
Maura terbangun dari tidurnya, dia melihat dirinya dan teman-temannya tertidur di ruang keluarga apartemen miliknya, dia terbangun sendirian sedangkan teman-temannya masih tertidur di sofanya.
"Kenapa aku dan lainnya ada disini?" gumamnya.
Suasana di sana begitu sepi dan sunyi, gelap tak ada pencahayaan. hanya ada cahaya lampu balkon yang menyinari ruangan itu, lagi-lagi dia lihat pintu balkon terbuka dan angin kencang masuk dari luar lewat pintu itu.
Maura bangkit hendak menutup pintu itu, tiba-tiba dia dikejutkan ada sosok wanita yang dia temui malam itu keluar dari balkon itu. Dia tersenyum penuh arti berjalan menuju Maura.
"Maura, anakku..." ucapnya pelan.
"Siapa kau? Kenapa kau memanggilku begitu?!" bentak Maura.
Dia sadar bahwa sosok itu bukan makhluk biasa, dia bisa merasakan energi yang begitu kuat dari sosok itu.
"Kau tak mengenaliku, sayang..." ucap sosok itu lagi.
"Katakan, katakan saja sia-pa ka-kau..." tenggorokannya rasanya begitu kering, tiba-tiba perasaannya menjadi gelisah.
Sosok itu semakin dekat dengannya, Maura berjalan mundur, dia tak bisa mengeluarkan suaranya. Rasanya tenggorokan sakit seperti tercekik setiap kali dia berusaha berbicara.
"Maura, pergi!" terdengar suara kecil tapi sangat jelas dia dengar.
Entah sosok itu mulai menyadari bahwa ada yang berusaha menyelamatkannya, berlahan-lahan wajahnya berubah sangat pucat sekali. Rambut indah yang melayang-layang itu berubah menjadi sangat kusut dan tangannya menjulur kearah Maura dengan kuku-kuku jari yang panjang.
"Hhh..hh... Pergi, jangan dekati aku" ucap Maura setengah mati berusaha mengeluarkan suaranya.
Tiba-tiba kakinya tersandung oleh sesuatu membuatnya jatuh terduduk dekat sofa, dia lihat teman-temannya sudah bangun tapi mereka hanya diam tak bergerak, mereka hanya menatap lurus ke depan.
Saat dia beralih ke sosok itu, alangkah kagetnya dia melihat sosok itu sudah didepan matanya dengan wajah pucat mengerikan.
"Kau, tidak akan pernah bisa menghancurkan kamiiii... Kauu, anak pengkhianat! Tunggu saja, kedatanganmu tidak semudah ituuuu..." ujar makhluk itu tadi.
Setelah itu dia seperti melayang mundur menuju keluar balkon, dengan tatapan tajam mengerikan kearah Maura.
"May, May! Bangun, kita sudah sampai" terdengar suara Maurice membangunkannya.
"Hemm, sampai mana?" tanya Maura ngelindur.
"Sudah sampai bandara, tukang tidurr!" sahut Kevin.
"Apaan sih, Vin! Jangan rese deh!" ujar Maura sambil melotot kearahnya.
"Eh, beneran! Tanya aja yang lain, tidur kok ngebo banget! Dibangunin susah banget" ucap Kevin dongkol.
Maura menatap yang lain, semuanya mengangguk setuju. Maura merasa tak enak dengan mereka.
"Kamu masih ngantuk banget, May? Ampe tidur aja lama banget, padahal sebelum berangkat kamu tidur pulas banget sampai kesiangan" tanya Maurice heran.
Maura tak menanggapinya, dia males harus menceritakan hal-hal mistis disaat perjalanan ini. Takut ganggu mood booster mereka.
Mereka sudah turun dari pesawat, selama diperjalanan Maura menghabiskan waktunya untuk tidur. Sekarang badannya terasa sangat sakit dan pegal-pegal karena dipakai buat tiduran dipesawat selama berjam-jam.
"Kita sekarang berada di bandara transit sebelum berangkat lagi ke penerbangan selanjutnya" ujar Ardian melanjutkan.
"Berapa lama kita ada disini?" tanya Joanna.
"Mungkin sekitaran tiga jam an, kita bisa sewa motel dulu sebelum jadwal keberangkatan lagi" sahut Julian.
"Ide bagus!" sahut yang lain.
Mereka semuanya nampak kelelahan, dan memilih motel yang letaknya tak jauh dari bandara.
Motel yang mereka pilih bergaya klasik minimalis, sangat sederhana tapi nyaman untuk istirahat. Pelayanan juga bagus dan para pelayannya juga ramah dan baik.
Untuk biaya yang cukup murah bagi mereka, dan mungkin sangat murah itu, mereka sangat puas dengan semua fasilitas yang ada.
Padahal mereka di sana hanya beberapa jam saja, tapi kayak mau nginep lama aja. Mereka menyewa kamar dua saja, satu kamar untuk para wanita dan satu lagi untuk para pria beristirahat.
