RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (Pertarungan Di Negeri Sriwijaya/ PNS) Lamaran Angga


"Halo, semuanya! Kita datang!" sapa Kevin ramah.


"Ehem!" pak Irwan berdehem kencang, membuat Kevin kaget.


"Ma-maaf, Om!" ucapnya nyengir langsung lari kabur bergabung dengan yang lain.


"Maura dan Adian kenapa? Kayak mau disidang gitu sama om Irwan?" tanya Kevin sambil nyomot kentang goreng.


"Tanya aja sama pacarmu" sahut Joanna.


Kevin menyenggol Maurice, sambil memberikan tanda isyarat buat nanya kenapa, eh si Maurice malah nyenggol Julian. Julian dan Kevin bingung saling pandang.


"Tuh pacarmu!" goda Joanna, diiringi kekehan Maurice.


"Dasar, cemburuan sama modelan begini. Gak level" Julian bergaya menirukan artis-artis gemulai yang di TV-TV.


Semuanya menertawakannya, di sana mereka bersenang-senang sambil mengobrol dan banyak mengemil yang diberikan oleh bi Marni plus makanan yang dibawakan oleh bu Ella.


Sementara di dapur, bi Marni bersama bu Ella dan bu Sarah mengobrol biasa di meja makan.


"Saya datang kesini mau bersilaturahmi seperti biasa, Karena sudah lama saya tak main kesini. Kebetulan anak-anak mau kesini, ya udah ikut aja sekalian, haha!" ucap bu Ella ramah.


Dia tak pernah merasa malu, gengsi ataupun canggung mengobrol ataupun dekat dengan para pembantu rumah itu, karena dia orangnya memang baik, supel dan sangat humble sekali.


"Iya, Bu. Saya juga kangen sama Ibu, sudah lama sekali tak mengobrol seperti ini" ucap bi Marni.


Bu Sarah sangat takjub melihat kedekatan mereka, selama dia bekerja dengan mantan majikannya dia tak pernah merasakan kedekatan seperti itu.


Dia benar-benar merasa beruntung bertemu dengan mereka, dia merasa dihargai dan banyak yang peduli dengannya.


Sedangkan Angga dan Dhania sedang mengobrol di balkon apartemen itu, mereka sedang membahas masa depan mereka.


"Jadi, kapan kamu akan mengatakannya kepada papamu? Tentang lamaranmu tempo hari" tanya Dhania.


"Aku usaha hari ini akan bicara ke papa soal aku udah melamarmu, tapi aku lihat sikonnya kurang bagus. Kak Tari dan papa baru saja bahas tentang perceraiannya" ucap Angga lesu.


"Apa?! Jadi kak Tari sudah memutuskan soal itu?!" tanya Dhania kaget.


"Syut, pelan-pelan! Gak enak jika dia denger" ujar Angga berbisik.


"Oh, iya. Maaf" ujar Dhania.


"Iya, dia sudah memantapkan pilihannya. Untuk sementara waktu dia akan tinggal disini dulu bersama kami. Untuk mengisi kekosongan harinya, dia akan membantu papa di kantornya.


Aku pikir itu bagus untuk keduanya, untuk papa dan kak Tari. Jadi ada waktu untuk mereka kembali akrab lagi, papa bisa selalu mendampingi kak Tari dan memberikan dukungannya.


Di sisi lain, kak Tari bisa melihat kesungguhan papa dalam menyayanginya seperti papa menyayangi kami semua" ucap Angga pelan.


Dhania mengerti perasaan Angga sekarang, sangat sulit baginya untuk mempersatukan papa dan kakaknya itu, dan sekarang dia melihat mereka kembali dekat dan tentu saja itu membuat Angga terharu.


"Sudah, untuk sekarang kita gak usah bahas soal lamaran dulu. Kita fokus ke kak Tari dulu, yah? Yang penting kak Tari harus merasa nyaman dulu disini, dan harus tahu bahwa semua orang yang ada disini begitu sayang padanya" ujar Dhania bijak.


"Makasih ya sayang, kamu bisa ngertiin aku. Dan aku serius soal lamaran aku tempo hari" ujar Angga nampak serius itu.


"Iya, aku percaya kok" jawab Dhania sambil tersenyum manis.


Mereka berdua tak sadar ada yang mendengar pembicaraan mereka, Tari tersenyum haru melihat ketulusan adik-adiknya itu.


Sementara itu, pak Irwan menatap wajah Maura dan Ardian secara bergantian. Wajahnya begitu kaku dan datar, Maura terus menundukkan wajahnya sedangkan Ardian nampak tenang.


"Kalian tahu apa yang akan Papa sampaikan nanti?" tanya pak Irwan.


Maura dan Ardian menggelengkan kepalanya, malah keduanya nampak bingung kenapa mereka ditemukan seperti ini.


"Papa sudah dengar semua tentang kalian, dari awal kalian bertemu hingga misteri yang kalian hadapi saat ini. Papa tahu semuanya, jika Papa tak ada bukan berarti Papa gak tahu apa-apa" kata pak Irwan lagi.


"Maura, Ardian. Papa langsung saja, minggu depan kalian akan kembali ke Indonesia. Kalian akan ditemani oleh bi Marni. Papa dan kak Tari masih ada pekerjaan disini, jadi tak bisa pulang.


