
"Siapa kamu?! Mau apa kamu berada ditubuh gadis ini?!" tanya Maura murka sambil menatap makhluk itu.
"Hihihi! Baru kali ini aku menemukan manusia tidak takut melihatku, hihi.. Menarik!" ucap hantu itu tanpa memperdulikan pertanyaan dari Maura.
Maura kesal diabaikan, dia menginjak tanah yang dipijaknya dengan keras, sekali hentakan menimbulkan suara dentuman cukup kencang, membuat Kalista yang dirasuki oleh hantu Kadarsih terpental lumayan jauh.
"Aaakhh! Sialan kau, aku tak mengganggumu! Jangan salahkan aku jika membalasnya!" ucap si hantu itu murka.
"Kau yang mengganggu duluan, setan tak tau diri! Kenapa kau harus mengganggu mereka, kenapa harus merasuki tubuh gadis ini?!" tanya Maura sambil berjalan kearahnya.
"Bukan urusanmu!" jawab hantu itu tak kalah murkanya.
Dia meloncat tinggi naik keatas pohon yang berada tak jauh dari gang itu, dia menatap sinis kearah Maura seolah ada sedang mengolok dirinya.
"Segala sesuatu yang berurusan dengan orang-orang disekitarku ataupun demi keselamatan umat manusia, aku berhak ikut campur!" teriak Maura.
Dia menendang pohon itu sampai goyah, membuat Kalista sampai terjatuh karena dia tadi berdiri diatas pohon itu tanpa berpegangan, tapi dia langsung berdiri lagi seolah tak terjadi apapun.
"Kau ingin menyakitiku? Tidak akan pernah bisa, yang ada manusia ini yang merasakan rasa sakitnya.." seringai hantu kadarsih ditubuh Kalista.
"Aku tau!" ucap Maura lalu dia mengeluarkan selendangnya dan melemparnya kearah Kalista.
Hantu itu terlalu meremehkan Maura, dia pikir Maura hanya manusia kebetulan yang bisa melihatnya saja, tapi dia tak tahu kekuatan gadis itu yang sebenarnya.
Saat selendang itu melilit tubuh Kalista, dia langsung menariknya kembali, bukan tubuh Kalista yang ketarik melainkan sosok makhluk itu yang terikat dengan selendang itu.
Saat selendangnya berhasil menarik hantu itu, tubuh Kalista langsung lunglai terjatuh tak sadarkan diri. Maura langsung membawa hantu Kadarsih pergi dari tempat itu.
Mereka terbang melayang menghilang begitu saja, saat Kara dan beberapa temannya yang lain datang bersama pak Supri, mereka hanya melihat Kalista jatuh pingsan didalam gang itu, dan langsung membawanya pulang dari sana.
Sementara itu, di alam lain Maura melepaskan hantu Kadarsih, dia tak takut jika hantu itu ingin melarikan diri, setidaknya di alam itu dia takkan bisa pergi jauh, karena masih dalam wilayahnya Dewi Srikandi bersama beberapa pengawalnya.
"Siapa kau?! Kenapa kau bisa membawaku pergi sejauh ini?! Apakah ini adalah.." hantu Kadarsih menatap Maura sedikit takut.
"Tidak penting siapa aku sebenarnya, sebaiknya kau pergi saja dari sini, kehadiranmu di dunia manusia tidak ada gunanya lagi, kau bukan manusia lagi, sadarlah. Ayo.. Akan aku antarkan kau menuju gerbang akhirat.." ucap Maura menjawab pertanyaan dari hantu itu.
"Aku pun sebenarnya ingin begitu, tapi rasa sakit dan dendamku tak membiarkan diriku meninggalkan dunia ini.." ucap Kadarsih sendu.
"Dendam seperti apa yang membuatmu sampai tertahan di dunia ini cukup lama?" tanya Maura lagi.
"Aku diculik, diperkosa, hamil dan difitnah, bahkan yang menyakitkan aku dan bayi didalam perutku dibunuh tanpa belas kasihan sama sekali.." jawab Kadarsih sambil menitikkan air mata darah.
"Biarkan itu menjadi urusan manusia di dunia ini, kau ikhlaskan saja semuanya.. Karena apapun yang mereka lakukan selama masih hidup, itu semua akan mendapatkan balasannya di akhirat nanti disaat ajal menjemputnya nanti.." ucap Maura, meskipun sebenarnya dirinya sangat kasihan dan iba melihatnya.
"Hem, menunggu mereka mendapatkan balasan dari Tuhan itu masih terlalu lama, aku pun belum tentu bisa melihatnya! Aku sudah tak peduli lagi antara dosa atau tidak, setidaknya rasa dendamku terpuaskan dengan membunuh mereka langsung, tanpa harus menunggu mereka menua dan mati karena umur!" ucap Kadarsih masih terlihat marah.
"Sekarang semuanya sudah selesai, dendammu sudah terbalaskan, apalagi yang kau inginkan?" tanya Maura tak mengerti.
