
Ardian keluar rumah pergi ke minimarket untuk berbelanja keperluan mereka yang sudah habis, sekalian beli makanan dan mengurus sesuatu. Maura menggunakan kesempatan itu untuk memeriksa isi kamarnya Ardian, yang sebelumnya dipakai oleh Dhania.
Dia memeriksa setiap tempat, lemari ataupun rak didalam kamar itu, mungkin saja dia menemukan sebuah petunjuk entah apa itu, hanya sekedar memuaskan keingintahuannya saja.
"Huft, tidak ada apa-apa.. Aku hanya terlalu banyak berpikir saja, tidak mungkin kan dia mendekatiku selama ini hanya sebuah misi saja? Dasar.." gumamnya mempertanyakan kebodohannya sendiri.
Saat dia hendak keluar kamar, dia melihat sebuah buku kecil terselip diantara dua lemari yang menempel di dinding kamar itu, Maura memperhatikan buku itu lagi dengan seksama, dan mengambilnya. Dia sedikit kesusahan mendorong dua lemari itu agar bisa tergeser sedikit supaya bisa mengambil buku itu.
Pluk!
Buku itu terjatuh sesaat lemari bisa Maura geser sedikit, dia mengambil buku itu dan memeriksanya, seperti sebuah jurnal. Didepan jurnal itu tertulis nama Ardian Hartanto, lengkap dengan alamat dan nomor identitas dirinya.
Maura bingung apa dia harus membukanya atau tidak, dia takut apa yang ada didalam sana merubah segalanya, dia takut akan merubah hubungan mereka selama ini.
"Bismillah, semoga tidak ada apa-apa cuma isi daftar rutinitasnya sehari-hari saja. Tapi, apa yang aku lakukan ini sudah benar atau tidak yah? Saat ini dia sudah menjadi suamiku, seharusnya tak masalah kalau aku membuka barang miliknya, tapi.. Bagaimana jika itu sesuatu yang tak seharusnya aku lihat?" gumamnya bimbang dengan keputusan sendiri.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya dia memutuskan untuk melihatnya daripada penasaran terus. Soal lainnya, lihat saja nanti nya, pikirnya.
"Sejak kecil bi Marni selalu menceritakan tentang keluarga itu, terutama tentang anak yang bernama Maura, gadis kecil yang imut dan cantik, katanya.. Aku selalu penasaran dengan setiap kisah mengenainya, benarkah gadis kecil itu memiliki sebuah kekuatan yang sama seperti milikku ini? Bahkan katanya dia lebih hebat dariku, aku tak suka mendengarnya, entah mengapa... Setiap kali bi Marni menceritakan tentangnya, aku tak suka saja, aku merasa dia lebih menyayangi anak itu dibandingkan aku..."
"Aku sudah bertemu dengannya, benar dugaanku, dia hanya gadis sombong biasa, sama saja seperti gadis kaya lainnya. Tapi anehnya dia tak menyadari kekuatannya sendiri? Dasar bodoh.."
"Beberapa hari ini aku sering bertemu dengannya, dan beberapa kali juga sering terlibat dalam suatu kasus yang sama, dan akhirnya bi Marni membuka identitasnya dan juga menceritakan perihal tentangku, katanya agar kami tidak merasa canggung saat bertemu karena memiliki visi dan misi yang sama, apalagi kami juga memiliki takdir yang sama..."
"Aku benci dengan semua ini, kenapa ini terjadi padaku? Aku takut, ya aku takut! Aku tak ingin mengalami hal yang sama apa yang dirasakan oleh panglima Arialoka, aku tak ingin bernasib sama sepertinya... Gadis itu tak menyukaiku, dan sepertinya dia menyukai sahabat lelakinya.. Shial! Kenapa aku bisa menyukainya?"
"Aku menyerah, aku pasrah dengan semua ini.. Aku tak bisa membohongi diri sendiri lagi, kalau aku menyukainya, tapi hanya sekedar suka tak lebih dari itu, yah... Demi bi Marni, demi semuanya aku harus menerima takdirku harus bersama dengannya, ya... Agar semua misi kami cepat selesai, aku memang harus bekerja sama dengannya"
"Aku menyukaimu, Maura... Tapi aku masih tak yakin dengan semua ini, apa ini murni perasaanku padamu, atau perasaan panglima Arialoka kepada Dewi Srikandi? Jika ini memang murni perasaanku, kenapa belum memiliki rasa nyaman saat bersamamu, yang ada adalah perasaan takut, dan gugup"
"Aku memutuskan akan selalu bersamanya, dan berjanji menjalani takdir ini bersama juga, tidak buruk juga... Aku dan dia memiliki misi yang sama, setidaknya aku bisa mewujudkan keinginan panglima Arialoka untuk selalu bersama Dewi Srikandi, tugasnya yang belum selesai, akan aku tuntaskan..."
Setelah itu Maura tak melanjutkan lagi bacaannya, dia sudah terlanjur kecewa dan ternyata apa yang dia takutkan ternyata benar adanya, selama ini dia telah salah faham mengira jika Ardian benar-benar mencintainya, benar-benar tulus dengannya.
