RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Peristiwa Tak Terduga


Mobil itu berhenti mendadak, Ardian memarkirkan mobilnya di bahu jalan. Dia mencoba mendekati mobil pria asing itu.


Ardian ragu-ragu menghampirinya, mobil itu tak bergerak. Tak ada tanda-tanda sesuatu didalamnya.


Pelan-pelan dia membuka pintu mobil itu, betapa kagetnya dia melihat keadaan didalamnya.


Pria itu duduk bersandar di kursi mobil itu, tubuhnya penuh luka, bercak darah ada dimana-mana. Bau anyir semerbak didalam mobil itu.


Banyak potongan-potongan kaca yang menusuk ke tubuh pria asing itu, sebenarnya apa yang terjadi? Saat dia naik mobil itu, dia sendirian bahkan dia tak berhenti sekalipun.


"Siapa yang melakukan ini? tidak mungkin dia bunuh diri, ini terlalu bersih. Bahkan luka-luka ini tertusuk rapi.


Apa ini berkaitan dengan apartemen itu?" gumam Ardian.


Dia menelpon 911, belum lama itu mobil ambulans dan polisi datang. Saat mereka sampai di lokasi, Ardian sudah pergi.


Sama hal waktu dia mencoba membantu Maurice dan orang tuanya dulu, yah... waktu itu yang menghentikan mobil Maurice adalah Ardian.


*


Setelah Ardian meninggalkan lokasi, dia kembali menuju gedung tempat kerjanya. Di sana sudah ada Rosario menunggunya.


"Tuan, sekarang tugasku apa? Aku sudah belajar banyak dari tuan Julian dan nona Joanna." Tanya Rosario.


"Kau diam saja disini, awasi terus apartemen didepan itu. Jika ada masalah atau bahaya yang mengancam apartemen tersebut, kau atasi sesuai aturan yang diajarkan kepadamu" jawab Ardian.


"Bagaimana dengan nona Maura? Apa aku harus mengawasinya juga?" tanyanya lagi.


"Tidak perlu, biar aku saja yang mengawasinya" ujar Ardian.


"Baiklah Tuan, tapi kupikir sekalian mengawasinya bersama apartemennya." Balas Rosario.


"Aku bilang tidak usah Rosario, oke? Faham kan?!" ujar Ardian gusar.


"Ba-baik tuan, maaf ..." jawab Rosario pelan.


Ardian nampak lelah sekali, dia menyandarkan bahunya di sofa ruang kerjanya, sedangkan Rosario membuatkannya teh. Seolah dia tahu apa yang diinginkan tuannya.


Ardian menyeruput tehnya itu, sejenak dia mendapatkan ketenangan. Saat dia memejamkan mata, samar-samar dia melihat bayangan seorang wanita berdiri di atas apartemen itu.


Ardian langsung terlonjak kaget, dia langsung menatap atas apartemen itu. Dia tak melihat apapun.


"Rosario, coba kau lihat di atas apartemen itu. Kira-kira ada yang mencurigakan tidak?" tanya Ardian.


Rosario mengangguk menerima perintah dari Ardian, dia melesat menembus dinding kaca gedung itu melayang menuju atap apartemen Maura.


Saat itu dibawah gedung, Melanie ingin menemui Ardian lagi. Dia ingin bertanya soal Maura, dia penasaran dengan gadis itu, gadis yang berhasil merebut perhatian Ardian.


Mata batinnya melihat Rosario melesat kearah apartemen Maura, tadinya ingin bertemu Ardian seketika berubah ingin menemui jin suruhannya itu.


Dia menyusul Rosario menuju apartemen Maura, entah kebetulan atau tidak saat itu Julian dan Joanna juga sampai di kantor Ardian.


Mereka langsung naik ke gedung paling tinggi itu, dan menemui Ardian yang masih terlihat santai menikmati tehnya seraya menunggu laporan dari Rosario.


" Hai bro, enak nih menikmati teh dengan pemandangan yang indah" goda Julian.


"Mau? Sana bikin sendiri" jawab Ardian tanpa mengalihkan pandangannya.


Matanya masih tertuju kearah apartemennya Maura, walau terlihat santai tetapi dia sangat serius sekali pandangannya.


"Ngapain kamu masih ngawasin apartemen terus, kan Ada Rosario? Minta dia saja yang mengawasinya" kata Julian sambil duduk didepannya.


"Aku tahu, tadi aku dapat penglihatan. Aku melihat sosok bayangan wanita di atas gedung itu, aku memintanya melihatnya langsung" ujar Ardian.


"O ya, aku kira Rosario tadi pergi karena melihat Melanie?" kata Joanna heran.


"Apa?! Melanie tadi kesini?" tanya Ardian terkejut.


"Loh? Emang kamu gak tahu?! Jadi dia melihat Rosario terbang ke apartemen itu. Wah, kacau ini urusannya" Julian ikut bingung juga.


"Jangan sampai Melanie bertemu dengannya, bahaya nanti" ujar Ardian sambil bergegas turun kebawah.


"Bertemu dengan siapa? Hei, Ardian. Maksud kamu apa? Jangan sampai dia bertemu Rosario atau Maura?" jiwa kepo Julian muncul lagi.


