
Sesampainya di Kampus, Maura beneran cuekin si Ardian. Lelaki tampan itu merasa keheranan dengan sikapnya Maura, beberapa kali dia mencoba menarik perhatian gadis itu, tapi gadis itu malah tambah cuek dan tak peduli dengan apa yang dia lakukan.
Semua mahasiswi di kampus merasa iri dan cemburu dengan Maura, dimana mereka semua nampak antusias dan berusaha menarik perhatiannya si Ardian, tetapi lelaki itu tetap dingin dan cuek, sedangkan Maura yang cuek malah dapat perhatian lebih dari sang lelaki itu.
"Kamu kenapa sih, May?" gumam Ardian nampak sedih dan kecewa dengan sikap Maura yang tiba-tiba berubah seperti itu.
"Gak usah diambil hati, mungkin itu adalah pengaruh hormon. Cewek kalau lagi dapet kan biasanya juga kayak gitu, tiba-tiba marah, tiba-tiba manja, ditanya mau makan apa jawabnya terserah, giliran dibeliin dianya gak mau! Giliran ngambek kayak gini, ditanya jawabnya gak apa-apa, giliran kita diam malah marah katanya kita gak peka! Ribet kaaann..." tahu-tahu si Ichan menyahutinya dari belakang.
"Astaga, Chan! Bikin kaget aja, btw.. Kok kau tau aja kalau dia lagi PMS?!" tanya Ardian sambil menatap Ichan dengan tatapan intimidasi.
"Ish, galak amat! Tenang bro, gw tadi gak sengaja dengar dia ngomong sama si Fani, mereka lagi ngomongin tentang hormon apalah itu tentang kewanitaan, jadi aku mikirnya begitu. Emm, emang beneran yak? Hehe, padahal aku cuma asal nebak, haha!" ujar Ichan dengan konyolnya.
Ardian mendengus kesal, dia meninggalkan Ichan begitu saja tanpa berbicara apapun lagi, si Ichan yang sudah tau wataknya Ardian hanya tertawa saja dengan sifatnya yang cemburuan itu.
Saat Ardian ingin menuju kelasnya, dia melihat Maura menuju perpustakaan dia sudah tak tahan lagi dengan sikap Maura, dia langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya kesatu sudut ruangan di perpustakaan kampus itu.
"Apa-apaan sih kamu, lepasin!" teriak Maura kesal.
"Sstt, diamlah! Kamu tau kan di perpustakaan gak boleh berisik," bisik Ardian ditelinga Maura.
Gadis itu sedikit bergidik saat Ardian berbisik di telinganya, dia menundukkan wajahnya saat wajah Ardian mendekat kearahnya, dia tak bisa pergi ataupun berbalik. Dia dalam posisi tersudut, dimana kedua tangannya ditahan oleh Ardian dan badannya menempel ke rak buku-buku.
"Kamu kenapa sih, kenapa diami aku kayak gitu? Salah aku apa, coba ngomong sama aku masalahnya dimana?" tanya Ardian kepada Maura.
"Gak ada apa-apa!" jawab Maura ketus.
"Huft, kamu dari tadi ditanya jawabnya kayak gitu! Tapi sikap kamu gak bilang baik-baik saja," ujar Ardian kesal juga akhirnya, tiba-tiba dia teringat dengan ucapan si Ichan tadi.
"Apa aku melakukan kesalahan, sehingga kamu jadi kayak gini?" tanyanya lagi.
"Pikir aja sendiri!" jawab Maura dingin sambil menatapnya tajam.
Dan tebakan Ardian benar jika dia pasti tak sengaja melakukan kesalahan, sehingga Maura nampak begitu marah sekali. Tapi kesalahan yang mana sampai Maura sampai marah seperti itu.
"Kamu nampak risih sekali jika aku memeluk pinggang kalau naik motor, katanya gelilah ntar khilaf!" ujar Maura sambil pergi meninggalkan Ardian yang nampak bengong sendiri memikirkan perkataan Maura.
Sejenak Ardian berpikir sebentar, sepertinya ada kesalahpahaman disini, dia sepertinya melihat Maura nampak kesal saat kejadian beberapa hari yang lalu, tapi masa iya hanya karena itu dia terus didiami.
Setelah itu, dia menoleh sebentar kearah pintu perpustakaan dan tidak lama kemudian seseorang lewat depan pintu, seseorang yang memakai motornya tadi pagi. Ardian tersenyum lalu mulai memahami apa yang terjadi saat ini.
