
"Bismillahirrahmanirrahim.." sekali hentak dia berhasil mendobrak pintu rumah itu.
Ia masuk kedalam rumah itu, hawa pengap menjalar memenuhi seisi ruangan itu. Dia mendengar suara gaduh di lantai atas, bergegas dia naik dan melihat ada sebuah kamar sedikit terbuka.
"Maura?!!" betapa terkejutnya dia melihat Maura sedang dipeluk oleh makhluk mengerikan.
Sosok wanita bertubuh sangat tinggi memakai daster berwarna merah dengan rambut panjang menjuntai menyapu lantai, sangat panjang sekali. Sekilas Ardian menyangka benda hitam panjang melingkar dilantai itu ular, tapi ternyata rambut makhluk itu.
Maura seperti terhipnotis, dia diam saja saat dipeluk oleh makhluk itu, Ardian sangat khawatir dengannya. Tiba-tiba saja mata Maura berkedip-kedip seolah baru sadar, tapi responnya sangat diluar perkiraan.
"Apa kau sudah puas memelukku? Kalau sudah, sebaiknya kau pergi jika tidak temanku yang itu bisa menghajarmu!" ucap Maura santai dipelukan makhluk itu.
Makhluk itu melepaskan pelukannya, dia menatap Ardian tak suka dan menghilang begitu saja, Maura dengan santainya membersihkan pakaiannya yang terkena noda dari makhluk tadi.
"Maura!" panggil Ardian tak percaya.
"Apa sih, berisik tau!" jawab Maura cuek.
"Itu tadi apaa?" tanyanya bingung.
"Kunti, sejenis jin lainnya. Bisa liat kaan.." jawab Maura heran juga.
"Bukan itu maksudku, dia itu termasuk makhluk jahat yang kuat! Kuntilanak merah, itu bukan sekedar rumor saja, Maura!" ucap Ardian gemes padanya.
"Tau! Ingat, jika kita terlihat takut kepadanya maka akan lebih mudah baginya untuk menguasai pikiran kita, dan membuatnya makin kuat saja.
Tapi jika kita berusaha melawannya dengan kekerasan, atau berpura-pura berani maka dia juga akan semakin tertantang untuk menguji kita.
Satu-satunya cara untuk menghadapinya itu, dengan ketenangan. Untuk manusia biasa, mereka lebih baik menghindarinya dan berpura-pura tak melihatnya saja dengan berjalan tenang.
Tapi bagi orang seperti kita ini, mending ajak saja dia bicara, tanyakan apa maunya. Ingat, jin atau manusia itu sama saja. Jika bisa diajak bicara dengan tenang, semuanya masalah bisa diselesaikan dengan baik-baik tanpa harus kontak fisik" jawab Maura menjelaskan semua.
"Terus tadi apa? Main peluk aja! Dan apa maksudnya tadi aku akan menghajarnya, bukankah itu sama saja dengan memprovokasinya?!" tanya Ardian heran.
"Untukku pelukan itu tak berarti apa-apa, dan dia juga tak berniat menyakitiku. Maklumlah wanita, habis curhat dan menangis kencang pasti butuh sandaran atau pelukan, untuk menenangkan dirinya.." sahut Maura.
"Maksudnya?" Ardian penasaran.
Sebaiknya kita bicarakan hal itu nanti saja, mumpung kau masih disini ayo bantu aku membereskan barang-barangku!" ucap Maura sambil berjalan meninggalkannya di kamar itu.
Mau gak mau Ardian mengikuti gadis itu, setelah selesai mengepak barang-barangnya, Maura meminta Ardian membantunya mengangkat barang-barang itu kebawah.
"Lumayan, ada kuli gratis!" gumamnya cekikikan.
"Udah selesai semua, mau diangkut kemana? Mau balik lagi ke pesantren atau pindah kostan lagi?" tanya Ardian.
Mereka duduk di kursi teras rumah itu, sambil mengelap keringat diwajah mereka, kelelahan mengangkat barang dari atas kebawah.
"Aku akan pindah kost didekat kampus saja, lagian jaraknya tidak terlalu jauh juga dengan pesantren daripada disini. Jika aku kangen Maurice atau Kevin, aku bisa main kesana" ucap Maura.
"Kenapa tidak pindah didekatku saja, ada kostan juga di daerah sana yang lebih bagus dan aman" ujar Ardian.
"Kostan apa?" tanya Maura penasaran.
"Kostan putri, kalau gak salah nama kosannya Kost Lentera Merah" jawab Ardian.
"Aku hanya nanya kostan apa loh, bukan nama kostnya. Apa kau sering main ke sana?" tatap Maura curiga.
"Kebetulan rumah yang kubeli punya induk semang kostan itu, dan jaraknya juga deket kok. Kalau gak salah gak jauh juga dari kampusmu, hem.. Kampus kita!" jawab Ardian sambil celingukan menghindari kontak mata dengan Maura.
Gadis itu menatapnya curiga, karena lelaki didepannya ini begitu banyak bermain rahasia dengannya. Karena tidak tahan didiami sama Maura apalagi gadis itu menatapnya curiga seperti itu, akhirnya dia menyerah juga.