"Aku,, aku masih tak relaa.. Jika dia masih hidup tenang di dunia ini, karena kebahagiaan yang mereka dapatkan dari hasil memfitnahku, huaaaa!!" teriak Kadarsih murka.
Dia hendak lari dari sana, tapi kemana pun dia berlari dan bersembunyi selalu bisa ditemukan oleh Maura, atau kemanapun dia berjalan pasti akan berada di titik awal lagi.
"Percuma kau kabur atau berusaha pergi dari sini, kau takkan pernah bisa tanpa seizinku.." ucap Maura menatapnya tajam.
"Tapi bagaimana bisa aku membalas mereka?" ucap Kadarsih terlihat putus asa.
"Aku bisa saja membantu, tapi bantuanku ini bukan untuk menyakiti manusia atau untuk balas dendam.." ujar Maura.
"Terus, apa gunanya untukku?!" tanya Kadarsih terlihat gusar.
"Jika ada yang ingin kau sampaikan, sampaikan saja kepada mereka, tanpa harus menyakiti mereka tentunya, karena jika maupun kau takkan bisa.." jawab Maura.
Setelah beberapa saat, cukup lama Kadarsih berpikir akhirnya dia memutuskan juga setelah memikirkan semuanya dengan matang.
"Baiklah, apa kau bisa mengumpulkan mereka semua yang berkaitan dengan kematianku?" tanya Kadarsih.
"Bisa, kecuali mereka yang sudah mati, karena aku tak bisa mengumpulkan mereka lagi.." jawab Maura.
"Baiklah, aku hanya meminta kedua orang tuaku, Kakakku yang sudah gila, kedua suami istri itu, dan ada tiga warga yang ikut membantu memfitnahku dan memprovokasi atas pembunuhan diriku saat itu, aku juga ingin guruku, hiks! juga datang.." ucapnya terisak sedih.
"Kenapa gurumu? Bukankah dia tidak terlibat?" tanya Maura tak mengerti.
"Dia sangat dekat denganku, tempatku bercerita.. Tapi dia tak percaya semua perkataanku, aku sedih! Aku ingin dia juga tau semuanya.." jawab Kadarsih.
"Sebenarnya, semuanya sudah terungkap. Ketiga warga itu juga sudah tertangkap dan dipenjara saat ini, dan kakakmu gila karena stress akibat memikirkan semua ini.
Rasa sesal yang mendalam, tidak percaya jika suaminya tega mengkhianatinya, adiknya harus mati mengenaskan, dan kedua orang tuamu juga sudah tua dan sakit-sakitan, apa lagi yang kau inginkan?" tanya Maura lagi.
"Aku,aku hanya... Hanya ingin menyampaikan perasaanku saja, pandanganku sendiri mengenai kasusku, karena selama ini tak ada yang mempercayaiku, tak ada yang mau mendengarkan aku.." ucapnya sedih.
"Hufft, baiklah.. Sebaiknya rubah dulu penampilanmu sedikit lebih baik lagi, setidaknya ingatlah penampilanmu terakhir kali.." ujar Maura memberinya sedikit arahan.
Belum lama kemudian, Kadarsih merubah penampilannya menjadi dirinya sebelum mati dikeroyok oleh para warga, dia memakai daster selutut dengan lengannya sepanjang siku tangannya, daster dengan motif bunga-bunga berwarna Salem, rambut panjang lurusnya, dengan wajah pucat dan mata cekung.
"Bersiaplah, sebentar lagi mereka akan datang.." ucap Maura sambil tersenyum kearahnya, melihat sosok Kadarsih yang begitu cantik dan imut.
"Bagiamana caranya mereka datang?" tanya Kadarsih penasaran.
"Saat ini sudah tengah malam, mereka tertidur lelap dan rohnya terangkat melayang dan menuju kesini.." jawab Maura lagi.
"Tapi, mereka pasti tidak akan menganggap aku ada, dan ketika mereka bangun, aku hanya mimpi buruk saja yang lewat di mimpi mereka.." ucap Kadarsih pesimis.
"Jika begitu, pastikan kata-katamu nanti mampu membuat mereka akan mengingatnya seumur hidupnya.." ujar Maura memberinya sedikit semangat.
Tidak lama kemudian, datang juga para roh manusia itu menuju kearah mereka, mereka datang dari penjuru segala arah, mereka datang dengan raut wajah dan tingkah yang terlihat bingung dan heran.
"Selamat datang Kalian semuanya.." sapa Kadarsih menatap mereka dengan ramahnya.
Maura menatap dan memperhatikan mereka semua dari tempat tersembunyi, dia melihat senyumnya Kadarsih terlihat tulus, terlihat dari sorot matanya begitu bahagia saat melihat kedua orang tuanya dan kakak satu-satunya itu.
"Darsih? Itukah kau, Nak?! Ya Allah, anakku! Huhuu.. Pak, Bapak! Ini Kadarsih, anak kitaaa.." ucap ibunya kadarsih terlihat lebih syok dan emosional saat melihat putrinya itu.
