RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Kisah Julian 2


Panglima memerintahkan prajuritnya untuk menguburkan mayat tersebut, yang diketahui bahwa mayat tersebut ayah dari pemuda itu tadi.


Dia tidak menyangka bahwa ayahnya selama ini sudah meninggal dan mereka tidak mengetahui, yang menyakitkan beliau meninggal dalam keadaan menderita.


Berusaha mengutamakan keluarganya, menahan rasa laparnya. Dan menunaikan rasa tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga.


Meninggal dalam keadaan kelaparan dan halusinasi akut, memeluk batu dikiranya anaknya yang paling kecil.


"Aku sama sekali tidak tahu, sepatutnya aku curiga ketika dia pamitan mau ke hutan untuk berburu. Beliau memintaku untuk tidak menyusulnya, meminta kami terus menunggunya.


Aku harus apa nanti, apa yang harus aku katakan pada ibuku nanti. Sekarang mereka jadi tanggung jawabku.


Aku harus memberi makan apa pada keluargaku nanti" katanya terisak, panglima dan para prajurit itu merasa iba padanya.


Mereka mengantar pemuda itu pulang, dan memberi sedikit bahan makanan dan pakaian layak pada mereka.


Ada keinginan untuk membawanya dan menjadikannya prajurit, tetapi pemuda itu terlalu kurus dan lemah sekali. Tidak bisa dijadikan prajurit kerajaan.


Saat mereka sedang bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan, pemuda itu menemui mereka.


"Apa yang kau lakukan disini, kami tak ada makanan lebih lagi" ujar prajurit bertubuh tambun bagian penyiapan makanan.


"Aku kesini tidak meminta makanan, dan bukan untuk mencuri" kata pemuda itu dengan jelas.


"Terus apa maksud dari kedatanganmu kesini?" kata prajurit itu curiga.


"Aku datang ingin menemui panglima!" ujarnya dengan lantang.


"Apa?! Haha! Kamu lucu sekali, kamu pikir mudah bertemu dengannya. Kau jangan ngelunjak yah, mentang-mentang dibantu sekali maunya dibantu lagi!" ujar prajurit itu lagi.


"Maaf jika aku lancang, tapi aku mohon padamu izinkan aku bertemu dengannya..." pemuda itu memohon.


Sekumpulan prajurit datang melewati mereka, mereka berhenti sebentar memperhatikan percakapan itu.


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut disini?" tanya salah satu prajurit yang di sana.


"Lihat pemuda ini, katanya ingin bertemu dengan panglima. Ada saja-saja kelakuannya" kata prajurit tambun itu.


Yang dibicarakan datang tiba-tiba, panglima hendak mencari sesuatu di sana dan mendengarkan percakapan mereka.


Lalu dia menghampiri mereka semua, dan menegur prajurit tambun itu agar bersikap sopan pada siapapun.


Tidak peduli dia siapa, selagi dia masih bersikap sopan dan baik, maka hargailah dia meskipun kita tidak mampu mengabulkan permintaannya.


"Anak muda, apa maumu datang kesini? Katakan sebenarnya tujuanmu datang kemari?" ujar panglima penuh selidik.


"Tuanku, izinkan hamba ikut mengabdi kepada kerajaan. Setidaknya biarkan aku membantumu" ujar pemuda itu langsung pada intinya.


Dia tahu tidak ada gunanya berbasa basi dengannya, karena panglima tidak suka dengan orang yang berbicara berbelat-belit.


"Aku tidak bisa membantumu, tak ada kerjaan yang sesuai untukmu. Disini semua orang sudah memiliki tugasnya masing-masing.


Apa yang bisa aku berikan untukmu, tidak ada tempat untukmu disini" ucap panglima.


"Tuan, izinkan aku ikut dengan kalian. Biarkan aku melayanimu. Anggap saja ini bentuk tanda terima kasihku atas bantuan Tuan selama disini" ujar pemuda bersikeras.


