
"Apa yang kalian lakukan, berdirilah!" pinta Maura kepada semua orang.
"Maafkan kami yang tak bisa menilai dirimu dengan baik, Nona eh! Dewi..." ujar panglima Wang Xin Nian, masih terlihat bingung menyebutkan panggilan untuk Maura.
"Panggil saja namaku, Maura.." sahut Maura tersenyum melihat panglima itu masih terlihat bingung sendiri.
"Tidak, dia adalah Dewi yang diutus untuk menyelamatkan negeri ini sampai ke masa depan!" sahut Aurora terlihat tidak setuju dengan ucapan Maura tadi.
"Huss, diamlah Aurora! Aku tak suka diagungkan," bisik Maura.
"Baiklah, Dewi memang sebutan yang pantas untukmu. Karena kau telah menyelamatkan negeriku ini, juga mengakhiri peperangan dengan para iblis itu. Kami benar-benar merasa terbantu sekali, terima kasih, Dewi.." ucap panglima Wang Xin Nian.
"Terima kasih, Dewi!" ujar para prajurit dan kesatria ikut serempak mengucapkan tanda terima kasihnya kepada Maura.
"Tidak usah, aku melakukan ini demi kita semua dimasa depan!" jawab Maura spontan.
"Ma-masa depan?!" tanya panglima Wang Xin Nian tampaknya lebih bingung dengan ucapan Maura barusan.
"Ah, maksudku untuk masa depan kita nantinya. Jika para iblis terus berkuasa, maka umat manusia dan makhluk hidup lainnya akan terancam nantinya!" ralat Maura buru-buru agar semuanya tak curiga.
"Aaa, iya ya.." sahut yang lainnya juga.
"Sebagai ucapan terima kasih dari kami, izinkan kami mengundang Dewi dan para sekutu untuk datang ke Istana, ini adalah undangan dari panglima, hem! Pangeran maksudku. Sekiranya undangan ini diterima.." ucap salah satu prajurit yang mewakili sang panglima sekaligus pangeran itu.
"Soal itu akan aku pikirkan, aku ingin beristirahat saja. Akh! Capek.." ucap Maura tanpa canggung menyender dibahu Aurora.
"Ah, silakan ikut kami. Kami akan menyiapkan tempat istirahat untuk anda, dari tempat ini ada tempat persembunyian kami yang nyaman.." ucap salah satu kesatria yang disana.
"Tidak usah, aku akan pergi bersama teman-temanku ini. Sepertinya ada hal yang harus kami selesaikan sekarang juga.." ucap Maura sambil melirik Liu Wei Yan beserta istri dan anaknya, mereka terlihat tidak nyaman.
"Baiklah, kami mengerti. Sebagai tanda terima kasih lainnya, izinkan kami mengantar kepergian kalian, Dewi boleh memakai kuda ataupun kendaraan lain untuk mengantarkan kalian sampai ketujuan.." ucap kesatria yang lain juga.
"Tidak usah, aku sudah memiliki teman yang bisa mengantarkan aku kemana saja. Dan kurasa, teman-temanku yang lain juga tak perlu kuda-kudamu itu.." ujar Maura sambil tersenyum ramah.
Beberapa ksatria lainnya nampak begitu kesal dengan pernyataan temannya tadi, karena dia lupa jika Maura memiliki Aurora yang notabene adalah kuda Unicorn dan Liu Wei Yan dan keluarganya adalah siluman.
"Ah, maafkan saya!" ucap kesatria tadi, setelah puas dipukuli oleh teman-temannya.
Maura hanya tersenyum geli melihat tingkah konyol mereka semua, dia berpamitan kepada mereka dan langsung pergi dari sana. Disaat mereka mulai terbang melayang tinggi, tiba-tiba saja panglima Wang Xin Nian melemparkan sesuatu kearahnya.
"Jika kau berubah pikiran, datanglah ke istana dan temui kami. Bawa itu sebagai undangan untuk kalian!" teriak panglima Wang Xin Nian.
Maura menangkap dua benda pusaka pipih ditangannya, benda itu berbentuk bulat lonjong berbentuk ukiran-ukiran ornamen khas negeri bambu, tertulis tulisan China kuno dengan tali merah sebagai pengikatnya. Menurut sejarah zaman dulu, papan nama itu merupakan identitas bagi seseorang yang bergelar bangsawan di masanya.
"Dadah!" teriak Maura sambil melambaikan tangannya kepada mereka semua yang dibawah.
Maura dan Aurora mengikuti Liu Wei Yan dan keluarganya menuju tempat persembunyian mereka didalam hutan larangan, dimana tempat itu begitu tertutup dari jangkauan makhluk lain, apalagi manusia tidak akan pernah bisa menemukannya.
Sesampainya di sana, Liu Wei Yan dan Fa Wei Xian langsung membawa putri kecil mereka masuk kedalam kamarnya. Kamar yang indah dikhususkan untuk dirinya itu, Fa Wei Xian membuat beberapa ramuan khusus untuk putrinya juga untuk Maura, agar bisa memulihkan energi mereka yang sempat terkuras.