"Iya, iya! Aku salah, aku minta maaf, oke?!" katanya pasrah.
"Kenapa kau minta maaf padaku? Apa kau punya salah sehingga harus meminta maaf seperti itu?!" tanya Maura memojokkannya.
"Haduh, gak ada yang bener jika lawannya cewek!" gumamnya gemes sambil mengacak-acak rambutnya.
"Baiklah, akan aku jelaskan tapi sebelum itu tolong belikan aku minum dulu. Haus ini dari tadi naik turun angkat barang-barangmu" ucap Ardian.
Dengan perasaan dongkol akhirnya Maura pergi juga ke warung depan membeli air mineral, dia baru ingat kalau pagi ini mereka belum sarapan, sekalian mampir beli nasi uduk bu Lely langganannya, rame seperti biasa, terpaksa dia ikut mengantri.
Setelah selesai dia pulang ke rumah kost itu, dia terkejut melihat barang-barangnya tadi diangkut kedalam mobil, dan dia melihat Ardian sedang berbincang dengan seseorang.
"Oke, bro! Untuk sementara bawa aja dulu motornya, aku pinjam dulu mobilnya" ucap Ardian kepada lelaki muda disamping mobil itu.
"Santai my bro! Pake aja seharian ini, paling gak aku bisa gaya-gayaan didepan cewekku dengan motor sport ini, haha!" jawab lelaki itu tadi.
Mereka terlihat begitu akrab, Maura berjalan kearah mereka dengan heran dan kebingungan, sambil menatap mobil SUV didepannya.
"Hai, bro kenalin ini pacarku! Dia satu kampus juga dengan kita, beda kejuruan juga!" ucap Ardian memperkenalkan Maura kepada temannya.
Mendengar hal itu sudah pasti Maura gelagapan, dia belum siap diperkenalkan seperti itu apalagi dengan orang yang baru dia kenal juga.
"Wah, cantik juga bro. Aku gak tau ternyata cowok dingin macam kamu punya pacar juga, pantesan dideketin cewek-cewek reaksinya dingin banget, ternyata sudah ada pawangnya, haha! Meera pasti kecewa banget tuh!" ucap temannya Ardian ember.
"Meera siapa?!" tanya Maura ketus.
Ardian langsung menyuruh temannya cepat pergi sebelum masalah semakin lebar kemana-mana, sedangkan temannya itu cuma nyengir saja.
"Ayo kita pergi, aku udah nelpon ibu kost yang aku ceritakan tadi. Katanya ada kamar yang kosong kok, kamu pindah kesana saja yah.." ucap Ardian pura-pura tak tahu apapun.
Ardian langsung membukakan pintu mobilnya dan meminta Maura duduk didepan, sedangkan dia langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya meniggalkan kost angker itu.
Ardian tak ingin membuat masalah, dia mengikuti keinginan gadis itu. Mereka berhenti di sisi bahu jalan kebetulan di sampingnya ada taman juga.
"Kita berhenti disini yah, o ya kamu beli sarapan juga ternyata. Sekalian sarapan yah, laper! Haha!" ucap Ardian mencoba menghangatkan suasana tapi gagal.
Maura mengikuti Ardian dengan tatapan mengintimidasi, akhirnya lelaki itu menyerah dia capek harus ditatap dengan penuh kecurigaan itu.
"Meera itu salah satu teman kampus, tak ada hubungan apapun diantara kami kecuali teman kampus aja. Dia memang sedikit agresif dan posesif, sampai menyebar berita rumor tentangku dan dia. Huftt, aku terganggu sekali olehnya.
Kebetulan dia juga ngekostnya didekat rumahku, tapi aku tak pernah menggubrisnya ataupun memperdulikan dirinya. Aku baik padanya karena dia sudah banyak membantuku, termasuk mencarikan aku rumah yang aku tinggali itu" ucapnya sambil makan sarapannya dengan santai.
Tapi hati dan perasaan Maura rasanya mau terbakar, dia tak suka Ardian menceritakan tentang gadis itu. Meskipun katanya tidak memperdulikan atau menanggapi gadis itu, tapi dia membiarkan gadis itu tetap bersikap seperti itu, sama saja dengan memberinya harapan.
"Kamu suka sama gadis bernama Meera itu?!" tanya Maura dingin.
"Uhuk! Uhuk!" Ardian terbatuk mendengar ucapan Maura barusan.
"Maksud kamu apa sih ngomong kayak gitu?!" tanya Ardian gusar.
"Yah mendengar kamu menceritakannya dengan nyaman begitu, berarti kamu sudah menerima dia.." jawab Maura.
"Menerima apanya? Kan sudah kubilang aku tak memperdulikan dirinya ataupun menanggapi dirinya juga!" jawab Ardian gusar.
"Tidak menanggapi dan tidak memperdulikannya, heh.. Bulshit! Tapi kamu membiarkan dirinya tetap bersamamu dan tidak memperdulikan rumor itu, itu sama saja kamu memberinya sebuah harapan.
