RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Lubang Kerak Neraka


Setelah yakin Nala dan Nayla telah masuk kedalam lubang hitam itu, yang diyakini sebagai pintu keluar masuk dua dimensi yang berbeda, Maura melanjutkan misi selanjutnya.


Dia kembali masuk kedalam hutan itu, sesuai dengan arahan jin ular sebelumnya, Maura masuk ketengah hutan itu dengan perasaan campur aduk.


"Kau yakin, Maura untuk masuk ke dalam hutan ini? Dari sini saja aku sudah merasakan aura pekat dan gelap yang sangat menyesakkan dada" ujar Dewi Srikandi yang masih menyatu dengan Maura.


"Untuk apa ditakutkan, mereka hanya sekumpulan makhluk lemah yang bersekutu dengan jin dan iblis! Mereka lah yang harus takut padaku.


Lagian aku datang bersamamu, dan aku yakin kamu akan melindungi aku kan?" tanya Maura dengan percaya diri.


"Aku akan melindungi dan menjagamu dengan sepenuh hati, Maura... Tapi aku juga makhluk Tuhan yang tak memiliki kekuasaan dan kekuatan mutlak.


Aku juga punya kelemahan dan kekurangan, aku bisa saja kalah dan musnah ditangan mereka. Jadi, sebelum ilmuku yang menyatu dengan jiwaku ini menyatu dengan ragamu, maka sebaiknya kau harus berhati-hati" ujar Dewi sedikit khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti.


"Tenanglah, percaya saja padaku.." jawab Maura lagi.


Mereka memasuki area hutan tempat gua itu berada, tiba-tiba saja suhu udara semakin menurun. Hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya hampir membuatnya tak bisa berjalan.


"Maura, apakah kau yakin?" tanya Dewi khawatir dengan keadaannya.


"Sedikit lagi, sedikit lagi kita sampai" ujar Maura sambil menahan hawa dingin itu.


Dengan sedikit kekuatannya dia akhirnya bisa melewati angin kencang yang diiringi udara yang sangat dingin itu, kini ia tiba didepan pintu gua itu.


Gua nampak depan tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga, ada pintu masuk kedalam gua itu. Ada hawa dingin yang keluar dari gua itu menerpa wajahnya, diiringi bau busuk yang menyengat.


"Huufft, bismillah! Dengan nama Allah, aku memohon perlindungan dariMu.." ucap Maura.


Dengan hati-hati dia memasuki pintu gua itu yang begitu banyak jaring laba-laba, dia menyusuri gua itu dengan perasaan takut dan khawatir, tapi dia harus memberanikan diri.


Jalan dan dinding gua itu begitu licin, dingin dan lembab. Bau busuk terus tercium olehnya, dia harus menahan nafas beberapa kali untuk tidak tercium bau itu dalam waktu yang lama.


"Gua ini begitu panjang, aku tidak tahu sampai mana ujungnya. Apakah keputusanku sudah benar untuk masuk kedalam gua ini?" gumamnya.


"Bertahanlah, Maura! Kau sudah sejauh ini, bertanggung jawablah dengan segala keputusanmu itu" sahut Dewi Srikandi.


Dan akhirnya mereka sudah sampai diujung gua itu, didepan mereka itu ada lubang besar dan sangat dalam berbentuk lingkaran, yang setiap dindingnya diterangi cahaya api obor yang menempel di dinding.


Didepan Maura ada jembatan tali yang menggantung ditengah-tengah lubang yang sangat dalam itu, dia tahu untuk memasuki tempat itu dia harus menyeberangi jembatan itu.


"Berhati-hatilah, Maura.. Jembatan ini sangat tipis setipis benang rapuh, kau harus kuat dan yakin pada tujuanmu datang kemari.


Dan satu pesanku, jangan sekali-kali kau melihat kearah bawah lubang itu jika tidak ingin celaka" ujar Dewi memperingatinya.


"Memangnya ada apa dengan lubang itu? Apakah ada sesuatu yang membahayakan?" tanya Maura penasaran.


"Semua yang ada disini membahayakan, Maura! Aku hanya memintamu berhati-hati dan tetap fokus dengan tujuan utamamu" jawab Dewi Srikandi tegas.


Dengan sekali tarikan nafas, dia melangkahkan kakinya ke jembatan itu. Dengan sedikit sentuhan kakinya, jembatan itu langsung bergoyang saking rapuhnya.


"Bismillah, aku yakin segala sesuatu dengan tujuan baik itu Allah akan melindunginya" gumamnya memantapkan hatinya.


Dia berjalan ketengah jembatan itu dengan hati-hati, pandangannya fokus kedepan. Dia tak memperdulikan suara-suara yang terus memanggil namanya dibawah lubang itu.


"Hiraukan dan abaikan mereka semua, fokus saja berjalan kedepan" ujar Dewi memperingatinya.


Karena suara-suara itu membuat fokusnya terpecah dan tanpa sadar dia menoleh kearah bawah lubang itu, betapa terkejutnya dia melihat kedalam lubang itu.


Bagaikan neraka didasar bumi, lubang itu diselimuti oleh api membara menyelimuti apa saja yang ada didalam sana, termasuk makhluk-makhluk yang merangkak keluar dari lubang itu, mereka mencoba meraih kakinya yang menggantung diatas seutas tali tipis itu.


