RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Perangkap Diatas Perangkap


Hari semakin gelap, padahal baru pukul 5 sore sudah seperti mau senja saja. Hujan pun tak mau berhenti, cukup lama mereka berdiam diri dalam pondok kecil itu.


"Bagaimana ini, apakah kita terus lanjut apa masih mau menunggu lagi?" tanya Ardian.


"Ingin hati lanjut saja, karena ini sudah sore hari. Aku takut makin dimarahi oleh nenek, dan kamu tidak terlalu sore di jalan. Tapi hujan tak mau berhenti, malah semakin deras saja" ucap Maura.


"Aku juga bingung, jika memaksakan pergi nanti kita kebasahan lagi. Nanti kamu masuk angin lagi.." sahut Ardian.


Tapi ada pemandangan aneh bagi mereka, saat beberapa lama kemudian mereka melihat ada beberapa angkot lewat dan motor juga, tapi keadaan mereka biasa saja.


Mereka sama sekali tak basah kena hujan, padahal hujan sangat deras sekali. Ardian mencoba melongok keluar ingin memastikan keadaan, dan benar saja hujan masih mengguyur dengan derasnya.


"Ada yang aneh, apakah kita salah melihat atau kita sendiri yang ada yang salah" ujar Maura.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk nekat keluar dari pondok itu untuk berdiri dipinggir jalan, ajaibnya mereka tak merasakan ada air hujan yang menyentuh mereka. Jangankan kebasahan, merasakan dinginnya air pun tidak.


"Ternyata kita dikerjain dari tadi.." gumam Ardian geram.


Matanya berkeliling mencari sosok yang telah jahil kepada mereka sejak tadi, akhirnya matanya menangkap sosok bertubuh tinggi besar memiliki banyak bulu di sekujur tubuhnya, gigi taringnya yang besar mencuat keluar dari mulutnya.


Dia juga seperti memakai ikat kepala dari akar pohon dan tubuh bagian bawahnya hanya ditutupi kain jarik sampai atas pahanya saja.


"Haha! Akhirnya aku ketahuan juga, haha!" ujar makhluk itu tertawa mengerikan.


Dia tertawa terbahak-bahak sampai seluruh tubuhnya terguncang, membuat sekitarnya juga ikut terguncang. Pepohonan bergoyang-goyang seolah-olah ditiup angin kencang, padahal ulah makhluk itu.


"Apa yang kau lakukan, makhluk jelek?! Kau tahu ini sudah sore, aku bisa pulang kemalaman ini!" teriak Ardian kesal.


"Dasar manusia, tidak tahu terima kasih! Aku ini sedang membantumu agar bisa mendekati gadis itu, bodoh!" ujar makhluk itu membalas kemarahan Ardian.


"Kau tak perlu repot-repot ingin membantu, aku bisa sendiri! Lagian kami sudah cukup dekat kok!" jawab Ardian lagi.


Ardian dan Maura menatap Makhluk dari bawah kakinya, karena makhluk itu begitu tinggi dan besar. Setinggi pohon kelapa dan badannya besar seperti pohon beringin tua.


Posisi makhluk itu berada ditengah pohon kelapa dan beringin juga, tepat dibelakang pondok itu. Tadinya tubuhnya mengecil dan mampu bersembunyi dari mereka, setelah ketahuan dia langsung berubah wujud kebentuk aslinya.


"Aku tahu soal itu, tapi aku akan membantu hasratmu yang terpendam itu. Ayo, lakukan disini.. Maka, aku bisa menikmati semua amal baikmu yang luntur akibat perbuatan zina, haha!


Ayo, manusia! Kalian takkan bisa menahan hawa naf.sumu itu, aku bisa menikmatinya juga, haha!" ujar makhluk gaib itu sambil tertawa menggelegar.


"Jangan aneh-aneh deh, kami tak punya waktu untuk meladenimu! Ayo, Maura... Kita pulang saja, agar kita sama-sama tak pulang kemalaman" ujar Ardian mengabaikan makhluk itu.


Merasa dirinya diabaikan, makhluk itu melakukan rencana jahatnya. Dia membaca mantra dan meniupkan telapak tangannya kearah keduanya, dari balik telapak tangan makhluk itu ada sesuatu seperti serbuk sari berwarna kuning menuju kearah mereka.


Siapapun yang berada tidak jauh dari sana jika terkena sedikit dari serpihan bubuk itu, maka akan terkena dampaknya.


Sudah banyak orang yang menjadi korbannya, makanya orang sering menyebutkan pondok tadi itu dengan sebutan pondok bercinta, dan orang-orang lain yang tak termasuk targetnya bisa jadi melakukannya dibalik hutan itu.


"Akh, sialan! Apa yang kau lakukan jin mesum!!" teriak Ardian saat dirinya tak sengaja menghirup bubuk itu.


