RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Dia Istrimu!


Waktu begitu cepat berlalu, setelah menunaikan ibadah sholat magrib Ardian makan malam bersama Maura apa adanya dulu. Ardian tidak ingin pergi meninggalkan Maura sedetikpun lagi, dan beruntungnya lagi, ustadzah Mariam sempat membelikan mereka beberapa makanan lebih untuk keduanya.


Dan ruang inap Maura merupakan ruang inap kelas satu, yang isinya hanya satu pasien saja yaitu Maura sendiri ditambah kamar mandi didalam juga, jadi memudahkan keduanya dalam berkegiatan tanpa takut mengganggu orang lain.


"Apa kamu memerlukan sesuatu?" tanya Ardian penuh perhatian.


"Tidak, em.. Aku boleh minta tolong antarkan aku ke kamar mandi, aku.. Aku mau ganti pembalut," jawab Maura pelan, agak malu ia mengatakan hal itu.


"O-ohh.. Iyaa," angguk Ardian tak kalah malunya dia.


Meskipun sudah menikah dan menjadi suami istri, tapi hubungan mereka masih saja canggung. Mereka menikah sudah hampir dua pekan, tapi belum melakukan hubungan kontak fisik sama sekali, apalagi Maura sempat menjaga jarak dengan Ardian, dan hubungan mereka sempat memburuk, maka ini untuk pertama kalinya Maura memberanikan diri untuk menjalin 'hubungan' terlebih dahulu, karena sadar atas kesalahannya waktu itu.


"Em, maaf jika permintaanku agak berlebihan.. Bo-boleh, ah! Maksudku apa kamu bisa ikut masuk? A-aku kesulitan untuk, em.. Untuk membuka ce-la-naku," ujar Maura terbata-bata, seketika seluruh tubuhnya memanas ketika berkata begitu, wajah sampai telinganya ikut memerah karena saking malunya.


Ardian terdiam, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sama halnya dengan Maura, seluruh tubuhnya bergetar dan panas dingin mendengar permintaan Maura itu, wajahnya memerah dan dia langsung salah tingkah dibuatnya.


Melihat Ardian diam saja, Maura merasa telah melakukan sebuah kesalahan besar, dia beberapa kali merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa mengatakan hal yang begitu konyol seperti itu. Dengan tertatih-tatih dia masuk kedalam kamar mandi, karena tak bisa menyeimbangkan diri dia hampir saja terpeleset.


"Akh!" teriaknya dari dalam, secara reflek dia memegang ke toilet duduk didepannya.


Mendengar suara teriakan Maura, Ardian langsung tersadar dengan lamunannya tadi dan spontan masuk kedalam kamar mandi. Dari raut wajahnya, dia begitu khawatir sekali. Tapi setelah sampai keduanya kembali bingung, dan tidak lama kemudian seorang perawat datang membawakan makan malam untuk Maura.


"Sust, bisa minta tolong.." pinta Maura kepada perawat itu.


"Ada apa, Kak?" tanya perawat tadi.


"Bisa minta tolong saya ganti salin baju.." jawab Maura sedikit malu.


"Ooh.. Kan ada suaminya, Kak. Gak apa, yang penting pelan-pelan saja agar tidak tersenggol bekas lukanya. Ah, suaminya belum berani yah, baiklah mari saya bantu..


Kakaknya tolong perhatikan yah, jika nanti mau bantu istrinya ganti baju atau celana langsung bisa, jadi gak perlu takut tersenggol bekas lukanya.." ujar perawat itu dengan ramah dan baiknya, tapi tak mengerti situasi mereka saat ini.


Maura dan Ardian semakin salah tingkah dibuatnya, saat perawat itu membantu Maura membuka bajunya, Ardian reflek menoleh kebelakang, belum berani menatap tubuh istrinya sendiri, apalagi saat Maura harus menahan malu membuka celana da.lamnya karena harus mengganti pembalut, Ardian lebih malu lagi, membuat perawat itu semakin aneh melihat tingkahnya.


"Gak apa, Kak.. Ini baru darah haid istrinya, gimana entar darah nifasnya.. Masa udah jijik gitu liatnya, padahal malam pertama gak jijik kan liat darah pera.wannya, hehehe.." goda perawat itu kepada keduanya, membuat Maura dan Ardian semakin panas dingin dibuatnya.


"Bu-bukan seperti itu.." kata Ardian tapi diabaikan oleh perawat itu.


Setelah beberapa saat, akhirnya selesai juga. Perawat itu membantu Maura kembali ketempat duduknya, dan menyuruh Ardian membersihkan darah haidsnya Maura, karena meskipun itu kotoran dan bisa dibuang begitu saja, tetap saja tidak baik membuang bekas pembalut, konon katanya itu akan menjadi makanan jin ataupun iblis.