"Dua-duanya!" teriak Ardian.


**


Saat ini, Maura lagi menemani Maurice di kamarnya. Mereka masih berbincang dan mengobrol dengan Kevin lewat Video call.


"Ya ampun, kamu masih khawatir aja sama Maurice. Tenang bro, disini dia aman kita akan layani tuan putri Maurice dengan baik" ujar Maura sambil menggoda Maurice.


"Apaan sih May, kamu juga perlu istirahat. Lihat badannya masih panas, sama ini nih perban di kepala dan luka-luka ini." Ujar Maurice terlihat khawatir melihat kondisi Maura.


"Kamu terluka May? Kenapa, kok bisa sih?" tanya Kevin di Videocall.


" Gak kok, cuma luka kecil aja. Biasa habis ketemu sama orang gila, ya udah habis aku dicakar olehnya" Maura masih berusaha tersenyum didepan teman-temannya.


"Masa' sih? Itu perban di kepala, apa coba? Hiasan doang?" Tanya Kevin tidak percaya.


Maura tahu teman-temannya khawatir dengannya, lalu dia melepaskan perban di kepalanya. Dia ingin menunjukan bahwa lukanya kecil.


"Lihat, gak Ada apa-apa kan?! Makanya, jangan Khawatir berlebihan" kata Maura sambil nyengir.


"Bagaimana gak khawatir, kepalanya diperban segala. Ya gak, beb?" Ujar Kevin sambil mengerlingkan matanya ke Maurice.


Maurice hanya tersenyum, terlihat rona merah diwajahnya. Dia malu saat digoda oleh Kevin.


"Apa ini? Kalian sudah jadian? Kapan, wahh... aku sama sekali gak diberitahu!" Ujar Maura kaget sambil memanyunkan bibirnya.


"Ini kami sudah memberitahukan kamu May, jangan ngambek lah" ujar Kevin sambil terkekeh.


Maurice memeluk Maura sambil tersenyum, Maura juga terlihat senang melihat kebahagiaan mereka.


Dia mau pamit dulu keluar kamar, mau ambil air minum untuk Maurice. Saat Maura menuangkan air kedalam gelas, tiba-tiba Dewi Srikandi memanggil.


"Maura, aku merasakan energi besar sedang menuju kemari" kata Dewi Srikandi.


"Apa? Aku tak merasakan apapun?" jawab Maura heran.


"Tentu saja, energi ini berasal dari luar. Sangat besar, dia menuju apartemen ini. Ingat Maura, apartemen ini rumahmu.


Lindungi orang-orang yang didalamnya, siapapun itu. Cepatlah, dia menuju kearah atap apartemen ini!" Seru Dewi Srikandi.


Maura bergegas keluar dari unit apartemennya dan menuju atapnya. Gedung apartemen ini berlantai 20, cukup tinggi.


Dan saat ini Maura berada di lantai 8, cukup jauh jaraknya dan lift berada di lobby. Akan memakan waktu lama untuk naik lagi.


Maura memutuskan lewat tangga saja naik ke atas, ada gunanya dia rutin olahraga pagi saat naik tangga dia bisa mengimbangi langkah dan mengatur napasnya dengan baik.


"Maura, lebih cepat lagi. Aku juga merasakan ada makhluk lain di atas. Aku khawatir jika itu manusia maka mahkluk itu bisa melukainya" ujar Dewi Srikandi.


Maura mempercepat langkahnya menuju lantai paling atas, tentu saja itu dibantu oleh kekuatan Dewi Srikandi. secepat kilat dia berlari menaiki anak tangga tersebut.


Mereka masih tidak mengetahui bahwa itu Rosario yang diutus Ardian untuk melihat keadaan apartemen Maura lebih dekat.


Ternyata benar saja, ada seorang wanita sedang berdiri dipinggir atap gedung itu, saat ini posisinya tepat didepan pagar pembatasnya.


Rosario merubah wujudnya menjadi manusia, dia mendekati wanita itu dengan maksud menolongnya.


Tepat pada saat itu juga Maura sampai, tentu saja dia bisa melihat wujud asli Rosario. Dan Maura juga melihat wanita itu dikelilingi kabut hitam.


"Maura, sepertinya makhluk itu menghipnotis wanita itu. Dia bermaksud mendorongnya jatuh!" Dewi Srikandi terdengar geram.


"Takkan kubiarkan makhluk apapun melukai orang-orang di sekitarku" ujar Maura marah.


Dia mendekati Rosario, saat itu jin suruhan Ardian tak menyadari kedatangan Maura. Maura hampir sepenuhnya memiliki kekuatan dari Dewi Srikandi.


Dia menepuk bahu Jin itu, tentu saja Rosario kaget saat melihat Maura di sana. Seketika Maura melayangkan tinjunya, Rosario terpental jauh.


Sementara itu, Melanie sedang menuju lift untuk naik kelantai atas. Dia masih marah dengan jin suruhannya itu.


Sedangkan Ardian masih gelisah saat mobilnya melaju menuju apartemen Maura, apa yang akan terjadi jika mereka semua bertemu?


...----------------...


Bersambung