Maura dari tadi hanya diam mengamati langsung sadar dan menutupi wajahnya, tapi partikel-partikel bubuk itu begitu halus sehingga berhasil masuk sedikit di hidungnya.


"Uhuck, uhuk!" diapun sampai terbatuk-batuk menghirup serbuk itu.


"Ayo, Maura! Kita pergi!" teriak Ardian.


Dia merasa sekarang situasi tidak aman untuk keduanya, dia melajukan motor sportnya dengan kencang agar tak dapat dikejar oleh makhluk tadi.


Sebenarnya apa yang dia lakukan itu sia-sia, karena makhluk itu sudah berhasil menyebarkan racunnya.


Karena Ardian membawa motornya kencang, mau gak mau Maura memeluk pinggangnya dengan kencang. Menyadari ada kontak fisik diantara mereka, keduanya nampak menegang.


"Ma-Maura, bi-bisakah kau menggeser sedikit" pinta Ardian gugup.


Maura sedikit menjauh dari tubuh Ardian, dia hanya berpegangan jaketnya saja. Ardian nampak gugup sekali, dadanya berdebar kencang. Sesuatu yang lunak menempel dibelakangnya tadi.


Dia juga sempat menghirup aroma wangi tubuh Maura, hingga sedikit menaikkan gairah lelakinya. Tapi dia berusaha menekan perasaan itu, dia tahu itu semua adalah godaan baginya.


Begitupun juga dengan Maura, ketika tak sengaja memeluk pinggang lelaki itu. Dia menghirup aroma tubuh Ardian yang begitu maskulin, wajah tampan yang terlihat dari samping itu sangat menggoda.


"Tahan, Maura! Tahan!" pekiknya dalam hati.


Karena pikirannya tak fokus, dengan motor yang melaju cukup kencang dia hampir saja adu banteng dengan mobil melaju dari arah berlawanan dengannya.


"Hoi! Ingin mati yah?!!" teriak bapak-bapak yang membawa mobilnya itu kesal.


"Maaf, Pak. Jalannya licin" ujar Ardian beralasan.


"Lain kali fokus kau!" ujar bapak itu seraya meninggalkan mereka.


Kini tinggallah mereka berdua sempat berhenti dipinggir jalan tadi, tangan Ardian gemetar ingin menstarter motornya karena 'adik kecilnya' berdenyut- denyut mengeras, karena Maura tak sengaja memegangnya.


"Apa yang aku lakukan?! Dasar bodoh, lepaskan tanganmu ini!" teriak Maura dalam hati, menyesali kecerobohannya.


Saat hampir kecelakaan tadi, kedua tangan Maura yang berpegangan diujung jaket Ardian tiba-tiba meluncur maju karena hentakan rem mendadak tadi.


"Sssh... Ahhh" Ardian tak tahan, akhirnya dia mendes.ah juga.


Maura sadar situasi seperti ini akan membuat mereka dalam berbahaya, dia menepuk bahu Ardian untuk menyadarkannya.


"Ardian, ke-kenapa melamun? Ayo, jalan!" ucapnya seolah tak tahu apapun.


"Akh! Ma-maaf!" ujar Ardian gelagapan seperti habis kepergok saja.


Keduanya meluncur kearah perbukitan tempat rumah nenek Maura tinggal, sambil berusaha menahan perasaan mereka masing-masing.


"Mereka hebat sekali, bisa menahannya. Kalau manusia lain sudah pasti sudah ajep-ajep itu!" ujar Sekolompok makhluk berbentuk gorilla mengawasi mereka tadi.


"Tentu saja, karena mereka bukan manusia biasa. Kalian bisa lihat tadi, keduanya memiliki aura yang sangat berbeda dengan manusia lainnya" sahut temannya yang lain.


Mereka hanya berani mengawasi mereka dari jauh, karena kedua manusia itu memiliki penjaga yang sangat kuat.


Sesampai dihalaman rumah nenek Maura, keduanya sempat berhenti sebentar sebelum turun dari motor itu, untuk menetralisir racun ditubuh mereka yang semakin bergejolak.


"Terima kasih, Ardian. Maaf aku masuk dulu, lain kali kamu mampir yah" ujar Maura tersenyum manis.


Melihat senyuman Maura, Ardian semakin tak bisa menahan hasratnya. Bagi Maura senyumannya itu, senyuman biasa. Tapi bagi Ardian itu senyuman yang sangat menggodanya.


Ketika Maura ingin berbalik, Ardian mencekal tangannya. Dia langsung memeluk gadis itu, tentu saja itu sangat mengagetkan Maura, dia takut orang-orang di rumah itu melihatnya bersama Ardian.


"A-apa yang kau lakukan?! Lepaskan, Ardian!" bentak Maura.


"Biarkan seperti ini untuk sementara waktu, aku mohon... Aku butuh dirimu untuk menenangkan diriku" ucap Ardian hanyut dalam pelukannya pada Maura.


