RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Siapakah Orang Itu? 2


"Baiklah kalau begitu, kami percaya kepada kalian. Tapi dengan syarat kalian tidak akan pernah menyusahkan kami" ucap Angga.


"Kami yakin tidak akan mengganggu rasa ketidaknyamanan kalian, tenang saja" balas sang raja menyakinkan mereka.


"Tapi aku gak mau bawa ini keris, gede gini ngapain aku bawa atau simpan? Yang ada nanti aku dicurigai jadi dukun lagi sama orang tuaku" ujar Dhania bersungut-sungut sambil memperhatikan keris ditangannya.


"Soal itu tidak perlu khawatir, kami bisa membentuk jadi apapun sesuai keinginanmu, Nona" ujar sang raja.


Setelah itu dua bayangan siluet raja dan ratu itu masuk ke benda keramat mereka masing-masing, ketika keduanya masuk ke benda itu seketika juga benda-benda itu mengecil seukuran gantungan kunci.


"Ih, lucu banget! Ini bisa jadi gantungan kunci tas atau aksesoris Hp" ucap Dhania senang.


Seketika rasa rakut dan khawatirnya sirna setelah melihat benda tadi berubah bentuk menjadi lebih kecil.


"Boleh juga, tapi tetap saja aku takkan bisa menyembunyikan semua ini didepan bi Marni ataupun saudara-saudaraku" gumam Angga.


Keduanya memutuskan kembali pulang ke apartemen, sesampainya di sana tentu saja mereka mendapatkan beribu pertanyaan dari bi Marni dan Tari.


"Kau ini bikin khawatir aja! Gak ngasih kabar sama sekali, angkat telpon aja tak bisa! Menyebalkan sekali kamu" cerca Tari kepada Angga.


"Haduh aku gak fokus, Kak! Buru-buru mau ngabarin, mau nyelamatin diri aja susah" jawab Angga.


"Apa maksudmu? Tolong jelaskan lebih detail" tanya Tari lagi.


Angga dan Dhania menceritakan apa yang terjadi tadi, mulai dari kisah Dhania yang terkurung didalam ruangan penuh benda keramat, sampai dia juga menyaksikan adik-adiknya terhisap lubang hitam.


Angga pun bercerita tentang pertemuannya tadi dengan setan dilorong sampai dikejar-kejar oleh para makhluk aneh tadi. Sampai pada saat mereka ditolong oleh dua makhluk penghuni benda keramat ini.


"Benarkah? Boleh kami lihat benda apa itu?" tanya bi Marni.


Kedua benda itu mengeluarkan cahaya kuning keemasan berpendar dari benda keramat itu, tentu saja itu mengejutkan bagi keduanya seharusnya, tapi tetap itu mengejutkan bagi Angga dan Dhania.


Muncullah dua sosok berdiri didepan kalian, dua bayangan siluet berbentuk raja dan ratu zaman dulu. berbeda dengan tadi, dua bayangan itu lama-kelamaan mulai membentuk tubuh dan wajah asli mereka.


Sosok wanita muda yang cantik dan pemuda tampan lengkap dengan pakaian ala zaman kerajaan di masa lalu, tapi mereka belum memastikan dengan baik mereka berasal dari mana.


"Kalian..." ucap bi Marni ingin menebak siapa mereka tapi ragu.


"Aku Dhaniswara dan ini suamiku Shaorman, kami adalah raja dan ratu di zaman puluh ribuan tahun yang lalu, dimana sihir dan ilmu hitam itu sudah biasa.


Dimana juga manusia belum mengenal Tuhan, pada zaman kami manusia baru mengenal Tuhan dalam berwujudan Dewa dan Dewi buatan kami, dan di zaman kami juga sihir dan ilmu hitam dilarang.


Dan mungkin di zaman kami juga awal mula permusuhan para penyihir dan penguasa" kata sang raja muda menjelaskan.


"Tapi kalian terlihat masih muda sekali, lebih pantas jadi teman sekolah saja" ujar Tari gemes melihat mereka.


"Haha! Kami lupa seperti apa wujud kami sebelum mati, apa masih muda atau sudah tua, mungkin ini efek samping kelamaan didalam kurungan benda keramat yang sudah menjadi rumah kami itu" jawab sang raja.


"Wujud yang kami pakai saat ini adalah wujud kami masih muda dulu, ingatan kami di masa muda masih teringat jelas, tapi saat-saat kami mulai sibuk memerangi ilmu sihir kami sudah mulai apa sekarang atau lagi apa" jawab sang ratu menimbali.


Mereka senang di sambut baik oleh manusia-manusia baik hati yang mereka temui saat ini.


......................


Bersambung