
Besok paginya, Maura sudah bersiap menuju universitas pilihannya sesuai rekomendasi dari Maria sebelumya, disaat perjalanan mereka pulang semalam, Maura sempat bercerita ingin masuk ke Universitas tapi masih bingung mau kemana.
'Masuk ke Universitas Lentera Jiwa aja, Maura! Aku juga kuliah di sana, bagus loh! Banyak pilihan kejuruan juga, mau kejuruan apa saja ada di sana" saran Maria tadi malam.
Dan ternyata benar, Maura mengikuti saran anak itu dan sekarang ini dia berada didepan kampus itu. Universitas negeri yang cukup besar dan bagus nampak dari luar sana.
Maura masuk kedalam pintu gerbang Universitas itu, didalamnya begitu luas dan lebar sekali, banyak pepohonan dan tanaman hijau yang begitu asri dan nyaman. Ada beberapa mahasiswa yang sedang duduk-duduk bersantai dibawah pohon-pohon itu, ada yang sambil belajar atau sekedar rebahan saja.
"Bagus juga kampusnya, aku suka! Sekarang aku mau ketemu sama rektor universitas ini, sekalian mau nyari kejuruan mana yang cocok buat aku" gumamnya sambil melangkah masuk kedalam Universitas ini.
Didalamnya juga bersih dan rapi, ada banyak beberapa ornamen dan benda-benda bersejarah didalam kampus itu sebagai furniture atau sekedar pajangan saja.
"Sepertinya kampus ini cukup lama juga berdiri, kalau dilihat dari sejarahnya kampus ini sudah berdiri sejak tahun 60an, berarti ini salah satu kampus tertua di kota ini" ujarnya sambil melihat peta dan sejarah pembangunan Universitas ini disebuah mading yang ditempelkan di salah satu dinding kaca yang dikhususkan untuk tempat itu.
"Memang, dan kampus ini merupakan salah satu kampus kebanggaan di kota ini karena menghasilkan banyak orang penting di negeri ini, ada yang sudah menjadi rektor dan dosen juga di kampus ini" sahut seseorang disampingnya.
Otomatis Maura menoleh kearah sampingnya, seorang lelaki cukup tua berdiri disampingnya.
"Ah, maaf! Aku mengejutkanmu yah, tadi aku lihat ada gadis cantik yang terlihat kebingungan memasuki kampus ini sampai berhenti didepan mading ini, dan aku perhatikan kamu sepertinya tertarik dengan kampus ini" ujar lelaki itu tadi.
"Ah, iya Pak, nama saya Maura. Dan saya memang berniat ingin masuk ke kampus ini, cuma saya tidak tahu dimana ruangan dosen maupun rektor di kampus ini, jadi mau lihat-lihat dulu.." cengir Maura malu.
"Oh, mahasiswa baru toh! Tidak apa, wajar jika kamu bingung karena melihat begitu luasnya kampus ini. O ya, perkenalkan nama saya Hadi Rudyatmo, saya juga seorang dosen di kampus ini.
Mari ikut saya ke ruangan dosen pembimbing yang akan membantumu mau mengambil kejuruan mana yang sesuai dengan kemampuanmu ataupun keinginanmu itu" ujar pak Hadi menuntun Maura ke ruangan dosen tersebut.
"Selamat pagi, Bu!" sapa pak Hadi kepada seorang ibu-ibu yang diyakini sebagai dosen pembimbing itu.
"Pagi Pak Hadi, ada apa ini pagi-pagi sudah datang kemari" sahut ibu itu dengan ramahnya.
"Ini ada mahasiswa baru, namanya Maura. Kayaknya dia masih bingung mau kemana, haha! Tolong bimbingannya, Bu" kata pak Hadi sambil sedikit bercanda.
"Baik, itu memang tugasku" sahut ibu itu sambil tersenyum simpul.
"Kalau begitu saya pamit dulu yah, Maura.. Semangat yah, semoga kamu betah dan suka dengan kampus barumu ini" ujar pak Hadi dengan ramahnya.
Maura hanya mengangguk dan tersenyum saja dengan dosennya yang baru dia temui itu, orang yang ramah dan baik, pikir Maura.
"Jadi, namamu Maura Hartawijaya. Dan usiamu saat ini 19 tahun, hemm.. Namamu ini sempat terdaftar di universitas di kota sebelah, kenapa sampai pindah kesini?
Dan saya lihat kamu mendaftar seorang diri, mana orang tuamu atau walimu? Apa kau tinggal seorang diri?" tanya dosen itu menelisik Maura yang menurutnya aneh itu.
"Ah, saya kurang cocok saja di kampus itu, Bu. Tidak ada hal yang lain.. Dan saya disini hanya seorang diri, ibu saya sudah lama meninggal dan ayah saya berada di luar negeri.
Jadi, saya ingin hidup mandiri dan sederhana saja disini, sekalian mengenang kehidupan mendiang ibuku dulu disini" jawab Maura tenang.