"Bodoh, bodoh-bodoh! Aku sungguh bodoh sekali," ujarnya sambil memegang erat jurnal itu.
Setelah itu dia melihat ada beberapa tas dan koper miliknya didalam kamar itu, dan di sana juga ada beberapa barang milik Ardian belum disusun. Maura menatapnya miris, hidupnya tak pernah bisa dia bayangkan akan seperti ini jadinya.
Dia bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa, dengan telaten dia merapikan semua barang-barang milik Ardian pada tempatnya, hingga benar-benar rapi dan bersih. Lalu dia kembali melihat barang-barangnya yang belum dikeluarkan dari tasnya.
"Tempatmu bukan disini, belum saatnya.." gumamnya sambil menatap semua tas dan kopernya itu.
Setelah itu dia membawanya kedalam kamar lain, kamar yang dipakai oleh Maurice dan Kevin saat itu. Dia mengeluarkan semua barang-barangnya dan menyusunnya hati-hati didalam lemari, rak ataupun meja didalam sana dengan perasaan hancur dan sakit sekali.
"Aku gak tau apa yang aku lakukan saat ini sudah benar atau salah, setidaknya aku tak ingin bertemu dengannya saat ini... Setidaknya, tidak tidur bersama dulu... Masalahnya, kamar mandi hanya ada satu.. Ck," ujarnya berdecak kesal.
.
Saat dia masuk kedalam rumah, keadaan didalamnya sangat sepi, tak ditemukan keberadaannya Maura, dia mengecek kedalam kamarnya, sepi tak ada orang. Hanya saja barang-barangnya sudah rapi, Ardian tersenyum dan senang melihat kinerja Maura yang mulai menerimanya.
Cukup lama dia diluar sambil merapihkan beberapa barang-barang belanjaan, setelah kurang lebih satu jam, dia terkejut melihat Maura keluar dari kamar sebelah. Yang dia pikir Maura sedang keluar menemui beberapa temannya, ternyata ada didalam kamar samping.
"May, sejak tadi kamu ada didalam sana?" tanya Ardian bingung.
"Iya," jawab Maura sambil mengucek matanya, sepertinya dia ketiduran didalam.
"Mau minum?" tawar Ardian sambil memberikan air minum didalam gelas ditangannya.
"Terima kasih," jawab Maura singkat dan mengambilnya.
"Kamu tadi--" Ardian ingin bertanya tentang dirinya yang baru keluar dari kamar itu.
"Aku ketiduran setelah selesai membereskan barang-barangku, maaf..." jawabnya langsung.
"Apa?" Ardian terkejut mendengar ucapan Maura itu.
"Tapi kenapa? Bukankah kita sudah menikah, seharusnya kita tidur bersama?" tanya Ardian bingung.
"Aku belum terbiasa tidur dengan orang asing, apalagi dia seorang lelaki, maaf.." jawabnya lagi santai sambil duduk memperhatikan beberapa barang belanjaannya Ardian.
"Aku bisa mengerti soal itu, tapi masalahnya kita sudah menikah..." kata Ardian mencoba menjelaskan kembali.
"Aku lagi haids, Ardian. Aku takut kau tak nyaman tidur denganku, mungkin bau amis atau apa?! Bisa faham kan maksudku!" jawab Maura kesal, sambil menaruh gelasnya sedikit keras.
"Hufth, iya aku faham... Tapi aku tak masalah soal itu, tapi kan kita harus --" Ardian masih mencoba untuk sabar dengannya.
"Sudahlah, aku tak mau membahas soal tidur bersama dulu! Ini sudah mulai sore, aku mau beberesan dulu, dan maaf aku gak bisa masak seperti Maurice, kau bisa pesan makanan kalau lapar!" ucap Maura mulai ketus.
"Kamu gak udah terlalu memikirkan soal itu, aku bisa masak dan suka memasak. Biar aku saja melakukannya,, kamu sapu aja lantainya.." ujar Ardian sambil menatap aneh Maura.
"Dia kenapa, kenapa tiba-tiba berubah begini? Aku sudah memperhatikannya sejak tadi, tak ada yang salah dengannya... Apa aku pernah mengatakan sesuatu yang salah tanpa aku sadari?" gumamnya sendiri sambil memperhatikan Maura yang sedang bersiap untuk membersihkan rumah itu.
"Akan aku tunjukkan padanya, tanpanya aku pun bisa menjaga diriku sendiri, aku bisa melindungi diriku sendiri bahkan orang-orang disekitarku juga! Mungkin selama ini aku bodoh tak bisa menilai ketulusanmu, tapi aku tak bodoh dalam dunia yang serba realistis ini.." gumam Maura sambil mengerjakan tugasnya.
Sepertinya dia mulai memandang lain tentang Ardian, apa lelaki yang sudah menjadi suaminya itu benar-benar tulus atau Maura hanya salah paham saja?
......................
Bersambung