"Tapi, Om. Saya kan-" Ardian ingin mengutarakan pendapatnya tapi langsung dipotong oleh pak Irwan.


"Saya tahu kamu, kamu keponakan bi Marni kan? Soal kuliahmu Om yang tanggung jawab, soal pekerjaanmu kau bisa serahkan kepada kedua sahabatmu itu, Om juga tahu kalau mereka juga pegawaimu" sambung pak Irwan.


"Maaf, Om. Maafkan saya jika lancang, tapi saya tak bisa pergi begitu saja dari sini. Benar kalau bi Marni adalah bibi saya, tapi sejak kecil saya sudah hidup mandiri.


Soal kuliah dan hidup saya bisa tanggung sendiri, kalau Om tahu tentang perusahaanku, berati Om juga tahu pendapatannya berapa.


Sedangkan mereka berdua bukan sekedar pegawai atau teman biasa, Om. Mereka saudara ku juga, meskipun tak sedarah.


Kemanapun aku pergi, mereka pun harus ikut. Dan kalau boleh tahu, apakah karena suatu hubungan aku dengan Maura jadi Om pinta kami untuk tinggal bersama di Indonesia?" tanya Ardian heran.


"Hei, jaga bicaramu!" bentak Maura tak terima dengan ucapan Ardian yang menurutnya sedikit arogan.


"Dan apa yang dia ucapkan ada benarnya juga, Pa. Maksudnya apa meminta kami pergi ke Indonesia? Aku yakin pasti ada hal lain kan?" tanya Maura lagi sambil menatap papanya lekat.


"Aku tahu kalian berdua sangat pintar, tak kusangka akan secepat ini kalian sadar. Hehe!" sahut pak Irwan diluar ekspektasi mereka.


"Bukan mereka yang terlalu pintar, tapi kamu terlalu bod*h gak bis jawab pertanyaan mereka" sahut bu Ella diiringi oleh bi Marni.


Mereka berdua membawakan teh dan cemilan untuk mereka, dan duduk di samping Maura dan Ardian.


"Gini, biar aku aja yang jelasin. Kamu diam aja, Wan" ucap bu Ella santai.


"Biar Mama Ella yang jelasin ke kalian berdua biar faham, jadi maksud Papamu kalian berdua diminta untuk kuliah ke Indonesia bukan karena masalah apapun.


Tapi ada misi yang harus kalian kerjakan di sana, misi apa? Gak tahu! Nanti Papamu yang ceritakan.


Dan kamu Ardian boleh kok ajak kedua saudaramu itu, kalau soal pekerjaan dan usahamu kau bisa serahkan tanggung jawabnya sementara kepada orang yang menurutmu bisa dipercaya saja.


Maura juga, Mama tahu kamu gak akan mau dipisahkan oleh Maurice dan Kevin. Maka oleh itu mereka berdua tentunya akan ikut menemanimu di sana" ujar bu Ella menjelaskan semuanya.


"Terus yang lain?" tanya Maura lagi.


"Yang lain apa? Seperti yang Papamu katakan tadi, kalian semua akan ditemani oleh bi Marni. Sedangkan Papamu dan Tari akan melanjutkan usaha mereka disini, jika ada waktu banyak mereka akan menyempatkan mengunjungi kalian.


Sedangkan Om Wisnu dan Mama pengen pacaran yang lama, haha! Lagian kalau kalau ada waktu, nanti kita juga akan berkunjung menemui kalian" ucap bu Ella menjelaskan semuanya.


"Kalau kak Angga sibuk dengan proyeknya yang gak pernah selesai itu, bagaimana dengan kak Dhania? Gak mungkin juga kan mereka memiliki problem yang sama" ujar Maura.


Yang tersindir akhirnya ikut merapat juga bersama Tari juga.


"Iya, maaf karena diriku tak pernah rampung menjalankan proyek itu" balas Angga lesu sambil menghampiri mereka ditemani Dhania yang berusaha menenangkannya sambil menahan tawa.


"Baguslah kalau begitu, kesini kalian berdua!" ujar bu Ella memanggil keduanya.


"Angga, katakan pada Papamu apa yang kau utarakan kepada kami semua kemarin itu" ucap bu Ella serius.


Angga dan Dhania merasa serba salah dan canggung, mereka merasa tak etis saja membicarakan soal itu ketika kakaknya sedang menjalani proses perceraian.


"Gak apa, ayo ceritakan saja. Sudah, jangan terlalu memikirkan Kakak karena Kakak tahu apa yang harus dilakukan.


Kakak juga ingin kalian semua bahagia, jangan jadikan kakak sebagai alasan. Ayo! Gentleman jadi orang" sahut Tari sambil tersenyum tulus kepada Angga.


Angga terharu mendengar perkataan kakaknya itu, akhirnya dia bisa mengutarakan keinginannya untuk melamar Dhania didepan semua orang dengan tenang dan bahagia.


"Baiklah, gak usah lama-lama kalian bisa tunangan dulu sebelum adik-adik kalian pergi. Dan menikah setelah proyek Angga selesai" ujar pak Irwan dan diiringi anggukan bu Ella dan bi Marni.


Mendengar itu membuat Angga semakin semangat saja untuk cepat-cepat menyelesaikan proyeknya itu.


......................


Bersambung