
"Astaghfirullah Ya Allah!" teriak ibu-ibu dibawah sana histeris.
Semua langsung lari panik membubarkan diri, mereka semua takut tak berani mendekati rumah itu. Para ibu-ibu yang heboh itu panik menceritakan kejadian itu kepada keluarganya.
Maka makin hebohlah berita tentang rumah kost bu Nela berhantu, sedangkan bu Nela dan bi Surti berlari menuju rumah ketua RT meminta pertolongan, kebetulan ada pak kyai yang sedang bertamu juga.
"Untunglah ada pak Kyai juga, kami mohon pak! Bantu kami, ini sudah diluar kemampuan saya, dan saya tak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi" ucap bu Nela memelas.
Bagaimana tidak, masing teringat jelas di ingatannya saat pertama kali masuk ke rumah itu tadi.
Awal dia masuk dia melihat bi Surti naik ke lantai atas, lantas ia memanggilnya tapi bi Surti tidak menyahutinya. Ketika sudah sampai dilantai atas, bi Surti itu menoleh tapi dengan wajahnya yang buruk dan hancur mengerikan.
"Akkh!" teriaknya sambil berlari kelantai bawah.
Bi Surti yang asli kebingungan melihat nyonya nya berlari ketakutan, dan ketika dia melihat ke anak tangga, ternyata sudah ada Kuntilanak Maria menatap tajam kearahnya, jadi keduanya pergi dengan ketakutan seperti itu.
"Terus terang saya tidak tahu soal mengusir setan, Bu! Tapi kalau diminta mengusir maling manusia, atau hewan nyasar masuk rumah warga insyaallah saya bisaa" sahut pak RT.
"Ya sudah, mari kita liat bersama-sama di rumah ibu ada apa. Jangan lupa ajak juga beberapa orang,," pinta pak Kyai kepada pak RT.
"Jang, Din! Kalian berdua ayo ikut kita ke rumah Bu Nela, temani pak Kyai! Katanya ada setan di sana!" ajak pak RT kepada kedua hansip itu yang lagi beristirahat didepan saung rumah pak RT.
"Bukan katanya lagi, Pak! Tapi beneran, kita lihat langsung semalam, ada setan anak kecil diatas pohon mangga depan rumah bu Nela!" ucap si Udin.
"Jadi, kalian berdua beneran lihat yah?! Hantu anak kecil diatas pohon mangga? Tapi yang aku lihat, kuntilanak didalam rumah kost itu?!" ucap bu Nela semakin khawatir.
"Berarti setannya lebih dari satu, Bu Nela! Banyak!" sahut si Ujang.
"Hus! Kalian berdua bisa diam gak sih?! Jangan buat bu Nela jadi ketakutan begitu!" gertak pak RT kesel.
Kedua hansip itu ketakutan, sedangkan bu Nela semakin khawatir. Dia memikirkan nasib Maura dan anak-anak kost lainnya.
"Kasihan mereka, jika langsung pergi dari sana.. Kemana mereka pergi? Jika pun pindah ke kost lain, tapi belum tentu membuat mereka nyaman" gumam bu Nela dalam hati.
.
.
Mereka semuanya pergi menuju rumah bu Nela, dan ternyata di sana sudah ramai sama warga sekitar rumah, karena mereka mendengar suara gaduh dari dalam rumah itu, ditambah suara teriakan, tangis dan suara tawa mengerikan lainnya.
"Bu, ada apalagi nih kumpul disini?" tanya Bu Nela heran dan khawatir.
"Bu, didalam rumah masih ada orang gak? Karena kami dengar dari sini ada keributan didalam sana.." sahut salah satu warga yang ada di sana.
"Gak ada, Bu! Anak-anak sudah pada pergi kuliah dan ada yang bekerja juga" jawab bu Nela.
"Baiklah, kalian semua mohon untuk memberikan sedikit jarak pada kami. Dan mohon untuk menjauh sebentar dari rumah ini" pinta pak Kyai.
