
Setelah cukup lama Maura tertidur di dalam kamarnya, tiba-tiba dia terbangun oleh suara dentuman keras dari atas atap kamarnya. Suara dentuman itu sangat keras hingga membuatnya terlonjak bangun seketika. Dengan sedikit menahan rasa nyeri diperutnya, dia memaksakan diri untuk keluar, melihat ada apa diatas sana.
"Loh kok udah gelap aja? Emang sudah berapa lama aku tidur sih?!" gumamnya heran saat melihat keadaan diluar begitu sepi dan hening.
Sesaat dia diam sebentar, dia mengamati semuanya dengan teliti dan bahkan Kunti diatas pohon rambutan itupun tak ada, rasanya tidak mungkin makhluk itu pergi begitu saja, secara dia merupakan penunggu pohon itu yang sudah sangat lama sekali.
"****, aku lelah! Biarkan aku istirahat sebentar saja, aku juga lagi mengalami hari tak menyenangkan sekarang ini, jadi tolonglah jangan ganggu aku untuk saat ini!" teriaknya dengan keras.
Kemudian dia masuk kembali kedalam kamar dengan membanting pintu kamarnya dengan kencang, dia benar-benar kesal sekali baru saja pulang sudah diganggu saja. Dan benar saja, tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamarnya diketuk dari luar.
Tok!
Tok!
Tok!
"Maura, Maura! Masih tidur yak?!" terdengar suara bu kost dari arah luar.
Krieet!
"Ya, bu?" Maura membuka pintu kamarnya dengan malas.
Seketika dia langsung memicingkan matanya, karena tak sengaja kesorot dengan pantulan sinar matahari dari arah kaca jendela salah satu kamar kost lainnya, dia melihat ke sekelilingnya hari sangat terang sekali, menandakan masih siang hari.
"Maura, kata Ardian tadi kamu lagi sakit perut? Datang bulan yak? Ini ibu buatin kamu jamu tradisional khusus melancarkan datang bulan, dan ini bagus bisa meredakan rasa nyeri juga!" ujar bu kost sambil menyodorkan botol berisi jamu racikannya itu.
"Terima kasih ya bu.." ucap Maura sambil tersenyum.
"Sama-sama.." ucap bu kost senang jamunya diterima dengan baik sama Maura.
"Btw, ini kok sepi banget bu? Biasanya ada anak-anak yang pada mager atau rebahan didepan, kok tumben jadi tenang kayak gini!" tanya Maura penasaran.
"Biasa, pada kuliah dan ada juga udah pada kerja. Dan sebagian juga pada pulang kampung atau pindah kost..." ucap bu kost sedikit pelan dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Mungkin karena kejadian waktu itu ya bu, maafin Maura ya bu.." ucap Maura merasa tak enak.
"Udah, gak usah dipikirin! Itu semua bukan salahmu, tapi mau gimana lagi.. Mungkin ada benarnya kata si Supri, kayaknya ibu mau ngadain selamat lagi deh rumah kost ini. Kata Supri banyak anak kost ngeluh liat hantu disini.
Terutama diatas pohon ini, apa kita tebang aja yah? Apa kita ganti aja nama kostnya, katanya nama kostnya nyeremin.." ujar bu kost sedikit curhat kepada Maura.
Gadis itu sedari tadi menahan tubuhnya agar gak oleng berusaha menyeimbangkan diri, agar tidak jatuh. Dia sudah gak kuat untuk duduk, tapi rasanya tak sopan juga meninggalkan bu kost yang lagi bicara kepadanya.
"Kalau ibu mau ngadain selamatan lagi juga gak apa, tapi sayang aja pohonnya kudu ditebang juga! Kan pohonnya gak salah bu, mana buahnya lebat dan manis lagi. Kalau soal nama kost sih.. Boleh juga diganti, soalnya rada mirip sama nama kampusku, hehe.. Berasa gak pulang-pulang dari kampus, sama!" jawab Maura sekenanya.
"Bisa aja kamu! Ya udah, kamu istirahat aja dulu gih. Ibu mau turun lagi, dah ya! Dan satu lagi gak usah dipikirin jika ada anak kost ngomong yang gak-gak tentang kamu, sebelum kamu datang.. Toh, kost ini juga... Em, ibu pamit ya!" ucap bu kost lagi, sedikit aneh perkataannya yang terakhir.
Kemudian dia turun kelantai bawah meninggalkan Maura yang masih bingung dan penasaran dengan perkataannya yang telah terakhir tadi. Maura masuk kedalam dan mencoba jamu racikan ibu kost dengan sedikit hati-hati, dia teringat terakhir kali mencoba jamu bu kost, dia mencret-mencret tiga hari.
"Mudah-mudahan mujarab betulan dan gak bikin mencret!" gumamnya.
Sambil menahan nafasnya dia meminum sekaligus jamu buatan bu kost, seketika perutnya langsung kejang dan rasa mual begitu hebat, dia langsung lari ke kamar mandinya.
"Hoooekk! Bushet, ini jamu apaan, rasanya aneh!" ucap Maura kesal bercampur heran.
