
Malam itu rombongan Ardian bersama-sama membawa para pegawai yang pingsan tadi ke ruangan khusus istirahat karyawan.
Setelah diberikan pertolongan mereka pun kembali tersadar, hanya Barry yang terlihat lemah. Tentu saja dia mengalami serangan panik karena syok, kaget tau-tau jadi tawanan setan!
"Ya sudah, kalian boleh istirahat. Besok pagi minta bantuan lebih banyak pegawai lagi untuk membersihkan ruangan itu, usahakan tidak bekerja sendiri dan jangan melamun" ujar Ardian memberi arahan.
Mereka semua mengangguk mengerti, dan kembali beristirahat di ruangan itu. Sementara Ardian dan kawan-kawan harus kembali ke rumah masing-masing.
//
Siangnya, Maura menceritakan kisah malam itu kepada keluarganya. Tentu saja mereka kaget karena baru kali ini mendengar kisah teror seperti itu.
"Selama ini ada, Pa. Tapi gak ganggu, yang semalam itu adalah salah satu prajurit jin iblis milik Arion Gaharu yang berhasil melarikan diri" ujar Maura menjelaskan
"Udah ditangkap kan, udah diserahin ke Raja Bayangan itu?" tanya pak Irwan.
"Belum, Pa" jawab Maura pelan.
"Kok belum? Kenapa gak sekalian aja ditangkap, ntar bikin ulah lagi. Lama-lama dia bisa bikin keributan dan usaha kita itu bisa sepi gara-gara dia!" ujar Tari.
"Maunya, tapi tu setan licik banget. Saat dia kabur dia berhasil mengalihkan perhatian kami ke pegawai yang dia tahan itu" ujar Maura lagi.
"Licik juga ..." gumam Angga pelan.
"Kan, aku bilang apa tadi" ujar Maura sewot.
Maura dan Maurice sedang berkemas untuk keperluan mereka kuliah di Indonesia, ada beberapa barang yang ingin mereka beli dan pamit ingin keluar.
"Boleh, tapi pulangnya jangan terlalu malam" sahut pak Irwan, keduanya mengangguk.
Seperti biasa, mereka menghubungi Kevin untuk menemani mereka belanja.
"Iya, tunggu. Aku juga ada beberapa barang yang ingin ku beli juga" sahutnya.
Tibalah mereka disalah satu pusat perbelanjaan di kota New York. Mereka berbelanja beberapa barang penting lainnya seperti koper, tas, sepatu dan beberapa lembar pakaian.
"Katanya di Indonesia ada dua musim saja, hujan dan panas. Aku pikir musim hujan takkan terlalu dingin dibandingkan musim dingin disini" ujar Kevin, sambil memilih beberapa lembar pakaian.
"Itu betul, tapi musim panasnya luar biasa. Kita tak perlu jaket tebal winter seperti ini, jika mau beli cukup jaket tebal biasa aja. Karena di daerah tempat papaku lahir itu cuaca dan suhunya sangat dingin.
Karena mereka tinggal di daerah pegunungan, cuacanya masih alami. Masih dingin sekali" ucap Maura.
"Emang om Irwan bilang gitu, May?" tanya Maurice.
"Nggak, aku masih teringat sedikit kenanganku waktu masih ada di sana" jawabnya.
'Itu kan beberapa tahun yang lalu, belasan tahun yang lalu. Kan gak tahu sekarang, ingat kita sekarang lagi menghadapi pemanasan global" sahut si Kevin juga.
Akhirnya, setelah selesai dengan kerepotan dalam berbelanja. Mereka memutuskan untuk cari makan dulu, buat ganjel perut biar sampai rumah langsung istirahat aja.
Mereka memilih salah satu restoran Asia dan memiliki menu makanan Indonesia.
"Itung-itung buat latihan nanti jika sampai di sana gak kaget sama makanannya" sahut Kevin.
"Kalau aku sudah terbiasa oleh masakan bi Marni, kalau tidak papa sering bikin makanan-makanan Indonesia gitu, yah meskipun masakannya sering zonk" ujar Maura terkekeh tiap kali mengingat papanya yang memasak di dapur.
"Aku juga, semenjak kenal sama kamu dan sering main ke apartemenmu aku sudah terbiasa oleh makanan bikinan bi Marni. Apalagi sekarang aku selalu makan enak di rumahmu" seru Maurice menyahuti Maura sambil tersenyum manis.
"Aku punya papa asli orang Indonesia jarang banget makan makanan seperti itu, kalau pengen paling delivery ke restoran Indonesia atau Asia seperti ini yang jual makanan Indonesia" ujar Kevin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh beberapa pelanggan restoran itu, mereka terlihat panik karena kehilangan beberapa beberapa barang dan uang milik mereka.
Padahal tas mereka ada didepan mereka bahkan ada di pangkuannya, tidak mungkin hilang begitu saja.
"Tidak bisa Pak, Bu. Kami tak bisa menerima alasan apapun! Kalian tak bisa pergi begitu saja setelah makan dan minum di restoran kami ini!" ujar salah satu pelayan di restoran itu.
"Tapi kami benar-benar kehilangan uang kami dan juga beberapa barang milik kami disini!" ujar salah seorang pelanggan itu.
"Sudah aku katakan, jika kalian tak punya uang kalian bisa gunakan tenaga kalian untuk membayar makanan yang kalian makan tadi!" ujar pelayan tadi kesal.