Entah dia merasa ada yang aneh dengan dosennya ini, dibelakang wanita paruh baya itu ada sebuah bayangan hitam yang terus menempel kepadanya, hampir membuat Maura kurang fokus.
"Apakah selama ini kamu tinggal di luar negeri? Bahasa Indonesiamu cukup bagus, meskipun masih ada dialek bulenya. Tapi tidak apa, malah bagus kamu bisa belajar mandiri dan mengenal budaya aslimu disini.
Btw, kamu sudah ada tempat tinggal? Kalau belum kampus juga menyediakan asrama bagi mahasiswa perantauan seperti kamu, kalau belum nanti ibu bisa bantu.." kata bu dosen ramah.
"Tidak usah, Bu.. Terima kasih, saya nge kost di daerah yang tidak terlalu jauh kok dari kampus ini" tolak Maura sopan.
"Baik, Bu. Terima kasih" ucap Maura sambil undur diri.
Maura memutuskan mengambil kejuruan Arkeologi dan pra sejarah, dia perlu banyak belajar tentang itu semuanya karena berkaitan juga dengan misi dan tujuan utamanya mengenai dunia sihir yang sudah dibangun beberapa abad yang lalu.
Dia memasuki kelas itu, hanya ada beberapa murid saja yang ada di sana. Mereka semua nampak sibuk sendiri dengan urusan masing-masing, dan kebanyakan mereka sedang membaca buku dan tidak memperdulikan keberadaannya.
"Hai, kamu mahasiswa baru yah!" sapa seorang pemuda cukup tampan yang langsung duduk disampingnya.
"I-iya, namaku Maura.. Kamu?" sahut Maura tersenyum kaku karena dia merasa sedikit risih dengan kehadiran anak lelaki itu.
"Namaku Ikhsan, tapi teman-temanku sering memanggilku Ichan! Katanya aku mirip dengan salah satu member idol Kpop, cakep dan unyuk" ucap si Ichan.
"Oo.. Hehe" sahut Maura geli melihat tingkah cowok yang begitu sok dekat dengannya itu.
"Sebentar lagi dosennya datang, kamu yang sabar yah karena dosennya galak banget, suka marah-marah gak jelas!" ujar si Ichan mejelaskan.
"Iyaaaa" sahut Maura malas menanggapinya.
Tak..tok..tak..tok!
Terdengar suara langkah kaki menuju kelas mereka, suara sepatu high heels itu memecahkan kesunyian didalam kelas itu, dan terlihat para mahasiswa mulai bersiap-siap menyambut kedatangan dosen killer itu.
"Selamat pagi menjelang siang, kita mulai hari ini dengan tugas kita yang kemarin belum selesai, saya harap kalian sudah memecahkan misteri dari pertanyaan teman kalian itu.
Dan saya lihat ada mahasiswa baru disini, perkenalkan namamu siapa, dan apa tujuanmu masuk ke kejuruan yang sepi peminat ini" ujar dosen itu tanpa basa-basi.
Dia seorang dosen tapi masih terlihat sangat muda, mungkin seusia Tari kakaknya Maura. Dia begitu cantik dengan kacamatanya itu, bibir seksi yang dipoles dengan gincu merah dengan stelan blazer dengan rok mini sangat cocok juga dengan high heels nya.
"Nama saya Maura Hartawijaya, saya mahasiswa baru di kejuruan ini. Salam kenal semuanya.." ujar Maura memperkenalkan diri sambil berdiri ditempat duduknya menghadap kearah teman-teman barunya itu.
"Hai.." sapa mereka santai dan cuek.
"Oke, Maura kamu bisa belajar dengan Iksan kalau masih tidak mengerti. Kami akan meneruskan pelajaran selanjutnya, akan sangat lama sekali kalau harus menunggumu" kata dosen cantik tapi killer itu.
"Iya, Bu.." sahut Maura pelan.
"Cantik tapi galak, kan?" bisik Iksan.
Maura hanya mengangguk saja, dia fokus belajar dan tidak menanggapi segala tingkah konyol si Iksan, sampai selesai Maura memilih pergi ke kantin kampus itu.
"Kamu sudah tau tempatnya? Yuk, aku temani sekalian aku kasih tau tempat mana yang paling enak diajak ngutang" ujar si Ichan.
"Gak usah, terima kasih!" sahut Maura risih di intilin sama si bocah itu.
"Udah, gak apa.. Santai aja, gak usah gengsi. Awalnya semua juga begitu, ntar juga lama-lama ngikutin saran gw juga. Haha!" ujar si Ichan sumringah.
Maura hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah si bocah, dia tidak tahu saja kalau Maura mau dia bisa beli seisi kantin itu. Hanya saja dia tidak mau membongkar jati dirinya, dia tidak mau mengambil resiko nantinya.
......................
Bersambung