
Diam-diam Maura mencari Dewi Srikandi sendirian tanpa ditemani oleh Ardian maupun panglima Arialoka, dia melakukan panggilan gaib ke Maharaja Balaputradewa, karena dia yakin hanya sang raja lah yang mampu membantunya.
Saat ini Maura didalam sebuah ruangan kosong di rumah sakit itu, tengah malam dia melakukan ritual pemanggilan itu, tidak memakai media apapun, dia hanya duduk bersila dan memejamkan mata.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba angin kencang bertiup entah darimana, dari kejauhan Maura mendengar suara kereta kuda berjalan semakin dekat dengannya, suara kaki kuda diiringi gemerincing suara lonceng dilehernya menggema di kesunyian malam.
Kriieeett!
Terdengar suara pintu ruangan itu terbuka, pelan-pelan Maura membuka matanya, pertama dia merasa sangat silau sekali karena didepannya itu nampak ada bayangan orang yang memakai pakaian kebesarannya yang terbuat dari emas berlian dan berbagai mutiara didalamnya.
"Maura, kenapa kau memanggilku?" tanya sang raja dengan wibawanya.
"Maafkan hamba, Baginda. Hamba hanya bingung harus bertanya kepada siapa, dan harus mengadu kepada siapa.. Karena sahabatku, saudaraku, rekanku.. Dewi Srikandi tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
Sekiranya Tuanku Baginda mengetahui keberadaannya, bolehkah hamba menemuinya, atau.. Meminta bantuan Baginda untuk menemukannya.
Bukankah Baginda dulu pernah berkata, jika aku perlu bantuan apapun, aku boleh menghubungi ataupun meminta kepadamu?" tanya Maura tanpa berbasa-basi.
"Hem, kau mengingatkanku kepada Putri Dadar Bulan, dia begitu tegas, sigap dan tidak bertele-tele, itu kenapa aku begitu menyukainya.
Jangan khawatir Maura, dia baik-baik saja.. Dia sedang berada di kerajaanku, sedang menjalani hukumannya sampai waktu yang tak ditentukan.
Kau lakukan saja tugasmu, aku yakin kau bisa tanpa dirinya, aku yakin sebelum ini kau sudah banyak belajar darinya, dan sudah banyak juga ilmu yang diturunkannya kepadamu.." ucap sang raja menjelaskan semuanya.
Maura sedikit lega mendengar jawaban sang raja, yang membuatnya heran kenapa Dewi Srikandi tiba-tiba ada didalam istana? Hukuman? Hukuman apa yang dimaksudkan oleh raja?
"Maaf Baginda, jika hamba lancang. Bolehkah hamba bertanya soal Dewi Srikandi?" tanya Maura hati-hati.
"Apa kau ingin bertanya kepada dia berada di sana tanpa sepengetahuanmu? Dan kenapa dia dihukum?" tanya balik sang raja.
Maura hanya mengangguk saja tanpa berani menatap wajah sang raja, ataupun menengadahkan wajahnya, karena sang raja sangat berkilau jika datang ke dimensi manusia.
Auranya sangat kuat, membuat para jin, para makhluk tak kasat mata lainnya bergetar ketakutan dan memilih pergi dari sana berpuluh-puluh mil jauhnya. Bahkan para dukun ataupun manusia pengguna ilmu hitam pun takut akan kehadiran sang raja.
Karena dia mampu mendeteksi puluhan bahkan ratusan mil para manusia yang bersekutu dengan jin laknat itu, jika ketahuan oleh sang raja, maka ilmu mereka akan dikuras habis.
"Kau tau jika Dewi Srikandi merupakan salah satu jin terkuat di seluruh dimensi ini, dia diberkahi sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Selama ini tak ada satupun makhluk lain yang bisa menandingi ilmunya.
Bahkan panglima Arialoka pun bukan tandingannya, dia juga sangat dihormati dan dihargai banyak makhluk dari kalangan manapun, termasuk para manusia penyembah jin sekalipun.
Dia memiliki harga diri yang sangat tinggi, kehormatannya ada di mahkotanya, jika dia diremehkan ataupun dilecehkan oleh makhluk lain, entah itu secara fisik ataupun emosional..
