
"Ardian, apa yang kau lakukan disini?" ujar bi Marni.
"Aku ingin bertemu dengan Bibi, aku kangen bi" ujarnya sambil memeluk erat wanita paruh baya itu.
"Ah! Kamu ini, kayak anak kecil saja" ujar bi Marni sambil tersenyum geli melihat tingkahnya.
"Biarin saja, aku cemburu pada Maura. Dia Bibi urus sejak kecil, sedangkan aku hanya dititipkan ke pengasuh saja sampai besar.
Lagian, aku kangen nasi goreng buatan Bibi" ujarnya lagi, dia duduk dimeja makan sambil mengambil buah apel di meja itu.
"Apa gak takut kalau ketahuan oleh Maura, se pagi ini sudah disini?!" ujar bi Marni meneruskan membuat sarapan.
"Justru itu tujuanku, Bi..." Ardian menatap serius kearah bi Marni.
Bi Marni tahu kalau anak ini lagi serius karena dia tidak akan berbuat ceroboh jika menyangkut misi penyamaran itu, apa dia masih ingin melanjutkan misinya atau tidak?
"Ada apa? Katakan saja" ujar bi Marni.
"Aku berniat menjaga Maura dari jarak dekat, lagian dia juga sudah tahu sedikit tentangku. Tidak masalah jika dia tahu bahwa akupun bisa 'lihat' dan 'dengar' apa yang dia 'lihat dan dengar' itu" ujar Ardian serius.
"Kamu serius? Katanya gak mau deket-deket dengannya, karena kamu benci dengan kegiatan itu.
Apa kamu tahu, begitu sulitnya memisahkan antara pekerjaan dan perasaan. Bibi tahu, panglima Arialoka menyukai Dewi Srikandi.
Tapi mereka memutuskan berteman saja, hubungan mereka sekarang adalah panglima dengan putri mahkota.
Jika kamu atau Maura saling menyukai bukan karena mereka, tetapi memang dari lubuk hati kalian" ujar bi Marni berbicara lugas.
Ardian langsung tersedak dengan pembicaraan bi Marni tadi, dia tidak menyangka arah pembicaraan mereka sampai kearah sana.
"Bibi, kenapa bisa ngomong kayak gitu? Gak ada perasaan-perasaan kayak gitu yah?!" ujar Ardian sedikit kesal.
Dia langsung mengambil air minum, dia lupa kalau dia seorang tamu tapi bersikap seolah di rumahnya, karena ada bi Marni dia merasa nyaman di sana.
"Perasaan apa?" tiba-tiba Maurice keluar kamar dengan sedikit mengantuk mengucek matanya.
"Ha-hai" ujar Ardian merasa kikuk.
"Kau siapa? Perasaan aku belum pernah melihatmu" ujar Maurice lagi.
"Aku-aku..." Ardian masih bingung mencari alasan untuk itu, dia melihat kearah bi Marni untuk meminta bantuan.
"Dia ini keponakan Bibi, Non. Dia kesini untuk mengunjungi Bibi dan gebetannya" ujar bi Marni tersenyum geli menggoda Ardian.
Ardian tambah gelagapan oleh bi Marni, dia mendelik kesal.
"Siapa gebetanmu? Maura?" tebak Maurce begitu saja, sekali lagi Ardian tersedak dengan ucapan seperti itu.
"Kenapa kalian-" belum selesai dia bicara, Maura keluar dengan memakai hot pant dan tank top saja, rambutnya basah menandakan dia habis mandi.
Jantung Ardian berdegup kencang melihat Maura, baru kali ini dia melihatnya langsung berpakaian seperti itu.
Bentuk tubuhnya sangat ideal dengan bentuk kedua buahnya membusung kencang, dengan pinggul sedikit lebar dan mont*k. Kulit putih bersih dengan rambut panjang hitam basah yang belum disisir.
Wajahnya yang cantik alami tanpa polesan make up, membuat tubuh dan perasaan Ardian memberontak. Badannya panas dingin tenggorokan terasa kering, berapa kali dia terlihat menelan salivanya.
Wanita ini sudah mengalihkan pandangannya, darahnya berdesir hangat dan pikiran liarnya sudah menjelajahi lekuk tubuh indah itu.
"Hei! Melamun saja, dipanggil dari tadi gak nyahut-nyahut. Mikirin apa sih?!" ujar Maura kesal.
"A-ah! Ti-tidak, tidak ada apa-apa" ujar Ardian mendadak gugup.