"Jadi, kamu cemburu sama aku?" tanya Ardian sambil menggoda Maura.
"Cemburu? Hah! Gak, kalau kamu lebih nyaman bersama dia, silakan! Tapi gak usah dekat-dekat aku lagi," jawab Maura sambil menatapnya tajam.
Setelah mengambil beberapa buku, dia mencari tempat duduk untuk dia belajar. Tapi dengan adanya Ardian tentu saja dia tak bisa fokus, dia risih dengan tatapan Ardian itu. Bagaimana tidak, Ardian menatapnya dengan senyuman penuh arti, seolah-olah sedang mengamati dirinya dan ingin menggodanya saja.
"Biarkan begini dulu untuk sementara, aku mau menikmati momen langka ini. Jarang-jarang bisa liat Maura cemburuan begini, biasanya aku yang cemburuan tapi sekarang dia yang begitu.." gumamnya dalam hati.
"Hei, kalian di sana! Apa kalian tidak punya kelas hari ini?!" salah seorang staf petugas perpustakaan menegur keduanya nampak sedari tadi hanya diam saja, yang cewek sibuk baca sedangkan yang cowok sibuk memperhatikan si cewek.
"Ah, iya bu! Sebentar lagi," jawab Maura cepat.
Dia buru-buru membereskan buku-bukunya dan mengembalikan ketempatnya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh salah satu penunggu perpustakaan, makhluk itu datang tiba-tiba dengan wajah rusak dan membusuk.
"Pergi!" sentak Ardian mengusir makhluk itu.
Tentu saja makhluk itu pergi, dia tidak ingin berurusan dengan dua manusia yang memiliki kekuatan istimewa dan sangat ditakuti oleh beberapa makhluk sepertinya.
"Gak usah ikuti aku, aku mau langsung ke kelas!" ujar Maura ke Ardian.
"Oke, aku ngantar kamu ke kelas setelah itu aku balik ke kelasku. O ya, nanti kita ke kantin bareng yah! Dan jangan lupa pulangnya sama aku!" ucap Ardian sambil mengikuti Maura ke kelasnya.
Maura nampak ingin protes tapi dia berusaha menahan dirinya, dia tak ingin menjadi pusat perhatian jika dia dan Ardian berdebat ditengah-tengah para mahasiswa yang berada tak jauh dari mereka.
Setelah tiba di kelasnya Maura, gadis itu langsung masuk ke kelas tanpa menoleh kearah Ardian. Meskipun sedikit kecewa, Ardian berusaha untuk mengerti perasaan Maura saat ini, jika itu dia mungkin akan seperti itu juga.
"Ah, kak.." sapa Ardian sesaat membalikkan badannya melihat sosok yang dia kenal berada di sana.
"Iya, aku lupa! Hehe.." sahut Ardian setelah itu dia langsung menuju kelasnya dimana saat itu sang dosen baru pengganti pak Damar juga sudah datang.
"Ah, dosen barunya sudah datang! Liat cantik banget kan, Maura!" ujar Ichan kepada Maura sesaat setelah dosen itu masuk.
Sedangkan Maura hanya diam saja saat melihat sosok dosen cantik itu, dia beberapa kali mengucek matanya ingin memastikan apa yang dia lihat benar adanya.
"Kenapa dia ada disini? Bukannya di Amerika, sejak kapan dia jadi dosen?!" gumamnya sendiri kebingungan.
Sedangkan Ardian nampak malu sekali saat dijadikan contoh sebagai mahasiswa kurang disiplin sama dosen baru itu, dia sangat kesal sekali merasa dipermalukan didepan teman-temannya. Padahal dia hanya telat lima belas menit saja sudah dianggap telat berjam-jam, padahal sebelumnya dia dan teman-temannya biasa datang terlambat seperti itu.
"Dosen barunya killer juga, apes banget sih Ardian,," bisik teman-teman sekelasnya.
"Kasihan Ardian baru masuk kelas dosen baru malah kena hukuman kayak gitu, btw.. Itu dosen baru ganteng juga, gantengnya sebelas duabelas sama si Ardian, gw kayak liat Cha Eunwo sama Lee Min Ho tau gak sih, kyaaa!" sahut juga beberapa mahasiswi yang lainnya.
"Sudah-sudah jangan berisik, saya harap tidak ada lagi yang telat seperti ini saat saya mengajar di kelas ini! Kamu silakan duduk di bangkumu, duduk didepan, saya ingin liat keseriusan kamu dalam belajar!" ujar dosen ganteng itu.
