
Mereka tiba di sebuah kantin milik kampus ini, kantinnya lumayan besar dan luas, yang membuat Maura betah adalah kantinnya itu bersih dan rapi, ditambah lagi pelayanannya juga baik dan ramah.
"Disini makanannya enak-enak dan murah, sesuai dengan isi kantong kita para mahasiswa yang uang jajannya gak seberapa ini," ujar si Ichan nyerocos bae dari tadi.
"Iya.." sahut Maura sambil mengikutinya dari tadi.
Ada beberapa mahasiswa lelaki yang diam-diam melirik kearahnya, wajar saja karena Maura sangat mencolok diantara para mahasiswi yang ada di sana.
Ada juga beberapa mata meliriknya tajam tak suka, mungkin kalah cantik dan kalah saing juga dengannya. Padahal Maura sama sekali tidak berniat untuk bersaing dengan mereka.
"Eh, Chan! Cabe-cabean mana lagi tuh?!" teriak seorang gadis kepada Ichan.
"Ini temen gw, Rachel! Bukan cabe-cabean kayak elu!" sahut Ichan cuek.
Si gadis itu yang bernama Rachel nampak begitu gusar dengannya, sedangkan Maura dan Ichan duduk di salah satu bangku disudut kantin itu.
"Aku mau pesan bakso pake sambel ijo, beuh! Mantap! Sama es jeruk" kata Ichan kepada penjaga salah satu stan yang ada di sana diikuti juga oleh Maura.
"Sama.." sahut Maura menyamai pesanan mereka.
"Em, Chan! Boleh nanya gak?" tanya Maura.
"Boleh, asal jangan nanya gw udah punya pacar apa belom yaah! Soalnya gw jones sekarang" ucap Ichan terkekeh.
"hemm, disini ada mahasiswi yang bernama Maria gak?" tanya Maura lagi.
"Yang namanya Maria mah banyak, Mauraa... Yang spesifik dong nanyanya" sahut Ichan sambil menyeruput es jeruknya.
"Yang aku tau namanya Maria, nama lengkapnya aku gak tau. Dia temen satu kost ku, kita baru ketemu sekali, karena dia bilang selalu ada kelas setiap harinya, sering pulang malam juga, katanya ada tugas gitulah..
Rambutnya pendek, kacamata lebar lumayan tebal juga, dan pakai kawat gigi. Tau gak sama anaknya? Biasanya orang yang berpenampilan mencolok kayak gitu gampang diinget" ujar Maura menjelaskannya.
"Aku kurang tau, Maura.. Aku kan anak pagi, gak pernah ada kelas malam juga. Lagian ini universitas cukup besar, ada banyak kejuruan yang mahasiswa dan mahasiswi nya berjumlah ratusan hingga ribuan orang, mana tau akuuu" sahut si Ichan.
Pesanan baksonya sudah datang, mereka menikmati makanan mereka tanpa peduli dengan beberapa pasang mata memperhatikannya sejak tadi.
Bless!
Tiba-tiba bulu kuduk Maura merinding, biasanya kalau sudah begitu ada makhluk goib yang tak diharapkan datang didekat mereka. Dan benar saja, sebuah bayangan hitam berdiri tidak jauh dari mereka, makhluk yang sama di samping bu Yuli tadi.
"Kenapa, Maura? Kayak orang bingung aja, diterusin makananmu, nanti dihinggapi laler kan sayang.." tegur Ichan.
"Gak, gak ada.." sahut Maura lagi sambil meneruskan makanannya.
Sedangkan bayangan hitam itu terus menatap tajam kearah mereka, Maura sadar akan hal itu dan berusaha tidak menghiraukannya.
Tiba saatnya mereka selesai, makhluk itu terus mengikuti mereka.
"Chan, aku mau ke perpus dulu yah.. Mau belajar pelajaran yang tertinggal sama aku" kata Maura pamitan sama anak itu.
"Mau ditemani gak, Maura! Kali aja ada yang gak kamu faham, aku bisa bantu.." sahut Ichan menawari bantuan.
"Gak usah, Chan! Makasih, nanti kalau ada yang tidak aku mengerti, aku tanyakan langsung ke kamu deh" ujar Maura sambil tersenyum.
"Ya udah, gw mau latihan basket dulu. Bye!" pamit Ichan.
Maura hanya membalasnya dengan lambaian tangannya, siapa tahu lambaikan disambut oleh 'penjaga' kampus ini.
"****! Biarin ajalah" gumam Maura.
Dia sengaja menjauhkan diri dari Ichan, karena ingin menangkap sosok yang selalu mengikutinya tadi, dia tak ingin anak itu kena imbasnya.
Dia masuk kedalam perpustakaan dan bersembunyi dibalik salah satu rak lemari kayu yang menjadi pembatas juga, dia melihat ada banyak mahkluk didalam perpus itu tapi mereka biasa saja saat Maura masuk.
Tapi ketika makhluk itu masuk, semuanya bersembunyi ketakutan. Membuat Maura berpikir kalau makhluk ini merupakan makhluk yang sudah paling lama tinggal di kampus ini.
Hingga Maura Sendiri yang keluar dari sana menemuinya, makhluk itu menyeringai dan berlahan menampakkan wujud aslinya. Sosoknya seperti seorang kakek-kakek tua, badannya kurus tinggal tulang itu dengan kulit mengkerut dan seluruh tubuhnya ditumbuhi totol-totol merah.
