RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Makan Malam Yang Aneh


Maura dan Maurice bangunnya terlambat, hampir saja mereka melewati senja waktu tidurnya jika tak mendengar suara ketukan pintu berulangkali dari balik pintu kamarnya.


"Emmfh, siapa sih mengetuk pintu seperti itu?!" ucap Maura saat baru bangun, suara seraknya begitu berat.


Dia membuka pintu itu dengan malasnya, ketika pintu itu terbuka dia dikejutkan oleh muka masam Nala, Nayra dan ada Kevin juga di sana.


"Masih hidup kau! Aku pikir sudah mati, tidur macam beruang hibernasi saja! Bangun, waktu hampir mendekati magrib. Mau tidur bareng setan lu?!" ucap Nayra ketus.


Maura langsung melihat jam tangannya dan melihat jam hampir mendekati pukul 6 sore, waktu magrib di daerah setempat.


"Astaga! Aku kira masih siang, Maurice, Maurice! Bangun!" teriak Maura membangunkan sahabatnya itu.


"Apa sih, May?! Sebentar, dikit lagi" jawab malas Maurice, dia semakin erat memeluk gulingnya.


"Ya ampun, sebentar lagi waktu senja datang! Pamali kalau tidur diwaktu itu" ucap Maura sambil terus menggoyangkan tubuh Maurice.


Sedangkan tiga orang yang diluar hanya melihat mereka sambil menggelengkan kepalanya.


"Dasar orang luar, gak punya adab!" ucap Nala ketus.


Lalu dia dan Nayra pergi meninggalkan mereka di sana, sedangkan Kevin masuk ke kamar itu dan ikut membangunkan Maurice.


"Maurice, bangun! Tak enak dengan orang-orang di rumah ini" ucap Kevin juga.


Maurice pun sama terkejutnya dengan Maura, ketika bangun hari sudah mulai gelap. Mereka buru-buru membereskan tempat tidurnya dan menutup jendela dan menyalakan lampu kamar itu.


"Kevin, tunggu kami diluar. Kami mau mandi dulu" ucap Maura.


Kevin pun keluar menyusul Nala dan Nayra, mereka sedang berkumpul di ruang tamu. Dilihatnya ada beberapa anggota keluarga itu sedang berkumpul, sebagian adalah anak-anak remaja yang masih muda.


Sepertinya mereka ini merupakan sebagian anggota termuda di rumah ini, entah mereka ini anak ataupun cucu dari orang-orang dewasa di rumah ini.


"Hai, duduk sini" seorang gadis remaja berumur tidak jauh dari Kevin menyapanya.


Kevin pun menghampirinya, dia berusaha seramah dan sebaik mungkin didepan anggota keluarga itu, bagaimanapun juga dia harus menjaga nama baik Maura.


"Hai, aku Shalimar. Anaknya bu Sinta" ujar gadis itu mengulurkan tangannya.


Dia terlihat lebih ramah dan baik penyambutannya dibandingkan Nala dan Nayra.


"Hai, aku Kevin. Temanya Maura" ucapnya menyambut uluran tangan gadis itu.


Dia seperti merasakan sedikit sengatan ditelapak tangannya saat menyentuh tangan gadis itu.


"Hem, rupanya dia berusaha menarik perhatian diriku" gumam Kevin sambil tersenyum penuh arti.


Gadis itu sedikit terpana melihat senyumannya, dia semakin salah tingkah saat Kevin berusaha duduk di dekatnya.


"Jadi, kau juga akan tinggal disini bersama Maura disini?" tanya Shalimar sambil merubah sedikit posisi duduknya.


"Tidak, hanya malam ini saja kami menginap. Besok pagi kami harus mendaftar ke kampus kami yang baru, setelah itu kami akan menemui ketua asrama untuk mempersiapkan kamar kami yang ada di sana" ucap Kevin menjelaskan semuanya.


"Kami? Kamu sama siapa?" tanya Shalimar penasaran, karena Kevin berulang kali menyebut kata 'kami' tadi.


"Oh, maksudnya aku dan Maurice. Dia juga temanku dan Maura, ah! Itu dia mereka" ucap Kevin, kebetulan Maura dan Maurice datang menemui mereka.


Seketika ekspresi wajah Shalimar berubah ketika melihat kedatangan mereka, dia hanya mendengar cerita saja dari adik-adik sepupunya kalau Maura dan temannya yang wanita sangat cantik.


Dan sekarang dia telah melihatnya langsung, ketika mereka menyapanya dia hanya membalas dengan senyuman sinis.


"Aku pikir secantik apa, ternyata lebih cantik kan aku!" gumamnya dalam hati, dia tak terima kalau mereka berdua menyaingi kecantikannya.


