
Maurice terus mengikuti anak kecil itu,dia nampak kelelahan.
"Masih jauh yah, aku capek dan haus." Katanya terlihat lelah, keringat mengucur diseluruh tubuhnya.
"Hemm, sebentar. Aku rasa disekitar sini,eh.. Itu dia jalannya." Gadis kecil itu tersenyum ceria, melihat jalan yang baru dia temukan.
"Ahh.. Syukurlah, aku lelah sekali." Maurice menghela nafas lega.
Sementara itu, disaat bersamaan makhluk bersayap tadi sudah mulai mengejar mereka.Tapi anehnya, disaat dia mau memasuki area hutan dia tak bisa masuk.
"Sial, ini bukan kawasan Tuanku. Makanya aku dan lainnya tak bisa masuk!" Kata makhluk itu menggeram kesal.
"Sudah ada peringatan dari Tuan, untuk tidak coba-coba masuk ke hutan itu. Itu bukan area kekuasaannya." Tiba-tiba ada seseorang dibelakangnya.
Seorang pria tampan, badannya tinggi tegap berkulit sawo matang, alis tebal hidung mancung dan memiliki mata yang tajam.
Dia adalah jin yang berada dikawasan tersebut, merupakan salah satu peliharaan yang disebut tuan tadi.
Wujud aslinya begitu mengerikan, tapi dia bisa berubah wujud dalam bentuk apapun. Dia sengaja berwujud pria tampan, untuk menjerat Maurice.
Tapi sayangnya, mangsanya lepas begitu saja.
"Kalau saja bocah tengik tadi tak mengganggu, mungkin buruan tadi sudah tertangkap." Kata makhluk bersayap tadi.
Dia menganggap Maurice adalah buruan, karena dia sudah ditandai oleh tuannya.
"Tapi anehnya, kenapa dia bisa muncul di hutan itu? Seharusnya dia muncul di taman ini. Ini adalah tempat terakhir pelariannya." Kata jin berwujud manusia tadi heran.
"Sudah kubilang, seharusnya tak perlu acara berburu segala. Itu manusia langsung saja ditahan, tapi tak ada yang mendengarkan aku!." Kata makhluk bersayap itu terlihat marah.
"Itu sudah menjadi tradisi dan kebiasaannya tuan, jika menemukan korbannya dia ingin berburu." Kata jin berwujud manusia.
"Kau benar sekali, tapi kenapa tuan tak ikut berburu?" Kata makhluk bersayap tadi.
"Karena dia ingin mengurus sesuatu, aku tak tau apa itu." Kata jin tadi.
"Jadi bagaimana ini, tuan pasti marah sekali tawanannya lepas." Kata makhluk tadi.
Sementara itu.
Disaat makhluk bersayap tadi berusaha masuk ke dalam hutan, tetapi tak bisa karena seperti ada tameng yang melindunginya.
Dhuaaghh.. Dhumm.. !!
Ada suara dentuman yang kencang sekali dari benturan itu. Membuat Maurice dan gadis kecil itu kaget, kencangnya suara itu sampai ketengah hutan.
"Apa itu, suaranya berasal dari tepi danau tadi." Kata Maurice panik
"Tenanglah, dia takkan bisa masuk.." Kata gadis kecil menenangkan Maurice.
"Kakak ikuti saja jalan ini,nanti ada jalan bercabang dua. Ikuti saja salah satu cabang itu, nanti kakak akan sampai ditempat tujuannya." Kata gadis kecil itu menjelaskan.
"Jalan mana yang harus kuikuti?" Tanya Maurice belum mengerti sepenuhnya.
"Jalan mana saja, nanti keluarnya juga tempat yang sama. Tinggal pilih, mau yang cepat atau lambat." kata gadis kecil itu.
"Aku ingin yang cepat!" Kata Maurice langsung menjawab.
Dia lelah, ketakutan dan bingung harus bagaimana. Dari tadi dia berlari terus, bersembunyi dari sesuatu. Sudah sangat lelah sekali rasanya.
Maurice tidak mengerti yang dimaksud gadis tadi, dia memperhatikan gadis itu berlari menjauh darinya.
Gadis itu berhenti sejenak, lalu menoleh kearah Maurice. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya, lalu berbalik lagi hilang dibalik pepohonan di sana.
Maurice berjalan mengikuti jalan itu, dan akhirnya dia menemukan jalan yang dimaksudkan gadis kecil tadi.
Dia mengikuti jalan sebelah kanan, berjalan lurus terus dan terus, sampai akhirnya dia sampai didepan pintu berkabut.
Sempat ragu untuk masuk, akhirnya dia nekat masuk juga.
"Dari tadi aku lari dari kejaran topan pasir, serigala salju sampai di danau. Aku tak tau apalagi didalam sana, aku harus mencobanya. Aku tak mau mati disini!" Kata Maurice pasrah.
Dia merasa badannya ada yang mengguncang, terdengar suara orang memanggilnya diiringi isak tangis.
"Maurice..Maurice.. Kumohon, bangunlah." Terdengar suara Maura menangis.
Maurice membuka matanya berlahan, dia melihat Maura menangis ada Bik Marni disana dan Gerald.
"Aku, aku sudah pulang kah? Ini bukan mimpi kan?" Kata Maurice tidak percaya.
"Iya nak, kamu sudah pulang." Sahut Bik Marni tersenyum.
Mendengar jawaban Bik Marni, Maurice menangis sejadi-jadinya. Dia memeluk Maura sambil menangis, Maura pun tambah keras menangisnya.
Dia senang melihat sahabatnya bangun kembali setelah berjam-jam pingsan tak bangun-bangun juga.
Hari sudah pagi, Pak Irwan dan Angga sudah bangun. Mereka kaget mendengar suara tangisan kencang dari kamar Maura.
Mereka langsung membuka kamar Maura, ingin memastikan semuanya baik-baik saja.
"Ada apa, kenapa kalian menangis? Loh ada Ayuk juga dikamar?" Kata Pak Irwan kaget bercampur heran.
"Ga ada apa-apa, cuma mimpi buruk. Saya juga mau menenangin mereka." Kata Bik Marni berusaha tenang, terpaksa berbohong.
"Masa' mimpinya bisa barengan, mana nangisnya kejer banget lagi. Eh, mimpi apa kalian. Dikejar hantu apa ?!" Kata Angga kesal karena pagi-pagi udah dikagetkan suara adik-adiknya menangis.
Mendengar hal itu, Maurice jadi keingat lagi waktu dia dikejar-kejar sendiri. Maka tambah kencanglah tangisnya.
Kali ini Maura sudah tenang, malah heran melihat Maurice menangis tanpa henti malah tambah kencang.
"Eh, beneran yah mimpi itu." Kata Angga sambil menggaruk-garuk kepalanya, heran tak mengerti.
Semua berusaha menenangkan Maurice, sambil bertanya-tanya apa yang dimimpikan anak ini.
Tapi Bik Marni dia sudah tau apa yang terjadi, hanya bisa membayangkan betapa takutnya Maurice, saat itu dikejar-kejar tanpa henti.
......................
bersambung
ilustrasi gambar
Angga