
Sementara itu masih didalam kampus, Ichan bersiap mau pulang dia membereskan buku-bukunya masuk kedalam tas dan sebagian dikembalikan ke rak-rak buku yang berada didalam perpustakaan.
"Aku pamit ya, Ga.. Bye!" sapa Ichan berbasa-basi kepada Arga.
"Hem!" sahut Arga cuek.
Sebenarnya Ichan tidak nyaman belajar di sana, entah karena dia di sana berdua saja sama Arga atau ada yang lain. Dia merasa ada yang mengawasi tapi tidak tau siapa.
Dia berjalan menuju pintu gerbang kampusnya, kemudian dia menghentikan langkahnya karena tiba-tiba tengkuknya merasa merinding.
"Gak ada apa-apa, kenapa gw merinding yah?" gumamnya sendiri setelah menoleh kebelakang sebentar.
Kemudian dia melangkah keluar dari pintu gerbang, dan ternyata ayahnya sudah menunggunya di depan sana dia tersenyum menyambut anak sulungnya itu.
"Sudah selesai?" tanya ayahnya.
"Belum semua, Yah.. Nanti aku sambung lagi di rumah," jawab Ichan sambil tersenyum dan naik kedalam mobil sedan mewah itu.
Tanpa dia sadari ada sosok lain berada didalam mobil itu, tapi dia tidak menyadari saat dia masuk langsung melewati sosok itu begitu saja.
Sedangkan didalam kampus tepatnya didepan pagar posisinya didalam, Arga memperhatikan mereka dengan tatapan tajam. Sosok didalam mobil itu melihat Arga ada di sana, dia langsung bersembunyi dari mobil itu.
"Benar dugaanku, anak itu dalam bahaya" gumam Arga datar, dingin.
.
.
Saat ini Maura sudah sampai didalam kostannya, dia terlihat bingung karena tiba-tiba didalam kostannya terlihat begitu ramai tidak seperti biasanya.
"Ada apa?" tanya Maura kepada salah satu teman kostnya.
"Gak tau, aku juga baru pulang. Tapi yang aku denger sekilas, katanya ada yang kesurupan!" ucap temannya itu.
Maura nampak heran dengan perkataan temannya itu, emang siapa yang merasuki salah satu teman kostnya itu? Sedangkan selama ini semenjak kejadian hantu Kadarsih, tidak ada yang kerasukan ataupun setan yang datang menghampiri rumah kost mereka itu.
Dia berjalan melewati semua orang, dia melihat bu kost bersama Mbah Sukinah sedang memberikan air minum ke temannya itu setelah dibacakan sesuatu oleh Mbah Sukinah.
"Bawa dia kedalam kamarnya, biarkan dia istirahat sebentar. Sebaiknya kau panggil keluarganya, dan minta mereka membawanya pulang, tidak baik dia berada disini terlalu lama.." ucap Mbah Sukinah kepada bu kost.
"Nggih, Mbah.." jawab bu kost manut.
"Kalian semua juga, jika punya teman atau saudara sebaiknya malam ini kalian menginap saja di sana. Jangan pulang sebelum besok pagi, kalau bisa menginaplah beberapa hari lagi!" ucap mbah Sukinah kepada yang lain.
Semuanya nampak bingung tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh mbah Sukinah, tapi mereka menurut saja. Entah karena takut dengan sorot mata tajamnya atau memang takut setelah melihat keadaan salah satu temannya yang kerasukan itu.
Semuanya nampak bersiap untuk pergi beberapa hari dari sana, bahkan ada yang berniat untuk pindah saja. Sedangkan Maura tampak santai saja, dia melakukan kegiatan rutinitasnya seperti biasanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, semuanya sudah sepi dan hening hanya ada senandung rindu dari si Kunti diatas pohon rambutan itu.
"Kenapa kau masih disini, Nona? Apa kau tak takut kepada mereka?" tanya si Kunti kepada Maura yang baru saja keluar dari kamarnya untuk mencari makan malamnya.