"Fokus, Maura! Kau harus bertahan, lihat kedepan!" seru Dewi Srikandi memperingatinya.


Bagaikan terhipnotis oleh para makhluk didalam lubang itu, dia tak bisa menggerakkan tubuhnya, untuk mengedipkan matanya saja tak bisa. Tapi untungnya pikirannya sadar.


"Astaghfirullah ya Allah, lindungi hambaMu ini! Allahu Akbar!" teriaknya dalam hati.


Tiba-tiba seluruh gua itu berguncang hebat, petir datang entah dari mana melewati Maura masuk kedalam gua itu memekakkan telinga.


Suara kencang menggelegar, membuat para makhluk berjumlah ratusan bahkan ribuan itu terjatuh masuk kedalam lubang itu lagi. Mereka berteriak histeris minta ampun sambil dilalap kobaran api neraka jahanam itu.


Pluk!


Tiba-tiba tubuhnya seperti ada yang menepuknya dari belakang, membuatnya kembali tersadar. Dia langsung berjalan tanpa memikirkan apapun, dia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sana setelah melihat apa yang terjadi barusan.


"Wow, kamu hebat! Berjalan dengan tenang tanpa takut terjatuh! Itulah yang aku maksud tadi" ujar Dewi Srikandi.


Seperti tersadar dari lamunannya, dia baru ngeh kalau dia tadi berada ditengah-tengah lubang api neraka itu dengan seutas tali rapuh.


"Haaahh?!!" teriaknya terkejut.


"Terlambat kagetnya, ayo buruan! Kita selesaikan misi ini, biar cepat pulang" ujar Dewi Srikandi.


Mereka kembali menyusuri gua itu sampai tiba disuatu tempat yang mengerikan, ada banyak patung-patung berbentuk manusia yang diikat dan disiksa.


"Patung-patung ini nampak begitu asli, Padahal terbuat dari batu, dan.. Uh! Bau sekali, ternyata bau busuk yang kita cium sedari tadi berasal dari patung-patung ini!" ujar Maura merasa mual mencium bau busuk itu!


"Tentu saja, kau lihat Maura.. Patung-patung itu mengeluarkan cairan merah pekat, dan aku yakin itu darah!" ujar Dewi menjelaskan keadaan patung itu.


Mereka sudah diujung gua itu, perjalanan terakhir mereka. Mereka berada di dalam gua terdalam dan didalamnya banyak patung-patung berbentuk manusia yang diletakkan dipinggir dinding, dan ditengah-tengahnya ada batu besar berbentuk oval, ditengah batu itu ada seperti sesajen dan bunga tujuh rupa, diselimuti oleh asap dupa yang terbakar diatas sana.


"Ini ada yang aneh, sepertinya kehadiran kita memang sudah ditunggu, Maura!" ujar Dewi Srikandi berhati-hati.


"Iya, aku tahu. Aku juga merasakan sesuatu, dan patung-patung ini seperti memiliki mata yang mengawasi diriku dari tadi.." gumamnya.


Sreet.. Sreet.. Sreeet!


Mereka mendengar suara kaki digeret paksa menuju mereka dari arah belakang gua itu, tiba-tiba salah satu patung itu bergerak hidup menghampirinya.


"A-apa yang terjadi?! Patung itu hidup?!" teriak Maura tidak percaya.


Ternyata bukan hanya satu patung yang bergerak menuju kearahnya, satu persatu patung-patung itu bergerak dan berjalan kaku menuju nya.


"Ya Allah, lindungi hamba.." gumamnya lirih.


"Hihihi!"


Terdengar suara tawa cekikikan dari atas kepala mereka, dan ternyata itu adalah nenek Dawiyah yang bergelantungan terbalik sambil menatapnya tajam menyeringai mengerikan.


"Akhirnya kau datang juga, cu..." ujarnya.


Dia melompat turun dan duduk diatas bahu salah satu patung itu, dengan sekali hentakan dia berhasil membuat para patung itu berhenti bergerak.


"Nenek, apa yang terjadi?!" tanya Maura heran.


"Aku pikir kau sudah tahu semuanya, aku yakin jin yang menempel ditubuhmu itu sudah mengatakan semuanya" ujar nenek Dawiyah menyeringai menatap Dewi Srikandi.


Mengetahui hal itu, Dewi Srikandi memutuskan keluar dari tubuh Maura dan menghadapi nenek Dawiyah.


"Bagus, itu baru benar! Menunjukkan wujud aslimu tanpa harus bersembunyi ditubuh tuanmu!" ujar Nenek Dawiyah memprovokasi.


"Dia bukan tuanku, dan aku bukan peliharaannya. Dia adalah diriku yang bereinkarnasi" balas Dewi Srikandi.


"Alah, itu sama saja!" ujar nenek Dawiyah sambil melompat turun.


Pergerakannya sangat lincah berbeda jauh dengan usia dan fisiknya yang terlihat tua itu, dia berlarian mengelilingi gua itu sambil tertawa cekikikan menggema membuat seluruh gua itu bergetar oleh gerakan dan suaranya itu.


Seolah ingin menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya.


......................


Bersambung