RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Mencoba Memahami


Ardian pulang menuju rumah sakit, di sana masih ada ustadzah Mariam, Nur juga Lita yang menemani Maura, sedangkan yang lain sudah kembali ke pesantren.


"Ardian belum pulang, Ustadzah?" tanya Maura pelan.


"Belum, mungkin urusan di kampus belum selesai.." jawab ustadzah Mariam lembut, dia baru mengetahui kejadian tadi oleh pak Kyai, dan tetap menjaga Maura sampai emosi Ardian stabil.


"Ustadzah, bisa biarkan aku sendiri dulu? Aku juga ingin menghubungi keluargaku di New York, tenanglah.. Aku tidak akan menceritakan kejadian ini kepada mereka, lagian ini semua ada murni kesalahan dan kebodohanku sendiri.." ujar Maura, mencoba tetap kuat.


"Ya sudah, tapi jangan memaksakan diri jika tak kuat, Maura... Ingat, orang tua bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak mereka, meskipun letaknya mereka jauh. Jadi berhati-hatilah, karena mereka memiliki ikatan batin yang kuat kepada anak-anaknya.." kata ustazah Mariam.


"Iya, Ustadzah.. Akan aku ingat itu," ujar Maura tersenyum lemah.


Kemudian ustadzah Mariam dan lainnya keluar, mereka terkejut melihat Ardian diluar sana. Kemudian ustadzah Mariam mencoba mengerti keadaannya saat ini, dia duduk di samping Ardian dan mulai menceritakan sebuah kisah.


"Kamu tau, dikhianati dan dibohongi pasangan itu memang menyakitkan. Tapi kamu juga harus tau alasan dibalik kebohongan itu, meskipun alasannya tak masuk akal tapi kamu harus mencoba mengerti dia.


Apalagi dia juga sudah menyesali perbuatannya, dan benar-benar akan tobat tidak akan melakukan hal itu lagi, maka beri dia kesempatan untuk berubah, hubungan kalian ini berbeda dengan hubungan antara suami istri seperti yang lain, kalian ini 'spesial', Ardian..


Ustazah harap kamu bisa memahami semuanya, bahwa akan begitu banyak ujian dan cobaan yang harus kalian lalui nanti bersama-sama, ini bukan seberapa.. Akan banyak ancaman-ancaman dan bahaya lainnya menunggu kalian.


Setelah misi kalian selesai dan semuanya berakhir, apa kamu pikir maka akan berakhir juga tugas kalian? Tidak, akan begitu banyak tugas kalian nanti. Tugas sebagai penjaga keamanan dua dimensi ini, tugas sebagai warga negara yang baik, tugas sebagai orang tua bagi anak-anak kalian nanti dan lainnya juga..


Sekarang, turunkan egomu.. Perhatikan dia, dia membutuhkan perhatianmu yang tulus, jangan membicarakan soal misi terus, kadang wanita juga butuh perhatian yang lain, dia juga ingin kamu memilihnya menjadi istri bukan karena sekedar tugas dan misi saja, tapi memang benar-benar ingin memilikinya, karena dia berharap kamu menikah dengannya karena cinta dan benar-benar sayang dengan tulus, Ardian.." ucap Ustazah menjelaskan semuanya.


"Apa perasaanku selama ini tidak sampai dihatinya, Ustazah? Apa dia selama ini berpikir jika aku hanya mempermainkan perasaannya saja? Apa tidak cukup perhatianku selama ini kepadanya, apa saat-saat bersama selama ini tidak ada artinya baginya? Kenapa dia masih meragukan perasaanku kepadanya, Ustadzah?" tanya Ardian penuh kebimbangan.


"Temui dia, bicaralah nanti.. Bicara dari hati ke hati, jangan emosi dan kendalikan dirimu, jangan terpancing untuk berdebat dengannya.." jawab ustadzah Mariam lagi.


"Baiklah, aku akan menemuinya nanti.. Aku mau sholat zhuhur azhar dulu," ujar Ardian lagi.


"Ya sudah, kami juga mau pamit pulang. Ini sudah sore, kamu bisa kan menjaganya sendirian malam ini? Tapi kalau ada apa-apa hubungi saja kami, sampaikan salam kami kepadanya, dia lagi ingin sendiri dulu katanya.." ucap ustadzah Mariam lagi, diiringi anggukan juga yang lain.


Ardian juga mengangguk dan berterima kasih kepada mereka semua, kemudian dia pun menuju musholla rumah sakit untuk menunaikan ibadah sholat ashar nya.


Sementara itu, Maura sedang menghubungi bi Marni melalui jaringan internasional. Dia menceritakan semuanya yang terjadi, termasuk persyaratan untuk menghancurkan biduk utama sihir itu, yaitu pohon keramat Gaharu. Dia juga tak menutupi perasaannya selama ini kepada Ardian, termasuk rasa kecewanya juga.


