RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Kehadiran Makhluk Pengganggu


Setelah kejadian itu, hubungan bu Vera dan pak Damar semakin mesra, bahkan yang didengar oleh Maura dan Ardian, pak Damar telah melamar bu Vera secara resmi, sedangkan para staf dan dosen lainnya telah memperlakukan Yudha lebih baik lagi, terlepas dia kesurupan atau tidak, mereka sadar apa yang mereka lakukan itu salah.


Beberapa hari setelah kejadian, semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada kasus lagi yang ditangani oleh Maura maupun Ardian, mereka sekarang fokus kuliah, dan Ardian juga mulai aktif lagi di kantor yang baru dikembangkannya.


"Bagaimana kerjanya, Vin. Nyaman?" tanya Ardian kepada Kevin.


"Alhamdulillah, kerjaku baik-baik saja, semuanya juga memperlakukan aku dengan baik meskipun sedikit membuatku tak nyaman, karena mereka masih memperlakukan aku sedikit berbeda dari yang lainnya.


Mungkin mereka memikirkan hubunganku denganmu, padahal aku sudah bilang kalau kita kerja profesional aja, gak usah terlalu memikirkan hubungan aku denganmu.." jawab Kevin.


Malam ini mereka berdua sedang duduk didepan teras rumah, selesai sholat magrib dan makan malam, duduk bersantai didepan rasanya sangat nyaman.


"Ini tehnya.." Maurice datang membawakan dua cangkir teh untuk mereka berdua.


"Begini rasanya dilayani istri setelah menikah, minum teh buatan istri bersama mertua, eh!" ucap Kevin bergurau sambil menatap lembut Maurice.


"Beginilah rasanya menjadi seorang istri, bisa berbakti kepada suami dengan membuatkan teh saja rasanya senang sekali.." balas Maurice juga.


"Beginilah rasanya jadi jomblo, setiap hari selalu melihat keuwuan sepasang suami istri ini, bentar-bentar jadi mertua, bentar-bentar jadi bestie.." sahut juga Ardian sambil menyeruput tehnya, diiringi gelak tawa mereka semua.


Hanya saja canda tawa mereka hanya sebentar saja, tiba-tiba dari kejauhan mereka mendengar suara teriakan minta tolong dari seseorang.


"Tolong, tolong! Tolong saya.." terdengar suara itu semakin dekat dengan mereka.


Mereka saling pandang, saat mereka hendak berdiri mau melihat siapa yang minta tolong, apakah dia manusia atau setan, tapi seketika mereka terdiam saat pak Adam tetangga sebelah juga keluar diiringi dengan keluarganya, juga beberapa tetangga lainnya.


"Siapa sih teriak-teriak minta tolong?!" tanya mereka.


"Bukan hanya kita saja yang mendengar, mereka juga. Berarti ini adalah manusia, coba aku lihat dulu, kalian disini aja.." ucap Ardian.


Dia bersama beberapa warga lainnya keluar rumah dan melihat seorang wanita paruh baya terduduk lemas dijalan depan rumah mereka.


"Bu, Ibu gak apa-apa?" tanya istri pak Adam.


"Anu, Bu. Tolong saya.." ucapnya sambil tersengal-sengal kelelahan habis berlari.


"Ibu kesini aja dulu, istirahat disini, sebentar yah saya ambilkan air minum.." ucap istri pak Adam.


Beliau memang terkenal baik dan sangat ramah, dia sering membantu orang lain, dan merupakan tetangga yang baik dan ramah juga, dia memiliki dua orang anak, anak pertamanya lelaki dan menempuh pendidikan di AKABRI dan yang perempuan masih sekolah di sekolah menengah atas.


"Ini, Bu. Diminum dulu.." ucapnya sambil memberikan air minumnya.


"Coba Ibu jelaskan pelan-pelan, ada apa yang terjadi?" kali ini pak Adam bertanya.


"Saya ini warga kampung sebelah, Pak. Saya baru saja pulang dari tempat kerja saya, di rumah majikan saya yang baru. Tapi saat saya pulang, ketemu dengan seorang wanita hamil.


Katanya minta di anterin pulang ke sini, dia gak punya uang habis kecopetan katanya, saya kasihan Bu, Pak.. Makanya saya anterin dia pulang kesini, tapi.. Pas turun dan jalan kesini, aku liat dia gak ada disamping saya, tiba-tiba saja udah berdiri didepan saya tanpa saya sadari.


Dia menatap saya dengan pandangan aneh, tapi menangis, dia bilang sakit-sakit terus saya gak mengerti, tau-tau aja perutnya meledak dan isi perutnya keluar, tapi anehnya dia ketawa senang.


Makanya saya syok, sempat pingsan saya! Pas bangun, udah diatas pohon aja saya! Mau turun gak bisa, bisa turun aja karena dikagetkan oleh suara anak bayi nangis.


Astaghfirullah al'azimm.. Mimpi apa saya, kok mau niat baik nolong orang malah dikerjain demit!" ucap ibu itu sambil ngelus-ngelus dadanya sendiri sambil beristighfar.


"Astaghfirullah.." ucap para warga yang serius mendengarkan dia bercerita.


"Emang dijalan mana Ibu lewat tadi?" tanya salah satu tetangga Ardian.


"Disitu, dekat musholla.." jawab ibu tadi.


"Yang ada pohon Belimbing yah?" tanya lagi yang lain.


Ibu itu mengangguk lemah, sepertinya dia benar-benar kelelahan habis berlari kencang tadi. Dia meneguk habis air minumnya.


"Ya Allah, padahal deket musholla yah.. Kok demitnya berani banget," ucap ibu-ibu yang lain.


