
Vera membuka matanya pelan, dia melihat ada beberapa orang yang mengelilinginya termasuk ibu dan satpam kampus yang dia kenali.
"Vera, kamu sudah bangun, Nak?! Syukurlah, Ibu khawatir sekali denganmu.." ucap ibunya, bu Yuli salah satu rektor di kampus Vera mengajar.
"Bu Vera? Alhamdulillah, Ibu baik-baik saja, saya sangat kaget sekali tadi melihat Ibu pingsan dibawah pohon besar itu!" ucap satpam itu.
"Kenapa aku?" tanyanya bingung.
Semua orang yang ada di sana malah bingung dengan ucapannya sendiri, apa Vera benar-benar tidak ingat sama sekali?
"Bu, apa Ibu tak ingat sama sekali apa yang terjadi dengan Ibu sebelum pingsan?" tanya pak Damar.
Saat melihat Damar, Vera histeris dia berteriak ketakutan melihat lelaki itu, dia berlari bersembunyi dibelakang ibunya, membuat semua orang heran termasuk pak Damar sendiri yang terlihat kebingungan dan serba salah.
"Ver, kamu kenapa sih? Kok lihat pak Damar kayak lihat hantu saja!" tanyanya bingung.
"Di-dia, dia..." Vera tak bisa melanjutkan ucapannya, dimatanya pak Damar itu adalah pemuda yang dia lihat beberapa malam ini.
"Ver, kamu masih gak enak badan?" tanya pak Damar sambil mendekatinya.
"Jangan mendekat, dasar anak bau kencur! Berani-beraninya kamu mendekatiku!" teriak Vera.
Bu Yuli melihat adegan itu merasa ada sesuatu antara putrinya dengan pak Damar, bahkan dia mengira pak Damar lah penyebab putrinya histeris seperti itu. Tapi saat Vera mengatakan dirinya anak bau kencur, dugaannya langsung dia tepiskan.
Karena menurut bu Yuli, pak Damar cukup dewasa untuk dikatakan anak bau kencur, dia malah menatap putrinya itu aneh, terlihat begitu takut sekali menatap pak Damar.
"Vera.." ucap pak Damar berusaha menenangkan Vera dengan menyebutkan namanya langsung.
Saat Pak Damar menatap bola mata Vera, dia melihat pantulan dirinya dari bola mata gadis itu, wanita cantik memiliki mata bulat dan indah, bohong jika pak Damar tak menyukainya, hanya saja dia tidak percaya diri mendekati gadis itu.
"Bayangan itu bukan aku.." gumam pak Damar.
"Jangan-jangan yang dia lihat itu bukan aku, tapi orang lain, tapi siapa? Dan kenapa bayanganku itu bukan aku?" gumamnya lagi dalam hati.
"Bu Vera, ibu ingat siapa saya? Ibu tau nama saya?" tanya pak Damar mengujinya.
"Tentu saja, brengs*k! Kamu Danu, bocah ingusan berani-beraninya menggodaku! Bahkan kau memaksakan aku ikut denganmu!" Vera terus menceracau, mencaci makinya.
"Vera, apa yang kau katakan?! Itu pak Damar, rekanmu! Danu siapa? Siapa yang kamu maksud bocah ingusan?!" ucap bu Yuli geram dengan tingkah anak gadisnya itu.
"Dia-dia..." Vera terlihat bingung karena pemuda yang dia lihat tadi sudah tak ada, tiba-tiba saja pak Damar yang didepannya, bukan pemuda itu.
"Pa-pak Damar?" tanyanya bingung.
"Iya, saya.." jawab pak Damar masih bingung dengan sikap perubahan Vera.
"Lebih baik kita pulang saja, ini sudah malam sekali! Mulai besok kamu gak boleh mengajar siang dan malam lagi, jika diharuskan mengajar siang, sebelum magrib kamu sudah pulang dan di rumah!
Pak Damar, pak Kardi dan semuanya yang ada disini! Terima kasih sudah membantu putri saya, saya harap berita tentang putri saya ini tidak menyebar luas ke kalangan orang banyak, terima kasih atas pengertiannya.." ucap bu Yuli sambil mengajak Vera pulang.
Bu Yuli membiarkan supirnya membawa mobil Vera, sedangkan dia menyetir sendiri membawa mobilnya bersama Vera. Tinggallah pak Damar dan pak Kardi, satpam kampus itu.
"Pak.." tegur pak Damar ke satpam itu.
"Sebaiknya Bapak pulang juga, tidak baik berada di kampus ini sampai tengah malam.." ucap pak Kardi sambil berjalan menuju post jaganya diiringi pak Damar.
"Ceritakan apa yang terjadi, Pak? Saya yakin Bapak pasti tau sesuatu.." tanya pak Damar curiga dan penasaran juga.
"Sebaiknya Pak Damar pulang, kalau mau tau sebaiknya besok pagi saja saya bercerita. Besok pagi shif saya selesai, kita bisa bertemu dan berbicara.." ujar satpam itu mulai bersiap berpatroli kembali.
Pak Damar juga tak bisa memaksakan pak Kardi, jadi dia memutuskan untuk pulang juga, saat dia melewati pohon besar dengan pos jaga satpam itu, tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri.
"****! Apalagi ini!" gumamnya sendirian.
Dia menelepon bu Yuli dan menceritakan keadaan Vera, bu Yuli yang sudah pulang itu kembali lagi bersama supirnya, cukup lama Vera pingsannya setelah beberapa saat ibunya sampai dia juga terbangun.
