RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Sebuah Pengorbanan


Ardian dalam cengkeraman Camelia, lehernya tercekik karena diangkat sampai keatas oleh Camelia dengan tangan satu saja.


"Camelia, lepaskan anak itu!" bentak Gerald, masih dengan wujud kucing kecil itu.


"Tidak bisa, dia musuh bebuyutanku! Karena dialah aku gagal dalam misiku, dan harus mati terpanggang bersama anakku!" teriak Camelia.


Siapa sangka, dia adalah keturunan tidak langsung dari sang ratu penyihir itu. Apalagi mendiang neneknya pernah menjadi pengikut mereka, tidak sulit baginya untuk menemukan Camelia.


Tapi jiwanya terhenti merasuk ke tubuh Camelia, karena neneknya bertobat dan sadar jika cucunya juga bisa bernasib lebih buruk darinya.


Sampai ketika Camelia telah meninggal dan jiwa pendendamnya keluar, dan baru menyadari siapa jati dirinya sebenarnya. Sungguh ironis, gadis cantik dan sederhana itu harus terjebak didunia hitam. Jika sebelumnya, dia mendendam ingin membalas kematian yang disebabkan oleh sihir hitam, dan sekarang dialah sihir hitam itu.


"Camelia, kumohon... Ingat janjimu, kau ingin melindungi mereka, kau temannya Maura! Ingat, mereka ingin menguasai dirimu. Kendalikan dirimu, Camelia!" teriak lagi Gerald, dia berkaca-kaca melihat kondisi tuannya itu dulu.


"Percuma kau berteriak, dia takkan mendengarkanmu. Tubuhnya sepenuhnya milikku, haha!" kata ratu penyihir hitam itu.


Ardian semakin tinggi dia angkat, tubuh Ardian semakin melemah saja. Diujung langit datang seperti cahaya putih melesat kearah tubuhnya.


Tiba-tiba saja mata Ardian membuka lebar dengan keseluruhan matanya memutih, dengan gerakan cepat dia menarik pedangnya yang terjatuh seperti magnet dan menebas tangan sang ratu penyihir.


"Aarggh!" Camelia berteriak mengerikan.


Setelah Ardian terlepas dari cengkeraman Camelia, Gerald melompat ke arahnya dan mencakar wajah itu.


"Argh! Dasar kucing sial*n, kau apakan wajahku!" teriak Camelia dengan murka.


Tapi Gerald tak berhenti dia terus mencakar wajah itu dan menggigit lehernya, Camelia kewalahan menghadapinya karena Gerald juga menggunakan kekuatannya.


Melihat itu, Ardian yang sudah dikuasai oleh panglima Arialoka juga menyerangnya membabi buta. Camelia kewalahan menghadapi mereka semua, bagaimana tidak keduanya bukan lawan yang muda.


Gerald memiliki sesuatu yang diinginkan semua mahkluk, yaitu kalung giok delima sakti. Meskipun itu kalung ciptaan penyihir hitam makhluk jahat, keturunan iblis kalung itu itu tidak kebal kepada mereka.


Jika kalung itu bisa membantu mereka meningkatkan kekuatan dan bisa membantu mereka menguasai dunia, kalung itu juga bisa menghancurkan mereka semua. Karena setiap benda yang diciptakan dengan niat jahat, takkan ada yang sempurna.


Gerald menggunakan kekuatan itu dengan tujuan yang berbeda dengan mereka, dia hanya ingin mengembalikan jiwa Camelia yang tertahan oleh ratu penyihir hitam itu.


Sedangkan Panglima Arialoka sudah jelas tujuannya dari awal untuk menumpas, para penyihir dan melindungi semua umat manusia.


Keduanya terlalu fokus kepada Camelia hingga melupakan keselamatan Maura, Zhurak mengambil kesempatan itu untuk menyerang Maura yang masih terlihat lemah itu.


Kekuatan Maura belum pulih, masih terlalu cepat untuknya ikut berperang di dunia gaib ini. Melawan manusia berbeda dengan melawan makhluk gaib.


Zhurak mendekatinya, Maura mencoba semampunya untuk melawan. Dia menggunakan selendang Dewi Srikandi untuk melawannya, sayangnya senjata kuat jika digunakan tubuh yang lemah maka takkan seimbang.


Dengan mudah Zhurak mengalahkan Maura, dia mengangkat tubuhnya dan berlari kearah pertempuran itu.


"Hentikan! Jika tidak gadis ini akan kupotong-potong tubuhnya!" ujar Zhurak, dengan liciknya dia menggunakan Maura untuk menghentikan pertempuran itu.


Dengan cara ini dia bisa menyelamatkan ratunya, Ardian dan Gerald terkejut melihat Maura telah jatuh pingsan ditangan Zhurak.


Melihat itu Camelia menggunakan kesempatan itu untuk menghindari mereka dan membalasnya, dia menggunakan cakarnya untuk membalas Gerald dan Ardian.


Keduanya terlempar cukup jauh, berusaha bangkit dan menyerangnya kembali tapi keduanya tertahan oleh kekuatan Camelia.


Camelia menghampiri Maura dan mengambil tubuhnya ditangan Zhurak, dirinya bagaikan mainan saja ditangan Camelia.


"Gadis ini penyebab semuanya, dari dulu sampai sekarang dia penyebab semua kerusakan ini!" ujarnya, dia ingin menghujam tubuh Maura dengan cakarnya.


Melihat itu Gerald dengan sedikit kekuatannya melemparkan kalungnya kearah Camelia, tepat pada posisinya Camelia kepanasan terkena kalung itu dan melemparkan tubuh Maura.