"Baik, Kyai!" sahut mereka semuanya.
Mereka membubarkan diri tapi ada beberapa orang yang sengaja tinggal untuk mengawasi mereka dari luar, jika terjadi sesuatu mereka semua bisa meminta atau memberikan bantuan lainnya.
Pak Kyai, pak RT, bu Nela dan bi Surti juga diikuti kedua hansip itu masuk kedalam rumah dengan hati-hati, pertama mereka masuk sudah disambut oleh bau anyir dari dalam rumah.
"Astaghfirullah, Ya Allah mohon beri kami perlindungan" ucap pak Kyai.
Mereka melihat ada bayangan dari arah dapur, pak Kyai diikuti yang lainnya mengikuti arah bayangan itu pergi, dan betapa terkejutnya mereka melihat mang Ujang suaminya bi Surti, bukan si hansip! Sedang makan bangkai ayam di dapur.
"Astaghfirullah Bapak! Hentikan, Pak!" teriak bi Surti takut dan khawatir melihat suaminya itu.
"Astaghfirullah, Mang!" ucap bu Nela syok.
Mereka melihat suami bi Surti itu kesurupan memakan bangkai ayam entah dapat dari mana, dengan lahap dan tidak terkendali.
"Pergi kalian, jangan ganggu aku!" ucapnya dengan suara serak mengerikan.
Semuanya mundur menjauhinya ketika mang Ujang melihat mereka dengan bola mata memutih sempurna, kecuali pak Kyai. Beliau semakin mengencangkan doa-doa yang beliau lafalkan.
"Pak, tolong pegangi mang Ujang! Kalian berdua juga tolong bantu, jangan berdiri dibelakang seperti itu!" perintah pak Kiyai kepada kedua hansip tadi yang bersembunyi dibalik punggung bu Nela dan bi Surti.
Kedua hansip penakut itu bersama pak RT memegangi suami bi Surti yang sedang di rukiah oleh pak Kyai, tubuh tua itu seakan memiliki kekuatan berlipat-lipat ganda, seolah memiliki kekuatan ratusan kali lebih kuat daripada anak muda lainnya.
"Bi, minta tolong mereka yang ada diluar untuk membantu mereka menangkap mang Ujang!" pinta bu Nela.
Bi Surti langsung berlari keluar meminta bantuan warga yang masih berjaga didepan, ada beberapa lelaki bertubuh besar datang masuk bersama bi Surti. Mereka ikut mengejar mang Ujang, tidak butuh lama, akhirnya mang Ujang berhasil ditangkap oleh mereka semuanya.
Karena takut kelepasan lagi, kali ini mereka mengikatnya dengan kencang disalah satu kursi yang di sana, bahkan dia juga harus dijaga agar tidak bisa kabur lagi.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk kedalam tubuh ini?" tanya pak Kyai dengan tatapan menusuk.
Sambil melafalkan ayat-ayat suci al qur'an, makhluk yang merasuki mang Ujang terus berteriak kesakitan, dia menggeliat berusaha melepaskan ikatannya tapi tak berhasil.
"Jawab pertanyaanku?! Siapa kamu dan siapa yang mengutusmu?!" bentak pak Kyai mengganti topik pembicaraannya.
"Aaakkhhh!" mang Ujang terus berteriak kesurupan.
"Dasar makhluk rendahan! Kau takkan bisa melepaskan diri lagi, karena kau sudah terikat oleh ayat-ayat Allah! Lebih baik kau berkata jujur saja!" ucap pak Kyai mulai murka.
"Aku adalah anak iblis, aku datang membantu anak iblis lainnya! Dia murka karena ulah manusia-manusia jahanam, dan kami datang untuk memberi pelajaran kepada manusia-manusia hina itu!" ujar makhluk yang merasuki suami bi Surti itu.