"Tadi hanya ada aku dan pak Kardi, tapi kenapa bu Yuli bilang semuanya? Kalau begitu tadi rame banget yah? Vera juga seperti sedang mengawasi beberapa orang di sana?
****, ada apa sebenarnya? Kenapa dari tadi aku merinding terus? Ini pasti kepikiran terus dengan kejadian misterius tadi hingga merinding sendiri" gumamnya lagi.
Dia tidak tahu bahwa sedari tadi ada makhluk lain yang ikut menumpang kedalam mobilnya, duduk pas di belakang pak Damar.
Beberapa hari setelahnya, Vera kembali lagi mengajar setelah tidak mengajar cukup lama. Dia kembali seperti bu Vera seperti biasanya, galak dan judes hingga kedatangan murid baru bernama Maura, dan beberapa hari kemudian ada juga murid baru bernama Ardian.
Mereka mulai melupakan semua kejadian minggu kemarin, hingga sekitar dua atau tiga bulan kemudian, kasus baru menimpa kampus lagi, kali ini mahasiswa mereka yang kena, Meera gadis cantik itu kesurupan.
Saat itu, Vera melihat kejadian saat itu, melihat Maura dan Ardian juga dua anak santri datang bersama Kyai berusaha menenangkan Meera, saat itu pak Kyai sempat menyebut Meera dengan sebutan Nyai!
Degh!
Jantung Vera berdetak cepat, dia teringat lagi dengan memori yang hampir terlupakan dengan kejadian beberapa bulan lalu, pemuda itu berubah mengerikan dan memanggil seseorang dengan sebutan Nyai juga.
"Apa itu adalah Nyai yang sama yang diucapkan oleh Danu, pemuda itu?!" gumamnya sendiri.
Jika benar, bearti Danu adalah jin yang menyerupai seorang pemuda untuk menggodanya, saat itu.. Disaat Maura dan Ardian sedang lepas raga, para penghuni kampus itu termasuk para jin yang berada di area sekeliling kampus hendak mengambil alih tubuh mereka.
Vera tak sengaja melihat sosok yang begitu mirip dengan Danu, tapi dengan tampilan mengerikan, badannya besar penuh bulu dengan dua taring besar mencuat keatas, meskipun terlihat mengerikan, entah mengapa dia bisa mengenali jika makhluk itu adalah Danu.
"Danu.." gumamnya tanpa sadar.
Seperti memiliki sebuah ikatan, Danu menoleh kearahnya dan menyeringai menatap Vera, seolah dirinya terpanggil dia menghampiri gadis itu yang ketakutan.
Melihat itu, pak Kyai langsung menarik makhluk itu dengan seutas tali yang tak kasat mata dan mengunci kekuatan Danu, hingga makhluk itu tak bisa mendekati atau mencelakai manusia termasuk Vera sendiri.
Semenjak kejadian itu, Vera, pak Damar juga satpam kampus tidak melihat hal-hal aneh lagi di area kampus itu karena sudah di kurung dan dikunci oleh pak Kyai.
Hingga hari itu tiba, disaat Maurice dan Kevin datang untuk mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di sana, bagaimana bisa makhluk itu bisa lepas dari ikatan pak Kyai?
Makhluk itu menatap pak Damar dengan tajam dan penuh kebencian, dia merasa pak Damar adalah ancaman dan penghalang baginya untuk mendapatkan Vera kembali, padahal pak Damar tak tahu apa-apa.
"Matanya, matanya memandang cinta kepada wanitaku! Aku bisa melihatnya, dan Vera... Mengapa, mengapa aku kau biarkan seperti ini?!" ujar makhluk itu murka dan mengebrak meja yang ada di ruang staf itu, hingga membuat beberapa barang terjatuh.
"Ya ampun, Pak Yudha! Bapak kesenggol meja aja sampai berantakan seperti itu, bagaimana kalau ditabrak beneran, haha!" ledek seorang staf kepada salah satu staf teman sejawatnya itu.
Yudha, seseorang berbadan sedikit gemuk itu ikut tertawa saja mendengar candaan para staf itu, dia tau mereka hanya bercanda, yang dia pikirkan sekarang adalah, bagaimana bisa meja kesenggol dikit sama dia bisa membuat barang-barang diatas meja itu berantakan.
"Seharusnya kamu marah saat mereka meledekmu, mereka merendahkanmu! Dengan kata lain mereka mengatakanmu jelek dan tidak berguna!" ucap makhluk itu membisikkan ucapan itu ketelinganya.
Yudha mendengar itu mengira suara hatinya yang tiba-tiba merasa tersinggung dengan ucapan temannya tadi. Wajahnya yang terlihat tidak terima, lama-lama kembali tenang dan berusaha mengontrol emosinya.
Brak!
"Wah, Yudha! Apalagi ini? Masa sekali tarik laci mejanya langsung patah begitu, kuat banget tenagamu! Sehari berapa kali kau makan, haha!" ledek yang lain.
"Diam kalian, berhentilah menghinaku!" teriaknya tidak terima dan menatap nyalang kesetiap wajah para rekannya itu.
Semuanya terdiam, baru kali ini mereka melihat perubahan sikap Yudha, lelaki muda bertubuh tambun itu biasanya tersenyum dan ikut tertawa disaat lainnya bercanda mengenai tubuhnya, tiba-tiba saja marah dan tidak terima dengan perlakuan mereka kali ini.
Sedangkan makhluk tadi menyeringai senang, akhirnya dia berhasil mempengaruhi anak itu untuk membuat keonaran di sana, untuk membalas rasa sakit hatinya dan agar dia juga bisa melukai pak Damar juga.
......................
Bersambung