RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Serangan Dari Hutan Terlarang


Hari menjelang sore hari, Maura kembali ke rumah neneknya di atas bukit perkebunan teh milik keluarga mereka. Sebelum pulang dia mampir dulu ke toko buku, karena ada yang ingin dia beli.


"Ah, maaf saya tak sengaja" seorang gadis remaja tak sengaja menabraknya dari belakang.


"Oh, gak apa kok" ujar Maura ramah.


Gadis itu hanya mengangguk lalu pergi dari tempat itu, tapi setelah itu Maura merasa ada sesuatu yang aneh dengan gadis itu tadi.


"Biarkan saja, mungkin hanya perasaanku saja" gumamnya.


Setelah selesai dengan barang belanjaannya, dia menuju pangkalan angkot yang suka mangkal didepan pasar tradisional itu.


"Dek, mau pulang yah? Yuk, angkotnya bentar lagi mau berangkat" tawar seorang supir angkot yang ada di sana.


"Boleh, Mang" jawab Maura.


Didalam angkot itu berisi beberapa penumpang, salah satunya adalah gadis yang menabraknya tadi.


"Hawanya begitu gelap, aku merasa tak nyaman" gumam Maura dalam hati.


Angkot itu mulai berjalan menuju desa-desa yang akan dia lewati sebagai jalur trayeknya, sedikit lagi angkot itu menuju desa neneknya tapi tiba-tiba angkot itu mendadak mogok ditengah jalan.


"Aduh, gimana ini Mang?" ujar seorang ibu-ibu penumpang angkot itu.


"Maaf, Bik. Angkotnya mogok, gak tahu kenapa? Padahal udah full servis ini" gerutu supir angkot itu kesal dengan angkotnya sendiri.


"Ya sudah aku pulangnya jalan kaki saja" ujar ibu-ibu itu.


"Lah, bukannya masih jauh bu desanya?" sahut supir angkot itu heran.


"Gak terlalu jauh, di sana ada jalan pintas menuju desa. Aku lewat sana aja" ujar ibu-ibu itu bersiap-siap untuk pergi.


"Hati-hati, Bik. Ini sudah sore.." ujar sopir angkot itu lagi.


"Iya, saya penduduk asli sini gak akan kenapa-kenapa" sahut sang ibu.


"Kalian bagaimana? Mau nungguin atau gimana? Soalnya saya mau periksa lagi nih mobilnya, kemungkinan akan lama" ujar sang sopir menanyain penumpangnya.


"Saya disini aja, Mang. Siapa tahu nanti ada angkot lain yang lewat, soalnya desa saya masih jauh jaraknya" ujar seorang pemuda.


"Kalau saya pulang aja, Mang. Saya satu desa dengan ibu-ibu tadi, permisi" ujar gadis tadi.


"Kalau kamu bagaimana?" tanya sopir angkot kepada Maura.


"Emm, saya pulangnya tidak jauh dari sini. Saya tinggal di atas bukit perkebunan teh" jawab Maura.


"Perkebunan teh? Milik keluarga Hartawijaya? Wah, orang besar itu" ucap sopir angkot itu menatap heran kepada Maura.


"Iya, itu keluarga nenek saya" ujar Maura ramah.


"Oh, begitu. Kalau kamu mau, kamu bisa bareng pulangnya sama ibu-ibu dan adik itu tadi. Soalnya jalan yang mereka lewati nanti akan melewati rumah nenekmu itu" sahut sopir itu.


"Oh, begitu ya Mang" ujar Maura ragu-ragu antara mau ikut menyusul atau tidak.


"Iya, kalau mau ikut sana pergi. Mumpung mereka belum jauh, kalau mau nungguin Mamang gak tau ini selesainya kapan" ujar sang sopir.


"Tapi saya gak tahu jalannya kemana.." jawab Maura pelan.


"Oh, sebentar. Dek, bisa bantuin dia menuju jalan setapak sebelah sana?" pinta sopir itu kepada pemuda itu tadi.


"Baik, Mang. Ayo, Kak" ujarnya, dilihat dari fisik dan penampilannya dia sepertinya masih sekolah di menengah atas.


Maura ikut dengannya berjalan menuju arah jalan setapak yang tidak jauh dari mobil angkot tadi, dia melihat jauh kedalam sepertinya dia akan melewati hutan nanti.