Maka, tak ada ampun bagi mereka, itu juga yang terjadi waktu itu, disaat dia dijebak oleh makhluk jin rendahan, dia merasa harga dirinya diinjak dan dihancurkan, maka dia membalasnya dengan sebuah penyiksaan menyakitkan.
Kau tau, salah satu senjata andalannya selain selendang itu, adalah sebuah senjata maharaja para raja-raja jaman dulu, sebuah trisula milik para dewa.
Dia memilikinya, dia menggunakannya untuk membalas perbuatan para makhluk rendahan itu, dia merasa terhina sekali karena berhasil dikelabui oleh mereka. Dan kau tau apa yang terjadi..
Dia membunuh salah satu dari mereka, menggunakan senjata itu, sedangkan senjata itu tidak boleh digunakan disembarang tempat dan tidak bisa digunakan untuk melawan lawan yang lebih lemah darinya.
Oleh karena itu, dia harus menjalani hukumannya dengan sukarela, karena dia sadar atas kesalahannya itu. Jadi aku harap kamu mengerti, Maura. Dan bisa memaklumi semuanya.." ucap sang raja kembali menjelaskannya.
"Hamba mengerti, Baginda. Tapi.." Maura terlihat ragu dengan kemampuannya sendiri.
"Maura, apa kau ingat dengan benda yang diberikan oleh panglima Adyadharma?" tanya sang raja.
"Ah! Aku hampir melupakannya, tapi.. Bagaimana bisa Baginda tau dengan itu semuanya?" tanyanya dengan polos.
"Wah, kau meragukan kemampuanku, Maura! Apa yang tak bisa aku lakukan dan apa yang tak kuketahui, bukannya bermaksud sombong dan pongah, dan tidak pula bersifat durhaka kepada Yang Maha Kuasa..
Tapi aku memiliki sesuatu yang tak dimiliki semua makhluk di dunia ini, dan aku diberikan sebuah mukjizat oleh Maha Kuasa untuk memantau semua perbuatan para makhluk dibawah kuasaku" jawab sang raja.
Dia menjelaskannya dengan perasaan tertekan, dia malu harus menjelaskan kemampuannya itu. Dia malu, hanya sedikit kekuatan yang diberikan oleh Tuhan, dia tak mau lupa diri.
Maura semakin takjub dan kagum dengan Maharaja Balaputradewa, itu kenapa dia begitu dihormati dan disegani banyak makhluk lainnya.
"Baiklah, Maura. Aku pikir kau sudah mendapatkan jawabannya atas semua pertanyaanmu itu, aku harus kembali. Dan gunakan tusuk konde milik Dewi jika dalam keadaan terdesak saja.
Itu bukan hanya berfungsi sebagai senjata saja, dia bisa menjadi apa saja sesuai yang kau inginkan, gunakan dan manfaatkan sebaik-baiknya.." ucap sang raja.
Dia kembali ke kereta kencananya dan beriringan dengan suara hembusan angin yang kencang, dan seketika hening kembali ketika sang raja sudah pergi sepenuhnya.
"Huft, jadi itu sebabnya dia pergi, jadi wajar saja jika dia tak sempat mengabariku.." gumamnya sambil memainkan konde kecil ditangannya.
Baiklah, bagaimana kita rubah dulu jadi senjata setelah itu baru benda lain" ucapnya bermonolog sendiri.
Dia menggenggam erat konde itu, dengan memusatkan pikiran ke benda itu, dia membayangkan pedang panjang yang sangat kuat dan tajam dan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Criiinng!
Tiba-tiba saja tangannya begitu berat, saat dia membuka matanya dia sangat terkejut dan kagum sekali, karena konde tadi telah berubah menjadi pedang yang sesuai yang dia bayangkan tadi.
Kembali dia membayangkan beberapa benda yang ada dipikirannya, kipas mas, tombak, panah, belati, bahkan cambuk sekalipun dia bisa.
Tapi sangat berbeda ketika dia membayangkan kalau konde itu berubah menjadi tas, sepatu, perhiasan ataupun uang, dia sama sekali tidak berfungsi.
"Sepertinya benda ini hanya berfungsi untuk senjata saja, tidak untuk benda lain.." gumamnya.
"Lebih tepatnya, dia tak berfungsi untuk benda duniawi, dia takkan berguna untuk kau pikirkan tentang hawa nafsumu saja" tiba-tiba saja ada panglima Arialoka didepannya.