Khusus untuk Maura, kau boleh makan bersama kami. Dan teman-temannya nanti makan bersama dengan yang lain" ucap bu Sinta.


"Ish, Mama! Maura kan usianya belum cukup untuk bisa makan bersama para tetua, jika dia bisa akupun juga bisa kan?" ucap Shalimar tak terima.


"Diam, ini atas permintaan nenek! Kamu gak boleh ngebantah kalau tidak mau kena hukum nenek! Ayo, Maura..." ucap bu Sinta.


Dia begitu tegas kepada anak-anaknya tapi ketika berbicara dengan Maura ekspresi wajah dan sikapnya langsung berubah lembut.


Maura diajak kesebuah ruangan yang cukup besar, didalam ruangan itu memiliki beberapa furniture kuno dan ornamen-ornamen yang cukup aneh menurutnya. Ditengah ruangan itu ada meja makan yang cukup besar dan panjang memiliki kursi 13 kursi, dua kursi terlihat kosong.


Ternyata semua anggota keluarga yang dituakan sudah berkumpul untuk menikmati makan malam, mereka belum menyentuh makanan mereka sama sekali, mungkin sedang menunggu kedatangannya.


"Kamu duduk disebelah sana yah, sebelum makan kita tunggu nenek datang baru kita makan" ujar bu Sinta.


Ternyata dua kursi kosong itu untuknya dan si nenek, Maura duduk di kursi kosong paling ujung. Dia melihat orang-orang yang ada di sana, ekspresi wajah mereka begitu datar dan kurang bersahabat dengannya, kecuali saudara-saudara ayahnya saja yang terlihat begitu ramah.


"Ehem!" si Nenek keluar dari sebuah ruangan disebelah ruang makan itu.


Maura tak pernah tahu jika ruang makan itu juga terhubung dengan ruangan lain, karena nenek masuk dari pintu lain yang berbeda dengannya.


"Sebelum acara makan dimulai aku ingin memperkenalkan kepada kalian semua yang ada disini, di ujung kursi sana itu adalah cucuku.


Namanya Maura Hartawijaya, cucuku yang lain. Dia selama ini tinggal bersama ayahnya diluar negeri bersama keluarganya, sekarang dia datang untuk bersekolah disini.


Aku harap kedatangannya bisa merubah keadaan kita, tradisi adat istiadat kita bisa tetap bertahan sampai ke anak cucu kita sampai seterusnya!


Anak itu satu-satunya jadi harapan kita sebagai penerus selanjutnya, jaga dia, layani dia dengan baik, buat dia nyaman senyaman mungkin.


Baiklah, aku rasa pengenalan cukup, aku tak menerima kritikan atau saran apapun, keputusanku sudah bulat. Aku ingin kalian semua menerima keputusanku ini!


Mari kita makan" ucap si nenek mengakhiri sedikit pidatonya.


Semuanya nampak begitu patuh dan menurut kepadanya, tak ada satupun dari mereka yang protes ataupun sekedar menyampaikan pendapat.


Sedangkan Maura masih terlihat bingung dengan semua ini, dia sedikit kesulitan mencerna ucapan neneknya tadi. Apa maksudnya tadi, penerusnya? Mempertahankan adat tradisi mereka yang masih bertahan sampai sekarang? Merubah hidup mereka?


"Apa yang kau pikirkan?! Makan sana, suka tak suka kau harus makan!" bentak sang nenek membuyarkan lamunannya.


"I-iya, Nek" jawabnya gugup.


Dia makan dengan tak tenang, pikirannya bercampur aduk. Padahal misinya datang kesana untuk memberantas sekte sesat ilmu hitam yang dipraktekkan oleh keluarganya turun temurun dari para leluhur dan nenek moyangnya.


Gara-gara itu dia harus kehilangan mamanya, hubungan kakaknya Tari dengan papanya hampir hancur, dan sekarang keluarganya harus berurusan dengan dunia pergaiban bahkan teman-temannya ikut terseret oleh permasalahan itu.


Dan sekarang nenek dan seluruh keluarganya menginginkan dia meneruskan tahtanya sebagai tetua sekte itu? Apakah Maura akan terpengaruh atau tidak?


Sedangkan di ruang tamu, Kevin dan Maurice tengah diintrogasi oleh saudara-saudara sepupu Maura.


"Jadi kalian berdua sahabatnya Maura, ikut datang kemari agar bisa satu sekolah? Wow, persahabatan kalian penuh haru" ucap Shalimar seperti mengejeknya.


"Wah, aku iri dengan kalian. Aku tak memiliki teman yang seperti itu" sahut salah satu saudaranya yang lain.


"Yah, seperti itulah pertemanan kami" jawab Kevin masih ramah, dalam hatinya kesal sekali ditanya-tanya seperti itu.


Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk mereka bertiga.


......................


Bersambung