Maura tak menjawabnya karena pada saat ini ada beberapa orang berada di sana, nampaknya mereka adalah keluarga temannya untuk menjemputnya pulang, sedangkan yang lain semuanya sudah pergi dari sore.
"Tolong jaga dia baik-baik untuk saat ini, jangan biarkan dia keluar rumah pas magrib ataupun malam hari karena sangat berbahaya untuknya.. Dan jangan lupa beri dia minuman ini, bagus untuknya" ucap mbah Sukinah kepada orang tua anak kost itu sambil memberikan minuman jamu racikannya sendiri.
Kemudian mereka semua berpamitan pulang, tinggallah bu kost, mbah Sukinah bersama mang Supri dibawah.
"Loh, Maura.. Kamu gak pulang juga?" ibu kost terlihat kaget saat melihat Maura masih berada di sana.
"Mau pulang kemana, Bu? Kan rumahnya jauh," jawab Maura masih tersenyum manis.
"Lah, itu si Ardian?" tanya bu kost lagi.
"Ardian teman aja bu, bukan keluarga juga. Masa iya aku tinggal bersama dia. Ntar pada salah faham semuanya, hehe.." jawab Maura lagi.
"Emang kamu gak punya teman lain selain Ardian? Malam ini kamu sendirian loh, semua orang sudah pada pergi. Mang Supri malam ini juga gak jaga, cuma ada ibu sama si mbah yang jaga rumah.." ucap bu kost.
"Gak apa, Bu.. Saya gak akan keluar habis ini, ini mau beli makan abis itu langsung masuk kamar!" ujar Maura.
"Ya sudah, kamu gak usah keluar malam ini. Makan aja bersama kami, ayo kita makan sama-sama!" tiba-tiba mbah yang biasanya bersikap dingin menjadi lunak kepadanya.
"Silakan dimakan, ini ibu mau bungkus lauk buat mang Supri dulu, katanya mau makan di rumahnya aja.." ucap bu kost ramah sambil meninggalkan Maura dan mbah Sukinah di meja makannya, sedangkan dia menuju dapurnya untuk mengambil lauk dan sayuran untuk mang Supri.
"Makanlah, setelah itu kembali kedalam kamarmu. Jangan keluar atau membuka pintu ataupun jendela meskipun hanya sedikit, tidak usah kepo sama urusan orang lain! Jika kamu mendengar suara keributan ataupun berisik, jangan keluar! Jangan pula mengintip, mengerti?!" ucap mbah Sukinah.
"Setelah ini kau boleh bawa beberapa buah dan makanan yang berada di sana, mungkin saja kau lapar tengah malam, kau bisa mengisinya dengan itu! Jangan jadikan alasan lapar untuk keluar dari kamarmu kelak!" sambung mbah Sukinah lagi.
Maura hanya mengangguk saja, meskipun dia masih bingung tapi dia mulai sedikit menyambungkan benang merah dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini.
Tetangga baru yang misterius, makhluk baru pengganggu di kostannya ditambah sikap si Kunti yang tiba-tiba menjadi aneh, kadang tiba-tiba menghilang dan berbicara tidak jelas, dari kemarin selalu berkata tentang "Mereka" siapa yang disebut dengan kata Mereka itu?
"Baik, Mbah.. Terima kasih," ucap Maura sopan.
"Makasih katanya, paling juga ikut-ikutan!" gumam si mbah sambil melanjutkan makannya.
"Em, maaf Mbah.. Tadi kenapa?" tanya Maura menyahuti si mbah yang bergumam tadi.
"Tidak ada, makan aja sana!" ucap si Mbah tak memperdulikan dirinya.
Setelah selesai makan, Maura bergegas menuju lantai kamarnya yang berada diatas. Tapi bu kost menghentikan langkahnya untuk memberikan beberapa potong buah dan makanan lainnya, dia juga memberikan Maura beberapa minuman racikannya yang katanya ampuh buat bikin tidur nyenyak, kali aja dia gak bisa tidur karena takut ataupun karena suara berisik lainnya.