"Panglima, bagaimana kau tau aku berada disini, dan sejak kapan?" tanya Maura terkejut.
"Semenjak kehadiran Baginda raja, aku tau. Apalagi setelah kau bereksperimen dengan benda itu, tentu saja aku tahu. Itu sangat menarik semua makhluk yang ada disini.." ucap panglima Arialoka menjelaskan semuanya.
"Tapi dari tadi aku tak melihat siapapun, kecuali dirimu.." sahut Maura.
"Tentu saja, sudah aku halangi dari tadi. Jika tidak mereka sudah pasti berebutan ingin merampas benda itu ditanganmu. Mau sekuat apapun kau, aku yakin kau takkan kuat melawan mereka semua.." ucap panglima lagi.
"Jadi, seberapa banyak mereka?" tanya Maura penasaran lagi.
"Bayangkan saja seberapa banyak orang di kota ini? Sedangkan mereka lebih banyak dibandingkan orang-orang di kota ini.." ujar panglima menjelaskannya.
Maura menelan salivanya dengan kasar, dia tak bisa membayangkan betapa kesusahannya dia melawan para makhluk itu sendirian.
"Sudah, kau simpan saja benda itu. Tenang saja, dia takkan hilang selama tak kau taruh sembarang tempat.." ucap panglima lagi.
"Terus, apa aku harus memakainya terus?" tanya Maura.
Panglima Arialoka hanya mengangkat bahunya, Maura hanya menghembuskan nafasnya kasar, dia keluar dari ruangan itu mengikuti sang panglima dengan perasaan deg-degan.
Dan benar saja, saat dia keluar dia melihat begitu banyak makhluk gaib menunggunya didepan pintu. Maura sangat takut sekali, ketika para makhluk itu ingin mendekatinya dan dia bersiap ingin melawan mereka.
Tapi ada kejadian yang mengejutkan, para makhluk itu malah mundur ketakutan saat Maura mengeluarkan kondenya, sejenak terdiam sebentar. Mereka semua kompak menunduk hormat kepadanya.
Maura terkejut melihat itu semua, dia benar-benar terpana dengan semua kejadian itu, dia bagaikan sang Dewi yang sudah ditunggu kehadirannya.
"Dewi, kami siap berperang di samping anda"
"Panggil saja kami, maka kami akan datang dengan bala bantuan lainnya"
"Kau adalah junjungan kami, kau adalah Dewi kami.."
"Segala hormatku kepada sang Dewi.."
Berbagai ucapan hormat dan kagum saat para jin itu melihat Maura dan memberikan hormat mereka kepadanya, membuat Maura mematung.
Bagaimana tidak, ada puluhan ah tidak! Mungkin ratusan makhluk yang ada didepannya saat ini, dan semuanya memberikan hormat kepada Maura.
"A-aku bukan Dewi perang kalian, aku bukan Dewi Srikandi! Aku Maura, hanya Maura.." akhirnya dia berhasil berbicara juga.
"Bagi kami kau adalah Dewi perang kami, kau adalah titisan sang Dewi. Kau hidup di dunia ini, lahir di jaman ini, tapi tak mengurangi rasa hormat kami kepada anda, Dewiku.." ucap salah satu dari mereka.
Maura merasa aneh dan bingung, dia menatap panglima Arialoka, dan sang panglima hanya tersenyum dan mengangguk saja tanpa berkata apapun.
Maura bingung harus bagaimana, dia diam sejenak dan kemudian memerintahkan mereka untuk pergi dari sana. Tapi para makhluk lain itu enggan pergi sebelum diberikan perintah olehnya.
"Baiklah, kalian menyebarlah diseluruh kota ini. Beri perisai pelindung dari semua makhluk jahat lainnya, lindungi manusia jika ada makhluk lain ataupun ada manusia pengguna ilmu hitam yang ingin mencelakai manusia lainnya.
Lindungi juga tempat ini, jangan menampakkan diri dihadapan manusia, itu saja. Pergilah!" ucap Maura.
Dan akhirnya mereka pun pergi dari sana melompat dan melayang bagaikan kembang api menyebar ke seluruh kota itu.
......................
Bersambung