"Dasar!" ujarnya mendengus kesal.
"Kamu kenapa sepagi ini sudah bertamu? Mana enak banget lagi ikutan sarapan, belum sarapan kamu?!" ketus Maura.
"Belum, sengaja mau sarapan disini. Aku kangen makanan bikinan Bibiku" ujar Ardian langsung.
Kali ini bi Marni yang gelagapan, dia tidak tahu harus mulai darimana menjelaskannya kepada Maura.
Dia mendelik kearah Ardian karena secara tak sengaja memintanya menjelaskan secara langsung hubungan mereka.
"Aku mandi dulu, yah. Gak enak kalau belum mandi, sebentar lagi Kevin mau datang" ujar Maurice berlalu pergi.
"Hei, sarapan dulu baru mandi!" ujar bi Marni, kesempatan baginya menghindari mereka berdua.
"sebentar saja kok, Bi. Gak lama, kalian berdua sarapan saja duluan. Aku entar saja bareng Kevin" ujar Maurice.
Tok! Tok! Tok!
Bi Marni langsung membukakan pintu, dia tahu kalau Kevin sudah datang. Dia lega jika semuanya datang akan lebih baik jika semuanya tahu kebenaran tentang Maura dan hubungannya dengan Ardian.
"Tuh Kevin sudah datang, sarapan dulu gih sana" ujar bi Marni.
"Tapi, Bi... Aku belum mandi" ujar Maurice sambil berbisik dengannya.
Tapi sayangnya suara bisikan itu terdengar juga oleh Kevin, dan tentu juga oleh Maura dan Ardian. Mereka tersenyum geli melihat tingkahnya itu.
"Meskipun belum mandi, tetap cantik kok" sahut Kevin.
Maurice tersipu malu oleh ucapannya, akhirnya dia memilih sarapan bersama dengan semuanya. Bi Marni ingin memulai membicarakan hal itu, tapi masih memilih waktu yang tepat.
"Semuanya, setelah selesai sarapan ada yang ingin Bibi sampaikan kepada kalian. Bibi tunggu diruang tengah" ujar bi Marni.
Dia meninggalkan mereka dengan berbagai pertanyaan di kepala anak-anak itu, Kevin terus memperhatikan Ardian dia merasa anak ini agak berbeda dengan yang dia temui dulu.
"Ngomong-ngomong, kau ini pacarnya Maura 'kan? Yang ketemu denganku waktu di rumah sakit?" tanya Kevin langsung kepada Ardian.
Ardian nampak kesal sekali dengan pertanyaan seperti itu, pagi ini sudah tiga kali dia mendapatkan pertanyaan itu-itu lagi.
"Aku bukan pacarnya!" teriak Maura menimpali Kevin.
Ardian diam saja, dia malas menanggapi soal itu sedangkan Kevin dan Maurice tersenyum melihat reaksi Maura. Mereka percaya pasti ada sesuatu diantara mereka.
"Jadi, ini kedua kalinya kamu ketemu sama dia?" tanya Maurice ke Kevin.
"Iya, waktu menjengukmu di rumah sakit saat kamu kecelakaan waktu itu. Mereka datang berdua, dan dia sendiri mengakui bahwa mereka pacaran" ujar Kevin.
Ardian dan Maura teringat kembali kejadian waktu itu, Maura nampak kesal sekali dengannya bisa-bisanya dia mengakuinya pacaran.
"Btw, apa yang kau lakukan disini pagi-pagi sekali ini?" tanya Maura menatap tajam kearah Ardian.
"Kan sudah kubilang, aku ingin menemui bibiku karena aku merindukannya. Kebetulan sekali dia bersamamu, dan jangan salahkan dia dengan apapun terjadi diantara kita. Faham?!" ujar Ardian dengan tegas.
Maura kesal, kenapa jadi dia yang merasa terpojokkan? Ini kan rumahku, siapa bibinya itu? Apakah dia...
"Siapa bibimu itu? Apa dia bi Marni?" tanya Maura dengan perasaan deg-degan.
"Habiskan dulu sarapannya, setelah itu kita keruang tengah. Bi Marni sudah menunggu kita di sana" ujar Ardian cuek dengannya.
"Apa yang selama ini mereka sembunyikan dariku? Apa bi Marni telah menyimpan banyak rahasia yang tak kami ketahui" gumam Maura dalam hati.
......................
Bersambung