
Sementara malam itu, Ardian nampak gelisah sekali karena Maura tak datang juga, sampai acaranya pun selesai, anak itu belum nongol juga batang hidungnya. Dalam hati dan pikirannya, dia sangat khawatir dengan anak itu meskipun dia tau Maura ada yang jaga.
"Kemana dia? Kenapa tidak datang? Tadi kata bu kost dia juga sudah rapi sejak tadi sore, mau kesini katanya, tapi kok udah malam banget anaknya juga belum datang?
Apa terjadi sesuatu dengannya? Ah, tak mungkin, ada banyak pengawal yang menjaganya, setidaknya aku tahu kalau dia dalam bahaya. Apa aku susul aja yahh.." gumam Ardian sendiri.
Kevin menghampirinya yang terlihat sekali sangat gelisah itu, anak itu tau persis jika temannya itu sedang menunggu Maura, sahabatnya.
"Belum datang juga? Ini udah mau setengah sebelas loh, para tamu undangan juga udah pada bubar.." ucap Kevin mengagetkan Ardian.
"Gak tau, aku juga bingung!" ucap Ardian menghela nafas kecewanya.
"Sabar, jangan berpikir negatif dulu. Mungkin dia ada urusan penting daripada ini, kalau gak penting gak mungkin juga kan dia pergi begitu saja.." sahut Maurice.
Dia datang setelah selesai beberes membantu para ibu-ibu di dapur, dia juga sebenarnya heran dan khawatir juga dengan sahabatnya itu, tapi ia berusaha berpikir positif saja tentang keberadaan Maura.
"Ada benarnya juga kata Maurice, tunggu sebentar lagi. Jika tak datang juga, tanyakan besok pagi aja yah.." ucap Kevin lagi.
Setelah cukup lama dia menunggu, akhirnya Ardian memutuskan untuk menyusulnya ke kostan Maura, hanya ingin memastikan anak itu baik-baik saja, atau dia berada ditempat atau tidak.
Karena sejak tadi ponsel Maura mati, tak bisa dihubungi. Dia sudah tak tahan lagi memilih pergi mencari Maura setelah berpamitan dengan Kevin dan Maurice.
Saat perjalanannya menuju kostannya Maura, dia dikagetkan dengan berbagai barang-barang perempuan yang berjatuhan berserakan di jalanan itu, seperti tas, dompet, Hp bahkan sepatu high heels pun ada, dia menatap ponsel merk ternama itu, dia nampak familiar sekali dengan itu.
"Ini kan, punya Maura?! Ya Allah, apa yang terjadi?! Semoga anak itu baik-baik saja.." gumamnya gugup dan khawatir mempercepat langkahnya menuju rumah kost itu.
Dia juga melihat ada bekas jejak-jejak pertempuran hebat di sana, hatinya semakin tak menentu, apalagi dia juga tak merasakan jejak Maura ataupun makhluk lainnya. Bahkan Maura pun tak bisa dia hubungi lewat telepatinya.
"Maura, sayang.. Dimana kamu?" gumamnya lirih dan gugup.
Tiba-tiba angin kencang menerpanya, dia melihat cuaca langit sangat berbeda. Langit terlihat lebih cerah daripada biasanya, padahal itu malam hari.
Samar-samar Ardian melihat ada sesuatu diatas langit yang bergerak terbang kearahnya, semakin dekat dan semakin jelas itu apa.
Dia melihat sosok yang begitu mirip dengan Maura menunggangi kuda yang bersayap, kuda berbulu putih halus dan lembut itu memiliki tanduk kecil diatas kepalanya.
"Maura?!" gumamnya sambil mempertajam penglihatannya.
Setelah beberapa saat, makhluk bersayap itu mendarat dengan mulusnya didepan Ardian. Dengan anggunnya kuda itu menundukkan dirinya untuk menurunkan Maura.
Ardian membantu Maura turun, karena gadis itu terlihat kesulitan saat turun, karena harus menyesuaikan kain songket yang dia pakai saat ini.
"Ardian.." ucapnya sambil tersenyum manis melihat kekasihnya itu.
"Maura, bagaimana bisa?" tanya Ardian masih bingung.
"Nanti aku jelaskan semuanya, sebentar yah.." dia menjawab Ardian kemudian berbalik kearah Aurora.