Mereka semua merinding mendengar suara yang dikeluarkan itu, suara serak mirip seperti suara nini-nini tua dengan cairan darah hitam yang keluar dari mulutnya, yang mengeluarkan aroma busuk sekali.
"Hoek! Bau banget, mang Ujang makan apa sih?!" ujar mereka semua.
"Saya gak makan apapun kok!" sahut hansip Ujang.
"Bukan Ujang kamu!" sahut temannya.
"Dia tadi habis makan bangkai ayam" sahut si Udin.
"Kok bisa?!" tanya yang lain.
"Bisalah, namanya juga kesurupan!" sahut si Ujang juga.
Sementara pak Kyai sedang fokus kepada mang Ujang, perhatian bu Nela teralihkan oleh bayangan diatas anak tangga menuju lantai atas, karena penasaran dan takut ada orang yang mencuri kesempatan untuk mengambil barang-barang anak kost, maka dia memberanikan diri naik ke lantai atas.
Dengan hati-hati dia naik ke atas sendirian tanpa ditemani siapapun, bahkan orang-orang itu tak menyadari kepergiannya ke lantai atas. Bu Nela mendengar suara tangisan dari arah kamar anak kost, dia pikir ada anak kost yang masih tinggal di atas sendirian. Dan ternyata benar, dia melihat Shelly ada didalam kamarnya dengan pintu sedikit terbuka.
"Huhuhu.. Hiks!" dia menangis dipojokan kamar itu.
Krieeett!
Suara pintu kayu dibuka oleh bu Nela, terdengar suara decitan kayu itu menghentikan suara tangisan Shelly. Dia diam sambil menatap lurus kearah dinding tembok itu.
"Shelly, kamu gak kerja? Ibu pikir dilantai atas sepi, gak taunya masih ada kamu. Ya udah, gak usah takut! Ayo ikut Ibu kebawah, kita turun dari sini, sekalian bawa beberapa barang penting lainnya, untuk sementara kamu menginap di rumah ibu, yuk?!" ajak bu Nela dengan ramahnya.
Dia merasa kasihan dengan Shelly, mengingat kejadian dari pagi tadi pasti ia ketakutan, tidak heran jika dia menangis seperti itu, pikirnya. Tapi apa yang dipikirkan dan dilihatnya bukanlah sebuah kenyataan, melainkan sebuah fatamorgana yang diciptakan untuk menipunya.
Sosok yang menyerupai Shelly itu diam membeku tak bereaksi atau menjawab apapun, yang ada kepalanya memutar dengan sempurna, dengan mata membulat sempurna dan tersenyum menyeringai mengerikan.
"Hihihi, ikut Buuuu.." sahutnya.
"Aaakkh!" teriak bu Nela histeris.
Dia ingin keluar kamar itu, tapi tiba-tiba pintu kamar itu tertutup kencang mengurungnya sendirian bersama makhluk itu, tidak ada yang menyadari kepergian bu Nela sejak tadi, sehingga tak ada yang bisa menolongnya.
"Hihi, temani aku disini... Aku takuttt, hihi.. Ssss" makhluk itu melayang tinggi sambil menatap bu Nela.
Suaranya serak sambil berdesis, tiba-tiba wujudnya berubah yang tadinya Shelly dan kini pelan-pelan sisik-sisik hijau mulai tumbuh di kulitnya, diiringi dengan bau busuk anyir menyeruak seisi kamar itu.
"Hoek! Tolong, tolong aku ..." rintih bu Nela lemas.
Tubuhnya lunglai terjatuh bersender dibalik pintu kamar itu, bau busuk menyengat ditambah sosok mengerikan didepannya membuatnya hilang kesadaran.
Dengan setengah sadar, dia merasakan tubuhnya terangkat melayang ke atas dan terdengar suara lembut berbisik di telinganya.
"Aku akan menjagamu seperti aku menjaga kakakmu, jangan khawatir kami datang untuk menolongmu..." ujar suara lembut itu, setelah itu bu Nela benar-benar hilang kesadaran.
......................
Bersambung