
Mendengar kisah Kamaru, membuat Maura sedikit iba. Kasihan juga nasibnya, hidupnya dipermainkan seperti itu.
"Dewi, tidakkah kau kasihan dengannya? Menurutku tidak sepenuhnya semua itu salahnya, dia hanya terjebak dan pengaruh sihirlah yang membuatnya melakukan semua itu" kata Maura.
"aku tahu Maura, tapi entah mengapa sulit untuk memaafkannya. Butuh waktu untuk melupakan semuanya, Maura" jawabnya pelan.
"Butuh berapa lama lagi kau akan memaafkannya? Itu sudah lama sekali Dewi, sudah berabad-abad lamanya" ujar Maura lagi.
"Bagi kalian itu sudah sangat lama, tapi tidak bagi kami. Satu abad yang lalu sama halnya dengan satu hari yang lalu" katanya sambil menatap kosong kearah depan.
Disaat mereka berdua lagi asik bercengkrama, tiba-tiba Kamaru datang dari belakang mereka dengan lari kencang kearah mereka.
"Cepat pergi! Ayo, pergi sekarang kataku!" teriaknya seperti orang panik.
"Apa maksudmu? Kau mengusir kami?! Tidak perlu kau usir, kami pun akan pergi!" ujar Dewi Srikandi kesal padanya.
"Bukan begitu, Dewi... Diarah sana, sebelah utara hutan ini sekelompok pasukan Arion Gaharu sedang menuju kemari!" ujarnya menjelaskan semuanya.
"Benarkah, atau kau hanya melampiaskan kekesalan mu saja?" tanya Dewi curiga.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, aku hanya kasihan pada anak itu jika harus menjadi korban karena keegoisanmu!" gerutu Kamaru.
Dewi Srikandi dan Maura terlihat gelisah, satu-satunya jalan mereka pulang yaitu hutam Angkara. Tapi hutan itu sekarang dikuasai oleh pasukan Arion Gaharu.
"Aku bisa mengantarkan kalian pulang, ada jalan pintas di hutan ini langsung menuju duniamu Maura. Tapi ya itu, akan sangat menyakitkan jika kau lewat sana" kata Kamaru, dia sedikit ragu menyarankan idenya itu.
"Apa maksudmu? Setahuku satu-satunya jalan menuju dunia manusia itu hanya hutan Angkara. Apa niatmu, Kamaru? Benarkah semua perkataanmu tadi?!" ujar Dewi masih curiga dengannya.
"Ada alasan kenapa aku merahasiakan tempat itu disini, aku tidak ingin para jin atau penyihir jahat di hutan ini memanfaatkan tempat itu untuk niatan jahat mereka" ujar Kamaru serius.
Tiba-tiba angin kencang datang kearah mereka, langit mendung gelap gulita diiringi suara guntur bergemuruh.
"Cepat pergi, tidak ada waktu lagi! Aku ikuti aku!" teriak Kamaru mengimbangi suara angin yang begitu riuh bergemuruh.
Mereka berlari kencang mengikuti Kamaru yang sudah berlari duluan kearah depan mereka, Maura merasa sedikit aneh dengannya karena dia bisa mengimbangi laju lari Dewi yang begitu kencang.
"Kau sekarang berada di dunia lain Maura, kekuatanmu mengikuti dirimu berada. Jika disini kekuatanmu muncul lebih lama dan lebih kuat, karena kekuatan itu memang berasal dari sini.
Berbeda jika kamu berada di duniamu, kekuatanmu tidak sebesar ini dan oleh karena itu ada aku yang akan selalu mendampingimu" ujar Dewi menjelaskan semua keheranan Maura.
Maura mengerti apa yang dimaksudkan oleh Dewi, angin semakin kencang mengejar mereka. Terdengar suara derap sepatu kuda yang semakin dekat.
Didepan mereka ada sebuah pohon tua begitu besar yang dikelilingi oleh bebatuan, ditengahnya ada lubang hitam menganga, Kamaru sudah berdiri didepannya.
"Masuklah, saat didalam nanti biarkan tubuhmu meluncur sendiri turun kebawah didalam pohon ini. Abaikan saja jika ada suara, sesuatu yang menyentuh tubuhmu.
Jika tidak kalian akan habis ditelan oleh pohon tua ini, dengarkan saja apa yang aku katakan" kata Kamaru.
Suara sepatu kuda semakin dekat, dari kejauhan terlihat beberapa pasukan serba hitam dengan kuda hitam juga sedang menuju kearah mereka.
"Cepat, tidak ada waktu lagi! Kalian harus pergi!" ujarnya sambil mendorong Dewi dan Maura masuk kedalam lubang hitam itu.
Keduanya sudah masuk kedalam lubang hitam besar itu, mereka melihat Kamaru bersusah payah menutupnya memakai batu besar disampingnya.
"Dengar, didalam lubang itu sangat gelap dingin dan licin. Nanti akan ada cahaya kecil yang akan memandu kalian, setelah itu ikuti saja pohon ini memandu kalian pulang. Ugh!" saat menjelaskan semua itu, Kamaru mendapat serangan dari pasukan itu.
Anak panah melesat menusuk belakang tubuhnya, dia berusaha menahan rasa sakit itu.
"Ka-kau..." Maura terkesiap saat melihat serangan beberapa anak panah menghujami tubuhnya.
"Cepatlah pergi, jangan hiraukan aku! Aku tidak akan mati begitu saja, haha! Pergilah!" teriaknya sambil menghentakan batu besar itu menutupi lubangnya.
