
Awan hitam menyelimuti langit siang itu, suara guntur bersahutan diiringi kilatan petir saling bersahutan, hujan semakin deras membuat semua orang enggan keluar rumah dan lebih suka berdiam diri ditempat aman dari cuaca hari itu.
Kereta kencana yang terlihat begitu mewah dengan warna dan ornamen serba silver, sudah mendarat diatap gedung di kampusnya. Ardian dan Arga menghentikan perkelahian mereka.
Tiba-tiba sosok makhluk berwujud seorang panglima perang muncul diatas kereta kencana itu, semua pakaian dan atribut yang dia kenakan semuanya berwarna silver, termasuk wajahnya, kecuali bagian tubuh lainnya yang tertutup pakaian dan atribut yang berwarna lain, warna merah mnyala terpancar jelas disela-sela pakaiannya itu.
"Aku datang lagi setelah seratus ribu tahun lamanya meninggalkan kalian berdua disini, aku datang memenuhi janjiku kepada kalian, setelah seratus ribu kalian boleh kembali ke langit dengan syarat kalian harus membantu manusia ataupun pihak-pihak tertentu.
Dan aku harap kalian berdua masih ingat dengan janji dan persyaratanku itu, aku juga datang mewakili Sang Penguasa, untuk membawa kalian pergi dari sini. Bahwa hukuman dan tugas kalian sudah berakhir disini.
Tapi kalian masih melanjutkan hukuman lainnya, tidak semerta-merta dibebaskan begitu saja. Tapi tugas terus berlanjut di dimensi lainnya, karena kalian telah keliru dalam membantu seorang keturunan Dewi Perang dalam menjalankan tugasnya!" ujar panglima itu dengan tegas penuh wibawa.
Phoem dan Arga yang sedari tadi hanya duduk berlutut tanpa berani menatap panglima itu, hanya saling bertatapan satu sama lain, mereka tahu siapa yang dimaksud dengan keturunan Dewi perang itu kalau bukan Maura itu sendiri.
Sedangkan Ardian hanya memperhatikan mereka dari sudut atap itu, dia begitu takjub dan juga sedikit takut dengan panglima itu, sosok yang sangat berwibawa dan memiliki kemampuan diatas rata-rata, panglima langit.
"Dan kau anak muda! Tidak perlu khawatir, kami dari kerajaan langit akan membantu kerajaan bayangan untuk menumpas para iblis dan jin yang sudah melanggar semua perjanjian itu!
Prasasti ini tak ada gunanya lagi dipertahankan, sejak awal sudah hancur karena mereka sudah berkhianat sejak awal. Kami tak mampu membaca pikiran para iblis itu, yang sejak awal juga memang tak berniat mematuhi semua perjanjian itu!
Jadi, kau cukup lindungi titisan Dewi perang itu. Biarkan kami yang berwenang menjalankan tugas itu, sejak awal ini sebenarnya adalah perang kami, ini sebenarnya manusia tidak berhubungan. Tapi para iblis itu begitu ahli dalam bermuslihat.
Mereka memanfaatkan manusia dengan segala janji-janji busuknya, menjerumuskan manusia hingga tragedi itu terjadi.
Tumbuhnya pohon keramat yang jadi tempat bersemayamnya raja iblis neraka, melahirkan seorang anak iblis beribu kan manusia yang merupakan budaknya iblis, anak itu menjadi iblis termuka dan berhasil menyesatkan ratusan ribu umat manusia!
Termasuk turun temurun nenek moyang keluarga gadis itu, dimana dia juga merupakan darah keturunan seorang penguasa tanah Sriwijaya di masanya itu, dimana dua keluarga saling bermusuhan dan akhirnya melahirkan seorang anak yang akan menghancurkan salah satunya.
Gadis itu, memiliki takdir yang begitu berat! Memiliki tanggung jawab penuh, sebagai panglimanya.. Kau harus mendampinginya, menjaganya dan bersama-sama bersatu menghancurkan pohon keramat itu.
Jika pohon itu hancur, maka kami semua akan lebih mudah memburu, menghancurkan, dan menangkap mereka semua, para pengkhianat itu!" ujar panglima langit berbicara kepada Ardian.
"Bagaimana caranya kami menghancurkan pohon itu, Panglima?" tanya Ardian dengan hormat.
"Mudah! Kau sudah menikah dengan gadis itu, cara termudahnya adalah lakukan hubungan badan dengan istrimu, salah satu kenapa pohon itu masih ada, dan dia dan para pengikutnya semakin ganas adalah kalian belum melakukan kewajiban kalian sebagai suami istri, yang juga merupakan senjata ampuh untuk mengakhiri ini semua!