Mumpung masih di kamar mandi, Maura menyempatkan diri untuk melakukan bersih-bersih, dia melihat sekilas ada bayangan dari arah floor drain dari samping pojok kamar mandi itu. Tapi dia mencoba positif thinking saja, mungkin itu tikus mau keluar tapi balik lagi karena ada dia di sana.
Setelah selesai bersih-bersih dia keluar dari kamarnya, dia menyempatkan diri untuk mengecek HPnya karena dari tadi dia belum sempat memperhatikan isi ponselnya itu, ada begitu banyak notifikasi dari Ardian, Maurice, hingga si Ichan juga!
"May, sudah makan? Jangan lupa obat anti nyerinya diminum!" tulis Maurice.
"Aku tadi sempat minta tolong bu kost buat merhatiin kamu, maaf ya kalau sedikit lebay tapi aku benar-benar khawatir sama kamu.." pesan dari Ardian.
"Non, kagak ngampus lu?! Eh, kita punya dosen baru buat gantiin bu Vera sama pak Damar sementara, cakep dan cantik loh! Gw harap mereka bukan demit atau manusia jadi-jadian aja sih, abis ganteng sama cantiknyaaaa... perfect!" tulis si Ichan bersemangat.
Maura hanya tersenyum saja melihat beberapa pesan dari mereka itu, dia senang bisa bertemu dengan orang-orang yang benar-benar tulus disaat bersamanya, orang yang bisa dapat dipercaya dan mengerti dirinya.
Tiba-tiba dia jadi teringat kembali dengan kejadian beberapa saat yang lalu, suara dentuman keras itu yang sempat mengagetkannya tadi. Maura keluar dari kamarnya lagi dan mengecek atap kamarnya dengan memakai tangga yang dapat dipinjam dari mang Supri.
"Gak ada apa-apa, terus tadi apa yahh.. Seandainya aku gak keluar atau gak kebangun dari tidur, apa akan terjadi sesuatu sama aku? Atau kalau aku gak keluar dan gak mengeluarkan kata-kata tadi, apa semuanya akan baik-baik saja seperti sekarang?" gumamnya bingung sambil memperhatikan atap kamarnya yang nampak bersih tidak ada apa-apa.
"Jangan ngawur, Non.. Hihihi, itu cuma salam perkenalan dari mereka, malah mereka senang sekali dapat sambutan darimu!" tiba-tiba saja si Kunti diatas pohon menyahutinya.
"Astaghfirullah, kau ini mengagetkanku saja! Sejak kapan kau berada di sana?!" tanya Maura kesal.
"Aku tidak kemana-mana, sedari tadi aku berada disini. Hihihi, kau tau sendiri jika aku takkan bisa pergi kemana-mana..." ucap si Kunti sambil menyeringai.
"Saat pertama aku membuka pintu, suasana diluar begitu gelap seperti malam hari, juga sepi dan hening, kau juga tak ada! Apa ini juga hasil dari pekerjaanmu?!" tanya Maura penuh curiga.
"Jangan katakan seperti itu, nanti mereka dengar dan marah padaku! Dikiranya aku sedang mencari perhatian dengan memanfaatkan kejadian tadi!" ucap di Kunti tidak terima.
"Lalu siapa yang melakukan itu kalau bukan kamu?! Bukannya makhluk jahil di kost ini hanya ada kamu?!" pancing Maura.
"Sudah aku katakan itu adalah ulah mereka!" kata Kunti mulai marah.
"Mereka, mereka... Siapa itu 'mereka'? Dari tadi kau selalu berkata begitu!" tanya Maura penasaran.
"Aku.. Aku tak bisa mengatakan siapa mereka, bahkan untuk menyebut namanya saja aku tidak berani..." ujar si Kunti terlihat takut sambil memundurkan tubuhnya.
"Cih, pengecut! Kau terlihat berani dan sombong sekali saat berhasil menakuti semua orang, bahkan kau juga berani mengusir semuanya makhluk yang menempel di rumah ini. Kenapa dengan 'mereka' itu kau takut?!" ujar Maura memprovokasi si Kunti.
"Diamlah, manusia! Sehebat apapun kamu aku yakin kau tak bisa mengalahkannya," ujar Kunti itu lalu menghilang.
"Ck, aku jadi tak bisa mengorek informasi tentang siapa 'mereka' yang dia maksud itu!" gumam Maura kesal karena si Kunti tau-tau menghilang begitu saja.
"Sepertinya dia sangat takut dengan 'mereka' si Kunti ini, biarlah! Toh pada akhirnya si 'mereka' akan muncul juga nantinya, bukannya sombong tapi aku penasaran sehebat apa para makhluk itu?!
Kalau Kunti menyebut kata 'mereka' bisa kemungkinan mereka pasti banyak, emm.. Kira-kira ada berapa makhluk mereka, satu jenis atau berbagai jenis? Jadi penasaran!" gumam Maura.
Tapi dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, rasa nyeri pada bagian perut bawahnya sudah tak ada rasa nyeri lagi. Maura tersenyum ternyata obat racikan bu kost manjur juga.
......................
Bersambung