RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Nyai Ratu Sikumbang


Meera berjalan dengan anggunnya, dia tersenyum kepada semua orang yang berpapasan dengannya. Awalnya orang-orang mengiranya hanya sapaan biasa saja, Meera yang ramah seperti biasanya.


Tapi lama-kelamaan sikapnya jadi tak biasa, dia mulai bertanya kepada orang-orang tentang penampilannya, seolah kurang puas dengan dirinya dia terus memoleskan lipstik dibibirnya.


"Hai, apa kabar? Lihat diriku, apakah aku cantik?!" tanyanya kepada setiap orang.


Mereka masih menanggapinya dengan wajar, menganggapnya sebagai lelucon saja, tapi gadis itu tingkahnya semakin lama semakin aneh, seperti bukan Meera saja.


"Meera, apa yang kau lakukan di atas sana turun?!" teriak salah satu temannya memperingatinya.


"Tidak mau, aku ingin jadi pusat perhatian dunia! Aku ingin semua orang melihat kecantikanku, dan aku ingin Ardian tahu betapa berartinya aku baginya!" teriak Meera diatas roof top gedung kampusnya.


Gedung itu tak terlalu tinggi, hanya beberapa lantai saja sekitar enam lantai. Jika seseorang jatuh dari sana lumayan bisa meremukkan tulang-tulangnya, sedangkan Meera saat ini berdiri dipinggir pagarnya sambil tersenyum ceria terus memanggil nama Ardian.


"Kau apakan dia? Kenapa dia seperti orang tak waras seperti itu?!" teriak Joni sambil mencengkram kerah baju Ardian.


Setelah itu dia berlari menuju gedung dan naik ke atapnya, menyusul Meera diatas sana dengan perasaan campur aduk. Dan tentu saja diikuti oleh Ardian dan Maura juga Ichan.


"Meera, apa yang kau lakukan? Turun dari sana pelan-pelan.." ucap Joni sesaat setelah sampai diatas rooftop.


"Siapa kamu?! Aku tak memerlukan dirimu disini, pergi! Aku hanya butuh Ardian sayangku.. Hihi!" ujar Meera cekikikan.


Joni terkejut dengan reaksi Meera terhadapnya, dia sudah biasa mendapatkan perlakuan kasar dan ketus dari gadis itu, tapi hari ini dia benar-benar merasa kalau didepannya ini bukan Meera yang biasanya dia kenal.


"Dia sudah dikuasai sepertinya.." gumam Maura.


Mereka memperhatikan gerak-gerik Meera diatas pagar itu, dia berjalan santai sambil menari-nari seolah sedang berjalan dijalan biasa, padahal itu adalah pagar beton sebagai batas pengaman rooftop itu.


"Kayaknya itu bukan Meera, setauku Meera itu fobia ketinggian.." gumam Joni.


Semuanya menoleh kearahnya, kalau benar kata Joni terus kenapa dia begitu berani naik kesana, orang yang berani saja belum tentu bisa menari-nari diatas sana.


"Kakinya melayang" bisik Ardian kepada Maura.


"Jadi?" Maura jadi khawatir melihatnya.


"Sepertinya jiwa gadis itu sudah ditahan oleh makhluk ini, kita tak tahu dia dipenjara dimana. Sebaiknya kita menolongnya jangan sampai dia pergi dan menghilang sepenuhnya, dan tubuhnya dikuasai oleh makhluk itu" ujar Ardian sambil menatap lurus kearah sosok yang mengendalikan tubuh Meera.


"Aku tau, kau mau menolongnya mencari dimensi para jin itu atau ingin menyelamatkan tubuhnya dulu?" tanya Maura memancingnya.


"Jangan memberikan pertanyaan seperti itu, bukan saatnya cemburu sayang.." ucap Ardian sambil melirik Maura nakal.


Gadis itu mendengus kesal dengan wajah memerah, dia mengelus pipinya yang terasa panas karena malu itu.


"Sempat-sempatnya dia seperti itu.." gumam Maura dalam hati.


"Aku akan menghubungi pak Kyai, Kevin dan Maurice.. Kita minta bantuan mereka" ucap Ardian.


"Lalu, bagaimana dengannya sekarang? Masa iya harus tunggu mereka datang dulu baru bergerak, udah keburu jatuh tuh anak!" ucap Maura gemes.


"Soal itu, kita serahkan kepada Joni.. Apa kamu gak perhatikan anak itu? Sedari tadi dia berusaha mengalihkan perhatian sosok itu, agar dia meraih tubuh Meera" ucap Ardian lagi.


Dan benar saja, ketika mereka kembali beralih pandangan ke Meera dan Joni, Hap! Joni langsung mendekati gadis itu dan memeluk pinggangnya.


"Aakh!" gadis itu terus memberontak dari dekapan Joni, dan..


Buk!


"Ugh!" Meera menyikut perut lelaki kekar itu menggunakan tangannya.