Dia hampir saja kehilangan kesadaran, kalau tidak Maura memukul badannya. Karena Maura bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal dibawahnya, dia tahu 'adik kecil' milik Ardian dari tadi sudah bangun.


"Sadarlah, kau harus menahannya! Kalau kau tak tahan lagi, nikahi saja aku sekarang!" bisik Maura.


Mendengar hal itu Ardian tahu resikonya, dia datang ke negeri asing ini untuk mencari ilmu. Baik itu ilmu pendidikan dan juga ilmu gaib, bukannya menikahi anak orang dengan cara seperti itu.


"Maafkan aku, aku khilaf.." ujarnya pelan seraya meninggalkan Maura berdiam diri di sana.


"Maafkan aku, Ardian. Akupun merasakan apa yang kau rasakan, tapi kita harus menahan semuanya.. Karena kita tahu bahwa ini salah" gumam Maura sambil masuk ke kamarnya.


Sementara itu, Ardian pulang dengan perasaan malu. Dia tahu betul sikapnya tadi sedikit kurang ajar, dengan menahan rasa sakit dibawahnya karena dia tekan terus agar tak bangun, dia berhenti sejenak untuk membetulkan posisi 'adik kecil' itu.


"Kau lihat manusia dibawah sana, goda dia! Dia sudah kena ajian gurah birah.iku, aku yakin nafs.unya sudah di ubun-ubun, dia takkan bisa menahan godaan saat melihat gadis cantik sepertimu" ujar Makhluk tinggi besar tadi.


Sosok anak manusia yang bersekutu dengan jin itu menuju kearah Ardian berada, dengan berlenggak-lenggok dia berjalan menuju Ardian, dengan tubuh putih mulus, seksi dan berbadan sintal menggodanya.


"Bang, ada apa? Ada yang bisa adek bantu.." ujar suara lembut mendayu itu merayu Ardian.


"Kau siapa? Kenapa senja-senja seperti ini kau berada ditepi hutan?" tanya Ardian heran.


"Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini? Aku lihat kau sengaja berhenti disini.." gadis itu tersenyum manis kearah Ardian.


Dengan pakaian sedikit terbuka kerahnya, juga beberapa kancing baju depannya terbuka, sedikit menonjolkan buah dadanya yang ranum dan montok itu, membuat Ardian menelan salivanya kasar.


"Sialan, dalam keadaan seperti ini malah ada godaan macam ini! Kalau bukan karena ajian jin laknat tadi, aku mana mau meladeni wanita ini!


Ah, kenapa aku tak bisa mengendalikan perasaan ini!" teriaknya dalam hati. Gadis itu juga hanya memakai hot pant yang menampilkan paha putih mulusnya.


Bagaimanapun juga Ardian adalah lelaki normal, apalagi sekarang dia dalam pengaruh ajian itu, dia tak bisa menahan ataupun mengendalikan tubuhnya.


Secara naluriah dia mengikuti gadis itu menuju pondok tempat dia dan Maura beristirahat tadi, dia tak sadar sedang berhenti di sana tadi.


"Bang, istirahat sebentar disini yah.. Rumahku dibalik hutan ini, kau kalau mau boleh main sebentar.." ujar gadis itu berusaha menggoda Ardian.


Dia mendekatkan diri duduk disamping Ardian, dan mulai menyentuh sisi sensitif Ardian, tentu saja itu sangat mengagetkan lelaki itu. Bagaimana bisa seorang gadis yang baru dikenal begitu berani dengan seorang lelaki yang bisa saja mencelakainya.


"Ssh, ahhh!... Hentikan, a-aku... Aku jadi, jadi tak tahaaannn... Aahh!" Ardian tak bisa menahan naf,sunya lagi.


Dia langsung menubruk tubuh gadis itu dan menekannya dalam, sambil memeluknya erat. Gadis dan jin laknat tadi tersenyum puas, akhirnya mereka bisa menjebak dirinya.


"Kau pikir bisa menjebak ku apa??! Lihat dulu kemampuanmu itu!" ujar lelaki yang memeluk wanita itu.


Tentu saja wanita itu heran kenapa lelaki itu bisa berkata seperti itu, ketika dia sedikit mendorong tubuh Ardian betapa terkejutnya dia melihat didepannya itu yang sedang memeluknya dengan erat ternyata sosok bertubuh besar berbulu.


"Hehe! Mau bercinta denganku, Nona? Hihi!" ujar makhluk itu.


"A-apa?! Tidak! Lepaskan!" teriak wanita itu ketakutan karena dipeluk sosok makhluk mirip genderuwo.


Dan itu juga mengagetkan makhluk yang bersama wanita tadi, bagaimana bisa dia tak menyadari ada sosok lain di sana? Dan kemana lelaki yang dia goda tadi?


Mereka tidak tahu bahwa sebenarnya tadi adalah Rosario yang sedang menyamar menjadi Ardian untuk menangkap basah mereka.


......................


Bersambung