"Mau itu tempat ibadah atau bukan, demit ada dimana aja, Bu. Yang penting jaga saja keimanan dan keteguhan hati kita.." ucap yang lain.


"Kalau malam jangan lewat sana deh, ngeri! Jadi takut saya.." ujar yang lain.


"Tapi itu demit datangnya sama ibu ini dari tempat lain, gak ada hubungannya dengan tempat kita ini!" ucap pak Adam.


"Memangnya Ibu bekerja dimana, Bu? Ketemu sama demitnya dimana?" kali ini Ardian juga ikut nimbrung.


"Saya kerja di rumah majikan saya di jalan X, deket ruko-ruko yang baru dibangun itu loh! Baru sebulan, majikan saya juga baik dan loyal sama saya, tapi baru aja sebentar kerja, masa mau berhenti perkara digangguin demit sih?!" ucap ibu itu ngenes.


"Kasihan, emang gak bisa nginep aja Bu?" tanya istri pak Adam.


"Saya gak bisa, suami saya tinggal sendirian di rumah, gak ada yang urus, kalau siang kan ada anak dan mantu bisa jagain, kalau malam mereka juga harus balik ke rumahnya.." ucap ibu itu.


Mereka hanya melihatnya iba saja, mereka juga gak tau harus berbuat apa, sedangkan mereka sendiri masing bingung dengan semua ini.


"Ibu pulang ke kampung sebelah yah, ya udah saya antar saja kalau begitu. Ini sudah malam banget, kasihan sama bapak pasti nungguin ibu.." ucap Ardian berinsiatif.


"Beneran ini, Nak? Mau nganterin Ibu pulang? Lumayan jauh loh!" ucap ibu itu gak percaya.


"Beneran.." ucap Ardian tersenyum ramah.


"Syukur alhamdulilah, akhirnya ada juga yang mau nganterin ibu pulang, makasih ya Nak.." ucap ibu itu terharu.


"Ya udah, saya mau ambil motor dulu ya Bu.." ucap Ardian setelah itu pulang mau mengambil motornya.


Setelah itu Ardian datang dengan motor sportnya, membuat ibu itu kebingungan bagaimana caranya naik, untungnya ada ibu-ibu yang lain mau membantunya naik, sehingga membuat semuanya berjalan dengan lancar.


Setelah Ardian pergi meninggalkan tempat itu, semua warga juga membubarkan diri, tapi tidak dengan pak Adam dan Istrinya, mereka terlihat cemas.


"Pak.." panggil istrinya.


"Tidak mungkin dia.." gumam pak Adam.


Setelah itu mereka masuk kedalam rumah mereka, Kevin dan Maurice sedari tadi diam memperhatikan mereka jadi bingung dengan kelakuan mereka.


"Ada apa?" tanya Maurice heran.


"Gak tau, sudah gak usah dipikirkan, sebaiknya kita tak perlu ikut campur urusan orang lain jika bukan menyangkut keselamatan dan kemaslahatan umat banyak.." ucap Kevin, dia semenjak mualaf dan menikah, berangsur-angsur sifatnya semakin dewasa.


Setelah itu mereka pun masuk kedalam rumah dan menguncinya, mereka juga ada sedikit rasa kekhawatiran dengan cerita si ibu tadi.


Sementara diperjalanan pulang, ibu itu terus bercerita tiada henti tentang pengalamannya bekerja di berbagai tempat, sampai tentang suaminya yang sakit-sakitan, anak perempuannya yang bekerja sebagai TKW di negeri Jiran, hingga kekagumannya terhadap ketampanan dan kebaikan Ardian pun tak luput dari ucapannya.


"Rumah ibu ada didepan pohon mangga itu, Nak!" ucapnya.


Setelah mengantarkan ibu itu pulang, Ardian langsung pamit padahal ibu itu hendak menyuruhnya masuk ke rumahnya dulu dan mengobrol sebentar lagi.


Tapi Ardian cukup pandai beralasan untuk segera pulang, kalau tidak dia gak tau harus tertahan berapa lama sama ibu itu.


"Permisi, Bu.." pamitnya langsung pulang.


Dia melajukan motornya menuju rumahnya kembali, dia sempat berpikir untuk melewati jalan disebut ibu tadi, dia penasaran dengan makhluk yang membuat ibu tadi ketakutan.


"Sebaiknya aku buktikan saja langsung.." gumamnya.


Dia berjalan sedikit memutar agar bisa melewati jalan yang disampingnya Musholla, dia tak merasakan apapun atau keanehan lainnya, dia melihat ada sebuah energi cukup besar dan bercahaya terang keluar dari musholla itu.


"Assalamualaikum, Kek.." sapa Ardian sopan.


"Wa'alaikumsalam anak muda.." jawab sosok bercahaya itu.


"Maaf, Kek. Mau nanya.." ujar Ardian sedikit segan dan sungkan kepadanya.


"Perihal makhluk tadi? Sudah aku usir, kedatangannya merusak ketenangan dan ketenteraman daerah sini, dia bisa saja mengganggu dan menakuti orang-orang kalau dibiarkan saja.


Aku tak ingin kehadirannya malah membuat semua orang jadi enggan dan takut datang ke musholla untuk beribadah, maka aku usir dia. Jangan tanya kemana, karena aku juga gak tau.." ucap makhluk bercahaya itu lalu kembali masuk kedalam musholla.


"Hebat, aku belum selesai bertanya dan menjawab dia sudah tau semua, baik. Terima kasih, Kek.. Permisi!" pamit Ardian lagi.


Dia pulang ke rumahnya dengan berbagai pertanyaan, darimana berasalnya makhluk itu? Kenapa tiba-tiba dia datang ke kampung mereka? Apa yang terjadi sebenarnya?


......................


Bersambung