"Maaf, Kak. Saya hanya bisa nganterin sampai sini" ucap pemuda itu.


"Tidak apa, terima kasih yah" ucap Maura ramah.


Pemuda baik itu hanya membalas dendam anggukan lalu pergi menuju angkot tadi, dengan menghela nafas sedikit Maura berjalan menyusuri jalan setapak itu masuk kedalam hutan.


"Huft, entah apa saja yang akan aku lihat nanti didalam sana" gumamnya dalam hati.


Dan benar saja, baru beberapa langkah ia masuk kedalam hutan itu sudah banyak gangguan di sana. Mulai dari suara orang menggeram, suara orang bersenandung hingga suara tawa anak kecil juga.


Kalau dipikir pakai logika, anak siapa yang bermain di hutan menjelang sore hari ini. Apalagi ini lumayan jauh dari desa.


"Cukup dengan suara-suara ini saja, jangan ada penampakan. Plis!" gumamnya takut.


Baru saja dia berpikir seperti itu, eh yang ditakuti tiba-tiba datang disampingnya. Seorang nenek tua berjalan membungkuk sambil berpegangan dengan tongkat kayu, di punggungnya ada tumbukan ranting kayu yang diikat dengan tali lalu dipanggul di punggungnya.


Maura berusaha mengabaikannya, berpura-pura tidak tahu sambil terus menatap kedepannya berjalan menyusuri jalan setapak itu. Terdengar suara nenek itu terengah-engah mengatur nafasnya, dia berjalan tertatih-tatih seperti kelelahan membawa beban cukup berat.


"Dia manusia atau bukan yah? Jika aku lihat ternyata bukan, yang apesnya aku. Bakalan dikejar-kejar olehnya terus. Jika ia manusia, aku adalah orang yang tak berperikemanusiaan, membiarkan orang tua itu memanggul barang berat seperti itu" gumam Maura dalam hati.


Dia bimbang antara ingin melihat kearah sampingnya atau tidak, logikanya melarangnya, tapi hati ingin membantu si nenek.


"Dasar anak muda, gak punya hati dan perasaan! Lihat orang tua bersusah-payah membawa barang berat ini, tak ada sama sekali ingin membantu!" ujar nenek itu kesal terhadap Maura yang mengabaikannya.


"Mau saya bantu nek-" alangkah terkejutnya Maura, ternyata yang disangkanya seorang nenek manusia butuh pertolongan tapi ternyata bukan.


"Hihihi! Sudah kuduga kau bisa mendengar dan melihat kami" terdengar suara serak dan menyeramkan dari nenek-nenek berwajah hancur itu.


Melihat itu Maura langsung berlari kencang menjauhi nenek setan itu, dia menoleh kebelakang dia terkejut nenek itu juga menyusulnya dengan berlari cepat hampir menyusulnya.


"Sialan, tau begitu lebih baik aku gak pergi saja tadi" ujarnya menyesal.


Diujung jalan itu, Maura melihat ibu-ibu penumpang angkot tadi, Maura senang akhirnya bisa menemukan orang asli. Ketika dia menoleh kebelakang, nenek setan itu tadi sudah tak mengikutinya lagi.


"Syukurlah, akhirnya aku bebas juga darinya" gumam Maura lega.


Dia setengah berlari menyusul ibu itu, sedikit lagi dia berjalan tiba-tiba kakinya tersandung oleh sesuatu yang membuatnya jatuh ketanah.


"Auh, sakit banget. Apaan sih ini" ujarnya mengeluh.


Dia melihat ada seekor ular piton berjalan didepannya, tubuhnya cukup besar untuk menelan seekor anak sapi. Tapi yang dia lihat tubuh dan ekornya saja, kepalanya mana?


"Astaga!" ujarnya terkejut saat arah pandangnya menyusuri tubuh ular itu.


Tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya, gadis remaja tadi bersembunyi dibalik semak-semak yang ada di sana.


"Syut!" ujarnya memberi kode kepada Maura agar tetap diam.


"Jangan bersuara ataupun bergerak, nanti dia tahu" bisiknya kepada Maura.


Maura hanya mengangguk saja, sebenarnya dia sama sekali tak takut kepada makhluk-makhluk penghuni hutan itu, malah yang ada para makhluk itu akan takut kepadanya jika mereka tahu siapa dia.


