
Maura celingukan mencari sumber suara, tidak ditemukan siapapun didekatnya, padahal suaranya sangat dekat dengannya. Ketika dia berbalik lagi berjalan ke depan tiba-tiba dia dikejutkan oleh seorang nenek duduk berjongkok didepannya.
"Astaghfirullah, nenek! Bikin kaget saja, ngapain jongkok di sana?" tanya Maura gusar.
"Mau ikut..," kata nenek itu sambil menatapnya sendu.
"Maaf ya, Nek.. Saya mau pergi ke rumah teman saya, bukannya mau main.." ucap Maura sambil berlalu.
"Gak apa, aku mau ikut.." ujar si nenek ngotot.
"Nek, maaf sekali lagi gak bisa.." ucap Maura lagi dengan sabarnya.
"Pokoknya aku mau ikut!!" bentak nenek itu sambil melotot kearahnya.
Tiba-tiba posisi tubuhnya berubah, dirinya tadi yang sedang jongkok menghadap kearahnya langsung berdiri tegap, sekilas badannya saat jongkok tadi sepertinya kecil dan kurus dan badannya sedikit bongkok.
Tapi sangat berbeda saat dia berdiri, badannya sedikit berisi dengan tinggi badan melebihi pohon rambutan didepan kostannya Maura. Rambutnya panjang kusut masai dengan uban penuh di seluruh rambutnya.
Wajahnya penuh keriput dengan mata merah menyala menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang menghitam itu, hidungnya panjang lancip dengan kuku-kuku panjang lancip menghitam.
"Astagfirullah, Baba Yaga! Apa yang kau lakukan disini?! Jangan sekali-kali kau mengganggu kehidupan manusia lagi, tidak ada lagi anak-anak untuk kau mangsa disini!" bentak Maura murka.
Ada sedikit rasa takutnya menghadapi salah satu penyihir terkenal di dunia ini, salah satu penyihir terkejam yang pernah ada, dia hidup dengan memakan anak kecil dan mengisap jiwa anak-anak tak berdosa.
Dan sekarang dia ada disini, itulah yang membuat Maura takut, dia tak ingin berurusan dengannya, meskipun dia memiliki tujuan untuk memberantas penyihir, tapi untuk melawannya butuh persiapan, karena menurutnya dia belum cukup mumpuni untuk melawan Baba Yaga sendirian.
"Hihihi! Betulkah? Tapi aku melihat begitu banyak anak-anak di sini, biasanya mereka suka bermain di taman ini, kenapa sekarang sepi sekali yah?
Hihihi! Aku sudah merindukan rasa manisnya tubuh mereka, darah segar dari jiwa-jiwa yang masih suci itu memberiku kekuatan besar, hihi!" ucap Baba Yaga sambil bergerak maju kearah Maura.
"Mundur! Aku takkan membiarkanmu melakukan semua itu, kau pasti tau siapa aku!" gertak Maura.
"Hihihi! Justru kedatanganku kesini untuk berkenalan denganmu, cantik. Ah, aku pikir kau ini masih anak-anak, ternyata sudah besar. Tapi tak apa, usiamu 19 tahun dan sebentar lagi 20 tahun, belum dewasa menurutku..
Apa rasanya daging manusia usia seperti itu? Masih lembut seperti anak-anak? Atau sudah keras seperti daging orang dewasa? Aku tak peduli! Setidaknya, aku bisa mencicipi daging salah satu pembasmi penyihir dimuka bumi ini, hihi!
Selain perutku kenyang, aku juga akan memiliki kekuatan besar dari menyantap tubuhmu itu, hemm.. Dari sini saja sudah tercium wanginya, sluurpp.." ujar Baba Yaga.
Dia berulang kali menjilat bibirnya menatap Maura buas, tiba-tiba datang dari sebelah kiri dan kanan Maura, sosok lain yang menghantam Baba Yaga.
Dhuaaarghh!
Sebuah letusan besar dari dua benda itu saat bersentuhan dengan Baba Yaga, dan itu bukan apa-apa baginya. Bagi Baba Yaga, mereka hanya makhluk kecil dan rendahan, setiap serangan mereka bagaikan gigitan semut kecil.
"Dewi, cepat pergi dari sini! Biarkan kami menghalanginya, setidaknya pergilah dari tempat ini, carilah perlindungan di keramaian, karena dia takkan berani mendekat jika banyak orang apalagi orang dewasa semuanya," ucap salah satu pengawal gaib Maura.
Begitu banyak pengawal gaib yang datang untuk melindunginya, karena mereka tau lawan mereka bukanlah lawan yang mudah, kemungkinan mereka akan hancur olehnya, tapi tugas dan misi mereka sekarang adalah untuk melindungi Dewi mereka.