"Apa maumu? Kenapa sedari tadi kau mengikutiku?!" bentak Maura.
"Hihi! Aku tau kau ini manusia yang luar biasa, auramu itu sangat mencolok, anak manusia! Sehingga makhluk seperti kami ini begitu mudah menemukanmu! Hihi!" kata makhluk itu.
"Kenapa, kenapa kalian mengikutiku? Apa yang membuat kalian tertarik?!" tanyanya lagi.
"Aku rasa kamu pun sudah tau apa yang kami cari dan apa yang kami mau, hihi! Mustika batu giok Delima Sakti yang melingkar di lehermu itu! Itu yang membuat kaumku mengikutimu" ujar makhluk kakek-kakek itu.
"Apa istimewanya kalung ini, ini hanya kalung biasa" sahut Maura berpura-pura tidak tahu.
"Cih, kau ini! Kau tidak tahu saja kalau didalam kalung itu memiliki banyak kekuatan yang tersembunyi! Katakan padaku, siapa yang memberikan kalung ini kepadamu?!" tanya makhluk itu sambil mendekati Maura.
"Seseorang.." jawab Maura pelan sambil melangkah mundur menjauhi makhluk kakek itu.
"Seseorang? Hem, apa dia kerabatmu?" tanya makhluk itu menyeringai sambil memperlihatkan deretan gigi-giginya yang tajam itu.
"Bisa jadi.." sahut Maura bermain teka-teki.
"Jangan bermain-main denganku! Aku akan segera mengambilnya darimu, tapi aku harus tau dulu siapa pemilik kalung ini sebelumnya" ujarnya sambil menjulurkan lidahnya membasahi bibirnya itu.
Membuat Maura geli dan jijik melihatnya, karena makhluk itu juga mengeluarkan air liurnya yang bercampur cairan merah kehitaman, bau busuk langsung menyerbak.
"Ih, bau apaan nih! Busuk banget, kita pindah yuk!" terdengar suara anak-anak didalam perpustakaan itu mengeluh atas baunya itu.
"Kau lihat, manusia awam seperti mereka saja sampai bisa mencium bau dari cairan tubuhku. Daripada kau mati karena cairan ini, lebih baik kau bercerita saja kepadaku tentang kalung dan pemilik sebelumnya" ujar Makhluk itu lagi.
"Apa kau tidak berpikir bagaimana bisa kalung sakti ini sampai bisa ada ditanganku? Apa kau tidak ingin mencari tahu dulu? Aku sarankan kau pergi saja dari sini, dan jangan pernah muncul di area kampus ini!
Kalau sampai terlihat dariku, aku takkan diam saja dan langsung menghukummu dan menghancurkannya saat itu juga" ujar Maura memberinya peringatan.
"Hah! Hahaha! Dasar anak manusia, kalian semuanya sama saja! Bisanya menipu, menggertak makhluk seperti kami ini! Padahal kalian tidak memiliki apapun, Haha!
Kau pikir aku akan tertipu seperti makhluk lain?! Tidak akan pernah!" teriak Makhluk tidak terima.
Meskipun dia sebenarnya takut juga dengan Maura, karena dia bisa melihat aura Maura semakin membesar dan menyebar di area perpustakaan itu. Dia juga tau, Maura merupakan titisan sang Dewi perang. Dia hanya tidak mau kehilangan harga dirinya,
Apalagi saat ini para makhluk penghuni kampus ini datang menghampiri mereka, ingin melihat pertarungan mereka siapa yang diantara akan menang, dan itulah akan menjadi tuan mereka.
"Baiklah kalau begitu,," sahut Maura.
Dia mulai menangkupkan kedua tangannya dan auranya yang berwarna-warni itu tiba-tiba berkumpul menjadi gumpalan asap dan membesar dan siap-siap akan menghantam makhluk itu.
"A-ampun, tuanku! Hamba tidak berani, hamba hanya makhluk rendahan biasa! Ampunilah mulut besar hamba ini, tuanku!" ujar makhluk itu tadi.
Tentu saja apa yang dia lakukan itu membuat seisi makhluk yang menontonnya langsung riuh bergaduh, makhluk terkuat di daerah itu malah bertekuk lutut dan memohon ampun Kepada seorang anak manusia!
"Apa yang kau lakukan?! Bangunlah, lakukan seperti yang kau ucapkan tadi" sahut Maura tanpa memikirkan harga diri makhluk tadi yang hancur.
"Ampun, Tuan Putri! Hamba tidak berani.. Ampunilah hamba yang bermulut kasar ini, hukum hamba selama Tuan Putri mau, yang terpenting jangan bunuh aku!" ujar makhluk itu memelas.
"Baiklah, tapi ada satu syaratnya! Carikan aku wanita yang bernama Maria di kampus ini, tunjukkan saja wujudnya, tidak perlu membawanya kemari. Faham!" bentak Maura.
"Ba-baik, Tuan Putri!" sahut makhluk itu sambil melesat pergi jauh.
Maura hanya menghela nafasnya panjang, tidak ada gunanya menjebak makhluk itu toh ternyata dirinya tidak menemukan tentang Maria.
Entah mengapa dia begitu penasaran dengan gadis itu, seolah dia akan membawanya ke suatu tempat, tempat yang akan membantunya menjawab semua misteri ini.
......................
Bersambung