"Ardian itu anak 'istimewa', sedari kecil dia telah memiliki kemampuan itu, Maura.. Sejak lahir, mungkin.. Dari usianya yang masih terlalu dini dia ditinggalkan kedua orang tuanya, yatim sejak dini, tak punya teman dari kecil, selalu mengasingkan diri dari orang-orang, hidup berpindah-pindah demi keselamatannya sendiri.


Hingga dia tumbuh besar dan dewasa di New York, Amerika. Dia begitu banyak melewati ini semua sendirian, aku hanya bisa mengawasinya dari jauh, dia sudah lelah Maura berjuang sendirian. Sejak kehadiranmu membuat suasana hatinya berubah, memang benar awalnya dia tak menyukaimu, karena sejak kecil juga bibi sering menceritakan tentangmu.


Ardian kecil, mungkin cemburu merasa perhatianku lebih besar kepadamu dibandingkan dengan dirinya, apalagi aku selalu ada bersamamu, bukan dirinya. Ditambah lagi, kisah masa lalu panglima Arialoka dengan Dewi Srikandi, membuatnya merasa tak nyaman. Dia pikir harus mengembalikan keadaan, seperti mewujudkan keinginan panglima Arialoka agar bertemu kembali dengan Dewi Srikandi.


Tapi, Maura.. Sekarang semua sudah berubah, Ardian tidak seperti itu lagi. Dia benar-benar tulus kepadamu, sama halnya denganmu.. Dia juga sudah lelah dan muak dengan semua ini, dia ingin mengakhiri ini semuanya, makanya dipikirannya saat ini bagaimana caranya agar semua misi ini selesai, itu saja.


"Baik, Bi.. Akan aku ingat selalu dan doakan kami disini baik-baik saja," ucap Maura juga.


"Tentu saja, sayang.. Hati-hati di sana, ingat.. Ridho suami adalah ridho Allah juga," nasehat bi Marni sebelum mematikan telponnya.


Tidak lama kemudian, Ardian masuk kedalam ruang inapnya Maura. Rasa canggung dan kikuk diantara keduanya masih terasa, baik itu Maura maupun Ardian sama-sama bingung memulai pembicaraan mereka.


"Em, sudah sholat?" akhirnya Maura memulai pembicaraan diantara keduanya.


"Em, sudah.. Kamu sendiri bagaimana, udah mendingan?" tanya Ardian basa-basi.


"He'em.. Sudah, kamu.. Sudah makan? Tadi ustadzah Mariam membawa makanan cukup banyak, makanlah.." jawab Maura sambil sedikit memberinya perhatian.


"Sudah, aku sudah makan.." ucap Ardian, hatinya menghangat saat mendengar perhatian sedikit dari Maura.


"Karena dia sakit, dia hanya bisa mengatakan hal itu. Kalau tidak mungkin dia akan menyiapkan smua makanan ini kepadamu, Ardian.." ujar Aurora entah sejak kapan dia sudah berada di sana.


"Aku bisa mendengarmu juga, Aurora.." ucap Maura sedikit kesal bercampur malu dibuatnya.


"Haha, maafkan aku, Dewiku... Kedatanganku ingin memastikan keadaanmu saat ini, sekaligus menjagamu atas serangan nanti malam," ucap Aurora dengan sopan dan hormat.


Ardian jadi teringat kembali dengan ucapan panglima langit tadi siang, dia juga harus berjaga malam ini di samping Maura. Dia tidak ingin melakukan kesalahan dan kelalaian lagi.


"Serangan? Serangan apa?" tanya Maura tak mengerti.


"Akibat kejadian tadi malam, mengakibatkan pohon keramat bersama sekutunya murka. Mereka akan menyerang dua dimensi sekaligus. Dimensi manusia dan dimensi kerajaan gaib, yaitu kerajaan bayangan.." ujar Aurora, dia harus menjelaskan itu semua kepada Maura.


"Apa? Apa itu karena kecerobohanku? Apa aku penyebab itu semua?" tanya Maura khawatir dan merasa bersalah juga.


"Tidak juga, jangan membebani dirimu dengan pikiran seperti itu. Mereka sejak awal memang berniat ingin memulai peperangan ini, dan kejadian semalam hanya alasan saja bagi mereka untuk memulai semuanya.." jawab Aurora tetap tenang dan bijak.


"Bagaimanapun juga, aku tetap salah.." gumam Maura merasa benar-benar bo.doh dengan kelakuannya samalam, dia menyesali perbuatannya itu.


"Tidak apa, bagaimanapun juga kau hanya manusia. Soal salah dan benar itu biasa, jangan terlalu dipikirkan. Baiklah, aku akan berjaga bersama dengan yang lain, kau beristirahat lah.." ujar Aurora lagi setelah itu langsung menghilang begitu saja.


Ardian masih duduk tak beranjak dari tempatnya, kali ini dia tidak akan membiarkan Maura pergi lagi, setidaknya dia tidak sendirian saat-saat seperti ini.


......................


Bersambung