RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Ah tidak, ciuman pertamaku!


Sebelumnya, beberapa hari yang lalu sebelum hari naas itu terjadi.


Keluarga Kevin melakukan piknik bareng, sudah menjadi tradisi tahunan keluarganya tiap tahun melakukan liburan bersama.


"Jadi, tahun ini kita mau pergi kemana?" Tanya pak Wisnu.


"Ke pantai aja Pa, mumpung lagi musim panas." Jawab Mama Ella.


"Ah, males ke pantai. Panas, nanti hitam kulitku." Ujar Kevin bersungut.


Dhania mendengar adiknya itu menggerutu, langsung memeluknya gemas.


"Apa-apaan sih, lepasin. Aku bukan anak kecil tahu!" Kevin terlihat kesal dengan perlakuan kakaknya itu.


"Biarin, bagiku kau adalah adik kecilku. Dan selamanya seperti itu." Dhania terkekeh.


"Kalian ini, selalu saja begitu. Kevin itu kakakmu, hormati dia." Kata Pak Wisnu tegas, dia mendidik anaknya layaknya para Ayah Asia.


Menghormati yang paling tua, menjaga tata Krama dan sopan santun itu yang utama. Pokoknya Asian Dad Type banget.


"Sudah, sudah.. Terus ini bagaimana diskusinya. Jadi ga ke pantainya?" Tanya Mama Ella tidak sabaran.


"Yep, kita ke pantai besok. Kan sayang bik*niku ga kepakai, masih baru sekalian pamer." Kata Dhania santai.


Mendengar hal itu Pak Wisnu melotot tanda tak setuju, Dhania hanya nyengir dengan sikap Papanya itu dan Kevin hanya terkekeh melihat tingkah kakaknya itu.


Mereka tak pernah protes dengan sikap Papanya itu, bagi mereka sikap protektifnya Pak Wisnu menandakan bahwa dia begitu peduli dengan keluarganya.


Selama itu tak berlebihan dan merugikan mereka, tak masalah.


" Mm, aku ajak Maura dan Maurice boleh ga Pa, Ma..?" Tanya Kevin.


"Eh, kamu ga punya teman lain selain mereka. Kamu tuh cowok bergaulnya ma cowok tau!" Kata Dhania, dia sebenarnya mau menggoda adiknya itu yang dianggapnya bingung diantara dua pilihan itu. Padahal tidak, hatinya sudah tertuju pada Maurice.


"Apaan sih kakak, mereka tuh cuma temen. Apalagi Maura dia sudah dianggap adikku!" Jawab Kevin dengan nada kesal.


" Jadi pilihanmu Maurice yah?" Tanya Dhania lagi, sambil tersenyum menggoda adiknya itu.


"Maurice siapa?" Tanya Mamanya.


" Itu Ma, temennya Maura juga teman sekolah Kevin juga" Jawab Dhania.


"Yang mana yah,.? setau Mama Kevin cuma punya satu teman cewek. Yaitu Maura" Tanyanya lagi.


"Itu loh Ma, yang dirawat di rumah sakit bareng Kevin dan Maura waktu itu" Pak Wisnu pun ikut menjawab.


" Oh yang itu, bolehlah. Cantik dan sopan anaknya." Jawab Mamanya sambil tersenyum.


" Tuh, udah ada izin dari Mama dan Papa Vin, hehe.." Dhania terus menggoda Kevin.


" Udah ah, berisik banget tau!" Katanya sambil berlalu menuju kamarnya.


Diiringi gelak tawa Dhania yang sukses menggoda adiknya, sedangkan Kevin hanya Tersenyum dengan candaan kakaknya itu.


" Halo..?" Terdengar suara diseberang telpon genggam Kevin.


" Halo May, besok ada waktu gak? Liburan bareng yuk?" Tanyanya tanpa basa-basi.


" Ihh, mau banget. Tapi berapa lama dulu, soalnya aku ga bisa lama-lama. Disini cuma ada aku sama Bik Marni, aku gak mau ninggalin Bibik lama-lama. Kasihan dia sendirian." Kata Maura bersungut sedih.


"Yaudah, ajak aja Bik Marni sekalian." Jawab Kevin santai.


" Gak bisa, kalau kita pergi semua Gerald gimana. Siapa yang ngurusin?" Jawab Maura sedih yang tidak bisa ikutan liburan.


" Apaan sih ribet banget, udah..ajak aja sekalian kucing itu juga!" Kevin terlihat kesal, Maura terlalu berbelit-belit menurutnya.


" Ga bisa Vin, masa' mau liburan malah sibuk ngurusin kucing" Jawab Maura diseberang telpon.