"Apa kau tak kasihan meninggalkan ibu dan adik-adikmu sendirian di desa terpencil ini? Dan disini juga tidak ada apa-apa.


Apa kau tidak memikirkan nasib mereka kelak?" tanya panglima lagi.


"Mereka sudah mengungsikan diri ke desa sebelah, katanya ada pejabat desa yang kaya raya di sana yang mau menerima penduduk di desa ini.


Mereka akan dibantu dan diberikan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup, Tuan" jawab pemuda itu.


Dia tidak tahu bahwa pejabat dari desa itu atas suruhan panglima dan sudah dibantu juga oleh kerajaan.


Dan kenapa panglima tidak memberi bantuan langsung ke penduduk di desa itu langsung? Karena di sana tidak ada tempat atau tanah yang subur lagi.


Tanah kering, sumur dan sungai hampir mengering. Tidak ada tempat lagi untuk memulai bertani atau berternak dan membuat tambak ikan.


"Terus, kenapa kau tak ikut dengan mereka?" tanya panglima lagi.


"Karena aku dan ibuku sudah bertekad ingin membalas kebaikan Tuan dan kerajaan kepada kami. Dan aku yakin sekali, jika mendiang ayah masih hidup dia juga pasti akan melakukan hal yang sama" jawab pemuda itu, tetap dengan pendiriannya.


Panglima dan prajurit lainnya sangat takjub sekali dengan kegigihannya, meskipun badannya kecil dan kurus sepertinya dia memiliki kesetiaan yang luar biasa.


"Bagaimana menurut kalian, apa kita bawa saja dia sekalian?" kata panglima bertanya kepada para prajuritnya itu.


"Menurutku tidak salahnya menerimanya, Tuan. Kalau diperhatikan, dia tidak akan berhenti mengganggu sampai kita menerimanya.


Sedangkan kita tidak mempunyai banyak waktu, kita harus mengumpulkan banyak pemuda yang harus ikut jadi prajurit nantinya.


Bagaimana dengan yang lainnya setujukah dia ikut dengan kita?" ujar salah satu ketua prajurit yang di sana.


Semua prajurit mengangguk setuju, dan panglima juga tersenyum lega. Sebenarnya dia juga setuju, tapi harus juga mendengarkan pendapat prajurit yang lainnya.


"Baiklah, kau akan kami terima. Tapi kau tidak akan ikut menjadi prajurit kerajaan, kondisimu tidak memungkinkan." ujar panglima.


"Tidak apa, Tuanku. Jadi kuli panggul pun aku mau, yang penting izinkan aku mengabdikan hidupku padamu" sahut pemuda itu terlihat senang sekali.


"Baiklah, kau akan aku tugaskan untuk membantu prajurit gembul itu. Bantu dia dengan segala pekerjaannya, jangan mengeluh.


Ikut dengan kami tidak mudah, bisa saja ditengah jalan kita diserang penyamun, diserang binatang buas. Kau harus tahan dengan semuanya" titah sang panglima.


Pemuda itu senang bisa diikutsertakan dalam perjalanan mereka, dia tidak peduli dengan pekerjaannya yang penting tujuannya untuk mengabdi pada panglima terwujud.


Nama pemuda itu adalah Pangkur, nama yang unik dan penuh makna yang diberikan oleh orang tuanya.


Pangkur sekarang menjadi anak yatim, dia sulung dari 6 bersaudara. Dia meninggalkan ibu dan adik-adiknya untuk mengabdikan diri bersama panglima atau kerajaan nantinya.


Ibunya setuju dan malah beliau yang menyarankannya untuk mengabdi pada panglima tersebut, kalau bukan karena dia mungkin mereka akan kelaparan dan tidak tahu nasib suaminya itu.


Meskipun suaminya kembali dalam keadaan sudah tak bernyawa, paling tidak dia tahu keberadaan dan kenyataannya.


......................


Bersambung