Maura teringat dengan Ardian, dia berlari kesana apalagi di sana banyak orang dewasa yang sedang berkumpul, setidaknya dia aman, bukan apa-apa, kekuatan Baba Yaga tak berhasil dihadapan orang dewasa asalkan tak ada anak kecil di sana.
"Aku harus menghubungi Ardian, aduh ponselku mana?!" ujarnya kesal.
Dia berlari sambil mengacak isi tasnya untuk mencari ponselnya, tapi dia tak menemukannya. Karena kesal dia membuang satu persatu isi tasnya untuk mencari ponselnya, ketika ketemu, tiba-tiba..
Blaaarr!
Suara halilintar menggelegar mengagetkannya, dia terkejut dan menghentikan langkahnya. Dia memperhatikan langit malam yang nampak berbeda itu, langit malam yang bersih itu tiba-tiba penuh dengan Aurora, bagaikan berada ditengah kutub utara.
Maura memperhatikan sekelilingnya, dia masih berada ditempat tadi, dia belum pindah tempat, dia masih aman, pikirnya. Tapi pertarungan Baba Yaga dengan puluhan anak buah gaibnya masih berlangsung.
Baba Yaga melempar semua pengawal itu seperti sedang melempar kertas saja, diinjak, dipukul, bahkan ada yang dia gigit dan kunyah mereka, untuk melepaskan amarahnya.
Maura merasa ngeri dan bergidik saat betapa sadisnya dia melawan semua pengawalnya itu.
Karena niatnya malam ini dia mau kondangan, mau menghadiri acara tasyakuran Kevin dan Maurice, Maura memakai kebaya dengan kembennya, dilengkapi dengan kait songket khas Palembang dan untungnya dia memakai legging yang cukup panjang, jadi tak susah dia berlari, high heel yang dia pakai, dia lepas begitu saja agar mempermudah dirinya lari dari sana.
Rambutnya yang panjang dia gelung ke atas dan diselipkan dengan konde miliknya, dia berlari dan berteriak minta tolong, untuk memancing keributan agar semua orang dewasa keluar dari rumah mereka, agar bisa membantunya.
Anehnya, tak ada yang peduli dengan suara teriakannya, suasana lingkungan itu sepi dan hening seperti tak ada kehidupan, dan..
Bhaaamm!
Tiba-tiba saja ada Baba Yaga sudah berdiri didepannya, dengan penampilan yang lebih mengerikan, Maura menoleh kearah belakangnya, semua anak buahnya sudah tergeletak tak berdaya, bahkan beberapa dari mereka hancur tak berbentuk akibat mendapatkan serangan dari Baba Yaga.
"Kau yang memulai, kau yang mengajak perang denganku. Jangan salahkan aku jika aku menghancurkan sebagian kecil anak buahmu itu!!" ucap Baba Yaga lantang terhadapnya.
"Aku tak menantangmu! Kau yang menyerangku duluan, mereka datang sesuai insting karena tau aku dalam bahaya, mereka hanya ingin melindungiku!" sahut Maura.
Dia terkejut, lingkungan tempat tinggalnya tiba-tiba berubah menjadi hutan belantara yang sangat asing dengannya, begitu banyak pohon-pohon aneh berakar panjang, tanah berlumpur menggenangi kakinya.
Spontan Maura menarik kainnya dan melipatnya tinggi agar tak terkena lumpur, dan leggingnya juga sedikit tinggi diatas mata kaki jadi tak kotor, hanya bertelanjang kaki dia menginjak lumpur itu.
Dan benar saja, diarea itu semuanya berlumpur tak ada tanah kering sama sekali. Sedangkan Baba Yaga menggunakan tangannya yang sangat panjang itu untuk meraih Maura diatas pohon itu, tapi dengan lincahnya Maura menghindarinya, dia meloncat kebawah, dia tak peduli dengan lintah dan cacing yang keluar dari tanah berlumpur itu.
Tiba-tiba saja badan Maura terpental, ada angin kencang dari depannya hingga dia terjatuh dan terhempas di atas lumpur itu, Maura kesal dan marah, dia lepaskan kebayanya yang penuh lumpur itu, dia copot kondenya dan menancapkan nya kesalah satu pohon yang ada di sana.
Dia berlari keseberang pohonnya, dia bersembunyi dibalik pohon, dia menahan rasa geli dan jijik saat para lintah dan cacing merayap naik ke kakinya.
"Ggraaauuurrggghh!!"
Baba Yaga terlihat begitu marah dan murka, targetnya tak terlihat, dia celingukan mencari Maura diarea itu, sedikit lagi dia menemukan Maura karena dia menoleh kebalik pohon tempat Maura bersembunyi.
"satu.. Dua.. Tiga.. Tali emas, keluarlah!" ucapnya pelan.
Tiba-tiba saja konde yang tertancap di pohon seberang Maura berubah menjadi tali emas yang panjang langsung melesat kearah Maura menembus Baba Yaga, bagaikan tertusuk jarum kecil yang menyakitkan Baba Yaga menjerit kesakitan.
