
Maura tidak menyangka sama sekali kalau dia akan berada ditengah-tengah medan perang ini, bahkan ini bukan perang biasa perebutan kekuasaan semata, ada banyak makhluk hidup diperjuangkan disini.
"Aku harus apa dan bagaimana ini?! Ini diluar ekspektasi ku! Gak nyangka pasukan lawan banyak banget, tiga kali lipat dibandingkan pasukan panglima ini, gak heran jika dia mengerahkan seluruh pasukannya agar semua prajurit ikut berperang termasuk aku!" gumam Maura bingung harus bagaimana.
"Tenang, rileks.. Aku tak boleh terlihat lemah dimata yang lain, lihat mereka semua.. Meskipun kalah jumlah tapi mereka terlihat biasa saja dan tenang, aku tak tau ada rahasia apa dibalik ketenangan itu, mungkin ada strategi lain yang sudah disiapkan oleh panglima ini.." lanjut Maura lagi.
Diseberang sana, pasukan lawan terlihat begitu mengerikan, bukan hanya sekelompok prajurit kejam dan ganas saja, tapi ada beberapa hewan buas juga diikut sertakan dalam perang tersebut.
"Aku bisa merasakan aura negatif yang begitu gelap dan sangat pekat di sana, padahal jaraknya lumayan jauh tapi aku bisa merasakannya dengan jelas sekali.
Apa putri itu berada ditengah-tengah para pasukan itu? Jika benar, ini gawat! Perang dunia dan akhirat bisa terjadi ini! Jika tak salah perkiraanku, ini yang jadi korban bukan hanya manusia tapi makhluk hidup lainnya juga akan kena dampaknya.
Untuk perang ini, biarkan saja jadi urusan mereka, aku harus fokus ke putri itu! Dialah tujuanku sekarang, jika aku menemukannya maka bisa diyakini perang ini bisa dihentikan!" lanjut Maura lagi.
Sementara itu, diarah lawan putri iblis sedang duduk diatas punggung macan tutul dengan gagahnya. Dia hanya diam saja, memperhatikan setiap pasukannya. Dia tersenyum lebar dan sangat mengerikan, dia teringat disaat raja kejam mengirimkan utusannya untuk memberikan sebuah penawaran menarik, dia langsung setuju karena tawarannya begitu menarik baginya.
Sebagian wilayah kerajaan itu akan menjadi miliknya jika dirinya mau membantu menaklukkan kerajaan-kerajaan lainnya, dan tentu saja dia juga harus menikah juga dengan sang raja.
Tapi dia cukup cerdik, tidak setuju begitu saja. Dia meminta berbagai syarat barulah dia mau mengikuti penawaran tersebut. Langkah pertamanya adalah membantu raja zalim itu menaklukkan salah satu kerajaan terbesar di negeri itu, kerajaan yang sangat susah ditaklukkan.
"Jika kau berhasil menaklukkannya bersama pasukanku, maka sebagian wilayah menjadi milikmu!" ucap raja itu.
Putri iblis itu memiliki kemampuan luar biasa termasuk membaca jalan pikiran lawan, maka dia tau niat busuk si raja zalim itu, dia suka orang yang memiliki sifat serakah dan kejam sepertinya.
Setelah selesai dia mengingat perjanjian tersebut, maka dengan isyaratnya dia memberi tanda kepada prajurit kepercayaan sang raja untuk memulai penyerangan terhadap para lawannya.
"Serang!!" teriak panglima berwajah bengis itu.
"Khiaaaa!!"
Suara jerit teriakan para pasukan itu berlari bersama pasukan berkuda lainnya juga, diiringi beberapa auman singa, harimau dan binatang liar dan buas lainnya juga.
Sedangkan para pasukan yang dipimpin oleh panglima Wang Xin Nian sedang menunggu aba-aba dari sang panglima, setelah cukup lama dan pasukan lawan sedikit lagi mencapai mereka, panglima Wang Xin Nian memberikan aba-aba kepada pasukan paling depan.
"Angin, tanah dan api.. Muncullah!" teriak pemimpin pasukan yang paling depan.
Setelah itu bak film-film drama Mandarin, tiba-tiba angin kencang datang entah darimana menghempaskan pasukan lawan, tidak terima mereka dilawan begitu mudahnya, pasukan lawan berteriak dan semakin menjadi menyerang mereka.
"Lawan mereka, khiaaa!!" teriak mereka.
Baru saja mereka mendekati, tiba-tiba saja tanah yang mereka pijak bergerak dengan cepat dan mengguncang mereka, tanah-tanah mulai retak dan bergerak membelah diri menimbulkan beberapa lubang besar, sehingga banyak pasukan-pasukan lawan tersebut terjebak masuk kedalam lubang, setelah itu tanah kembali tertutup kembali dengan rapat seolah tidak pernah terjadi retakan ataupun ada lubang di sana.