Ardian menuruti kata si dosen, duduk di bangku paling depan. Malah dia tak sengaja duduk di samping salah satu mahasiswi cantik yang suka dengannya, dosen muda itu bisa lihat ekspresi dan sikap si mahasiswi mulai mencari perhatian ke Ardian.
"Kamu pindah tempat lain, di kelas saya tidak ada yang boleh berisik dan genit!" ujar si dosen mengagetkan mahasiswi itu sehingga dia segera memperbaiki sikapnya.
Ardian tau, dia juga tak ingin berada didekat mahasiswi itu kalau Maura tau maka makin ribet saja nantinya. Kemudian kelas berjalan dengan lancar, semua mahasiswa di kelas itu mulai memahami karakter si dosen baru yang ingin serius dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelasnya.
Beberapa saat kemudian, kelas selesai. Ardian buru-buru ingin keluar menjemput Maura, dia tak ingin dianggap tidak konsisten sama Maura karena dia telat menjemputnya, meskipun itu cuma ke kantin doang.
"Hei, buru-buru amat! Santai bro," ujar si dosen menghentikan langkah Ardian.
"Aku tadi telat dihukum sama kakak, eh! Sama pak dosen, sekarang aku gak mau telat lagi, nanti dihukum sama Maura juga! Ini juga dia lagi ngambek sama aku, gara-gara kakak juga, eh bapak juga sih!" kata Ardian menimpali si dosen muda dan ganteng itu.
"Lho kok aku?! Hem, apa Maura sempat liat aku pas di kost-annya tadi?" gumam si dosen.
Tidak lama kemudian, dosen baru lainnya datang menemuinya. Dosen muda dan cantik, dia nampak begitu serasi dengan dosen ganteng itu. Kemudian mereka berjalan menuju ruang dosen bersama.
"Bagaimana kelas pertamamu, banyak kesulitannya?" tanya dosen ganteng itu.
"Gak juga sih, yaa.. Meskipun sedikit kesulitan karena kendala bahasa, tapi aku akan banyak belajar lagi dalam bahasa Indonesia yang benar, dan grogi juga karena ditatap terus menerus sama Maura.
Btw, kok Maura kayak baru tau kalau aku bakalan ngajar di kampusnya? Bukannya kamu udah cerita kan perihal kedatangan kita?" tanya dosen cantik itu.
"Emm, belum sih. Aku mau ngasih dia surprise, hehe.." jawab dosen ganteng itu.
"Tapi bukannya tadi pagi kamu nyamperin dia di kost nya?" dosen wanita itu nampak kebingungan.
"Emm, memang.. Tapi keburu pergi juga karena aku mau jemput kamu, takut telat datang di hari pertama kita mengajar.." jawab sang dosen pria.
"Oh, pantesan.." ucap dosen wanita cantik itu sambil tersenyum, membuat siapapun melihatnya takjub dengan senyum manisnya.
"Tapi kayaknya dia udah liat aku, tapi karena aku memakai helm full face dan pakai jaketnya Ardian juga, jadi dia mengiranya aku ini adalah Ardian,, dan sudah ketebak kan bagaimana kelanjutannya,, haha!" ujar si dosen ganteng itu sambil terkekeh.
"Ish, pasti dia marah sekali dengan Ardian disangkanya di cuekin terus ditinggal lagi, eh! Kita kan tadi berangkatnya bareng, dan... Ah! Dia pasti ngiranya Ardian selingkuh, haha!" si dosen wanita juga tergelak membayangkan betapa lucunya tingkah Maura dan Ardian saat ini.
"Ehem! Senang yah sudah bikin orang marah-marah gak jelas, udah datangnya gak bilang-bilang! Malah aku didatangi tapi gak disapa, ngeselin banget jadi orang!" ujar Maura mengagetkan mereka berdua.
"Maura!" ujar dua dosen muda itu terkejut.
Maura berdiri dibelakang mereka dengan wajah ditekuk, dia benar-benar kesal dan marah sekali merasa dikerjain. Sedangkan Ardian dan Maurice hanya menahan tawanya melihat dua orang itu terkejut dibuatnya.
"Kak Angga sama kak Dhania benar-benar yah! Maura kesel nih," ujar Maura lagi.
Sedangkan dua dosen muda ganteng dan cantik itu yang tak lain dan tak bukan lagi kalau mereka adalah kakak ipar dan kakak kandung Maura sendiri, Angga dan Dhania hanya tersenyum saja melihat tingkah Maura itu.
......................
Bersambung