" Terus terang aja kamu ga bisa ikut kan intinya..?!" Emosi Kevin hampir menuju puncak, kesal dengan jawaban Maura dengan beribu alasannya.


" Hehehe.. Sorry " Jawab Maura dengan santai, Kevin mendengus kesal dengan jawaban Maura itu.


" Udah, ajak Maurice. Ini kesempatanmu dekat dengannya " Goda Maura.


" Maksudnya? " Tanya Kevin tak faham.


" Sudahlah, jangan pura-pura lagi. Aku tahu kok selama ini kamu naksir Maurice kan? Bahkan kamu beliin dia hadiah sangat istimewa, gelang perak berukiran bunga Lily dengan namanya juga " Maura menjelaskan semuanya kepada Kevin, termasuk bahwa Maurice juga menyukainya.


" Kalian berdua itu cocok yah, demi menjaga perasaan orang lain, rela menyakiti perasaan diri sendiri. Padahal kalian berdua juga berhak bahagia " Sambung Maura lagi, ada rasa sesal sedikit dihatinya. Kenapa dia selama ini tak menyadari itu.


" May, maaf aku tak bermaksud " Kata Kevin.


" Apaan sih, haha.. Ga usah melow deh, anak cowok juga! " Kata Maura berusaha ceria, dia ingin menyakinkan Kevin bahwa dia baik-baik saja.


" May kamu tau gak, bagi aku dan Maurice kamu tuh bukan orang lain. Bagiku kamu sahabat kecilku yang terbaik, gadis kecil yang suka nangis sendirian dipojokkan. Nangis kejer jika keinginannya tak terpenuhi, adik kecilku yang paling kusayang.


Menurutku Maurice juga beranggapan sama denganku tentangmu, gadis ceria penuh ambisi yang penuh toleransi. Sahabat yang paling setia, dan mau menolong temannya yang lagi kesusahan, itu kamu May.. "Ujar Kevin dengan suara lembut penuh keyakinan, dia mengingat hari-hari saat bersama Maura saat kecil sampai sekarang ini. Perasaan tak berubah, baginya Maura adik kecilnya.


Maura mendengar penjelasan Kevin membuatnya terharu, tak terasa air matanya menetes mengalir di pipi lembutnya. Dia bahagia masih memiliki orang-orang yang begitu tulus padanya.


" Ah, dasar kamu Vin. Bisa aja bikin aku terharu, hehe.." Jawab Maura sambil mengusap air matanya.


" Oke lah, aku juga ga mau melow-melow denganmu. Haha.. Aku telpon Maurice dulu yah, by.." Kevin menutup telponnya.


" Hai Vin.. " Jawab Maurice saat menerima telpon Kevin.


" Mm, aku bersama keluargaku akan mengadakan liburan bersama ke pantai. Kamu mau ikut liburan bersama kami ?" Tanya Kevin.


" Kamu ga ajak Maura juga ?" Tanya balik Maurice.


" Udah kok, dia mau ikut juga. Kamu ikut juga yah.. " Pinta Kevin, terpaksa berbohong biar Maurice ikut juga kalau mendengar Maura juga ikut.


" Mm, maaf Vin. Sebenarnya aku juga ingin ikut tapi aku tak bisa " Jawab Maurice.


" Kenapa ?" Tanya Kevin dengan nada kecewa.


" Mommy ku sakit Vin, aku mau menjaganya. Lain kali aja yah, lagian ini famili time. Ga seharusnya juga kami ikut kan..?" Kata Maurice, lagian tidak enak juga baginya ikut jika Maura juga tidak ikut.


" Hem, kamu sama aja kayak Maura. Gak mau ikut aja banyak alasan " Ujar Kevin menggerutu kesal.


" Apa, Maura tidak ikut juga? Dasar katanya tadi ikut " Sekarang Maurice ikutan kesal juga pada Kevin.


" Hehe.. " Kevin menjawab dengan tawa ciri khasnya yang suka nyengir.


Pada akhirnya, acara liburannya bersama keluarga tertuju ke Pantai Miami.


*


Esok harinya, Maura melakukan kegiatan rutinitas tiap paginya. Yaitu lari pagi, sampai dengan bertemu dengan pria asing yang menyebalkan itu.


Memintanya kembali esok paginya, menagih janji utang berobatnya. Katanya sih begitu, tapi tak tahu ada maksud apa dibalik itu.


Maura tak menggubris permintaan pria itu. Salah sendiri pergi begitu saja, padahal aku ingin langsung memberi uang untuk mengobati kepalanya itu. Batin Maura kala itu.


Tapi benar saja, pria itu menunggu Maura di sana. Tepat di tempat dan waktu yang sama di saat kejadian kemarin itu.


