
Maura dan Nala sudah tiga kali berada di dimensi yang berbeda dengan keadaan alam yang berbeda pula, sebelumnya mereka berada ditengah hutan gelap berkabut, terus tiba-tiba muncul di suatu tempat yang terang benderang dengan sinar matahari yang hangat, dan saat ini mereka disambut oleh cuaca yang sangat buruk.
"Kau tau, setiap dimensi menggambarkan suasana atau aura penghuninya. Dan ini merupakan dimensi paling pekat dan gelap setelah dimensi gaib buatan Arion Gaharu.
Kau harus berhati-hati dan jangan jauh-jauh dariku, kita harus waspada. Lihat hutan dan hujan ini, sungguh tak biasa" ujar Maura masih menuntut tangan Nala agar tak terlepas.
Hutan itu begitu gelap, cuaca buruk sedang menerpanya. Angin kencang, diiringi hujan deras, petir bergemuruh. Pandangan mereka terhalangi oleh kabut malam sehingga mereka tak bisa melihat dengan jelas di sana.
Ctaaar!!
Gludugggk!!
Wuuuzzsss!!
Petir menyambar diiringi suara bergemuruh, angin kencang menambah hawa dingin malam itu. Maura dan Nala menggigil kedinginan, dan anehnya pakaian mereka tidak basah sama sekali!
"Ini jelas-jelas cuaca kiriman, bangsat! Sepertinya kedatangan kami sudah diketahui! Apa nenek sudah tahu semuanya? Apa dia tahu yang dia tahan saat ini adalah Nayla, bukan aku?
Terus kenapa dia masih menahannya? Ini benar-benar mencurigakan, jika benar dengan apa yang aku pikirkan selama ini.. Nayla benar-benar dalam bahaya!" gumam Maura dalam hati.
"Bbrrr.. Maura, brrrr.. Apakah masih jauh? A-aku sudah tak tahan lagi, dingin! Dingin sekali! Bbrrr..." ujar Nala kedinginan sambil memeluk ranselnya.
"Kita istirahat dibawah pohon itu saja, kita tunggu cuacanya membaik lagi baru meneruskan perjalanan" ujar Maura lagi, sambil menunjuk pohon rindang didepan mereka.
"Tidak bisa, ini hampir mendekati subuh! Kita harus cepat!" ujar Nala lagi.
Maura tidak ingin memaksakan diri, karena saat ini baik dirinya maupun Nala sudah tak kuat berjalan lagi, dia terus menarik tangan Nala menuju pohon rindang didepan mereka itu.
Dan anehnya lagi ketika mereka berlindung dibawah pohon itu, mereka sama sekali tak merasakan hawa dingin cuaca itu. Seolah-olah mereka mendapatkan perlindungan.
"Ini adalah pohon penjaga hutan, sebelum dikuasai oleh iblis. Meskipun hutan ini sudah dikuasai oleh iblis dan jin jahat, aura kebijakan dan kebaikan pohon ini masih terasa" bisik Dewi Srikandi didalam tubuh Maura.
"Sepertinya cuaca malam ini akan seperti ini terus, jika kita menunggu sampai cuaca reda, aku yakin ini akan seperti ini terus sepanjang waktu.
Kita tak punya banyak waktu, kita harus menahan semua ini. Aku harap kamu bisa menahan semuanya, Nala" ucap Maura.
"Aku tahu, sepertinya hutan ini terkutuk atau mungkin ini tempat kediaman iblis. Dari tadi aku merasa ketakutan sendiri disini" kata Nala khawatir.
"Kamu tidak sepenuhnya salah, tapi kita harus yakin jika namanya jin atau iblis itu akan kalah dengan kekuasaan Tuhan" ucap Maura lagi.
Nala mengangguk setuju, mereka nekat menerobos cuaca itu yang menurut mereka sangat aneh, karena mereka tidak merasakan basah kena air hujan itu, hanya suhunya saja mereka dapat merasakannya.
Didepan mereka ada sebuah gubuk kayu yang dibuat secara asal, terdiri dari kayu sebagai penyangga, bambu dipotong kecil-kecil dijadikan dindingnya, dan atapnya terbuat dari tumbukan daun-daunan.