"Kau memang istimewa, Maura! Biasanya, siapapun yang meminum ramuanku akan merasa mengantuk, itu adalah efek sampingnya. Karena semua otot-otot ditubuh akan mulai bekerja mengembalikan semua fungsinya, dan energi akan kembali lagi seperti semula.." ujar Fe Wei Xian kagum melihat Maura, mampu menahan efek sampingnya.
Dia melihat suami dan putrinya sudah tertidur ditempat tidur mereka masing-masing, sedangkan Aurora nampak sedang beristirahat disebuah taman istana kecil itu, Fa Wei Xian menyiapkan jamuan untuk Maura, gadis itu nampak sedang menikmati pemandangan diatas awan tersebut.
"Sebelum kau pergi, nikmati dulu jamuanku ini. Tenang saja, ini adalah makanan manusia. Aku belajar banyak tentang manusia selama ini, mulai dari bentuk wujud mereka, pakaian, sifat dan gaya bicaranya, dan terakhir adalah makanan-makanan mereka, dan ternyata jauh lebih lezat dibandingkan makanan yang biasa aku makan, haha!" ucap Fa Wei Xian sambil tersenyum cerah.
Maura ikut senang melihat suasana hati Fa Wei Xian saat ini, dia bisa merasakan kebahagiaan hatinya dimana suami dan anak-anaknya kini kembali ke pangkuannya kembali.
"Fa Wei Xian, waktuku tak banyak sekarang ini. Setelah ini aku akan kembali ke masaku, ke dunia masa depan. Aku harap kau dan keluargamu selalu bahagia dan bisa hidup berdampingan dengan umat manusia lainnya.." ucap Maura.
"Semoga, tapi sepertinya aku dan keluargaku akan mengasingkan diri dari dunia manusia. Sebenarnya ada baiknya peraturan yang dibuat langit dipatuhi, Dewa dan Dewi membuat peraturan jika manusia, dan makhluk dunia ini tidak boleh bersinggungan dengan makhluk dari alam lain, karena akan merusak tatanan kehidupan dua dunia yang berbeda.
Biarkan kami hidup berdampingan tanpa saling mengganggu, agar hidup sama-sama tenang dan damai. Kami tidak akan ikut campur lagi urusan manusia, jika manusia itu sendiri datang ke kami, maka kami akan menolaknya.
"Kau benar soal itu, karena jika itu terjadi maka akan berdampak besar dimasa depan, dan mungkin sejarah manusia juga akan berubah. Tapi sepertinya perjuanganmu tidak berhenti sampai disini saja, aku yakin ada hal baik lainnya akan menantimu juga.." ucap Maura lagi.
"Hehe, aku faham maksudmu, Maura! Baiklah, jika maksudmu adalah tentang undangan pangeran itu, mungkin aku dan suamiku akan datang. Jika dia meminta kami untuk membantunya menghentikan peperangan yang akan terjadi nantinya, mungkin kami akan membantunya sedikit.
Bisa dibilang, ini adalah jalan kami untuk menembus dosa di masa lalu. Tapi jika pangeran dan orang-orang disekelilingnya sudah lupa diri, maka kami akan meninggalkan mereka begitu saja. Kau tau, Maura.. Manusia itu merupakan makhluk yang susah ditebak isi hatinya.
Jika dia tersenyum belum tentu dia suka, jika ia menangis belum tentu dia bersedih. Mereka makhluk yang sangat sulit kami kenali, sesaat mereka baik, beberapa saat kemudian bisa jadi mereka berubah juga sifatnya.." ujar Fa Wei Xian lagi.
"Baiklah, aku mengerti maksudmu. Tak ada yang bisa memaksamu untuk mengambil keputusan, tapi aku harap pandanganmu terhadap manusia tidak membuatmu menjadi membenci mereka, karena dari sekian banyak sifat manusia itu, ada manusia yang benar-benar memiliki hati yang bersih dan memiliki niatan yang tulus untuk membantu sesama manusia ataupun makhluk lainnya.." ucap Maura juga.
"Iya, aku tau.. Dan itu adalah kamu," sahut Fa Wei Xian sambil menatap kagum kearahnya.
"Haha, aku tak sebaik yang kau pikirkan! Baiklah, kondisiku sudah membaik dan terima kasih atas jamuannya. Aku akan pergi sekarang juga, aku titip salam saja kepada Liu Wei Yan dan putrimu itu.." ucap Maura sambil bergegas dan merapikan pakaiannya.
"Liu Wei Yi, itu namanya... Putriku, aku harap aku dan suamiku akan bisa mendidiknya dengan benar kali ini, dan menjauhkannya dari manusia dan juga beberapa makhluk lainnya untuk sementara waktu sampai dia bisa mengendalikan kekuatannya.." ucap Fa Wei Xian mengenalkan nama putrinya itu.
