
Maura dan Ichan berada di perpustakaan sekarang ini, tetapi sesampainya di sana Ichan terlihat linglung. Dia seperti keheranan sendiri karena tiba-tiba bingung mau ngapain di perpustakaan sekarang ini.
"Kenapa? Katanya mau minta ditemani ke perpustakaan, kok malah bengong!" tanya Maura heran melihat gelagat temannya itu.
"Em, iya sih.. Tadi aku kayaknya semangat banget kesini, tapi.. Mau apa yah? Em, aku coba liat-liat dulu deh, kali aja ada buku yang menarik untuk dibaca.." ucap Ichan masih kelihatan masih bingung.
Maura memperhatikan temannya itu bingung, dia merasa ada yang aneh dengan Ichan, anak itu seperti terkena hipnotis tapi kenapa dia tak merasakan apapun?
"Apa yang kau lakukan disini, Maura?" tiba-tiba sosok Arga sudah ada disampingnya.
"Astaga, Garaga! Kau mengagetkanku saja, kenapa kesini sih? Kamu ngikutin aku?!" tanya Maura tak senang.
"Jangan panggil nama asliku disini, dan aku tak membuntutimu! Ini sarana umum di kampus ini, siapapun berhak datang kesini.." ucap Arga tak senang melihat reaksinya Maura.
"Tapi aku tau betul apa niatmu itu, jadi kau tak usah berpura-pura di depanku!" ucap Maura ketus sambil berlalu meninggalkannya.
"Maura, tunggu dulu!" Arga menahan tangan Maura, gadis itu melirik tak suka.
"Lepaskan tanganku, jangan bersikap tak sopan denganku!" ujar Maura sambil meliriknya sekilas dengan wajah dingin.
"Oke, oke.. Aku takkan menyentuhmu lagi, tapi boleh aku berbicara denganmu berdua saja. Ini penting sekali, mengenai dirimu.." ucap Arga nampak begitu serius.
"Kau tak perlu repot-repot mengurusi hidupku, kau urus sendiri hidupmu.. Sudahlah, aku tau mau Ardian melihat kita seperti ini, aku sudah lelah dengan segala hal jangan ditambah dengan sikap kalian yang kekanak-kanakan itu!" ucap Maura nampak kesal sekali.
Maura meninggalkan Arga sendirian di perpustakaan itu, sedangkan Ichan yang keliatan bingung itu tiba-tiba pergi begitu saja saat melihat Arga. Makhluk penunggu perpustakaan pun bersembunyi, karena takut dengannya.
"Ck, padahal aku ingin mengingatkannya mengenai rumah yang dia tempati saat ini. Rumah itu sekarang sudah tak aman lagi, begitu banyak makhluk liar mengelilinginya. Mudah-mudahan dengan kemampuannya itu, dia bisa mengatasi semuanya..
Ck, kenapa aku jadi begitu peduli dengannya? Dia sendiri juga tak begitu suka aku perhatikan! Biarlah, dia kan titisan seorang Dewi! Pasti dia bisa menghadapi semua makhluk itu, tapi.. Kenapa aku jadi kepikiran?" ucap Arga sambil menggaruk alisnya tak mengerti.
Beberapa jam telah berlalu, waktu sudah sore hari. Jam kuliah pagi dan sore hari sudah selesai, para mahasiswa dan mahasiswi membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing.
Entah mengapa situasi sore itu nampak berbeda, biasanya begitu banyak anak-anak yang masing kongkow-kongkow di kampus meskipun itu hanya sekedar main basket atau main saja.
Tapi sore itu tak ada yang tinggal lebih lama dari kampus itu, tinggal ada sedikit mahasiswa yang bersiap untuk kuliah kelas malam dan juga beberapa staf dan dosen yang masih berada di ruangannya.
Arga dan Phoem sedang berada diatas rooftop salah satu gedung kampus itu, mereka sedang menikmati langit senja sore itu. Arga masih kepikiran soal Maura, dia tak sengaja melihat masa depan Maura saat memegang tangannya tadi.
"Apa saja yang kau lihat darinya selain itu?" tanya Phoem, setelah Arga menceritakan penglihatannya tadi.
"Tidak ada, aku hanya melihat sekilas bayangan hitam di sekeliling tempat tinggalnya. Dan aku tau itu energi buruk, makanya aku ingin memperingatinya.." jawab Arga.
"Kau, benar-benar menyukainya yah.. Kau tau, kalian sangatlah berbeda. Takdir telah memutuskan hidup kalian masing-masing, dia tidak mungkin akan bersama denganmu.. Dan kau, jalani saja takdirmu sendiri," ucap Phoem sambil memperhatikan Arga.
"Aku? Entahlah, aku pikir hanya penasaran saja dengannya.. Aku sadar diri, takkan mungkin bisa bersama dengannya. Selain wujud kami yang berbeda, tujuan kami juga berbeda.. Baginya aku adalah siluman jahat yang berbahaya perlu diwaspadai, haha!" ucap Arga sambil menertawakan sikap Maura saat menilai dirinya.