Siapapun yang ada didalam sana, pasti sudah mati kedinginan kalau tidak sudah sekarat. Karena lantainya tanpa alas, yang siapa tahu bisa saja serangga ataupun binatang-binatang kecil bisa merayap masuk.
Dindingnya tidak tertutup rapat, membuat angin dari luar bisa masuk ataupun bahaya bisa mengintai siapapun yang ada disalam sana. Belum lagi atapnya itu, percuma dipakai, air hujan dengan gampangnya mengguyur yang ada didalamnya.
"Siapa yang membuat pondok seperti itu? Jangankan untuk manusia, untuk hewan pun ini sama sekali tidak layak" gumam Nala.
Mereka mendekati pondok itu, sayup-sayup mereka mendengar suara rintihan didalam sana. Mereka penasaran dan memberanikan diri untuk mengintip siapa yang ada didalam sana.
"Tunggu dulu, Maura! Bagaimana jika ini jebakan?" cegah Nala, dia jadi tidak yakin untuk mendekati pondok itu.
"Kalau begitu, kau menjauh saja. Biarkan aku yang melihat ada apa didalam sana" sahut Maura.
"Ta-tapi--" Nala takut hal yang mengerikan akan datang lagi nanti.
Disekitaran sana benar-benar gelap dan sepi, sama sekali tak ada penerangan kecuali dari sinar bulan yang mulai redup karena tertutup awan hitam.
Kaki Maura hampir saja menginjak sesuatu yang akan membuatnya menyesal, seekor ular sanca melewatinya masuk kedalam gubuk itu, Maura mendelik ngeri melihat bentuk ular itu.
Begitu besar dan panjang, tapi dia tak merasakan aura apapun dari ular itu. Mungkinkah itu ular biasa? Binatang melata yang hidup di dimensi manusia yang kebetulan lewat di dimensi itu.
Ular itu masuk kedalam gubuk, terdengar suara rintihan itu semakin kencang, lebih mirip teriakan kecil seperti ketakutan. Maura mengintip dari sela-sela dinding bambu itu.
Betapa terkejutnya dia melihat Nayla ketakutan saat ular itu semakin mendekatinya, gadis itu meringkuk disudut dinding gubuk itu, dia tak bisa berbuat apa-apa, karena tubuh ular menghalangi pintunya.
"Nayla?!" teriak Maura.
Mendengar nama adik kembarnya disebutkan, Nala langsung mendekatinya. Dia pun mengintip kedalam gubuk itu mendapati Nayla sudah terlilit ular besar itu.
"Na-Nayla?!" pekik Nala.
"I-Ibu?!" gumamnya tak percaya.
"Nala, anakku.." sosok ular besar itu merubah wujudnya menjadi seorang wanita yang amat mereka rindukan.
"Ibu, bagaimana bisa--" tenggorokan tercekat, dia tak bisa menahan diri untuk memeluk sosok itu.
Ketika dia hendak menghampiri sosok itu, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Maura dari belakang. Nampak Maura begitu tajam dan dingin menatap sosok itu.
"Lepaskan, Maura! Itu Ibuku!" teriak Nala.
"Benarkah? Terus kenapa dia berwujud seperti itu?!" tanya Maura sambil menunjuk tubuh makhluk setengah manusia dan setengah bintang melata itu.
Nala memperhatikan sosok berwujud ibunya itu masih melilit tubuh Nayla dengan ekornya, dan Nayla nampak begitu kesakitan.
"Sadarlah, ibumu sudah lama meninggal. Jangan tergoda dengan rayuan iblis, ingat dimana kita sekarang ini. Apapun bisa terjadi didalam sini.
Kita harus fokus dan bertahan, jangan biarkan para jin dan iblis di hutan ini mempengaruhi isi pikiran dan tubuhmu. Dia bisa saja berwujud menyerupai ibumu untuk memancing dirimu untuk mendekatinya.
Apa kau pikir ibumu akan mencelakai anak-anaknya? Tidak kan?! Jangan mudah terpancing emosimu, lebih baik kita harus menyelamatkan Nayla terlebih dahulu" ujar Maura menjelaskan.
