RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Pertemuan Dengan Maria


Karena kelelahan Maura ketiduran hingga sore hari, tidak ada yang membangunkannya sampai-sampai dia harus terbangun karena kaget oleh suara benda jatuh dari kamar mandinya.


Prang!


Dia langsung terbangun karena kaget, dia melihat hari hampir gelap dan langsung bangun menyalakan lampu. Dia melihat kedalam kamar mandinya, tidak ada apapun yang jatuh ataupun pecah didalamnya.


"Hufftt, jangan-jangan lagi deh.." keluhnya.


Dia keluar dari sana dan melihat kearah jam yang menunjukkan pukul setengah enam lewat, dia langsung menutup jendelanya dan langsung mandi dan menunaikan ibadah sholat magrib.


Baru saja dia mengucapkan salam terakhirnya, dia mendengar bisikan ditelinga yang menjawab salamnya juga. Dia seketika merinding, bukan karena takut yah lebih tepatnya telinganya geli kena hembusan nafas itu.


Setelah selesai menunaikan ibadahnya, dia merapikan mukena dan menaruhnya kedalam laci mejanya, sekilas dia melihat sebuah bayangan dibalik cermin lemari pakaiannya, Maura kembali mengecek apa yang dia lihat tadi.


"Huff, bukan apa-apa.." ujarnya kembali menenangkan diri.


Maura keluar dari kamarnya itu, nampak suasana diluar sana begitu sepi apa karena masih suasana magrib atau apa, hingga pada didalam kamarnya masing-masing atau tidak, Maura kurang tahu.


Dia turun ke lantai bawah, dia ingin mengambil air minum ke dapur, dia melihat seseorang yang begitu mirip Rizka, Maura hendak menyapanya, tapi wanita itu langsung pergi kearah gudang belakang.


"Hem, mungkin Rizka mau ambil sesuatu kali didalam gudang itu" gumam Maura.


Pluk!


Tiba-tiba dia dikejutkan oleh tepukan dibahunya, dan ternyata itu bi Surti yang melihat Maura nampak kebingungan.


"Kenapa, Nak? Ada yang bisa bibi bantu?" tanyanya ramah.


"Emm, gak bi.. Mau ambil minum aja" sahut Maura ramah juga.


"O ya, kalau mau minum yang dingin ada didalam kulkas yahh" kata bi Surti ramah.


Beliau nampak sedang membuat makan malam, sibuk didapur dengan wajan dan panci. Bi Surti memperhatikan Maura dari tadi diam aja sambil menatap kearah gudang.


"Ada apa? Kok dari tadi bibi perhatian, nak Maura ngeliat arah sana mulu?" tanya bi Surti heran.


"Iya, bi.. Tadi si Rizka masuk ke gudang tapi kok gak keluar-keluar yah, ngapain sih didalam sana lama banget?!" ujarnya penasaran.


"Masa sih?! Tadi aku liat dia baru saja naik ke atas masuk ke kamarnya" sahut bi Surti sambil tersenyum.


Dia mengira Maura salah lihat atau mungkin dia kebanyakan melamun jadi gagal fokus gitu, dia jadi iba melihatnya.


"Kamu lapar tidak, mau bibi masakin mie instan?" tawarnya, dikira Maura gagal fokus karena lapar kali yah.


"Gak usah, bi.. Maura beli makanan diluar saja sekalian mau beli pakaian juga" katanya sambil tersenyum.


"Emm, kalau begitu sekarang aja. Takutnya jika terlalu malam toko pada tutup, maklum ini masih tergolong daerah biasa, bukan kota besar kayak Palembang ataupun kota Jakarta, yang rame sampai tengah malam" sahut bi Surti.


"Kamu sudah tahu tempatnya?" tanyanya lagi.


"Kalau tempat makan aku sudah tahu, tadi siang bareng dengan Rizka, tapi kalau butik atau toko pakaian yang lain.. Saya tidak tahu, bi" ujar Maura lagi.


"Baiklah kalau begitu, tunggu sebentar yah bibi mau panggil Rizka atau anak lain, mungkin mereka bisa nemenin kamu" balas bi Surti.


"Gak usah, bi.. Saya jadi gak enak, saya bisa jalan sendiri tapi tolong kasih tau saya arah mana jalannya" ujar Maura sungkan.


Bi Surti menjelaskan tempat biasanya butik-butik itu masih buka di jam itu, ternyata tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah makan tempat dia makan tadi siang.


Maura memutuskan untuk makan malam dulu, setelah selesai dia menuju butik yang di rekomendasikan oleh bi Surti, dan tempatnya lumayan besar, dan itu juga tempat grosiran baju, sepatu dan tas juga, ada juga beberapa aksesoris lainnya.


Maura senang dia jadi tak perlu berkeliling mencari keperluannya itu, karena di sana semuanya lengkap. Hanya saja di sana produk dalam negeri, dan kebanyakan homemade dan ada juga beberapa barang KW merk terkenal.