Dia menarik suaminya dan memeluk putri mereka itu, terlihat sekali kalau mereka memendam rasa rindu yang amat dalam kepadanya.
"Maafkan Bapak, Nak.. Seharusnya dulu, Bapak mendengarkan kamu dulu, menuruti kemauanmu untuk memeriksa semuanya. Tapi Bapak terlalu terpedaya ucapan lelaki bejat itu! Sekali lagi maafkan Bapak sama Ibu.." ucap bapaknya Kadarsih terlihat sangat menyesal sekali.
Terlihat sekali kedua orang tuanya sangat menyesal dan menderita, sedangkan kakaknya hanya menatap kosong kearahnya, seperti tatapan bingung, takut dan rasa rindu juga ada.
"Kak, aku datang untuk menyampaikan sesuatu kepadamu. Lupakan semuanya, aku sama sekali tak menyalahkanmu atas semuanya ini, karena ini bukan sepenuhnya salahmu.
Wajar, wajar jika kau membela suamimu, wajar jika kau tidak mempercayai semua ucapan jahat tentang suamimu, tapi kadang kita perlu berpikir logika saja, cinta itu buta tapi logika itu sudah pasti.
Semua salahnya karena mengkhianati cintanya kakak, dia yang salah, dia juga yang jahat! Jadi kakak tak perlu memikirkan semuanya lagi, karena dia juga sudah tak ada lagi.
Sekarang aku mohon kembalilah, ingatlah anakku di rumah, Kak.. Dia merindukan sosokmu disampingnya, bapak dan ibu juga membutuhkan dirimu.. Kembalilah.." ucapnya sambil memeluk sang kakak.
Awalnya sang kakak hanya diam saja tanpa respon, tapi lama kelamaan dia membalas pelukan adiknya, dan berteriak histeris menangis pilu di pelukannya.
"Akkh! Maafin aku, maafin aku! Aaakkhh!!" ucap kakaknya itu histeris.
"Iya, aku maafkan kakak.." ucapnya sambil menangis haru.
"Kadarsih.." dia terkejut saat seseorang memanggil namanya.
Dia melihat sosok mantan gurunya menghampirinya, gurunya itu menatapnya sendu, terlihat dari matanya menyimpan sejuta rasa penyesalan. Dia memeluknya dengan erat.
"Maafkan, Ibu.." ucap gurunya itu.
"Tidak apa, Bu.. Aku datang karena aku sangat merindukan Ibu, orang yang sangat aku hormati setelah kedua orang tuaku. Aku sangat bangga dan salut kepada ibu, meskipun saat terakhir Ibu masih tak mempercayaiku.." ucap Kadarsih sedih.
"Sekali lagi, Ibu minta maaaf.. Ibu termakan ucapan dari Sitha, kau tau dia juga sangat dekat denganku, kalian berdua adalah murid-murid kebanggaanku.
Apalagi saat melihatmu sedang hamil, aku yakin apa yang dia ucapkan itu ada benarnya juga, ibu benar-benar menyesal dan meminta maaf.." ucap gurunya itu.
"Iya, Bu.. Saya mengerti dan memaafkan ibu.." ucap Kadarsih sambil tersenyum manis.
Dan kini pandangannya tertuju kepada ketiga warga yang masih memandanginya takut, karena terakhir kalinya mereka sebelum tertangkap dan masuk penjara, mereka sudah bertemu dengan hantu Kadarsih.
Ingatan mereka masih tajam betul, karena itu masih menimbulkan efek yang cukup lama untuk mereka, mereka teringat kembali saat pertama kali bertemu dengan hantu Kadarsih.
Waktu itu, pas tengah malam saat mereka pulang dari pesta kampung sebelah, saat itu mereka sedang mabuk berat tapi pandangan dan telinga mereka masih berfungsi dengan normal.
"Bang, bang... Anterin adek pulang dong.." terdengar suara wanita cantik didepan mereka.
Gadis manis yang tak asing dimata mereka, tapi lupa siapa dia, mereka mendekati sang gadis yang masih tertunduk malu.
"Dek cantik,, mau Abang anterin kemana?" tanya salah satu mereka.
"Kesana?" kata gadis itu masih malu-malu sambil menundukkan wajahnya.
"Kemana?" kata mereka lagi karena gadis itu tidak menunjukkan arah yang tepat.
"Kemana, Dek?" tanya mereka lagi.
Gadis itu mendongakkan wajahnya memperlihatkan wajahnya yang hitam penuh darah pekat dan wajah penuh robekan menganga lebar penuh belatung.
"Whaaa!!" teriak mereka sambil berlari menjauhi tempat itu.
Yang mereka kira sudah berlari cukup jauh dan hantu itu tak mengikuti mereka, tapi nyatanya hantu itu masih berdiri tepat dibelakangnya..
......................
Bersambung