Meskipun dirinya kecewa mendapati kenyataan yang ada, dia harus bersikap realistis dan fokus dengan adiknya. Dia tak habis pikir, jika tidak ada Maura entah apa yang akan terjadi dengan dirinya dan Nayla.
Maura mengambil segenggam tanah dibawah sana, tanah merah dan basa karena air hujan itu berubah menjadi serbuk berwarna putih ditangan Maura.
Terlihat jin ular itu ketakutan melihat benda ditangan Maura, dia berlahan melepaskan Nayla dan kembali kebentuk semua menjadi ular dan keluar dari gubuk itu, diikuti oleh Maura.
"Pergilah, ini bukan tempatmu!" ujar Maura sambil mengeluarkan aura mistis yang begitu kuat.
"Siapa kau?!" tanya jin ular itu.
"Kau tak perlu tahu siapa aku, kau hanya perlu menjawab pertanyaanku.. Katakan padaku, siapa yang membawa anak itu kedalam gubuk ini?!" tanya Maura sambil memperlihatkan bola matanya berubah menjadi kuning keemasan.
"Anak manusia ini bukan manusia biasa, lebih baik aku tidak berurusan dengannya. Aku harus mengatakan semuanya saja, itu lebih baik untuk semuanya" gumam ular itu.
"Sesosok makhluk wanita cantik, aku tak tahu siapa dia. Yang jelas dia memiliki aura dan kekuatan yang luar biasa, sehingga para makhluk disini begitu takut dan takluk olehnya.
Tapi hanya menjalankan perintahnya untuk menjaga anak ini, aku melihat kalian dari kejauhan makanya aku datang untuk menjaga anak ini dan mengusir kalian" jawab binatang melata itu.
"Apa dia ada di sini?" tanya Maura lagi.
"Tidak ada, dia sekarang menemui seorang wanita tua serakah didalam gua ditengah hutan ini. Mungkin dia lagi menikmati sesajen yang sudah disiapkan untuknya" jawab ular itu.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Kau kembalilah, aku tidak akan melukaimu. Aku tahu kau juga dibawah tekanan mereka, aku bisa merasakannya" ucap Maura.
Ular itu langsung melesat pergi dari tempat itu, menghilang tanpa jejak. Setelah itu terlihat Nala bersusah payah membopong tubuh Nayla keluar dari gubuk itu.
"Aku akan membantu kalian keluar dari hutan ini menuju jalan yang pertama kita masuk tadi, ayo... Kita sudah tak punya waktu, kalian harus cepat kembali!" ujar Maura sambil membantu Nala membopong Nayla.
Mereka berjalan dengan aman menyusuri hutan itu sampai ke pohon tempat mereka berlindung tadi.
"Aku akan menghubungi jin di hutan sebelumnya, dia akan membukakan pintu keluar untuk kalian. Setelah lubang itu muncul cepatlah masuk dan kembali ke rumah segera!" ujar Maura memberi arahan.
"Kenapa kau tak pulang bersama kami? Apakah kau akan tinggal disini? Tidak! Aku tidak mengizinkannya" ujar Nala sambil berkaca-kaca.
"Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Dan aku tinggal disini karena ada yang harus aku lakukan, jangan sampai para tetua atau orang-orang yang ada di rumah menyadari kalian tidak ada di rumah.
Sedangkan aku, bukankah mereka semua menyadari bahwa aku sudah hilang menjadi tumbal mereka? Apa yang terjadi jika aku kembali? Pasti akan terjadi kehebohan dan kerusuhan nantinya.
Aku tak ingin membahayakan kalian semua, bagaimanapun juga kalian adalah keluargaku juga" ujar Maura sambil tersenyum tulus terhadapnya.
Nala tak kuasa menahan air matanya, dia berjanji akan membalas semua kebaikan Maura selama sisa hidupnya.
"Pintunya sudah terbuka, cepatlah pergi! Ingat ikuti arahan sosok itu untuk mengantarkan kalian dengan cepat dan selamat sampai ke rumah langsung" ujar Maura memberikan arahannya.
Nala membawa Nayla menuju lubang hitam itu, dia sempatkan menoleh kearah Maura, dia melihat Maura melambaikan tangannya sambil tersenyum lembut kearahnya.
"Terima kasih.." gumam Nala sambil melambaikan tangannya.
......................
Bersambung