Otomatis Camelia tidak fokus dengan kekuatannya, hingga jaring pengikatnya ditubuh Ardian dan Gerald terlepas.


Ardian secepat kilat menyambar tubuh Maura yang terlempar itu, sedangkan Gerald dengan buasnya menyerang Camelia.


Dia mengaum kencang, dia murka Camelia berani melukai Maura. Dia mengalungkan kembali kalung giok delima sakti, dan siap menyerang kembali Camelia.


Camelia sadar bahwa dia takkan mampu melawan kesaktian kalung itu, dia menggunakan tipu muslihatnya untuk memperdayai Gerald.


"Gerald, tunggu! Dengarkan aku, aku tak bisa menahan diri. Kekuatan ini begitu besar dan mengontrol sepenuhnya diriku" ujarnya memelas.


Gerald hampir tergerak hatinya, tapi dia sadar kalau itu bukan Camelia. Dia merubah dirinya semakin mengerikan, Camelia terlihat ketakutan dan berlari menjauhinya.


Tapi kekuatan Gerald tak bisa ditandingi, dia mengejar Camelia secepat kilat dan menyambar tumbuhnya. Melihat itu, Zhurak tidak tinggal diam dia mencoba menolong ratunya, tapi sayangnya dia malah terkena sabetan cakar tajam Gerald.


Sayap kanannya terputus, membuatnya menjerit kesakitan dia melihat sayapnya terputus membuatnya semakin histeris. Separuh kekuatannya hilang, dan sayapnya merupakan lambang kekuasaannya.


Melihat itu Camellia murka, dia tak terima salah satu anak buahnya jatuh oleh Gerald. Dia melawan balik Gerald, saat itu Gerald melawan setengah hati karena wujud itu.


Dia tak sanggup melawan tuannya, meskipun salah dia tak ingin menyakiti Camelia. Tapi berbeda dengan Camelia, dia yang sudah dikuasai penuh oleh ratu penyihir hitam tak peduli.


Dia menghajar Gerald, sampai tubuh Gerald penuh luka dan terlempar. Maura yang sudah sadar itu melihat tubuh mungil gerald jatuh dari ketinggian langsung bergerak menangkap tubuh itu.


Gerald dengan sisa kekuatannya berusaha bangun dari pelukan Maura, sedangkan Maura menangis melihat kondisi Gerald. Hatinya sakit melihat dua temannya saling berkelahi, dia tak mengerti kenapa Camelia berubah.


Sedangkan Ardian berlari menyerang Camelia, pertengkaran itu begitu sengit. Kekuatan mereka seimbang, tapi tubuh Ardian yang manusia memiliki batas kemampuan. Sedangkan Camelia hanya roh jahat tak memiliki wujud padat.


Ardian mulai kewalahan, Camelia memanfaatkan keadaan tersebut dia terus menghajar Ardian tanpa henti. Hingga Ardian terjatuh dan Camelia secepat kilat mencengkeram lehernya kembali.


"Ardian, kau harus mundur. Jika dipaksakan tubuhmu akan hancur, dia bukan lawan yang biasa kau taklukkan" kata itu sempat diungkapkan oleh panglima Arialoka tapi sayang dirinya sudah terlanjur dalam genggaman Camelia.


Panglima Arialoka tak bisa memaksakan kekuatannya karena tubuh Ardian sedang lemah saat ini, dia hanya bisa menunggu keajaiban yang bisa menolong mereka.


Melihat itu Gerald tahu, Camelia sudah lama jauh pergi. Saat ini didepannya bukan lagi Camelia, sosok ini hanya wujudnya saja Camelia tapi jati dirinya bukan.


"Maura, maafkan aku jika selama ini aku bersikap tidak baik padamu. Aku senang bisa bertemu dan berteman baik padamu.


Jika suatu saat nanti aku dilahirkan kembali, aku ingin tetap disampingmu, menjagamu dan melindungimu.


Maura, aku benar-benar bahagia bersamamu. Kau orang yang paling aku sayangi setelah Camelia, kalian orang yang paling berharga untukku.


Karena kalian adalah keluargaku..." terlihat setetes air bening jatuh dari matanya.


"Gerald, apa maksudnya? Gerald jangan pergi, tolong jelaskan padaku?! Gerald!" Maura berteriak kepadanya.


Gerald tak menggubrisnya, dia berlahan menghampiri Camelia yang terlihat bengis mencengkeram leher Ardian. Sementara kondisi Ardian semakin melemah.


Auuummm! Grr!


Gerald mengaum keras dan merubah wujudnya kembali menjadi kucing besar, dan kali ini dia merubah wujudnya menjadi sosok yang berbeda.


Kucing besar mirip dengan singa raksasa dengan ekornya menyala seperti api menjuntai menyentuh tanah melompat buas kearah Camelia.


"Maafkan aku, Camelia... Inilah salah satu cara membebaskan dirimu dan aku dari kejamnya dunia ini" ujarnya sambil mengujami tubuh itu dengan gigitannya.


"Aku menunggumu, Gerald. Lakukanlah..." terdengar suara lembut milik Camelia.


Tapi suara itu tidak keluar dari mulut itu, tapi Gerald dapat mendengarnya dengan jelas. Dia tahu itu isi hati Camelia yang sebenarnya, dan sudah menunggunya sejak dari tadi.


Tubuh besar berbulu itu memeluk tubuh Camelia dan mulai mengobarkan api dari dari ujung ekor miliknya, berlahan tubuh mereka terbungkus api.


Maura hanya bisa menangis melihat kejadian itu, didalam dekapan Ardian mereka berdua menyaksikan kejadian tragis itu.


......................


Bersambung