Dia melangkah naik keatas tangga, dia merasa ada yang memperhatikan dirinya tapi tak ada satupun sosok yang berada di sana, dia memperhatikan setiap sudut dihalaman rumah, setiap pojokan gelap dia merasakan ada hawa dingin yang begitu besar.
"Sepertinya sedikit lagi pertarungan ini akan dimulai," gumamnya sambil menaiki anak tangga itu.
Dia melewati beberapa kamar kosong saat menuju kamarnya, kesenyapan kamar membuatnya sedikit tak nyaman, biasanya dia mendengar suara gelak tawa teman-temannya, dan sekarang nampak sunyi.
"Nona, apa malam ini aku boleh bersembunyi didalam kamarmu?" terdengar si Kunti meminta sesuatu kepadanya dengan nada ketakutan.
"Jangan mengada-ada kamu! Sembunyi saja ditempat lain, jangan ganggu aku!" ucap Maura kesal tak menghiraukannya.
Biasanya si Kunti terus mengomel jika Maura selalu mengabaikannya, tapi kali ini tidak, dia langsung pergi begitu saja. Dia nampak begitu khawatir sekali.
"Maura,, jadi nama gadis itu Maura, hihihi!" ada sosok lain mengawasinya dari atap rumah tetangga.
Maura masuk kedalam kamarnya, menutupnya dengan rapat dan dikuncinya beberapa kali, pintu dan jendela dia sudah pastikan sudah aman. Bahkan beberapa lubang yang terlihat dia tutup dengan kertas tebal dan dia selotip juga paku, biar tak ada satu makhluk pun bisa masuk ataupun mengintip dirinya.
"Sebenarnya ini tak perlu, selama kalung liontin giok delima sakti ini bersamaku, maka semuanya aman. Tak ada satupun makhluk ataupun manusia yang akan berbuat jahat kepadaku.
Tapi aku gak boleh sombong, aku juga harus meminta dan bersujud kepada Allah SWT untuk meminta pertolongan agar terhindar dari semua gangguan ini, dan tetap aman selama hidupku, amin!" ucapnya lagi.
Untungnya dia memiliki kamar mandi pribadi didalam kamarnya, dan kamarnya cukup luas untuknya sendiri. Jadi dia tidak akan merasa sesak ataupun gelisah di sana.
Beberapa jam kemudian, setelah selesai belajar dan menyiapkan tugas kuliahnya. Maura memutuskan untuk tidur, dari awal lampu kamarnya sudah dia matikan agar tak memancing makhluk lainnya, jadi dia hanya menggunakan lampu tidurnya yang tak terlalu terang.
"Sebaiknya aku tak perlu mematikan lampunya, aku juga harus waspada.." ucapnya.
Dia bersiap untuk tidur, kalung gioknya dia pakai dan tidak lupa berdoa sebelum tidur juga, dia berusaha memejamkan matanya tapi begitu sulit. Tiba-tiba saja dia mendengar suara jeritan pilu dari arah luar.
"Kunti.. Kenapa dia?" saking seringnya si Kunti bersenandung, Maura sampai hafal dengan suara serak mengerikan miliknya.
Kemudian dia kembali teringat dengan ucapan si Mbah untuk tidak memperdulikan apapun yang terjadi diluar sana. Kemudian dia kembali mencoba tidur, beberapa menit kemudian dia akhirnya tertidur pulas.
"Maura, tolong!"
Maura terbangun dari tidurnya, keringat dingin membasahi tubuhnya dengan nafas yang memburu, dia baru saja bermimpi buruk dan mimpi itu terasa nyata sekali. Dia mengambil ponselnya dan ingin menghubungi seseorang, tapi sayang telponnya saat ini tak tersambung.
"Sial!" umpatnya.
"Anak itu, kenapa dengannya? Kenapa aku bermimpi buruk tentangnya?" gumamnya terlihat gugup dan khawatir sekali.
"Khik.. khik.. khik!" terdengar suara cekikikan tepat berada didepan kamarnya.
Dan Maura tau, itu bukan sosok si Kunti melainkan sosok makhluk yang jauh lebih berbahaya lagi.
......................
Bersambung