RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 (PNS) Sebuah Apotek 4


Beberapa kali Maurice mencoba menelpon Kevin tapi tak bisa terhubung juga, dia khawatir jika suaminya itu kenapa-kenapa, karena kejadian tadi sore membuatnya sedikit trauma, memang mereka sudah terbiasa dengan semua kejadian mistis yang mereka alami beberapa bulan ini, tapi tetap saja membuatnya masih takut juga.


"Semoga dia tidak kenapa-kenapa,, pulang dalam keadaan sehat dan selamat, amiin.." doanya dalam hati.


Sementara itu, Kevin mulai bersiap akan pulang setelah kelasnya bubar, dia turun dari kelasnya itu menuju lantai bawah dan berjalan ke area parkir motor mahasiswa, keadaan diluar sudah gelap, dingin dan sepi.


Mungkin karena malam hari, tidak banyak kelas diadakan apalagi semenjak kasus bu Vera, kelas malam dikurangi jadwalnya dan jamnya juga tidak lewat dari jam sembilan, tapi malam ini Kevin pulang lebih awal, jam delapan malam dia sudah selesai kelasnya.


"Sepi banget disini, apa karena sebagian sudah pada pulang yah? Ugh, dingin! Mudah-mudahan didalam jok motor Ardian ada jas hujan.." gumamnya sendirian.


Dan untungnya jas hujan itu beneran ada, dia langsung memakainya dan bersiap untuk pulang, saat dia sedang memakai jas hujannya, dia seperti melihat ada bayangan lain dibelakangnya, saat menoleh tidak ada apapun di sana.


"Mungkin bayangan jas hujan ini.." katanya mencoba berpikir positif.


Dia melajukan motornya dengan kecepatan sedang karena hujan dan pandangannya sedikit terhalang oleh hujan, baru saja dia ingin keluar dari pintu gerbang, tiba-tiba saja dia dikagetkan oleh sesuatu yang melintas dengan cepat.


Sreeet!


Tiiinn!


Braaakk!


Dia sangat kaget sampai tak sengaja menyembunyikan klakson motornya, dan tak bisa mengendalikan laju motor tersebut hingga terpeleset dan terjatuh, untung saja dia tak mengebut dan sempat mengerem, jadi tidak membuatnya terluka parah.


"Nak, kamu gak kenapa-kenapa?" tanya pak Damri salah satu security yang berjaga malam itu, dia menghampiri Kevin dengan jas hujannya itu.


"Gak apa, Pak. Tadi hanya kaget aja, jadi kepeleset kayak gini deh.." ujar Kevin berusaha tersenyum meskipun dia merasakan perih di lengannya.


"Hati-hati, hujan jadi jalanan agak licin dengan air hujan. Untung kamu gak apa-apa, dan aku lihat motornya juga baik-baik saja.." ujar pak Damri lagi.


"Alhamdulillah ya, Pak.. Terima kasih ya, saya pamit dulu. Assalamualaikum.." ucap Kevin pamit.


"Wa'alaikumsalam, iya hati-hati..," ujar pak Damri.


Kevin kembali melajukan motornya dengan hati-hati sambil memperhatikan pak Damri lewat kaca spionnya, dia bisa melihat dengan jelas ada bayangan hitam dibelakang satpam kampusnya itu.


"Semoga bukan pertanda buruk..," gumamnya berulang kali terus beristighfar.


Setengah perjalanan menuju rumah tempat tinggalnya, dia sempat mengambil jalan pintas agar lebih cepat sampai rumah, dia melewati jembatan yang ditengahnya ada kali kecil.


Dia tak sengaja melihat ada seorang wanita bergaun merah dengan rambut setengah disanggul basah kuyup karena hujan, wanita itu terlihat seperti sedang menangis berdiri dipinggir jembatan.


"Apa yang dia lakukan di sana? Hei, Nona! Hati-hati, ini hujan jembatan licin nanti kamu bisa terpeleset dan jatuh nantinya!" ujar Kevin berusaha memperingati gadis itu.


Tapi gadis itu hanya menoleh sebentar kearahnya lalu tiba-tiba..