"Sudahlah, tak usah dipikirkan. Sudah puluhan ribu tahun kita berada disini, kita hanya makan tikus-tikus kecil, ular-ular kecil yang lemah ditambah menghirup semua energi makhluk yang tak berguna disini..
Kita tak pernah menyentuh manusia apalagi mendekati mereka, tapi sudahlah.. Wajar saja dia merasa takut dan terancam, karena yang dia rasakan saat bertemu dengan kita adalah segumpalan energi yang begitu kuat, mampu memusnahkan semua makhluk, itu saja.." ujar Phoem sambil mengendikan bahunya.
.
.
Sementara itu, Maura berjalan kaki dari rumah Ardian menuju ke kosannya. Jaraknya tak terlalu jauh hanya beberapa kilometer saja, jadi dia menolak untuk diantar sampai ke gerbang rumah kostnya oleh Kevin dan Maurice.
Sore itu dia masih kesal dengan Ardian dan memilih pulang bersama Maurice, meskipun mereka sudah sepakat untuk pulang bersama tapi ujung-ujungnya Ardian malah sibuk dengan urusannya sendiri.
Maura melewati rumah tetangganya berada disamping rumah kostnya langsung, dia jadi teringat kejadian pagi tadi saat salah satu anak tetangga yang menggoda Ardian, ada perasaan cemburu tapi dia percaya dengan Ardian.
"Sepi sekali sore ini, biasanya banyak anak-anak bermain di taman depan rumah. Kenapa tak ada satupun yang terlihat yah.." gumamnya sendiri.
"Mauraaaa.."
Sriiinngg!
Maura terkejut seperti ada yang memanggil namanya, dia menoleh kebelakang dan celingukan kesana kemari tapi tak melihat siapapun. Seketika dia merinding sendiri, entah kenapa dia yang pemberani seperti menjadi seorang penakut.
"Mungkin suara angin saja.." gumamnya, kebetulan saat suara itu terdengar ada angin berhembus lembut melewati dirinya.
Krieeet!
Suara pintu gerbang besi itu memecahkan keheningan sore hari di kosannya itu, dia memperhatikan pintu gerbang yang terbuat dari besi itu mulai berkarat sedikit, pantas saja bunyinya begitu memekakkan telinga karena gesekkannya.
"Sepertinya bu kost harus menggantinya, kalau tidak dia harus memperbaikinya. Tidak nyaman sekali dibuatnya.." gumam Maura.
Saat dia berbalik alangkah kagetnya dia melihat mang Supri sudah berada dibelakangnya, tapi tatapan mata mang Supri terlihat kosong.
"Iya, mang.. Mari.." jawab Maura sambil berlalu pergi.
Maura menaiki anak tangga menuju kamar kostnya yang berada di lantai atas, dia menoleh ke belakang dan memperhatikan mang Supri tak beranjak dari tempatnya berdiri, mang Supri seperti sedang memperhatikan pintu gerbang tanpa bergerak sedikitpun.
"Aneh, apa dia mang Supri? Kesurupan kah? Sebaiknya aku cari tahu nanti, setelah beberes dan membersihkan diri.." ucap Maura pada dirinya sendiri.
Sedangkan sosok yang begitu mirip dengan Mang Supri, dia berlahan membalikkan badannya menghadap kearah tangga lantai dua sambil memperhatikan Maura yang sedang berjalan menuju kamarnya.
"Dia menyapaku, dia menyapaku, dia menyapaku.." gumamnya berulang kali sambil menyeringai dengan senyuman yang begitu mengerikan.
Maura masuk kedalam kamarnya, dia begitu lelah sekali hari ini, dia langsung membersihkan kamarnya lalu pergi mandi, kebetulan sudah waktunya magrib dia menunaikan ibadah sholatnya sampai tak sadar dia tertidur saat dalam keadaan bersujud , entah dia lelah atau ada sesuatu yang memanggilnya.
"Maura, hei! Maura, bangunlah.." terdengar suara lembut yang memanggil namanya.
Maura beberapa kali mengerjap-engerjapkan matanya, lalu bangun dari posisi sujudnya. Dia merasa heran tiba-tiba saja berada ditempat yang berbeda dari kamar kostnya.
"Tempat apa ini, kenapa putih semua?" gumamnya bingung sendiri.
"Maura.." sosok Aurora terlihat dari kejauhan yang berselimutkan kabut putih.
"Aurora, ada apa? Apa ada sesuatu yang perlu aku ketahui, bahaya besarkah?" tanya Maura pada intinya.
"Bahaya? Tentu saja, jika tidak bagaimana mungkin kami memanggilmu begitu saja.." ucap Aurora.
Kemudian datang beberapa prajurit alam gaib dibelakangnya, kemudian disusul oleh para ksatria dan panglima dari kerajaan bayangan, utusan dari Maharaja Balaputradewa langsung.