"Kamu tak perlu melakukannya, langsung buang saja didalam kloset," kata Maura merasa tak enak hati.


"Gak apa, kalau dibuang didalam kloset nantinya bikin mampet.." ucap Ardian dan langsung masuk kedalam toilet lagi.


Maura benar-benar menyesal sekali sudah meminta tolong kepada perawat tadi, niat hati agar tidak ingin membuat malu dirinya, tapi malah membiarkan Ardian menonton dirinya seperti itu.


Sementara Ardian masih diam terpaku memandangi celana da.lam Maura yang masih ada bekas pembalutnya, pikirannya melayang entah kemana, imajinasi liarnya berkelana dan pikirannya mulai tak fokus.


"Sebaiknya kamu langsung membersihkannya, langsung bersih tanpa menyisahkan noda sedikitpun, kalau tidak itu akan mengundang daya tarik para iblis untuk menemukan Maura, jika tidak ingin kehilangannya, maka lakukanlah sekarang!" ujar Aurora mengagetkannya.


"Maaf, sejenak aku lupa diri.." ujar Ardian, dan langsung membersihkannya tanpa canggung ataupun rasa jijik sama sekali.


Setelah cukup lama, dia akhirnya keluar juga. Maura sebenarnya agak aneh juga dengannya, untuk membersihkan satu celana dengan pembalut saja, Ardian membutuhkan waktu kurang lebih satu jam didalam kamar mandi.


"Mungkin dia merasa jijik dan geli, wajar saja sih.. Lihat saja dia, sampai berkeringat begitu.." gumamnya dalam hati.


Padahal yang sebenarnya adalah, Ardian membersihkan kamar mandi agar tak ada kotoran ataupun noda yang tertinggal, agar tak menjadi tempat para jin ataupun iblis untuk bersembunyi di sana, soal celana dan bekas pembalut sudah bersih sekali seperti masih baru.


"Kamu makan saja lagi, bagus buat kesehatanmu.. Aku akan berjaga sambil membersihkan tempat ini," ujar Ardian, entah dia lagi bosan ataupun mencari kesibukan sendiri.


"Besok saja, ini sudah malam.." cegah Maura.


"Tapi ini.." Ardian juga sebenarnya menyadari, tapi dia harus melakukan sesuatu tanpa harus menunggu kedatangan para iblis itu maka baru bertindak.


"Kalau mau, buang saja sampahnya dan rapikan saja ruangan ini, tidak perlu sampai segitunya.. Istirahatlah," ujar Maura.


"Baiklah.." ucap Ardian.


Kemudian dia langsung membuang sampah dan mencuci beberapa bekas peralatan makanan, merapikan sedikit ruangan dan menyapunya, setelah itu dia membersihkan diri dan menunaikan ibadah sholat isya.


"Hoam, masih sore kok aku udah ngantuk yah.." ujar Maura, sayup-sayup matanya mulai tertutup sambil memperhatikan Ardian yang lagi berzikir.


Tiba-tiba langit malam semakin gelap, tanpa ada cahaya bulan ataupun bintang yang berkedip-kedip, angin kencang berhembus satu arah ke rumah sakit itu, dan anehnya hanya rumah sakit yang kena dampak fenomena alam itu.


Udara begitu dingin, suasana mendadak begitu sunyi dan sepi, bukan hanya mereka-mereka yang bisa melihat dan merasakan kehadiran 'mereka' bisa menyadari situasi aneh itu, tapi para manusia awam pun bisa merasakan keanehan malam ini.


"Bersiaplah, mereka akan datang.." ujar Aurora kepada para prajurit Maura yang berjaga.


Mereka semua berkeliling menjaga keamanan rumah sakit itu dari gangguan dari berbagai arah, mereka membuat pagar gaib yang begitu tebal dan memiliki energi sangat tinggi untuk menjaga siapapun yang ada didalamnya.


Panglima Arialoka berdiri diatas menara rumah sakit, dia memantau keadaan dan siap menjadi tameng pertama untuk melindungi mereka semua, sedangkan Aurora sedang melakukan komisi gaib dengan para panglima di kerajaan gaib, bahwa mereka akan bersiap menghadapi serangan yang akan datang.


Dari atas langit, diujung ufuk barat, ada seberkas sinar begitu terang terbang melesat dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit ini. Dari atas langit terbang menurun seperti meteor jatuh dari luar angkasa, nampak indah dari kejauhan, tapi merupakan sesuatu yang begitu mengerikan didalamnya.


......................


Bersambung