Tak disangka tenaga gadis itu begitu kuat, dia sempat membuat Joni merasa sesak yang sangat dalam saking kencangnya Meera memukul perutnya.


"Kamu gak apa, Jon?!" tanya Ichan sambil memapahnya menjauh dari Meera.


"Gila, pukulannya kuat banget. Kayak tenaga lelaki, apa dia diam-diam berolahraga selama ini?!" tanya Joni bingung sambil meringis kesakitan.


"Udah, kamu disini saja sama aku.. Kita serahkan saja pada Maura dan Ardian" ucap Ichan sambil menarik lelaki itu menjauh dari sana.


Mereka melihat Maura dan Ardian mulai mengepung Meera yang kebingungan itu, setelah sosok didalam tubuh Meera menyeringai sambil menatap Maura, dan meloncat kearah Ardian.


"Ardian!" teriak Maura.


Dengan cekatan Ardian menghindar dari serangan sosok itu, sepertinya sosok itu tak perlu berpura-pura lagi didepan mereka, bagaimanapun juga keduanya sudah tahu siapa dirinya.


"Nyai, keluarlah.." ucap Ardian menatap lurus kearah sosok itu.


"Hihi! Reinkarnasi dari panglima besar kerajaan Sriwijaya dan calon ratu kerajaan, kalian akan menyerangku? Mau mengurungku bersama para jin dan penyihir itu?! Haha! Takkan bisa, itu takkan bisa kalian lakukan!" teriak sosok itu didalam tubuh Meera.


"Tidak, aku takkan mengurungmu didalam sana bersama mereka. Tapi aku akan langsung melemparmu kedalam kerak neraka karena sudah menjerumuskan manusia" ucap Ardian geram.


"Apa, menjerumuskan?! Hahaha! Dasar munafik kalian, aku tahu semuanya tentang masa lalu kalian, aku tau aib-aib kalian disini. Mau aku katakan semuanya? Mau aku bongkar semuanya?!


Haha! Manusia itu sendiri yang mengundangku datang padanya, dia yang sombong, hatinya kotor dan selalu berharap lebih pada sesuatu yang tak mungkin dia miliki.


Jadi, jangan salahkan aku atau jin, setan lainnya mendekati manusia seperti itu. Jadi, menjauhlah kalian jika tak ingin kena tulah olehnya" ucap sosok ditubuh Meera menatapnya tajam.


"Soal baik buruknya sikap dan tingkah laku manusia, biarkan itu jadi urusannya dengan yang maha kuasa. Kita lihat saja nanti dia akan disiksa dialam kubur dan neraka atas semua keburukan yang dia lakukan.


Nyai ratu Sikumbang, ratu jin yang ditakuti oleh kaum jin lainnya, selain bentuknya menyerupai sosok yang diincarnya, seperti saat ini, yaitu Meera. Dia juga berbentuk harimau kumbang, sesuai namanya. Harimau yang seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu berwarna hitam tanpa cela.


"Aku tau kau akan berkata seperti itu, Aryaloka! Tapi ingat, aku bukan yang dulu begitu mudah kau kalahkan. Aku sekarang sudah cukup memiliki ilmu dan kekuasaan untuk mengalahkanmu dan teman-temanmu!" ucap sang Nyai.


"Hentikan, Nyai..." tiba-tiba terdengar suara pak Kyai dari arah belakangnya.


Dibelakang mereka sudah ada pak Kyai, Kevin, Maurice juga Nur dan Rizal. Mereka datang setelah dihubungi oleh Ardian, tunggu ada yang aneh bukan?


"Bagaimana caramu menghubungi mereka? Aku tak melihatmu menelpon seseorang tadi.." tanya Maura heran.


Ardian hanya tersenyum sambil menunjuk kepalanya sendiri, dengan kata lain dia mengatakan jika dia menghubungi pak Kyai menggunakan telepati.


"Kok bisa?!" tanya Maura takjub.


"Bisalah.." sahut Ardian sambil tersenyum.


Mereka bergabung dengan yang lainnya, mereka juga meminta Joni dan Icha menunggu dibawah saja, menuggu mereka menyelesaikan urusan itu.


"Sebenarnya siapa kalian?" tanya Joni heran.


"Bukan siapa-siapa, tunggu saja kami dibawah dan doakan kami berhasil menyelamatkan Meera, dan jangan lupa berdoa nanti, ajak juga teman-teman kalian atau siapapun yang dibawah untuk mendoakan Meera agar segera kembali" sahut pak Kyai.


"Ba-baik Kyai.." sahut Joni dan Ichan.


Mereka turun kebawah dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka, tapi mereka harus menahannya sampai urusan mereka selesai.


"Kita harus merahasiakannya, Joni. Kita juga harus memikirkan keselamatan mereka, jangan sampai identitasnya ketahuan" ucap Ichan sok bijak.