Seketika hening dan sunyi, bunyi jangkrik pun tak ada. Tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan kencang dari luar pohon itu.
"Dewi, aku harap kau sudah memaafkan aku. Anggap saja semua ini sebagai pembuktian dan permohonan maaf ku kepada kalian semua.
Terdengar suara lirih didalam lubang hitam itu, yang mereka yakini itu suara Kamaru. Mata Dewi berkaca-kaca saat mendengar suara mantan prajuritnya itu, yang juga sahabat baiknya.
Jika Maura bisa melihatnya, dia pasti akan ikut menangis juga. Karena suasana gelap gulita dan Dewi menahan suara tangisnya, maka Maura tak bisa melihat ataupun mendengar ia menangis.
Tiba-tiba ada cahaya dari belakang mereka, mereka membalikkan badan lalu melihat seekor peri kecil bercahaya hijau terang terbang mengelilingi mereka.
Berlahan peri itu pergi meninggalkan mereka, Maura dan Dewi mengikutinya melewati jalan sempit penuh stalaktit dan stalakmit.
Suhu udara berubah dingin, bau dinding basah dan lembab menyeruak. Dan peri itupun menghilang, seketika mereka kehilangan arah.
Suasana kembali gelap gulita, Maura berpegangan dengan Dewi saat mereka berjalan kedepan, tiba-tiba kaki mereka tergelincir dan mereka jatuh meluncur ke bawah.
Mereka teringat ucapan Kamaru untuk mengikuti saja arah pohon itu membawanya pergi, dan benar saja mereka berseluncur dengan banyak rintangan.
tanah basah dan licin itu tidak mulus seperti orang lagi main perosotan, tetapi penuh batu dan kerikil. Mereka harus menahan rasa sakit itu semuanya.
Belum lagi, sesuatu yang muncul merayap entah datang darimana menggerayangi tubuh mereka.
Untungnya tidak terlalu lama, penderitaan itu segera berakhir didepan mereka ada sebuah cahaya terang dan mereka akan segera keluar dari sana.
Byurr!!
Mereka keluar dari lubang hitam itu bersamaan dengan air hitam seperti lumpur, diluar sana mereka merasa heran dan takjub.
Mereka berada di padang rumput yang begitu lembut seperti beludru, didepan mereka ada danau dengan air begitu jernih dan bersih dan ditanami beberapa bunga teratai indah yang sedang bermekaran.
Dibelakang mereka, ada sebuah pohon besar menyerupai pohon sakura yang bunganya sedang bermekaran dan berguguran ditiup angin, dari sanalah mereka keluar tadi. Dan anehnya, pohon itu tidak terlalu besar dan lubang mereka lalui tadi mengecil dan menghilang begitu saja.
disekelilingnya mereka banyak tanaman berbagai jenis bunga-bunga warna warni, cahaya sinar matahari dan cahaya sejuk membuat mereka begitu nyaman ditaman itu.
Di sebelah pohon itu ada air mengalir dari dua sisi batu yang mengapit sebuah pohon kecil, mereka membersihkan diri di sana.
Lalu mereka melihat ada beberapa peri kecil yang sedang bermain terbang kesana kemari, Maura dan Dewi menghampiri mereka dan semua peri itu menghentikan kegiatan mereka.
Mereka berkumpul menjadi satu dan membentuk sebuah wujud yang mereka sangat kenal.
"Kamaru..." gumam Dewi Srikandi menatap haru kepadanya.
Sosok itu nampak berbeda dengan mereka temui tadi, wujud ini nampak lebih bersinar dan wajahnya lebih berseri.
Dia tersenyum manis menghampiri Maura dan Dewi Srikandi, dan mempersilahkan mereka duduk ditaman bunga itu.
"Apa kalian sudah bertemu dengan sosokku yang lain?" katanya lembut.
Maura dan Dewi mengangguk pelan, sosok Kamaru yang baru ini sangat berbeda dia begitu lembut, ramah dan menyambut mereka begitu baik.
"Aku atau dia, sama saja. Jiwaku terbagi dua, gara-gara penyihir itu. Hampir separuh hidupku dia kendalikan dibawah sihirnya, hingga aku mati dan dikurung di hutan itu bersama beberapa jin dan penyihir jahat lainnya.
Tapi dia lupa, dibalik itu semua ada yang maha kuasa yang memiliki segala-galanya. Separuh jiwaku ditarik kesini oleh yang kuasa, jika jiwaku dihutan itu lenyap oleh mahkluk jahat lainnya, maka jiwaku yang terbagi menjadi beberapa bagian menjadi peri-peri kecil yang kalian lihat tadi menyatu menjadi satu, yaitu diriku yang sekarang ini.
Dan, kini aku menjadi diriku lagi dan benar-benar bebas dari penyihir itu" ujarnya lagi sambil tersenyum menatap danau didepan mereka.
"Jadi, Kamaru yang kami temui dihutan tadi sudah lenyap oleh pasukan Arion Gaharu?" tanya Dewi Srikandi tak percaya.
"Sudah dipastikan, karena aku yang baru sudah terlahir kembali. Berkat kalian" ujarnya tersenyum.
"Tidak, kau yang menyelamatkan kami. Kau juga punya kekuatan sendiri ingin berubah dan menebus sendiri dosa-dosamu dengan mengorbankan diri demi melindungi kami" ujar Maura bijak.
Kamaru dan Dewi saling bertatapan, mereka saling berpelukan dan saling memaafkan satu sama lain. Maura senang melihat Dewi mau berdamai dengan masa lalunya.
......................