"Aarrghh! Sakit, lepaskan!" teriaknya.
Tali itu setipis benang, sekuat baja dan setajam pedang, dia menancap kuat ditubuh Baba Yaga, tepat di jantungnya, salah satu letak kelemahannya.
"Lepaskan aku, aku akan membiarkan kau pergi!" ucapnya lagi.
"Tidak, bukan aku yang pergi, tapi kau yang pergi. Ini bukan duniamu, kau sudah melewati batasmu, Baba Yaga!" ujar Maura murka sambil menarik tali itu semakin kuat.
"Apa?! Duniamu?! Hahaha!! Apa kau buta, anak muda! Lihat disekelilingmu ini, ini bukan di duniamu lagi, dan ini dunia ciptaanku, aku bisa melakukan apa saja disini! Dan kau takkan bisa pergi dari sini tanpa persetujuanku!" ucap Baba Yaga menyeringai.
"Kau yang menyeretku kesini! Dan kau masih tak sadar juga, bahwa kaulah dalam bahaya saat ini! jika aku mau, aku bisa mengubah tali ini menjadi senjata yang paling kau takutkan, maka kau akan hancur dan lenyap selamanya!" ucap Maura membalas gertakan Baba Yaga.
"Dasar kau licik, ggraaaugghh!!" ujar Baba Yaga murka.
Tangannya yang panjang itu ingin mencakar Maura dengan mengibaskannya, tapi dengan cekatan Maura menarik tali emasnya semakin panjang dan menjerat tangannya hingga putus.
"Aaakkhh! Tangankuuu, gggrrrhh!!" Baba Yaga menjerit kesakitan.
Maura menarik talinya yang masih terikat dengan pohon diseberangnya, hingga menembus jantung Baba Yaga makin kuat, sekarang dia merubah tali itu menjadi selendang yang sangat serupa dengan selendang kuning keemasan milik Dewi Srikandi.
Dengan kekuatannya yang semakin terasah dia mengibaskan selendangnya mengenai Baba Yaga, sehingga makhluk itu babak belur dibuatnya.
"Aku menggunakan benda ini dengan bijak, karena aku memiliki lawan yang sepadan dengan senjata ini, aku pikir aku tak dalam menyalahi aturan apapun.
Bismillah, dengan nama Allah aku akan menghukum mu dan akan membawamu ke Maharaja Balaputradewa, Allahu Akbar!" teriaknya.
Tiba-tiba saja selendang tadi berubah lagi menjadi panah yang anak panahnya terbuat dari emas dan ada talinya tak lepas dari busurnya.
Jraaatt!!
"Uugghh!!"
Anak panah itu melesat dengan kecepatan tinggi kembali menembus jantung sang penyihir, dan menariknya kembali dengan jantung yang terlepas dari tubuhnya.
Bhammm!
Tubuh Baba Yaga langsung terjatuh tertelungkup di atas tanah berlumpur itu, Maura berdiri diatasnya bukan karena sok jagoan tapi dia geli dan jijik dengan lintah dan cacing yang menggeliat keluar dari tanah berlumpur itu.
Tiba-tiba dia kedatangan ribuan pengawalnya, yang sedari tadi memperhatikan pertarungannya dengan Baba Yaga, mereka datang karena mendengar kedatangan Baba Yaga yang menyerang Maura, bahkan mereka sangat takjub melihat pimpinan mereka melawan Baba Yaga dengan hebatnya.
Mereka ingin membantu, tapi melihat Maura masih bisa mengatasinya hingga kemenangan itu ada padanya, Maura sama sekali tak menyangka aksinya tadi mengundang decak kagum dari mereka.
"Dia memang pantas disebut Dewi Perang.."
"Dewi Srikandi, memang pantas untuk gelarnya.."
"Dia adalah pemimpin kita.."
"Hidup Dewi!"
"Hidup"
Terdengar beberapa seruan dari mereka mengumandangkan nama Dewi Srikandi dari dirinya, Maura malu tapi dia teringat tugas selanjutnya.
Dia membawa Baba Yaga yang sudah lemah itu bersama jantungnya menuju dimensi dimana letak Kerajaan Bayangan berada, di sana juga letak sang raja berada, dan tempat Baba Yaga dikurung sebelum Neraka menyambutnya.
Maura terbang melayang sambil membopong tubuh Baba Yaga dengan satu tangan, sedangkan tangannya satu lagi memegangi jantungnya, sedangkan busur dan anak panahnya dia kaitkan ke lengannya kebelakang.
Dengan memakai kain songket dan kembennya, rambut panjang terurai tertiup angin membuatnya semakin bersinar dimata para pengawalnya itu.
Dialah dewi perang mereka yang sebenarnya, Dewi Srikandi.
......................
Bersambung