Putri iblis yang sedari tadi hanya memperhatikan, mulai gelisah karena banyak pasukan kerajaan yang dia pimpin banyak yang tewas dan menghilang, dia mulai mengerahkan pasukannya sendiri.
"Aaaauuuuuuu!!" dia melolong panjang seolah sedang memberikan sebuah perintah.
Dan benar saja, beberapa pasukannya yang memiliki ilmu hitam termasuk para binatang liar mulai bergerak maju menyerang pasukan panglima Wang Xin Nian.
Panglima pun tak tinggal diam, dia juga mengerahkan beberapa pasukan khusus yang dia miliki untuk melawan mereka semua, Maura tak menyadari bahwa sedari tadi ada beberapa pendekar lain yang ikut berperang bersama mereka, bak para aktor pemain laga Mandarin, mereka begitu gagah dan tampan.
Tak sedikitpun lawan berhasil melukai mereka, dengan ketangkasannya malah mereka berhasil membalas setiap serangan lawannya.
"Aku gak bisa berdiam diri saja seperti ini, meskipun aku ingin sekali menonton mereka bertarung tapi aku punya misi tak kalah pentingnya. Baiklah, ayo kita jemput putri nakal itu!" teriaknya sambil berlari kearah peperangan yang sedang berlangsung.
Keadaan semakin keos, begitu banyak prajurit yang terluka, baik itu dari lawan ataupun dari pasukan panglima Wang Xin Nian. Yang masih bertahan adalah para prajurit yang memiliki ilmu kebatinan saja, para pendekar melawan pasukan putri iblis.
"Mau kemana prajurit itu?! Apa yang dia lakukan ditengah-tengah peperangan?! Mau mati apa dia, itu sangat berbahaya!" ujar panglima Wang Xin Nian saat melihat Maura berlari menuju pasukan putri iblis.
Dia tidak ingin menambah jumlah prajurit yang terluka apalagi sampai ada yang tewas, dia sangat bertanggung jawab atas keselamatan pasukannya.
Dengan sigap panglima diikuti beberapa pasukan lainnya ikut berlari dan berperang melawan musuh, dan tentu saja kekuatan sang panglima tak diragukan kembali. Dia tidak hanya memiliki ilmu bela diri yang tinggi tapi dia juga memiliki ilmu kebatinan yang sangat besar.
Tring! Tring!
Suara pedang saling beradu dan juga suara angin menderu memekakkan telinga, tidak dipedulikan oleh Maura, dia melawan siapapun yang menghalanginya.
Sedangkan sang panglima sampai harus turun dari kudanya untuk mengejar Maura, entah mengapa dia merasa ada sesuatu keterikatan antaranya dengan gadis itu.
"Kalian semua terus lawan musuh dan desak mereka sampai keluar dari wilayah ini, jangan sampai mereka menguasai wilayah ini dan akan menghancurkan semuanya!" teriaknya memberikan dorongan semangat kepada para prajuritnya.
"Siap! Kami tidak akan pergi sebelum lawan mati, atau kami akan memilih mati daripada jadi pengecut!" balas para prajurit nan gagah tersebut.
Panglima begitu bangga kepada mereka, tapi fokusnya mulai teralihkan kembali ke Maura, tapi gadis itu hilang dari arah pandangannya. Dia mulai gelisah, takut prajurit wanita satu-satunya itu malah diculik dan dijadikan tawanan, karena dia tau lawannya sekarang merupakan raja zalim yang mesum dan cabul.
Sedangkan Maura sekarang berdiri tak jauh dari sang putri, putri itu menatap Maura tak mengerti, dia kebingungan karena satu-satunya manusia yang tak bisa dia baca pikirannya hanya Maura seorang.
"Siapa kau, wahai pendekar muda?! Aku tak pernah berjumpa sebelumnya dengan manusia sepertimu sebelumnya!" tanya putri iblis itu penasaran.
"Tentu saja, aku lahir jauh beratus-ratus tahun setelah kemunculan dan kematianmu!" gumam Maura dalam hati, dan tentu saja putri itu tak bisa membaca jalan pikirannya ataupun apa yang dia ucapkan dalam hati, hal yang berbeda dengan manusia lainnya.
"Coba tebak, kenapa itu bisa terjadi? Bukankah itu hal yang aneh, seorang putri lahir dari seorang siluman dan manusia, jadi utusan raja iblis neraka yang tak terkalahkan tapi tak bisa membaca pikiran manusia lemah seperti diriku ini, bukankah itu hal yang tak biasa?!" tanya Maura mulai memprovokasi dirinya.