Byur!!


Dia melompat terjun kedalam kali itu, sontak membuat Kevin terkejut oleh perbuatan gadis itu, tapi anehnya semua orang yang berada di sana tak ada yang peduli, bahkan beberapa motor yang lewat juga seakan tak melihat apapun.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" gumamnya heran dan juga penasaran.


Dia menepikan motornya dan berjalan menuju tempat gadis tadi berdiri, dia melongok kebawah jembatan, arus air dibawah sana cukup deras dan dia tak melihat siapapun dibawah, dia khawatir gadis itu sudah hanyut terbawa arus kali tersebut.


Tiba-tiba saja, tanpa disadari oleh Kevin ada sepasang tangan menjulur dari arah kali dibawah, dia berusaha meraih kaki Kevin untuk menariknya kedalam sungai dibawah jembatan itu.


"Nak!" seorang bapak-bapak menariknya tiba-tiba untuk menjauhi area pinggir jembatan itu.


Alhasil tangan misterius dibawah kali gagal meraih kakinya, dan tangan tersebut menghilang begitu saja. Kevin yang terlihat merenung tadi sangat kaget karena seorang lelaki cukup tua menariknya menjauhi tempat tadi.


"Apa yang kau lakukan disini, hati-hati jangan suka melamun nanti kesambet, baru tau rasa!" ujar bapak itu tadi.


"Eh, saya gak melamun kok Pak, justru saya tadi melihat ada orang yang melompat dari jembatan ini, pas saya lihat sudah tak ada, apa dia tenggelam dan terbawa arus yah?" ujar Kevin bercerita apa yang dia lihat, termasuk dengan keheranannya tadi.


"Gak ada siapapun disini dari tadi, Nak. Bapak dari tadi mangkal di sana, gak liat siapapun diatas jembatan ini, sudah gak usah dipikirkan, pulang saja sana!" ujar bapak itu tadi, dan ternyata seorang supir angkot.


"Tapi beneran kok, Pak! Apa yang saya lihat tadi.." Kevin enggan meneruskan ucapannya, dia tiba-tiba menjadi merinding sendiri.


"Kali dibawah jembatan itu, cetek alias dangkal. Dan airnya paling naik sedikit saat hujan seperti ini, sudahlah, anggap saja ada yang iseng buat ngerjain kamu.." ucap bapak itu.


"Oh, begitu. Baiklah.. Terima kasih, Pak.." ucapnya langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Kevin melajukan motornya dengan berbagai pertanyaan di kepalanya, dia masih belum mengerti dengan apa yang dia lihat dan alami barusan. Sedikit lagi dia sampai rumahnya, tiba-tiba..


"Koko!" dengan jelasnya dia mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan kakak lelaki dari bangsa Tionghoa.


Ckiiit!


Sekali lagi dia memberhentikan laju motornya begitu saja, kali ini dia berhenti di area sepi dan minim pencahayaan, mungkin sudah memasuki pemukiman warga jadi sepi karena semua orang didalam rumah, hujan dan malam, sangat tepat sekali.


"Siapa itu?!" tanya Kevin sambil mengedarkan pandangan matanya.


Tiba-tiba saja matanya tertuju kepada seorang wanita bergaun merah, penampilan yang sama dengan gadis yang dia lihat diatas jembatan tadi, dia langsung merinding dan tahu, apa yang dia lihat dan temui itu bukan hal yang nyata.


Kevin tak mau tau lagi, dia langsung menancapkan motornya dengan kencang dan menerobos jalanan begitu saja, bahkan dia tak peduli dengan sosok itu yang berusaha menghalangi jalannya.


"Berhenti!" teriak sosok itu.


Tapi Kevin terus melajukan motornya, dan tiba-tiba saja sosok itu menghilang begitu saja, Kevin terlihat lega dan akhirnya dia bisa melajukan motornya dengan tenang kembali.


Tapi ada yang aneh, dia merasakan dibelakang jok motornya seperti ada yang menempel dengannya, dia bisa merasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya, mencoba memeluknya dari belakang.