"Aurora, terima kasih sudah mengantarkan aku, dan.. Perkenalkan, dia adalah Ardian. Orang yang selalu ada untukku.." ucap Maura memperkenalkan Ardian.
"Sama-sama, Dewi.. Senang bertemu denganmu, Panglima.." sahut Aurora.
Setelah menunduk hormat dengan anggunnya, Aurora pun melesat terbang meninggalkan tempat itu. Dia terbang secepat kilat, membelah langit malam, dan menghilang di kegelapan.
"Ah, rupanya kamu udah menemukan barang-barangku! Terima kasih yah, maaf membuatmu menunggu.." ucap Maura sambil mengambil tasnya ditangan Ardian.
Lelaki itu diam saja, dia membantu Maura memakai sepatunya. Kemudian dia menarik Maura ke rumah kostnya itu, niat hati mau mengantar pulang.
"Loh kok balik lagi ke kostan?! Kan mau menghadiri acaranya Kevin dan Maurice.." protes Maura sedikit kesal.
Mendengar itu Ardian pun berhenti, dia menatap Maura dan mengajak gadis itu duduk dibangku taman yang dekat dengan mereka, dia menatap intens gadis didepannya itu, membuat Maura sedikit salah tingkah dibuatnya.
"A-ada apa? Bilang saja!" ucapnya gugup.
"Kamu bilang mau menghadiri acara tasyakuran Kevin dan Maurice? Tapi aku lihat kau nampaknya bersenang-senang berkeliling dengan teman barumu tadi!" ujar Ardian sambil menatap tajam kearah Maura.
"Ya ampun, aku minta maaf.. Tadi ada kejadian tak terduga, sehingga aku terlambat menghadiri acaranya mereka. Sebelum itu, mari kita menghadiri acaranya dulu, pasti keduanya masih menungguku.." ucap Maura seraya bangkit dari duduknya.
"Tapi sayangnya acaranya sudah selesai, kau sangat terlambat, Maura.." ucap Ardian pelan, sedikit kecewa.
Apalagi setelah Ardian menunjukkan jam tangannya, hari menunjukan jam setengah sebelas lewat. Maura diam tertegun.
"Aku pikir baru satu jam an aku pergi, aku tak menyangka kalau sudah pergi empat jama an lebih.." gumamnya heran.
"Sebaiknya kamu ceritakan saja apa yang terjadi denganmu, siapa makhluk itu tadi? Sepertinya dia familiar sekali.." ucap Ardian sudah tak sabar ingin tahu keberadaannya tadi.
"Nama makhluk itu tadi adalah Aurora, dia juga pejuang seperti kita, menurut legenda dia adalah perwujudan dari seorang putri raja, yang dikutuk oleh seorang penyihir terkuat di jamannya dulu menjadi seekor kuda seperti wujudnya tadi.
Sehingga banyak para pangeran ataupun putra mahkota kerajaan lain tak mau meminangnya, sehingga orang tuanya mau tak mau menuruti kehendak penyihir itu agar kutukan anak mereka ditarik lagi.
Tapi kau tau sendiri, penyihir itu perwujudan iblis berbentuk manusia, sebangsa jin yang datang dengan penuh tipu muslihat memperdaya pikiran manusia.
Hingga kerajaan hancur, bencana alam datang bertubi-tubi karena ulah penyihir itu, segala penyakit datang menyerang ditambah lagi kekeringan dan kemiskinan terus melanda akibat ulahnya penyihir itu.
Akhirnya raja dan ratu, orang tuanya Aurora meninggal akibat penyakit dan kesedihan sepanjang masa. Hingga menimbulkan jiwa pemberontakan didalam diri Aurora, siapa tahu kutukan itu berubah menjadi berkah baginya.
Dengan tanduk emas di kepalanya itu, dia berhasil melumpuhkan penyihir itu, ternyata didalam tanduk itu ada racun mematikan dan merupakan kelemahan sang penyihir.
Kamu lihat kan tanduk kecil di kepalanya itu, tadinya itu panjang dan lancip seperti tombak tajam, patah karena pertarungannya dengan penyihir itu, kematian sang penyihir tak mematahkan kutukannya, sehingga dia menghabiskan sisa hidupnya menjadi kuda dengan wujud seperti itu.