"Nama yang sangat cantik, semoga sifatnya juga baik dan tulus seperti orang tuanya, o ya aku sampai lupa! Ini adalah undangan dan juga tanda pengenal milik pangeran itu, jika kalian ingin datang, bawalah benda ini!" ujar Maura sambil meletakkan benda pipih itu.
"Baiklah, akan kuingat tentang hal ini.. Dan apa sebaiknya kau tunggu dulu Liu Wei Yan bangun? Mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan kepadamu, atau mau aku bangunkan?" pinta Fa Wei Xian, dia sangat berat melepas kepergian Maura.
"Tidak udah, kasihan dia butuh waktu untuk memulihkan kembali tenaganya. Biarkan dia istirahat, sampaikan saja kepadanya jika aku telah kembali, dan aku ikhlas dan tulus membantu kalian semuanya, dan aku tak mengharapkan apapun untuk semua ini.." jawab Maura dengan senyuman manisnya.
Fa Wei Xian langsung memeluk gadis itu, anak manusia yang baru dia temui itu begitu banyak berjasa dalam hidupnya, kedatangan Maura mampu merubah hidupnya dan juga hidup keluarganya. Gadis yang terlihat biasa saja, tapi memiliki ketulusan dan kekuatan yang luar biasa hebatnya.
Tentu saja, Maura akan terukir terus dalam ingatannya bersama suami dan anaknya. Anak manusia pertama yang dia hormati dan dia ingat sepanjang masanya.
Maura menemui Aurora sedang duduk santai dengan anggunnya dibawah pohon persik, dia nampak sedang menikmati bunga-bunga yang bertebaran di sekelilingnya, terlihat dia juga begitu menikmati buah persik yang dipetiknya atas izin Fa Wei Xian tentunya.
"Hayo lagi ngapain?! Kau mencuri yah?!" goda Maura mengagetkan Aurora.
"Astaga, Dewi! Aku tak serendah itu, ini buah pemberian dewi siluman itu. Biarkan aku istirahat sejenak.." pinta Aurora, meskipun dia terlihat kesal diganggu, tapi pembawaannya tetap tenang seperti biasanya.
"Baiklah, istirahatlah.." ucap Maura, setelah itu dia ikut duduk di samping Aurora.
"Aurora, tolong jelaskan kepadaku.. Kenapa aku bisa sampai disini dan bisa menjalankan misi tanpa ada persiapan apapun, untung aku pintar sehingga aku bisa mengerti langsung atas kedatanganku ke dunia masa lalu ini!" ucap Maura pede, sengaja untuk menggoda Aurora.
"Kamu sengaja dikirimkan ke masa lalu, tak ada waktu untuk menjelaskan semuanya. Karena waktu tak memungkinkan, kamu harus tau, Dewi.. Jika kami tak mengirimkanmu segera, maka malam disaat kalian diserang oleh makhluk gaun merah itu, akan ada musibah yang tak bisa dielakkan.." ucap Aurora tetap santun dengan kepedean Maura.
"Musibah, musibah apa?" tanya Maura penasaran.
"Sahabatmu beserta bayinya akan dia ambil, Dewi.. Kami tau kalau kau akan murka, dan kemurkaanmu itu akan menggunakan dua dunia, kami tak ingin ini terjadi. Jadi, kami kirimkan kau ke dunia tempat asal mula sumber musibah itu terjadi.." ucap Aurora.
"Apakah hantu gaun merah itu adalah Liu Wei Yi, putrinya Liu Wei Yan bersama Fa Wei Xian?" tebak Maura penasaran.
"Bukan, justru itu adalah Fa Wei Xian sendiri!" jawab Aurora nampak serius sekali.
"Apa?!" Maura sangat terkejut sekali, sangat jauh dari perkiraannya selama ini.
"Iya, kau tau jika semua ini terjadi diluar keinginan kita, maka bencana besar akan terjadi. Jika seorang istri kehilangan suaminya, maka rasa sedih itu akan menghilang seiring waktu. Tapi..
Jika seorang ibu kehilangan putrinya, maka seumur hidup dia akan kehilangan hidupnya. Dia menjadi murka, menyerang suaminya membabi-buta karena menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi, dia menghukum setiap manusia yang dia temui, dan..
Pada akhirnya dia juga bekerja sama dengan manusia, untuk menghukum para pendosa lainnya tanpa sadar dirinya terjerumus ke hal yang sama apa yang dilakukan oleh suaminya, dia memaksakan putri kecilnya masuk kedalam perutnya, berharap dia tak dilahirkan, dan memilih putrinya lahir dalam keadaan yang berbeda.
Jika kau perhatikan lagi, hantu gaun merah itu memiliki janin yang menjuntai kebawah menyentuh kakinya, itu adalah putrinya, Dewi.. Untunglah itu semua tidak pernah terjadi lagi, dan otomatis sejarah sedikit berubah setelah kedatanganmu ke masa lalu ini.." ucap Aurora menjelaskan semua.
"Waaaah,, benar-benar diluar prediksi! Jadi, hantu merah itu Fa Wei Xian!" ujar Maura masih kaget baru mengetahui fakta yang sebenarnya.
......................
Bersambung