"Tapi ini masalahnya, kami semua bisa kehilangan barang dan uang bisa berbarengan begini. Ini pasti ada apa-apanya di restoran ini" ujar salah satu dari mereka.
Perdebatan itu tak pernah berhenti, mereka saling menyalahkan satu sama lain. Keributan itu memancing perhatian pengunjung lainnya, sehingga mereka tidak memperhatikan ada seseorang yang memanfaatkan situasi itu.
Kecuali Maura, Maurice dan Kevin. Mereka tak bisa ditipu, mereka bisa lihat sendiri ada sosok kecil hitam berlari kesana-kemari melompat dari meja satu ke meja lain, mengambil semua barang berharga seperti Hp, kamera jam mahal dan semua uang milik para pelanggan restoran itu.
"Masih saja menggunakan cara licik untuk mencari uang, malas cari uang pake tenaga dan otaknya malah pake goblin kecil itu mencuri!" ujar Kevin geram.
Tibalah makhluk kecil itu ke meja mereka dan ingin ambil tas mereka, tapi tak jadi karena dipelototi oleh mereka bertiga.
"Hayoloh, mau maling yah?!" sergap Kevin sambil menarik celana kolor makhluk itu.
Tapi makhluk itu tak habis akal dia memberontak dan menggigit tangan Kevin untuk melarikan diri.
"Aukh!" Kevin menjerit kesakitan ketika mendapatkan serangan mendadak itu.
Si makhluk kecil itu berlari menuju tuannya, dan mengadukan mereka seperti anak kecil meminta pertolongan orang tuanya. Sadar aksinya dipergoki lelaki berkulit hitam dan berkumis tebal itupun pergi.
"Mau kemana kamu? Sebelum pergi tinggalkan barang-barang mereka yang kau curi" cegah Maura sambil mencekal tangan lelaki itu.
'Aku tak menyangka ada manusia yang memiliki kepekaan soal dunia ini, hehe! Tapi maaf, kau tak punya bukti apapun untuk menuduhku mencuri, Nona" ujar lelaki itu meremehkan Maura dan kawan-kawannya.
Ternyata dia licik juga, dia menyerahkan barang-barang curiannya kepada makhluk gaib itu untuk membawanya pulang.
Tapi jangan remehkan Maura yang sekarang memiliki kekuatan dan kemampuan luar biasa berkat bantuan Dewi Srikandi, pengalaman-pengalaman di dunia mistisnya.
Dengan secepat kilat makhluk gaib itu sudah ada digenggamnya, makhluk itu meringkuk ketakutan seperti anak kucing ditarik lehernya, dia memeluk barang-barang curiannya sambil memandang takut tuannya.
"A-apa?! Bagaimana bisa kau lakukan itu?!" tanyanya heran menatap Maura.
"Dia ini titisan Dewi peperangan, kau mau hancur ditangannya?!" ujar Maurice mendramatisir.
"Hei kalian semua! Jangan berdebat, barang-barang milik kalian ada disini! Lelaki ini yang mencurinya" ujar Kevin berusaha mendapatkan perhatian mereka.
Tapi tak satupun yang mendengarkannya, mereka tengah heboh karena banyak pelanggan yang lain ikut kehilangan barang mereka.
Lelaki itu tersenyum sini, karena mereka tak bisa menangkap mereka. Dia langsung menarik peliharaannya ditangan Maura dan hendak melarikan diri, tapi dia langsung dicekal oleh Kevin dan Maurice.
"Mau kemana kau, hah?! Mau kabur yah?! Tak semudah itu fergusoo!" ujar Kevin menirukan adegan film.
"Aku Malfoy! Bukan ferguso!" teriak lelaki itu berontak, tapi cengkraman Kevin dan Maurice begitu kuat dan tak mudah lepas begitu saja.
Melihat kebisingan dan kehebohan itu, Maura langsung menghentakkan kakinya hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup kencang hingga membuat semuanya terdiam.
Dhuum!
Lelaki berkulit hitam tadi melongo melihat aksi Maura, siapa sangka gadis cantik nan mungil itu bisa memiliki kekuatan yang luar biasa.
"Sudah kubilang tadi kan, jangan main-main dengannya!" ujar Maurice, hingga membuat lelaki itu gemetaran.
"Perhatian semuanya, barang-barang kalian dicuri oleh lelaki itu! Dia memanfaatkan keadaan untuk mengambil barang-barang kalian" ujar Maura.
Semua orang memperhatikan seorang lelaki berkulit hitam dengan kumis tebalnya itu memegang buntalan kain berisi penuh, mereka juga lihat lelaki itu nampak ketakutan.
"Tapi bagaimana bisa? Badannya cukup besar, bagaimana caranya dia mengambil barang-barang kami?" tanya salah satu dari mereka.
"Bagaimana caranya tak penting, yang jelas dia yang mencuri barang-barang kalian" ujar Maura.
Dia merebut buntelan kain itu dan melempar kerarah mereka, sedangkan lelaki itu sudah ditangan para security yang berjaga di restoran itu. Mereka semua nampak sibuk dengan mencari barang-barangnya didalam buntelan kain itu.
Ketika selesai, mereka ingin bertanya lagi bagaimana Maura dan kawan-kawannya bisa tau soal itu. Tapi Maura dan lainnya sudah pergi, hilang begitu saja.
"Dia itu pasti Dewi penolong" ujar mereka.
Padahal mereka sudah pulang karena hari sudah sore, dan mereka ingin buru-buru sampai ke rumah karena kelelahan seharian berbelanja.
......................
Bersambung