Tapi semua bencana yang dibuat penyihir itu berangsur membaik, semuanya kembali normal. Tanah subur, begitu banyak mata air, hasil panen subur, peternakan subur dan menghasilkan, dan penyakit aneh pun menghilang.
Aurora tidak sedih ataupun menyesal, Ardian... Setidaknya dia bisa menyelamatkan rakyatnya dari bencana besar dan kelaparan lainnya. Yang dia sesalkan, dia tak bisa menyelamatkan kedua orang tuanya.
Hingga akhirnya kepemipinan kerajaan dihapuskan, mengubah menjadi sistem demokrasi, memberikan pilihan untuk rakyatnya agar bisa memilih pemimpinnya sendiri.
Hingga detik-detik akhir sisa hidupnya, dia ditarik oleh para dewa pada masa dulu, mungkin menurut kepercayaan kita itu adalah malaikat ataupun jin muslim kali yah, masuk ke dimensi dunia lain.
Dan mulai saat itu juga dia menjadi pejuang juga, dan menjadi sahabat sekaligus pengawal Dewi Srikandi juga" ucap Maura menjelaskan semua kisah tentang Aurora.
"Bagaimana bisa kau tau kisahnya, Maura? Sedangkan aku sendiri baru mendengar tentang kisah itu..." tanya Ardian penasaran.
"Baru saja, saat dia mengantarkan aku pulang dari kerajaan bayangan, sepanjang jalan dia menceritakan kisahnya yang sedih, mengharu biru itu.." jawab Maura lagi.
"Lalu, semua tentang ini? Kamu menghilang?" tanya Ardian lagi.
"Oh, itu..." Maura mulai menceritakan awal mula pertemuannya dengan Baba Yaga.
Semuanya dia ceritakan tanpa terkecuali, dari pertemuan, pertempuran, pertemuannya dengan Putri Dadar Bulan, sehingga perkenalannya dengan Aurora, tak ada yang tertinggal, agar Ardian bisa mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
"Aku tak tahu soal itu, padahal jarak kita tak terlalu jauh. Aku ataupun yang lain juga tak mendengar suara teriakan dirimu, jangan-jangan pada saat itu kamu sudah ditarik ke dunia dimensi buatan Baba Yaga lagi?
Meskipun aku takut dan yakin tak bisa mengalahkannya, aku tetap penasaran ingin melihatnya, selama ini dia adalah kisah dongeng yang sangat populer, yang dikira adalah mitos tapi ternyata ada benarnya juga.
Tapi kamu hebat, langsung dapat apresiasi dari maharaja Balaputradewa. Btw, bagaimana? Apa kau senang sudah bertemu dengan Dewi, eh! Putri Dadar Bulan?" tanya Ardian masih sama bingungnya seperti Maura.
Mereka masih tak terbiasa menyebutkan nama asli Dewi Srikandi, dan harus menerima jika sebentar lagi mereka akan berpisah dengan para makhluk ataupun para Dewa orang jaman dulu.
"Yah, aku senang sekaligus sedih. Aku tak tau kapan kami akan berpisah, aku pikir kita baru saja bertemu, tidak disangka begitu cepat waktu berlalu.." ucap Maura lagi.
"Sabar, doakan saja yang terbaik untuk mereka, dan untuk kita semuanya..," sahut Ardian mencoba menenangkan dirinya.
"Ya udah, kamu pulang saja. Hari sudah malam, acaranya pun telah selesai. Besok aja ketemu mereka lagi, lagian... Ini kan malam pertama mereka" ucap Ardian lagi sambil gugup mengatakan hal itu kepada Maura.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Maura, dia juga mencoba mengerti, dan memilih pergi dari sana, padahal sudah dandan cantik begitu, dia merasa sayang sekali dengan penampilannya itu, tapi paling tidak Ardian sudah melihatnya.
"Cantik.." gumam Ardian melihat Maura masuk ke pintu gerbang kost-annya.
Kemudian dia berbalik lagi ingin pulang ke rumahnya, saat dirinya sudah mendekati rumahnya itu dia melihat ada sosok lain yang sedang mengintip kearah jendela kamar rumahnya.
"Itu kan kamarnya Kevin dan Maurice? Wah, kayaknya mereka gak baca doa dulu inih.. Makanya disamperin setan mesum!" ucap Ardian kesal.
......................
Bersambung