"Koko... Aakkuuu,, iikkutt..." terdengar suara serak dan pelan pas di telinganya, membuat Kevin langsung merinding.


Untung saja kejadian sudah didepan rumahnya, sehingga dia bisa lebih tenang apalagi dia melihat ada Ardian yang sedang duduk didepan teras bersama orang lain.


"Jangan berhenti, terus lajukan kendaraanmu jika tak ingin terluka!" ujar makhluk dibelakangnya.


"Aku tak takut padamu, Ardian! Allahu Akbar!" teriaknya sambil terus melajukan motornya kenceng masuk ke pekarangan rumah.


"Kevin!" teriak Ardian kaget.


Ternyata di sana selain ada Ardian, juga ada pak Kyai dan Rizal, dibawah juga ada seekor kucing yang sangat familiar dengannya.


'Meeeeooongg! Grrrr!" Gerry langsung beraksi saat melihat Kevin tiba didepan rumah dengan cara seperti itu.


Dia langsung meloncat kearah Kevin, menyerang makhluk yang berada dibelakangnya, sehingga makhluk itu kewalahan dan akhirnya menghilang begitu saja.


Kevin langsung turun dari motornya, dia terduduk lemas didepan teras, dia masih syok dengan apa yang dia alami sepanjang perjalanan dia pulang dari kampus hingga ke rumah.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Rizal.


Kevin hanya menggeleng saja, dia berusaha bangkit dari duduknya dan menenangkan diri, Ardian sedang memarkirkan motornya dan pak Kyai sedang menenangkan Gerry yang terus mengeong kearah luar pagar rumah tersebut.


"Tenanglah, Gerry. Setelah ini dia tidak akan berani lagi masuk ataupun mendekati rumah ini lagi.." ujar pak Kyai ikut memperhatikan diluar rumah tersebut.


Mereka melihat ada sosok lain diluar rumah, sedang mengamati mereka, sorot matanya yang tajam mengintimidasi, dia menatap murka kearah mereka.


"Kali ini dia tidak akan pergi begitu saja.." ucap Ardian.


"Dan kita juga tak akan diam saja, pastinya.." ucap pak Kyai.


Mereka masuk kedalam rumah, dan tentu saja sebelumnya sudah memagari sekeliling rumah dengan pagar gaib agar makhluk apapun tidak mendekati ataupun berusaha mengganggu mereka lagi.


"Kevin, apa yang terjadi?" tanya Ardian penasaran dengan sahabatnya yang masih terlihat syok itu.


Kevin setelah kejadian tadi, langsung dibawa oleh Ardian juga pak Kyai dan Rizal masuk kedalam dan mencoba menenangkan jiwanya yang masih terguncang, setelah meminum air yang sudah didoakan, akhirnya dia bisa kembali tenang lagi.


"Sejujurnya aku juga tak mengerti apa yang terjadi, aku pikir sepertinya aku kembali diuji lagi dengan semua ini, tapi mengapa?" tanyanya bingung.


Setelah itu dia menceritakan semuanya apa yang dia alami saat pulang dari kampus hingga sampai didepan rumah, dia ceritakan semua tanpa terkecuali, sampai pikirannya yang terasa janggal pun dia katakan juga.


"Kalau mendengar perkataanmu itu, aku yakin ini bukan kebetulan semata, sepertinya ada yang mengincar kalian sejak awal.." ujar pak Kyai ikut menanggapi.


Mereka semua nampak berpikir, terutama Ardian, Maura juga Maurice.. Apa ini semua adalah ulah pemilik apotek? Tapi apa tujuannya sebenarnya? Maurice jadi teringat dengan pemilik apotek tersebut, karena dia baru ingat saat berada didalam apotek, dia sempat melihat ada foto kecil yang berada diatas nakas yang disampingnya ada dupa.


Foto seorang gadis bergaun merah, rambutnya tersanggul rapi dengan konde, tersenyum manis dengan wajah oriental nya, tapi ada yang berbeda, karena gadis didalam foto itu sedang hamil.


......................


Bersambung