Karena kelelahan, semuanya terlelap tidur kecuali Maura. Mungkin dia sudah terlalu lama tidur di pesawat makanya tak ingin tidur lagi.
Tiba-tiba dia terganggu oleh suara-suara berisik dari luar, seperti orang yang sedang sibuk memindahkan barang-barang berat. Terdengar suara gesekan gitu dari lantai yang berderit, karena lantainya terbuat dari kayu flanel.
"Lagi mindahin apa sih berisik banget?!" ujarnya.
Setelah itu suara itu hilang, Maura mencoba merebahkan tubuhnya tapi sayangnya tubuhnya tak mau juga istirahat. Kali ini dia mendengar suara anak kecil tertawa-tawa di koridor motel itu, tepatnya didepan pintunya.
Bukan hanya suaranya yang mengganggu, tapi anak itu sepertinya berlarian kesana kemari bolak balik didepan kamarnya, membuatnya geram.
"Gak bisa dibiarkan ini, udah badan sakit-sakitan ditambah kepala pusing gak bisa tidur! Nih bocah ganggu aja" gumamnya kesal.
Maura membuka pintu kamarnya hendak menegur anak-anak itu, tapi dia terkejut melihat situasi diluar kamarnya itu.
Sepi dan sunyi, bahkan koridor panjang itu terkesan gelap, meskipun ada lampu penerangannya.
"Kemana bocah-bocah itu?" gumamnya lagi.
Dia mencoba berpikir positif lagi, dan kembali ingin duduk ke sofa yang ada di kamar itu. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?!" sahut Maura sambil membuka pintu kamarnya.
Hening, tak ada siapa-siapa. Maura kesal merasa dipermainkan, dia berpikir ini pasti kerjaannya anak-anak tadi yang pasti ngumpet entah dimana.
Dia kembali asik dengan Hpnya, suara kamarnya kembali di gedor-gedor dari luar. Kali ini agak kencang, Maura berusaha cuek, tapi itu suara tak bisa berhenti kecuali jika dia buka pintunya.
Maura melihat Maurice dan Joanna tertidur pulas, saking pulasnya gak denger dan tidak terganggu oleh suara-suara berisik dari luar kamar itu.
"Mereka ini budeg atau apa?! Masa gak kedengaran sama suara-suara itu?!" gumamnya kesal.
Mau gak mau dia bukain itu pintu, dan berniat menghardik anak-anak nakal itu. Dan lagi-lagi zonk, dia tak menemukan siapa-siapa diluar sana. Sekilas dia melihat bayangan beberapa anak kecil berlari masuk ke sebuah kamar yang ada dilantai itu.
"Huh, bocah! Awas saja nanti, akan aku aduin ke orang tuanya biar tahu rasa!" ujarnya kesal.
Maura mencoba menelpon kebagian pelayanan dan komplain soal gangguan itu, yang membuatnya heran ketika petugas itu mengatakan tak ada tamu anak kecil saat ini menginap di motelnya.
Baru saja pikirannya masih mencerna dan menyambungkan sedikit-sedikit permasalahan ini terjadi, tiba-tiba dia dikagetkan oleh gedoran pintu yang sangat kuat, sampai pintu itu bergetar seperti mau terbuka saja.
"Astagaaahh, ini apaan sih?! Masa iya setan sih?! Ini kan masih siang" gerutu Maura.
Saat dia membuka pintu itu dengan cepat karena kesal oleh ulah seseorang ini, tiba-tiba saja hawa dingin dan pengap menerpa dirinya. Dan kali ini dia melihat sosok anak kecil, berada diujung lorong itu.
Sosok menyerupai anak perempuan berkepang dua, wajah pucat dan memakai dress putih. Dia tersenyum kearah Maura dan melambaikan tangannya pelan.
Entah seperti terhipnotis, Maura berjalan mendekati anak itu tanpa ragu. Anak itu menuntunnya kearah ruangan diujung lorong itu.
Anak itu menggandeng tangan Maura dan menariknya kedalam ruangan gelap, dingin dan pengap itu. Setelah itu seperti tersadar oleh tingkahnya yang aneh itu, Maura kaget tiba-tiba menyadari dirinya telah berada di ruangan lain.
"Buka, siapa diluar?! Tolong bukain, aku terkunci disini!" teriak Maura, berusaha membuka pintu kamar yang terkunci itu.
"Hihihi!" terdengar suara kecil anak kecil yang melengking menyeramkan.
Sontak Maura menoleh kearah belakang, dia melihat anak kecil tadi duduk disalah satu kursi goyang yang ada disana.
"Kakak, ayoo... Main denganku saja..." ucapnya pelan tapi pasti.
Anak kecil itu menyeringai memperlihatkan sederet gigi-gigi kecilnya yang runcing sambil menatap tajam kearah Maura.
"Toloooongg!" terdengar suara kencang Maura meminta tolong dari dalam itu.
Dan dia terpaksa terjebak di sana bersama setan anak kecil itu.
......................
Bersambung