan kecewa dengan sikapnya itu.


"Semua pikiran kamu tentang aku, bawa demit itu ada benarnya.." ucap Maura dengan nada penuh penekanan.


"Tuhh, kaaann! Apa aku bilang!" sahut Bianca nampak senang dengan dugaannya itu.


"Karena aku ini, adalah dewinya para demit.. Jadi, para demit ini sedang menjagaku dari orang-orang usil, dengki, bakhil dan pelit macam kau! Tiati, dibelakangmu.." ucap Maura sambil mengeluarkan suara sedikit diseram-seramin.


"Apa?! Mamaaaa!!" teriak Bianca histeris.


Tanpa menoleh kebelakang dia langsung kabur masuk kamarnya terus pintunya langsung tutup kencang, dan terdengar terkunci dari dalam.


"Bhuaahahaha.. Emang enak dikerjain, lagian mulut pedes banget, kayak kebon cabe! segala diomongin!" geram Maura.


Yang lain juga ikutan tertawa melihat tingkah Maura dan reaksi berlebihan Bianca tadi, sedangkan bu kost hanya senyum-senyum aja.


"Maafin kita ya Maura, kita hanya ikut-ikutan aja, itu si Bianca ama Kalista yang sering banget ngomongin kamu dibelakang.." ucap salah satu dari mereka.


"Lah, emang kalian percaya omongan aku tadi?! Ya ampun, mana ada yang begitu-begituan, haha! Aku cuma iseng aja ama Bianca!" ucap Maura tertawa geli melihat tingkah mereka.


Padahal dalam hatinya mencelos dengan kata-kata mereka tadi, karena Maura sering mendengar mereka menggosipkan nya perkara ada atau tidak adanya Bianca ataupun Kalista, emang udah ada bibit tukang gosip yah begitulah!


Jangan ditiru ya gaes!


......................


Bersambung


Mak Othor lagi badmood akhir-akhir ini, tolong maafin Mak othor yang sering bolong-bolong harinya kalau mau update, tolong semangatin mak Othor yee, semoga tetap konsisten menjadikan novel ini penuh misterius dan kehororan, jangan jadi horor komedi kayak idup mak Othor, yeaa..!


Mokasih dukungannyo 😘😘🙏