RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Sebuah Rencana


"Aku tak bisa mengendalikan diri, aku tidak tahu kenapa aku bisa melakukan hal itu. Selama ini aku bisa mengendalikan diri menahan perasaanku padanya, hanya sebatas suka aja.


Dan tidak ada niatan ingin melecehkan atau menyentuh tubuhnya, maafkan aku jika ini membuat kegaduhan. Bukan salahnya juga, aku yang terus memaksanya" ujar Ardian tertunduk malu.


"Aku tak ingin mendengar alasan atau pembelaan darimu, aku sudah lama menghindari hal ini. Menjauh dari keluargaku, membenci papa dan mengabaikan semuanya.


Tapi takdir tak bisa dihindari, kemanapun aku pergi, sejauh mana aku bersembunyi dia terus datang menghantuiku. Aku lelah dan memutuskan menghadapinya.


Aku butuh bantuan kalian semuanya untuk melawannya, hanya kalianlah yang bisa membantuku menyelesaikan misi ini, seharusnya dari dulu aku melakukannya.


Tapi aku terlalu takut menghadapinya sendirian, sekarang aku punya kalian semua untuk membantuku. Sebagai anak paling tua di rumah ini, seharusnya aku yang menjaga adik-adikku tapi aku malah bersembunyi sendiri.


Maafkan aku untuk semuanya..." ujar Tari dengan lembut, dia memandangi semua orang dengan senyumannya.


Semua orang sudah tau tentangnya, kecuali Maurice. Dia tidak pernah bertemu, hanya mendengar ceritanya saja lewat Maura.


Dia bisa tahu kenapa Maura begitu dingin dengan kakaknya itu, sikap dingin dan ketusnya menambah kesan galaknya.


"Maafkan aku Bi, Angga dan... Kamu Maura, kakak tahu kamu pasti membenci kakak" ujarnya pelan menatap Maura.


"Kak, aku-" baru saja Maura terharu dengan ucapan kakaknya itu, sudah dipotong pembicaraannya.


"Tapi bagaimanapun juga hukuman kalian tidak akan berkurang ataupun dibatalkan, kalian tetap akan pergi ke Indonesia setelah misi disini selesai" ujarnya kembali dingin.


"Sialan!" umpat Maura kesal.


Semua orang tahu sifatnya bagaimana, jadi wajar saja jika sifatnya gampang berubah. Jadi mereka tidak akan gampang terpengaruh oleh sikap lembutnya tadi, dan sepertinya Maura lupa dengan sifat kakaknya itu hingga berhasil dikerjain.


"Dengar anak-anak, Bibi dan Angga sudah tahu kedatangan Tari dan suaminya. Kedatangan mereka untuk menyambung silahturahmi dan melepas rindu yang sudah lama ditunggu.


Bibi sengaja mengumpulkan kalian karena permasalahan ini semakin melebar saja, kebetulan Ardian datang Bibi ingin mengenalkan dirinya kepada kalian sebagai keponakan Bibi" ujar bi Marni.


Dia berhenti sejenak, ingin menarik nafas dalam-dalam mengkondisikan hatinya. Maklum dengan bertambahnya umur, semakin susah mengatur detak jantungnya. Apalagi dikagetkan dengan berbagai hal masalah datang bersamaan.


"Dengar semuanya, rencana ini sudah diatur sudah lama dan sekarang waktunya kita bertindak. Karena kita tidak mungkin diam saja ketika masalah terus datang mengganggu.


Kini saatnya kita menyerang, selagi mereka masih lemah kita lawan saja. Jangan tunggu mereka mnyerang duluan" ucap bi Marni serius.


"Tapi, Bi... Kekuatan anak-anak ini belum sepenuhnya terkumpul dan aku yakin Maura juga belum siap" sahut Angga.


"Kita akan tenang dengan Maura dan Ardian, karena mereka punya sosok penjaga. Sedangkan Kevin dan Maurice, mereka gak tahu apa-apa" ujarnya lagi.


"Tenang saja, mereka tidak akan dilibatkan dalam masalah ini. Kita akan meminta mereka mengerjakan hal lain, masih menyangkut hal ini juga tapi tidak akan ikut dalam penyerangan ini" jawab bi Marni.


"Hanya kalian saja yang menghadapi mereka?" tanya Angga tak percaya.


"Aku dan Tari ada yang jaga, tenang saja. Lagian Ardian punya teman-teman yang bisa membantunya dalam masalah ini.


"Kapan kalian akan menyerang? Dan kami bisa bantu apa?" kali ini Dhania ikut bertanya diiringi anggukan Angga dan Daniel.


Sebelumnya dia sudah diceritakan semuanya oleh Angga tentang kejadian masa lalu mereka waktu kecil di Indonesia dulu, tidak terlalu sulit untuk menyakinkan dia karena Dhania juga bisa melihat dan mengingat mereka waktu pertama kali bertemu.


Maura kecil yang selalu menyendiri, Tari terlihat pendiam dan ketus dan Angga yang penakut itu sudah cukup menyakinkan dirinya.


Apalagi sebelumnya dia sudah mendengar cerita dari Kevin, pengalaman mistisnya di gedung apartemen itu masih menghantuinya.


"Untuk kalian berjaga saja disini, kami akan menghubungi kalian jika diperlukan" jawab Tari.


"Tunggu dulu, aku masih tidak mengerti. Maksud kalian apa? Serangan? Persiapan apa? Tujuan apa yang kalian maksud?" ujar Maura yang belum mengerti maksud dari perkataan bi Marni dan Tari, kakaknya.


"Aku ingin menjelaskannya kepadamu, tapi melihatmu bermesraan dengannya sudah membuatku emosi saja.


Tapi tidak apa, akan lebih mudah bagiku membawa kalian pulang dengan alasan ini. Kalau kejadian ini di Indonesia, sudah dinikahkan kalian!" ketus Tari.


"Gak perlu di Indonesia, kalau ada papa juga pasti langsung dinikahkan kalian" sahut Angga sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku belum siap menikah, aku masih muda" gumam Maura.


"Maka dari itu, turuti saja kataku dan perintahku. Gak usah banyak tanya, ribet! Lama menjelaskannya, entar saja sambil jalan penjelasannya.


Minggu depan Marino de Paquillo akan melakukan peresmian gedung baru disebelah rumah sakitnya, menurut informasi yang kudapat dia membangun itu untuk para pengikut dan ahli sihir nya Arion Gaharu.


Dan sesuai prediksi dan sudah kupastikan bahwa gedung itu juga akan menjadi jalan masuk bagi Arion Gaharu dan peyihir juga para jin iblis lainnya untuk masuk kedunia ini.


Maka tugas kita menghancurkan gedung itu, jangan sampai ketahuan kita hanya punya waktu satu minggu untuk merencanakan penyerangan itu dengan matang dan jangan sampai gagal." Kata Ardian.


"Loh, kamu juga tahu tentang rencana ini?" tanya Maura heran.


"Iya..." jawab Ardian tenang.


"Sejak kapan, kenapa gak bilang padaku?" ujar Maura merajuk.


"Bukannya begitu.." Ardian mencoba membujuknya.


"Gak sempat sudah kubilang tadi" sahut kakaknya Tari.


Maura mendengus kesal, kenapa kakaknya selalu saja mengganggunya.


Mereka sudah mulai menyusun rencana penyerangan itu, kira-kira apakah mereka akan berhasil atau gagal melakukan penyerangan pertama itu?


......................


Bersambung