Setelah selesai memilih dan memilah, akhirnya dia mendapatkan beberapa pakaian pilihannya, termasuk sepatu, tas dan aksesoris lainnya termasuk pakaian dalam, handuk, selimut bahkan dia terpincut dengan bentukkan bantal, guling dan boneka yang lucu dan imut menurutnya.


"Ah, capek juga! Ini barang segini banyaknya bagaimana caranya aku bawa" ujarnya bingung sendiri.


"Kak Maura kan?" tiba-tiba ada yang menyapanya.


Maura menoleh kearah sumber suara, ternyata seorang gadis berkacamata tersenyum manis kearahnya, Maura hanya mengangguk saja sambil tersenyum.


"Iya, benar. Kamu..." Maura mencoba mengingat siapa tahu pernah melihatnya dimana gitu..


"Namaku Maria, aku juga salah satu penghuni kostnya bu Nela. Maaf baru menyapa, aku tadi siang sempat melihatmu bersama kak Rizka, tapi buru-buru harus ke kampus" ucapnya.


"Oh, tidak apa. Ini baru pulang atau gimana?" tanya Maura berbasa-basi buat mengakrabkan diri.


"Aku udah pulang tadi sore, tapi mampir dulu ke rumah teman untuk menyelesaikan tugas, kebetulan dapet makan malam gratis, haha! Kamu habis belanja? Banyak banget, mau aku bantu?" tawar Maria ramah.


"Betulkah, wah terima kasih! Aku benar-benar tertolong" ujar Maura sambil tersenyum haru.


Siapa sangka pertemuan mereka bisa mendapatkan hikmah baginya, setidaknya dia tidak kesusahan dalam ribetnya bawa barang belanjaannya itu.


"Kamu kenapa lewat sini? Kan lumayan jauh jaraknya ke kostan kita" tanya Maura heran melihat Maria pulang lewat jalan memutar cukup jauh.


"Emm, gimana ya ceritanya. Takutnya aku nakuti kamu lagii.. Aku sudah biasa pulang malam meskipun tidak terlalu larut, tapi aku paling malas pulang lewat gang depan sana, kalau malam sepi dan gelap, aku pernah lewat sana pernah ada yang nimpukkin, aku celingukan nyari orangnya, tapi gak ada!


Itu bukan sekali atau dua kali, malah sering terjadi dan bukan aku saja yang mengalami, siapapun yang lewat di sana pada malam hari akan mengalaminya" ujar Maria bergidik ngeri menceritakan hal itu.


Maura hanya mengangguk saja mendengarkannya bercerita, malah baginya itu tidak terlalu seram, karena dia sudah melihat jin pengganggu itu, hanya hantu anak kecil yang iseng saja.


Malah menurutnya lebih serem Kunti yang lagi duduk santai diatas pohon didepan kostan mereka saat ini, tapi Maura berpura-pura tidak tahu dan tidak melihat saja, dia tidak mau di intilin terus sama si Kunti.


"Sudah sampai, terima kasih ya Maria. Taruh aja di sini biar aku aja yang bawa keatas" ujar Maura tidak enak dengannya.


"Tidak apa, Maura! Sekalian aku mau lihat kayak apa di lantai atas, haha! Maklum aku selama ini selalu dibawah, tidak pernah naik keatas" ujar Maria sambil tersenyum.


"Baiklah, maaf ya merepotkan!" ujar Maura lagi.


"Tak apa!" ucap Maria sambil tersenyum sumringah.


Mereka tertatih-tatih membawa barang belanjaan Maura yang lumayan banyak dan berat itu dari bawah menuju lantai atas, menaiki anak tangga yang cukup tinggi itu.


"Wah,, jadi ini toh lantai atas! Bagus juga.." ujar Maria celingukan melihat ke sekelilingnya.


Maura hanya tersenyum melihat tingkahnya yang polos itu yang seperti anak kecil saja, menurutnya. Apalagi menurut Maura penampilan Maria sudah seperti Dora tokoh kartun itu, rambut pendek model bob gitu dengan kacamatanya yang lebar dan tebal, ditambah kawat giginya membuatnya nampak polos dan culun menurutnya.


Setelah selesai menaruh barang-barangnya kekamarnya, niat Maura ingin mempersilahkan Maria masuk dulu ke kamarnya, tapi tiba-tiba anak itu menghilang begitu saja.


"Ada apa lagi ini! Jangan bilang dia itu setan!" gumamnya kesal.


Masa iya setan sih, kalau benar pasti Maura sudah tahu semenjak mereka awal bertemu tadi.


"Ah, mungkin dia sudah turun pas aku sibuk memasukan barang-barang ini, ah sudahlah! Lebih baik aku membereskan beberapa barang-barang ini, biar aku tidak kerepotan besoknya.


Karena besok juga aku akan mendaftar ke salah satu kampus terbaik di kota ini" ujarnya dalam hatinya.


......................


Bersambung