Maura mendadak jadi tegang, dia bingung apa yang terjadi. Dia bangkit dari duduknya dan menghadapi mereka semua dengan berbagai pertanyaan.
"Maura, ada tugas baru untukmu. Tugas ini memiliki bayangan abu-abu, antara hitam dan putih.. Jadi kami belum memutuskan apa mereka kelompok makhluk hitam dan kelam, atau makhluk putih dan terang.." ucap salah satu panglima itu.
"Jelaskan saja langsung, aku tak mengerti apa yang kau ucapkan!" ujar Maura bingung.
"Maura, ah! Dewi.. Kamu tau dengan makhluk yang mendiami tempat kamu belajar saat ini? Apa kamu mengetahui niat dan tujuannya saat ini?" tanya panglima itu kepada Maura.
"Maksudmu Arga, em.. Garaga, bukan?" tanya balik Maura.
"Iya, salah satunya dia.." jawab panglima itu.
"Salah satunya? Apa dia memiliki teman lain, bukannya dia sendirian?" tanya Maura terkejut.
"Dia tidak sendirian, tapi tidak juga banyak. Hanya berdua saja, tapi kekuatan keduanya setara dengan seratus ribu pasukan khusus yang terbaik.." ucap panglima itu.
"Apa mereka berbahaya? Jujur saja aku tak bisa mendeteksi sampai mana kekuatannya, yang aku rasakan bahwa dia cukup berbahaya bagi umat manusia, bahkan aku tak merasakan adanya makhluk lain selain dirinya.." kata Maura menjelaskan semuanya kepada panglima dari kerajaan bayangan itu.
"Dengarkan baik-baik, Dewi.. Kami akan menceritakan siapa kedua makhluk ini sebenarnya, dalam pengawasan kami bahwa selama puluhan ribu tahun ini mereka tidak pernah melakukan masalah ataupun bermasalah dengan manusia ataupun makhluk lainnya.
Karena mereka sedang menjalani hukuman dan juga sebuah tugas untuk menjaga dan melindungi sebuah prasasti yang berisi sebuah perjanjian tertentu.." ujar panglima bayangan menjelaskan semuanya.
"Terus, apa hubungannya denganku dan tugas yang akan aku jalani nanti?" tanya Maura.
"Sebenarnya ini menyangkut sebuah perjanjian dan balas budi maharaja terdahulu sebelum maharaja Balaputradewa, pada awal mula masa kejayaan penyihir untuk menguasai bumi Sriwijaya, kerajaan langit yaitu para dewa sang penguasa alam semesta ikut membantu raja-raja terdahulu memusnahkan para penyihir itu.
Sampai pada akhirnya sang penyihir melakukan sebuah perjanjian dan kesepakatan dengan raja iblis dan jin jahanam untuk membantunya menguasai dunianya manusia, dan itu hampir menghancurkan perjanjian antara kerajaan langit dan bawah tanah.
Dimana salah satu isi perjanjian adalah bahwa kerajaan bawah tanah tidak akan ikut campur urusan manusia ataupun bekerja sama dengan makhluk lain yang ingin menghancurkan manusia, sebab dunia manusia merupakan bagian dari pengawasan kerajaan langit.
Semenjak kerajaan bawah tanah ikut terlibat, maka merenggangkan hubungan keduanya dan salah satu penyebabnya adalah kedua makhluk tersebut.." ucap panglima bayangan menjelaskan semuanya kepada Maura, termasuk kisah Garaga dan Phoem.
"Hem, baiklah.. Jadi tugasku adalah mengawasi mereka, hanya karena aku juga satu-satunya yang bisa mengendalikan keduanya. Apa tidak terbalik gitu, malah aku yang tidak tahu apa-apa tentang mereka sedangkan mereka aku yakin tahu semua tentangku.." ujar Maura merasa keberatan.
"Tidak, kalian akan saling melengkapi nantinya. Bekerjasama lah juga dengan titisan panglima Arialoka, kalian akan mengawasi mereka karena dari kerajaan langit tak bisa turun langsung mengawasinya karena mereka sudah pasti diketahui keberadaanya.." ucap panglima itu lagi.
"Baiklah, asal ini tidak membahayakan kami berdua.. Tidak masalah, hanya saja aku tak suka sikapnya yang tengil itu," ucap Maura.
Dia dan panglima sedang membahas apa saja yang akan dilakukan oleh Maura nantinya dalam menangani Garaga ataupun Phoem jik keduanya berulah nantinya.
Sedangkan di dunia manusia, tubuh Maura yang kosong ditinggalkan oleh jiwanya pergi sebentar sedang dalam pengawasan beberapa makhluk liar, mereka terlihat kelaparan di luar kamar ingin sekali mendapatkan tubuh Maura yang wangi itu.
Tapi mereka tak bisa masuk begitu saja, karena ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk masuk, ada benda bercahaya berkilauan yang membentengi tubuh Maura, apalagi kalau bukan kalung giok delima sakti miliknya Maura.
......................
Bersambung