"Meskipun aku tak bisa membaca pikiranmu, tapi dengan mendengar ucapanmu ini aku tau kau sedang berusaha memprovokasiku, Nona.. Itu tidak akan pernah terjadi" ucap putri itu sambil menyeringai.
"Sialan, sebaiknya aku harus berhati-hati dengannya. Aku juga harus menjaga ucapan dan tingkahku, dia harus menebak-nebak langkahku selanjutnya tanpa harus memberinya petunjuk seperti tadi!" gumam Maura dalam hati.
Dia tau saat ini dia sedang menghadapi putri satu-satunya Fe Wei Xian dan Liu Wei Yan, juga utusan raja iblis di neraka, putri iblis ini pasti sangat kuat, dia harus memutar otaknya agar bisa menangkap sang putri tanpa harus melukainya, jika tidak raja iblis di neraka akan murka, dia tak ingin terjadi kiamat sebelum waktunya.
"Putri, kau harus kembali ke orang tuamu.. Mereka sedang menunggumu, mereka sangat merindukanmu.. Temui mereka sebentar saja, dan setelah itu lakukan apa yang ingin kau lakukan.." ucap Maura sambil berlahan mendekati sang putri.
Mendengar orang tuanya disebut, sang putri terlihat sangat gamang. Meskipun dia memiliki jiwa iblis, dia juga memiliki sisi kemanusiaan dari ayahnya dan ibunya yang berhati lembut.
"Kenapa kau membahas mereka, apa kau mengenalnya? Ah, apakah kau adalah orang yang dimaksud oleh utusan raja iblis di neraka? Jika akan ada manusia yang datang setelah membuat orang tuaku kembali, itukah anda Nona??" tanyanya terlihat berbinar.
Maura terkesiap, betul apa yang dikatakan oleh Fe Wei Xian jika raja iblis pasti telah mengetahui tentang mereka, tapi dia tak pernah menyadari jika raja iblis juga tahu tentang dirinya.
"Apa kau senang dengan hal itu?" tanya Maura yang semakin dekat dengannya.
"Tentu saja, aku penasaran seperti apa rupa manusia yang bisa menyatukan kembali orang tuaku, dan tentu saja aku tak suka! Graaaaaa!" teriaknya sambil menatap amarah dengan Maura.
Sekali lagi Maura tak siap, dia tidak menyangka jika sang putri akan semarah itu dia pikir putri itu akan senang orang tuanya kembali bersama, tapi dia lupa kalau putri itu jiwanya sudah menjadi bagian dari iblis neraka, tentu saja dia benci dengan kata harmonis dan damai.
"Akh!" teriak Maura.
Tak disangka macan tutul yang ditunggangi putri iblis itu langsung menyerangnya begitu saja, untuk Maura dengan gesitnya melangkah mundur sebelum macan itu melahap dirinya.
"Rupanya kau tak bisa diajak bicara baik-baik, putri! Jangan salahkan aku jika aku sedikit melakukan kekerasan terhadapmu agar kau mau pulang dan kembali kepada orang tuamu!" teriak Maura.
Entah itu naluri ataupun secara refleks saja, Maura langsung menarik konde yang terikat di rambutnya, disaat bersamaan konde itu ditarik disaat itu juga konde itu berubah menjadi pedang besar dan bercahaya.
Semua orang ataupun makhluk yang ada di sana nampak kesilauan akibat cahaya dari pedang yang terus menimbulkan cahaya yang berpendar.
"Ka-kau siapa?! Tidak ada siapapun manusia yang memiliki kekuatan besar seperti dirimu ini, bahkan para pendekar itu tak sekuat dirimu!" ujar panglima dari kerajaan zalim itu.
Maura tak menjawabnya, setiap kali prajurit ataupun para binatang liar lainnya menyerang dirinya, tak sejengkal pun mereka berhasil menyentuh Maura, semuanya terjungkal jauh dari sana dengan memuntahkan darah dan lari ketakutan, seolah mereka sedang melihat dewi kematian, lebih tepatnya Dewi perang sesungguhnya.
"Kau, siapa sebenarnya wahai prajurit??" gumam panglima Wang Xin Nian menatap takjub kearah Maura.
"Kau, kau adalah manusia dalam ramalan itu! Iya benar, kau adalah dewi itu!!" teriak putri iblis menatap Maura dengan tatapan sulit diartikan.
"Iya, aku Dewi yang diutus untuk menjemputmu sebelum kau membuat kekacauan dimasa depan, aku.. Maura, sang utusan Dewi Peperangan.. Dewi Srikandi!" ucap Maura, dengan ekspresi datar. Cahaya terus berpendar mengelilinginya, wajahnya yang bersinar menampakkan wibawanya yang sesungguhnya, mengalahkan wibawa sang putri iblis.
......................
Bersambung