
Maura masih tercenung sendirian dengan apa yang menimpanya barusan, dia tak habis pikir jika itu akan terjadi kepadanya, niat hati ingin bertanya tentang Dewi Srikandi, malah dia mendapatkan kejutan yang hampir dia lupakan.
"Sudah, tidak usah terlalu kau pikirkan, Dewiku..." goda Ardian.
"Apaan sih, geli tau dengarnya!" sahut Maura risih.
Tentu saja Ardian tau, secara panglima Arialoka juga ada di sana tadi. Sekarang Maura malah bingung mau apa lagi, dia jika tak bersama Dewi Srikandi, merasa ada yang kurang dengan dirinya.
"Sebagai gantinya, kau kan memiliki konde itu dan ratusan ribu pengawal gaib, apa yang kau takutkan? Malah para musuhmu itu yang ketakutan..," ujar Ardian lagi.
"Benar juga sih, tapi ini benda lumayan lama bersamaku tapi aku sama sekali tak ingat dengannya, jika aku tau kekuatan benda ini begitu besar, mungkin Dewi Srikandi masih disini, dia tak perlu bersusah-payah menghajar para makhluk rendahan itu sehingga dia harus melakukan hukuman segala.
Kan aku bisa minta tolong para pengawal gaib itu untuk mengalahkan mereka atau mungkin merubah konde ini menjadi senjata" ucap Maura.
"Kau ada benarnya juga, tapi setidaknya ada hikmahnya bukan dibalik semua ini, setidaknya kau tau fungsi dari konde itu, bukan sekedar penghias rambut saja.
Ingat kata Baginda raja, jangan kau gunakan konde itu diluar fungsinya, jika kau gunakan itu hanya untuk pamer atau merendahkan lawan juga tak bisa, gunakan di saat urgent saja" ujar Ardian mengingatkan.
"Iyaaa.." sahut Maura lagi.
Tidak terasa malam sudah mendekati subuh, keduanya menunaikan ibadahnya dengan khusuk di salah satu musholla rumah sakit, dipojok musholla itu, Maura dan Ardian juga melihat ada sosok lain juga ikut sholat.
.
.
Pagi harinya, mereka memutuskan untuk pulang karena mereka harus kembali kuliah, sedangkan Bagas sudah ada yang menjaganya lagi, bergantian dengan petugas yang jaga malam bersama mereka itu.
"Kamu gak capek, Maura? Hampir semalaman begadang gak tidur!" tanya Ardian, disaat mereka diperjalanan pergi kuliah.
"Hampir lagi, tapi memang aku tak bisa tidur!" jawabnya kesal.
"Kenapa?" tanya Ardian heran.
"Kok kenapa sih? Jelaslah, bagaimana bisa aku tidur setelah kejadian itu. Apalagi mereka bergantian menjagaku begitu, membuatku tak nyaman. Mau tidur juga tak bisa.." jawab Maura gusar.
"Hahaha! Ternyata menjadi seorang Dewi ada rasa gak enaknya juga yah.." ledek Ardian lagi.
"Aku bukan Dewi, Ardian. Aku adalah Maura, aku sangat berbeda dengan Dewi Srikandi. Kami adalah dua orang yang berbeda.." ujar Maura.
"Dia juga bukan Dewi Srikandi, Maura. Kamu ingat kan nama aslinya, yaitu Putri Dadar Bulan, Dewi Srikandi adalah gelar yang diberikan oleh Baginda raja Balaputradewa untuknya.
Sebagai salah satu panglima tertinggi yang memimpin perang melawan sihir pada jaman itu, dan sampai sekarang gelar itu tetap ada padanya, sampai orang-orang dan para makhluk hampir melupakan sosok dirinya hanyalah seorang tuan putri biasa.
Hanya saja dia memiliki kekuatan dan anugerah yang luar biasa, sehingga dirinya memiliki tugas yang harus dia emban seumur hidupnya, karena tugas dan tanggungjawabnya itu membuatnya dikenal sangat loyal kepada semuanya," ucap Ardian menjelaskan semuanya.
"Wah, kamu luar biasa. Aku saja tak sampai sana pemikirannya" ujar Maura berdecak kagum.
"Aku sudah tau semua ini sejak dini, Maura. Kau tau kan sejak kecil hidupku bergelut dengan dunia gaib, jadi bukan hal aneh lagi bagiku ini. Apalagi kisah mereka, sudah seperti dongeng bagiku.