Gak aneh jika teman kamu tadi ngomong kayak gitu, jangan-jangan kostan yang kamu bilang itu adalah kostannya dia juga?!
Haha! Luar biasa, cepat habiskan makanmu terus kita meluncur ke kostnya, aku penasaran seperti apa gadis itu" jawab Maura sambil tersenyum sinis.
"Maura!" panggil Ardian.
Tapi gadis itu sudah terlanjur kecewa, dia mengabaikan panggilan Ardian dan terus berjalan dan masuk kedalam mobil, melihat keadaan Maura seperti itu, Ardian pun menghentikan makannya dan langsung mengejar Maura.
Setelah membuang bungkus bekas nasinya dan mencuci tangan, Ardian juga masuk kedalam mobil sebelum jalan dia sempatkan minum dulu.
"Kita langsung ke kostan barumu yah?" tanya Ardian memastikan lagi.
Maura hanya diam saja sambil memalingkan wajahnya, menatap kearah luar jendela kaca mobil itu. Melihat reaksi Maura seperti itu, Ardian hanya menghela nafasnya saja.
"Hufft, kalau sudah berurusan dengan perempuan cemburuan begini, susah juga. Lebih baik aku diam saja dan mengikuti saja maunya" gumam Ardian sambil melajukan mobilnya.
Perjalanan mereka tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit kemudian mereka sampai didepan pintu pagar kost Lentera Merah dengan pintu pagarnya juga dicat warna merah.
"Dari luar lumayan juga, semoga penghuninya baik-baik gak ada toxic macam Ranti, repot kalau ada. O iya, aku lupa! Disini kan ada cewek yang naksir Ardian!
Huft, lebih baik aku berhadapan dengan setan aja daripada manusia kelakuannya mirip setan!" ucap Maura dalam hati.
Seolah alam mendengar kata hatinya, tiba-tiba saja dia dikejutkan oleh sosok bayangan lewat cepet banget didepan mereka.
"Kenapa gak bilang kalau disini banyak setannya?!" ujar Maura kesal.
"Aku gak tau, kan aku gak tinggal disini. Gak ada juga rumor kalau disini ada setannya!" ucap Ardian gemes liat Maura marah-marah terus.
Maura hanya mendengus kesal, dan didepan mereka sudah ada yang menunggu. Ardian memperkenalkan Maura kepada mereka, dan ternyata mereka adalah penjaga kostan dan pemilik kostan itu. Tiba-tiba..
"Ardian!" ada seseorang yang memanggil nama Ardian dari lantai atas.
Seorang gadis cantik berkulit putih dengan rambut panjang, tinggi dan bentuk tubuhnya sangat profesional mirip model. Dia berlari kearah Ardian dengan wajahnya yang ceria.
"Hai, aku gak tau kalau kamu mau datang loh! Kalau tau aku mau siap-siap dulu" ucap wanita itu dengan gayanya sedikit genit.
Maura rasanya mau muntah mendengar suara gadis itu sengaja mendayu-dayu begitu untuk menggoda Ardian.
"Gak kok, aku hanya mampir sebentar ada perlu dengan bu kost. Sekalian mau nganterin pa-" ucapan Ardian langsung dipotong Maura.
"Kenalkan namaku Maura, saya temannya deketnya Ardian. Oh jadi ini yang namanya Meera, cantik juga! Ardian sering loh ngomongin tentang kamu!" goda Maura.
Gadis menatap Maura tak suka tapi setelah mendengar ceritanya tentang Ardian membicarakan dirinya, sikapnya langsung berubah baik.
Malah Ardian yang gelagapan, dia tak menyangka kalau Maura akan berkata begitu, sikapnya sangat berbeda dengan yang tadi.
"Mau apa lagi ini anak, ampun dah!" gumamnya kesal.
"Oh begitu, aku gak tau kalau dia sering ngomongin aku. Kami memang dekat, kemana-mana selalu bersama. Biasanya aku takut berteman terlalu dekat dengan lelaki, tapi entah mengapa Ardian membuatku nyaman.." ujar gadis itu malu-malu.
"Meera, coba kamu kalau mau turun ketemu orang apalagi lelaki pakaiannya sopan dikit, masa turun pake celana kecil ketat begitu kaya pakai cel*na dalam saja! Itu tank top kamu juga udah kekecilan.
Kasihan noh si Supri dari tadi ngences ngeliatin kamu mulu, liat Maura pakaian sopan begini kan enak liatnya" ucap bu kost nyelah omongan nyerocos saja.
Meera terlihat malu kepada Maura dan Ardian dan jijik melihat wajah mes#m si Supri, dia langsung berlari menuju kamarnya di lantai atas.
"Mari nak Maura, saya antarkan ke kamarnya. Semoga betah yah, maklumi aja sikapnya tadi, emang anaknya centil begitu" sahut bu kost nyablak.
Barang-barangnya dibantu mang Supri dan Ardian membawanya ke kamar baru Maura, dan sialnya kamar itu tetanggaan dengan Meera.
•••••••••••••••••••••••••••
Bersambung
Selamat tahun baru ya teman-teman, have wish you all the best deh 🥰🥰🙏