Hentikan perselisihan antara kalian, jika kalian masih dengan ego masing-masing maka ini tidak akan pernah berakhir! Seharusnya, ini sudah lama berakhir jika kalian sudah menikah sejak dulu.." jawab panglima itu.
Darah pera.wan seorang keturunan dewi perang bisa membuat dua dimensi saling bertabrakan, jika masih pera.wan sebelum menikah dia hanya sebuah ancaman biasa. Tapi jika dia masih pera.wan padahal sudah menikah maka itu adalah senjata juga obat pamungkas bagi para pengikut iblis itu.
Karena darah itu bisa melepaskan pohon keramat dari cengkraman ikatan penjara yang dibuat para raja-raja terdahulu, dan bisa membangkitkan raja iblis neraka yang sudah lama bersemayam di sana.
Sebaliknya, jika sang pengantin Dewi perang dengan rela, ikhlas memberikan kesuciannya kepada sang suami, yaitu panglima perangnya itu sendiri, maka berakhirlah semuanya! Dan kenapa kalian harus menunggu begitu lama untuk menundanya, Panglima?!" tanya balik panglima langit itu.
Sukses membuat Ardian tergagap, bingung mau menjawab apa. Karena sesungguhnya itu semua keinginan Maura sendiri untuk menundanya.
"Dengarkan aku, ini adalah sebuah petunjuk untukmu.. Besok malam, para iblis dan jin yang bersekutu dengan raja iblis neraka akan berkumpul, mereka akan menyerang secara besar-besaran diperbatasan dimensi manusia dan dimensi mereka.
Peperangan ini akan melibatkan kerajaan langit yang bekerja sama dengan kerajaan bayangan, maka dari itu aku membawa dua makhluk ini kesana untuk melanjutkan tugas mereka! Dan pastikan kau menjaga dan melindungi Dewi Srikandi, jangan biarkan dia sendirian, jika tidak.. maka dia akan menjadi sasaran bagi para iblis terkuat untuk menbawanya, seribu prajuritmu tidak akan mampu menahannya, maka... Hanya kau sendiri yang mampu menjaganya, dengarkanlah peringatanku ini, Panglima!" ujar panglima langit.
Setelah itu, dia membawa Phoem yang sudah berubah menjadi burung Phoenix, berteger dibahu sang panglima, dan Arga yang sudah berubah menjadi seekor ular berukuran sedang melingkar di pergelangan tangan hingga kebahu sang panglima.
Mereka melesat pergi menjauh dari tempat itu, seiring perginya mereka berlahan cuaca semakin membaik, hujan mereda, langit pun kembali cerah. Sebelum itu, saat Phoem dan Arga akan pergi dari sana, mereka sempat menitipkan pesan untuk Maura.
"Sampaikan permohonan maaf kami kepadanya, tak seharusnya aku memberikan petunjuk itu kepadanya, dan aku juga memohon maaf kepadamu dengan apa yang terjadi, Panglima.." ujar mereka, setelah itu menghilang dibalik awan-awan itu.
"Terima kasih untuk waktu yang berharga selama ini, manusia! Haha!" seru Arga, masih dengan kelakuannya yang tak bisa diam.
Setelah itu, Ardian turun dan memperhatikan semuanya. Semuanya nampak baik-baik saja, berjalan normal seperti tak terjadi apa-apa. Seandainya mereka semua tahu jika keberlangsungan hidup mereka, umat manusia sedang terancam, kira-kira apa yang akan terjadi?
Suasana pasti akan chaos seketika, peperangan, demo besar-besaran, pencurian, perampokan dan bisa jadi penculikan atau pembunuhan akan terjadi, dunia akan hancur seketika sebelum para iblis itu datang menyerang.
Ardian melangkah gontai menuju pintu gerbang, dia akan pergi meninggalkan kampus ini dalam waktu yang cukup lama nantinya, dan dia bingung harus bagaimana saat bertemu dan berhadapan dengan Maura lagi, apa dia akan melunak lagi dan membujuknya untuk melakukan hal 'itu'?
Rasanya sangat aneh jika dia harus melakukannya, meskipun mereka sudah halal dunia akhirat. Mengingat hubungan mereka saat ini tidak begitu baik, tapi kembali lagi jika harus mengingat kembali tugas mereka, maka dia harus melakukannya.
Bukankah itu tugas mudah, sekali dayung tiga pulau terlampaui? Bukan hanya bisa menghentikan peperangan, dia juga bisa menikmati cinta dunia akhirat. Jadi, kenapa dipersulit?
......................
Bersambung