"Iya, gw tau!" ucap Joni kesel dengan sikap Ichan itu, padahal mulutnya biasanya ember.


Mereka menunggu dengan harap-harap cemas bersama yang lainnya, dan mengikuti saran pak Kyai untuk melantunkan beberapa ayat dan doa untuk membantu mereka menyelamatkan Meera dalam kurungan Nyai itu.


Sementara di atas rooftop itu, mereka semua mulai membentuk sebuah formasi mengelilingi sosok yang merasuki Meera, karena pak Kyai dan Ardian tau sosok ratu jin ini bukanlah lawan yang mudah.


"Mau apa kalian semuanya?! Mau mencoba mengurungku lagi, panglima Adyaseka! Kau takkan berhasil kali ini!" ujar sosok itu sambil berlari ingin menerobos lingkaran formasi itu.


"Ugh! Aakh!" dia mengerang kesakitan dengan mengeluarkan suara serak mengerikan.


Bagaimana tidak, mereka mengeluarkan tenaga dalam mereka membentuk sebuah energi yang melindungi mereka dari serangan makhluk gaib, juga berfungsi sebagai pagar atau tali pengikat agar makhluk apapun takkan bisa menembus lingkaran itu.


"Menyerahlah, Nyai! Masa kejayaanmu sudah selesai, semua anak buahmu menyerahkan diri, kini kau hanya tinggal seorang diri" ucap pak Kyai.


"Tidak, aku takkan menyerah begitu saja! Aakhhh!" teriaknya lagi.


Tapi dia adalah ratu jin, akalnya begitu banyak untuk bisa meloloskan diri dari sana. Pandangan beredar memandangi sekelilingnya hingga dia berhenti kearah Nur.


"Aku bisa pergi melalui dirinya, dia tidak terlalu fokus karena hatinya masih goyah.. Ugh, aku tau.. Haha! Dia cemburu pada seseorang rupanya, haha.. Aku bisa gunakan dirinya" ucap sang ratu jin menyeringai.


Dia membuat sebuah ilusi dimata Nur, dia menciptakan sebuah pemandangan tak mengenakan yaitu dimana Rizal sedang meminang Maura.


Tiba-tiba saja gadis itu sedikit oleng, dan secara refleks Rizal menangkap. Dan terciptalah celah diantara mereka, pagar gaib itu sobek dan Nyai ratu jin itu secepat kilat melesat terbang menerjang celah itu, pergi meninggalkan mereka.


"Tidak!" teriak semuanya.


Mereka ingin mengejar makhluk itu, tapi sayangnya dia membawa tubuh Meera loncat dari gedung satu ke gedung lainnya. Karena di kampus itu ada tiga gedung dan semuanya tingkat ketinggiannya berbeda, sekarang Meera berdiri di gedung seberangnya sambil menyeringai meledek mereka semuanya.


"Maafkan aku.." ucap Nur merasa bersalah dikarenakan makhluk itu berhasil lolos dari mereka.


"Tidak apa, bukan salahmu.." jawab Rizal sambil memandangnya sendu.


"Siapa yang berani meloncat ke gedung itu?" tiba-tiba pak Kyai bertanya seperti itu.


Tentu saja semuanya menggeleng karena jarak antara gedung satu ke gedung lainnya cukup jauh, yang ada nantinya mereka akan terjun bebas kebawah jika nekat loncat dari sana.


"Ya udah jika tak bisa, biar saya saja.." ucap pak Kyai.


Belum selesai mereka semua menanggapi ucapannya, pak Kyai langsung melompat tinggi menyusul makhluk itu digedung seberang.


"Haaaah?!" mereka semua dikejutkan oleh aksinya itu.


Bagaimana tidak lelaki yang tidak muda lagi itu melompat dengan kekuatan penuh meninggalkan mereka semua di sana.


"Sebenarnya, siapa sebenarnya pak Kyai ini? Lantas, kenapa Nyai ratu memanggilnya panglima Adyaseka?" Maura masih dengan misteri dibalik keingintahuannya itu.


......................


Bersambung


Untuk bab ini aku mengambil sedikit kisah temanku sewaktu sekolah, dia pernah kerasukan jin yang membongkar semua aib teman-teman dikelas, bahkan berdebat dengan guru kami.


Jika dipikirkan lagi, sekolahku adalah sekolah Madrasah dimana ayat-ayat suci Al-Qur'an selalu dilantunkan dan asma Allah selalu kami ucapkan setiap kali masuk kelas, karena itu tradisi di sekolah.


Dan para jin di sekolah itu masih bertahan, dan bisa merasuki salah satu temanku, padahal dia juga sangat taat beribadah. Satu hal yang tak bisa aku lupakan, saat jin itu berdebat soal agama kepada guru kami, dan mencoba menyesatkan kami dengan pikirannya.


Semoga kita semua terhindar dari segala godaan setan dan jin terkutuk, amiin..