Setiap saat mau tidur, mendiang ayah dan ibu bahkan bi Marni sering menceritakan kisahnya, kisah raja Balaputradewa bersama sahabatnya panglima Arialoka, serta cinta segitiga diantara mereka bersama putri Dadar bulan, termasuk juga tentang putri mahkota Kenanga Ungu, kakak perempuan raja Balaputradewa" Ardian menjelaskan lagi.
"Baiklah, aku bisa mengerti sekarang!" sahut Maura.
Kini mereka sudah sampai di kampus, baru saja mereka mau melangkah masuk tiba-tiba Ardian mendapatkan telpon dari pak Kyai, dia buru-buru menarik Maura kembali naik motornya.
"Mau kemana kita? Gak kuliah? kita udah keseringan absen, Ardian!" tanya Maura kesal.
"Kita ke pondok sekarang!" jawab Ardian.
"Ada masalah apa lagi?!" tanya Maura.
"Ini tentang Kevin dan Maurice!" sahut Ardian.
"Apa?! Ada apa dengan keduanya? Hei, jawab dong!" tanya Maura sangat khawatir dengan sahabat-sahabatnya itu.
Ardian hanya diam saja, dia juga bingung mau jawab apa sedangkan pak Kyai juga tadi tak menjelaskan apapun padanya. Dia juga sama khawatirnya dengan Maura, bagaimanapun juga keduanya adalah tanggung jawabnya.
Mereka sudah tiba di pondok pesantren, keadaan pondok nampak sepi diluar, padahal hari masih pagi, biasanya para santri banyak melakukan kegiatan di pagi hari diluar saat ini.
"Kok sepi yah?!" gumam Maura.
Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara dari balik hutan yang letaknya tepat di samping pondok itu, mereka melihat ada sekelebat bayangan hitam di sana.
Tiba-tiba muncul sosok tinggi besar dengan rambut panjang menjuntai, memakai pakaian terbuat dari besi seperti pakaian perang jaman dulu.
"Hamba datang untuk mengawal Dewi.." ujarnya sambil menunduk hormat.
Maura merasa lega juga tak nyaman dengan kehadirannya, dia meminta sosok itu berjaga di sekeliling pesantren dan menjaganya dari serangan dari makhluk lainnya.
"Tentu saja, itu kan karena kedatangan salah satu pengawalmu.." sahut Ardian.
"Bukan itu! Ada aura lain disekitar sini, dan anehnya aura itu sangat tipis sekali, entah kau merasakannya atau tidak.." ucap Maura lagi.
"Aku gak tau, Maura. Jika kamu bisa merasakannya aku pikir wajar saja, karena kemampuannya telah meningkat.." ujar Ardian memakluminya.
Mereka masuk kedalam aula pondok itu, di sana begitu ramai orang beberapa santri dan santriwati, ditengah kerumunan itu mereka melihat Maurice dan Kevin duduk didampingi oleh ustadzah Mariam dan beberapa ustadz dan ustadzah lainnya.
Mereka juga melihat Nur dan Rizal nampak sibuk mengatur sesuatu, dibantu oleh beberapa santri dan santriwati yang lainnya, mereka seperti sedang menyiapkan sesuatu.
"Kevin, Maurice!" panggil Maura sambil mendekati keduanya.
"Maura!" keduanya kompak menoleh.
Maurice langsung memeluk Maura sambil menangis sesenggukan, dia sepertinya sangat ketakutan, dan dia merasa terintimidasi oleh beberapa pasang mata menatapnya hina.
"Ada apa ini?! Katakan sesuatu kepadaku, jangan menangis terus, aku tak mengerti!" tanya Maura tak sabaran.
"Maura, Nak... Sabar dulu, kamu duduk disini bersama dengan kami dengan tenang, nanti Kyai akan menjelaskan semuanya.." ucap ustadzah Mariam dengan lembut dan sabar.
"Aku tak melakukannya, Maura. Demi Allah aku tak melakukannya, aku masih suci sampai sekarang, aku bisa membuktikannya!" teriak Maurice histeris.
Membuat Maura dan Ardian tambah bingung dengan ucapannya, sedangkan Kevin hanya diam saja dari tadi, dia hanya menunduk sambil memainkan ujung jarinya, entah apa yang dia pikirkan.