"Aku pikir itu ibu yang ada di angkot tadi" bisik Maura.


"Tadinya aku pun berpikir seperti itu, sebelum aku melihat kakinya. Bukannya kaki manusia tapi ular yang aku lihat!" bisik gadis itu lagi.


"Apakah dia akan berdiam diri seperti itu selamanya atau bagaimana? Ini sebentar lagi magrib" ucap Maura kesal.


Karena makhluk itu diam menghalangi jalan, membuat Maura dan gadis remaja tadi gak bisa melewatinya. Jika ingin kembali akan jauh lagi mereka memutar, dan bisa jadi ketemu dengan makhluk-makhluk lainnya.


Saat Maura dan gadis itu lagi diam mengamati, tiba-tiba wajah mahkluk berwujud ibu-ibu itu muncul dari balik semak-semak itu mengagetkannya.


"Aaakh!" teriak gadis itu terkejut, lalu dia pingsan di sana.


"Lah, pakai pingsan segala. Nanti aku bawanya gimana" sungut Maura.


Setelah itu dia menatap tajam kearah makhluk itu, ada sedikit perubahan ekspresi diwajah makhluk itu karena melihat Maura sama sekali tak takut apalagi pingsan saat melihatnya.


"Maaf, mengecewakanmu" ujar Maura setelah melihat ekspresi kecewa sosok jin usil itu.


Setelah itu dia memukul mundur jin berupa manusia setengah ular, makhluk itu terkejut melihat perlawanan Maura.


"Hai, anak manusia. Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau tak terkejut ataupun takut saat melihatku, dan... Darimana kekuatanmu itu berasal? Sepertinya aku tidak merasa asing dengan aura milikmu itu" ujar jin laknat itu.


"Aku bukan siapa-siapa, aku hanya anak manusia biasa yang kebetulan bisa melihatmu dan bangsa-bangsa sepertimu itu" jawab Maura.


"Pantas saja, aku lihat dia memiliki aura tak seperti manusia-manusia pada umumnya" tiba-tiba nenek-nenek setan tadi keluar dari balik pohon yang ada di sana.


Dia menghampiri jin siluman tadi, diapun memasang wajah mengerikan seperti dengan jin siluman tadi.


"Kalian tak perlu memasang wajah seperti itu, takkan berpengaruh apa-apa padaku. Pergilah, jangan menghalangi langkahku, aku ingin cepat-cepat pulang. Nanti nenekku akan marah jika aku terlambat" ujar Maura gusar melihat kedua makhluk itu.


"Hihihi! Menarik" ujar jin siluman ular itu sambil mendesis seperti ular.


Dia menyerang Maura dengan mengibaskan ekornya, untuk Maura sedari tadi waspada hingga dia bisa menghindari serangan mendadak itu tadi.


"Wah, curang yah! Jangan salahkan aku jika nanti kamu menyesal yah!" bentak Maura.


Maura memejamkan matanya sebentar lalu dia membuka matanya pelan-pelan dan menatap tajam kedua makhluk itu, tiba-tiba angin kencang menerpa kedua makhluk itu hingga melayang terhempas jatuh ketanah.


Mereka terkejut melihat seorang manusia mampu membuat mereka sampai terjatuh seperti itu, biasanya mereka yang akan melihat wujud mereka pasti akan pingsan seperti gadis itu ataupun berlari kencang ketakutan.


"Awas kau anak kecil, jika bertemu lagi dengan kami kau akan binasa!" bentak nenek setan itu lalu tiba-tiba pergi menghilang seperti jin siluman ular tadi.


Melihat kondisi sudah aman, Maura membangunkan gadis remaja yang pingsan tadi.


"Setan! Se-setan!" teriaknya ketakutan.


"Hei, syut! Diam, setannya sudah pergi. Ayo kita pulang" ujar Maura sembari membantu gadis itu bangkit.


"Ta-tapi..." gadis itu masih ketakutan sambil melihat kesegala arah.


Maura menariknya keluar dari hutan itu, dan meninggalkan hutan itu juga sembari menerima berbagai tatapan dari segala jenis makhluk yang ada di hutan itu.


Mereka hanya bisa berani melihatnya dari jauh, karena takut nanti nasibnya akan sama dengan jin siluman ular ataupun nenek setan tadi.


......................


Bersambung