Maura melihat pria itu, buru-buru dia bersembunyi dibalik tanaman di taman itu. Kepalanya ditutupi dengan Hoodie kesayangannya itu, tapi terlambat pria itu sudah melihatnya.


" Akh, menyebalkan. Kenapa dia ada lagi sih, emang berapa biaya yang dia keluarkan, banyak banget yah? atau jangan-jangan dia sengaja mau memeras ku, dasar pria.. " Dia menggerutu sambil bersembunyi, disaat dia larut dengan pikirannya tadi, tak sadar pria itu sudah dibelakangnya.


" Apa yang kau pikirkan, mau lari dariku hem ?!" Kata pria itu mengagetkan Maura.


Karena posisi Maura yang jongkok dibalik taman itu, dan pria tinggi itu hanya melongok menatap Maura yang jongkok bersembunyi itu membuatnya kaget refleks berdiri dan tak sengaja menyundul dagu pria itu.


"Aauuuhhh.. Sakit!" Kata Pria itu.


Maura tak kalah kagetnya, kenapa dia harus bertemu dengan pria menyebalkan itu dan melakukan hal ceroboh itu lagi.Terlihat sesal diraut wajahnya.


" Ma-maaf, aku.. aku tak sengaja " Kata Maura penuh sesal.


Tiba-tiba dia mendapat telpon dari kak Angga, dia ingin menyingkir sebentar mau mengangkat telpon kakaknya itu. Tapi pria itu salah faham, dikiranya Maura mau kabur.


" Hei, mau kemana kamu!" Katanya sambil menarik tangan Maura.


Kaki Maura tergelincir karena rumput dan jalan setapak di taman itu licin, karena embun pagi yang basah. Tak sengaja menabrak pria itu, dan pria itu juga refleks menangkapnya. Adegan Jatuh sambil berpelukan itu, diakhiri dengan ketidaksengajaan keduanya, sebuah kecupan kecil yang mendarat dibibir pria itu.


Pria itu terbelalak kaget mendapat serangan berupa ciuman itu, Maura tak kalah kagetnya. Ciuman pertamanya mendarat dibibir pria asing menyebalkan itu.


Pria itu masih memakai stelan pakaian yang sama dengan kemarin hanya beda warna saja, tetap dengan masker yang menutupi separuh wajahnya.


"Ah..! Bibir suciku, kenapa harus dia..!" Batin Maura berontak tak terima.


Tapi ada rasa yang tak dimengerti olehnya, seperti kesetrum aliran listrik tubuhnya bergetar dan bibirnya berkedut. Dia sempat bertatapan mata dengan pria itu, mata bulat berwarna coklat kehitaman, bulu mata lentik dengan bulu alis hitam tebal.


Tatapan mata tajam pria itu menusuk hatinya, ada rasa sakit di sana. Aneh, perasaan apa ini? Batin Maura.


" Dasar wanita licik, kau mengambil kesempatan untuk menggodaku. Takkan kubiarkan ini terjadi!" Kata pria itu menatap tajam.


Ternyata sedari tadi telpon dari Angga tak sengaja terjawab oleh Maura, hingga mendengar semua percakapan itu.


" Maura, halo.. Maura, apa yang terjadi? Siapa itu..?" Tanya Angga penasaran.


Maura maupun pria itu kaget, mereka langsung berdiri memisahkan diri. Maura menjawab telpon kakaknya dan ingin beranjak pergi, tetapi pria itu tak membiarkannya lepas begitu saja.


Dia mengikuti Maura kemanapun dia pergi, Maura terlihat risih sekali.


" Halo kenapa kak, maaf tadi ada orang pacaran pas lewat depanku. Hehe..!" Maura terpaksa berbohong, memaksakan tertawa dengan kaku.


Pria itu tersenyum geli melihat tingkah konyol Maura, hanya saja senyum manis itu tertutup masker yang hampir menutup separuh wajahnya itu.


" Apa..! Benarkah, terus bagaimana keadaannya? Baiklah kak, aku langsung ke sana..!" Kata Maura terlihat Panik sekali.


Dia meninggalkan pria itu, berlari menuju keluar mencari taksi. Pria itu pun menyusul Maura, penasaran apa yang terjadi.


*


Sementara itu, ditempat lain di jalanan sepi, mobil Porsche hitam melaju kencang.


" Tenanglah, Maurice.. Aku akan datang, kamu tak sendiri.." Matanya berkaca-kaca.


Kevin mendengar kecelakaan dan musibah yang menimpa Maurice, langsung pamit ke keluarganya untuk pulang duluan.


......................


Bersambung