"Tenanglah, Nak.. Sabar yah, sabar!" ucap Ustadzah Mariam mencoba menenangkannya.
"Tapi kami tak melakukannya, ustadzah. Kami kena fitnah!" ucapnya lagi.
"Fitnah katamu? Dengan mata kami sendiri, kami melihat perbuatan hina kalian. Beraninya kalian berzina di pondok ini, tempat suci para santri dan santriwati untuk menimpa ilmu agama!"
"Ini adalah lingkungan suci, tempat kita beribadah, bukan dunia barat tempat kalian bermaksiat!"
"Jangan-jangan tujuan kalian disini hanya untuk menghancurkan akidah para santri disini!"
"Sebaiknya kalian pergi dari sini, dari awal kami tak menyukai kalian!"
"Pergilah ke negara kalian!"
Beberapa teriakan menghujami Maurice dan Kevin, semua mata yang ada di sana memandang hina mereka, membuat keduanya merasa terintimidasi dan terhina sekali.
"Diam semuanya, dengarkan dulu penjelasan dari mereka! Jangan ambil keputusan dengan menyimpulkan sendiri pendapat kalian!" teriak Maura tidak tahan dengan hinaan mereka.
"Tau apa kau, kalian juga sama saja! Kau bersama kedua orang ini berasal dari tempat yang sama, pasti kelakuan kalian juga tak jauh beda!" sahut yang lainnya.
"Aku masih memiliki kewarganegaraan di negara ini, begitu juga dengan Ardian. Kami semuanya bersahabat, jodoh ada ditangan Tuhan, kami memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi kami percaya dengan mereka.
Karena kamu tahu bagaimana dan seperti apa mereka, jika mereka ingin melakukan hal itu buat apa mereka pergi Amerika, dan tinggal disini.
Kalian juga belajar banyak tentang agama, seharusnya kalian tau apa yang harus kalian lakukan, bukan seperti ini caranya. Kalian harus adil dengan semua ini" sahut Maura berusaha menahan emosinya.
Tiba-tiba semuanya terdiam dengan kedatangan pak Kyai dengan beberapa para tetua dan dewan pemimpin pondok ini.
"Dengarkan semuanya, kami semuanya telah memutuskan untuk menikahkan mereka berdua, untuk menghindari fitnah dan tuduhan lainnya.
Kami harap Maurice dan Ardian mau menerima keputusan ini, dan sebagai perwakilan keluarga kalian, kami telah memanggil Maura dan Ardian sebagai saksinya.
Keduanya hanya terdiam saja mendengar keputusan itu, dengan petunjuk dan ajaran yang diberikan oleh pak Kyai dan ustadzah Mariam, keduanya berusaha bisa mengikuti ajarannya.
Akhirnya acara pernikahan tersingkat itu dilaksanakan dengan hikmat dan khusuk, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin emas bermata berlian, Kevin meminang Maurice.
Setelah acara pernikahan selesai, semuanya pergi membubarkan diri, sehingga meninggalkan mereka berempat bersama pak Kyai, ustadzah Mariam, Nur dan Rizal.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa betul yang dikatakan oleh mereka?" tanya Ardian lagi.
"Saat kejadian Maurice bersamaku mengerjakan tugas bersama, karena aku diminta untuk membimbingnya, sedangkan Kevin bersama Rizal sedang membersihkan kolam ikan di belakang.
Kami sama terkejutnya ketika beberapa santri mengatakan jika mereka melihat keduanya ada di kebun belakang, dan melakukan zinah disana, padahal itu tak mungkin.
Tentu saja kesaksian kami tak berguna, karena hanya kami berdua yang melihat mereka, tidak dengan yang lain. Sedangkan mereka tentu saja memihak suara terbanyak, dan kami sudah tentu kalah suara.
Dan menurutku, sepertinya ada sosok lain menyerupai mereka, dan memfitnah mereka, kami tak tau apa maksudnya. Yang jelas nama baik mereka sudah dihancurkan oleh sosok-sosok itu” ujar Nur menjelaskan semuanya.
Semuanya terdiam mendengarkan penjelasan Nur, ada masuk akal juga ucapannya. Sementara Maurice dan Kevin juga masih bingung dengan semua kejadian ini, mereka juga tak menyangka akan menikah dengan cara seperti itu.
......................
Bersambung