RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Persiapan Penyerangan


Maura gelagapan saat bangun dirinya tengah dipeluk oleh Ardian, lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu nampak sangat pulas tidurnya. Maura jadi enggan untuk membangunkannya.


"Manis sekali.." gumamnya sambil tersenyum menatap wajah Ardian dengan lekat.


"Hem.." Ardian menggeliatkan tubuhnya sesaat sebelum bangun.


Maura terkejut, dia pura-pura tidur saat Ardian membuka matanya. Dadanya berdegup kencang takut ketahuan karena sudah menatap wajah Ardian tadi, sedangkan lelaki itu juga sama dengannya, terkejut saat terbangun berada diatas tubuh Maura.


"Kenapa aku tertidur disini?" gumamnya heran.


Setelah itu dia turun dari kasur Maura dan duduk diatas kursi disamping kasur itu, dia cukup lama duduk terdiam dan memandangi Maura, mencoba berpikir apa yang terjadi semalam.


"Aku sedang berdoa dan berzikir, panglima Arialoka meminjam tubuhku.. Hem, jadi dia membiarkan aku tertidur disampingnya, dasar.. Boleh juga idenya," gumam Ardian sambil tersenyum menatap wajah cantik Maura.


Dia mendekati istrinya dan mengelus rambutnya dengan lembut, dan mengecup keningnya. Jantung Maura rasanya mau lepas saat itu juga, dia sudah tak bisa berpura-pura lagi.


"Ma-May.." Ardian terkejut saat dia melepaskan kecupan kening istrinya itu, Maura langsung membuka matanya.


"Kenapa butuh waktu yang lama untuk mencium keningku, suami? Bukankah sebelum menikah kamu begitu rajin mencium keningku?" tanya Maura langsung.


Wajah Ardian langsung pucat pasi, bukan karena takut ataupun khawatir Maura marah, tapi malu karena sang istri ternyata sudah lama menginginkannya.


"Bukankah kamu sendiri yang menolak jika aku yang minta?" tanya balik Ardian, sukses membuat Maura malu setengah mati.


"Ma-maaf.. Waktu itu, aku masih bimbang sama diri sendiri" jawab Maura sambil menunduk.


"Kalau sekarang, kamu siap?" tanya Ardian sambil menaikkan dagu istrinya itu.


Wajah Maura merona saat menganggukkan kepalanya, Ardian tersenyum senang. Dia mengecup bibir Maura dengan lembut membuat sekujur tubuh Maura merinding.


"Ja-jangan sekarang..." bisiknya pelan.


"Hehe.. Gak, sayang.. Aku tau kondisi dan situasi saat ini, mana mungkin aku melakukannya sekarang.." ucap Ardian sambil tertawa kecil, mencubit hidung bangir Maura.


Setelah itu dia bangun dan berpamitan untuk mencari sarapan, perasaan Ardian saat ini sedang berbunga-bunga. Dia sangat bahagia saat tau sang istri mulai mau menerimanya.


"Aku harus meminta dokter untuk merawat dan memberikan pengobatan yang terbaik untuknya, agar dia cepat sembuh dan kami bisa langsung pulang.." gumamnya dengan wajah berseri-seri.


Sesaat setelah membeli sarapan, dia menikmatinya dengan tenang dengan perasaan damai, dia merasa penderitaannya telah berkurang, baginya Maura adalah dunianya. Jika hubungan mereka menyedihkan atau terjadi sesuatu kepada Maura, maka hidupnya serasa hancur.


"Nah, Mbak Maura sekarang lukanya sudah hampir sembuh. Ini kemajuan yang luar biasa, sangat jarang sekali bahkan hampir tak pernah kami menemukan pasien yang bisa sembuh dari luka tusuk sedalam seperti ini.


Ini untuk pertama kalinya aku menangani pasien yang sangat luar biasa seperti Mbak Maura,, lukanya begitu cepat membaik dan mengering dengan sempurna, benar-benar kejadian langkah di dunia medis.." ujar dokter yang merawat Maura menatapnya dengan takjub sekaligus aneh.


Ardian yang mendengarnya dari luar tersenyum senang, kemudian dia masuk sambil membawa makanan untuk Maura. Dokter dan Maura tersenyum saat melihat Ardian.


"Sepertinya istri anda akan pulang cepat, Pak Ardian.. Penyembuhannya sangat cepat, diluar perkiraan kita semua. Kita tahu jika lukanya sangat dalam, luar biasa sekali dalam dua puluh empat jam lukanya sudah mengering dan membaik seperti ini.." ucap dokter itu mengungkapkan kekagumannya atas metabolisme tubuh Maura yang kuat dan luar biasa.


"Itu karena metabolisme tubuh dan daya imunnya yang kuat, Dok.." ucap Ardian sambil tersenyum bangga.


"Ya, itu benar juga.." ucap dokter itu.


Kemudian, dia menyarankan Maura untuk masih makan makanan yang disediakan oleh rumah sakit dan mengkonsumsi obatnya dengan benar.


"Kita tunggu sehari atau dua hari lagi ya, kalau besok lukanya sembuh dengan cepat, maka bisa langsung pulang. Jika masih ada peradangan, maka akan ditunda besoknya lagi atau beberapa hari lagi, sesuai kebutuhan pengobatan anda, Mbak Maura.." kata dokter itu sebelum pergi.


"Baik, Dok.. Terima kasih.." ucap Maura lega.


Maura mengangguk pelan, dan kemudian dia menurut saja saat Ardian menyuapinya makanan yang di sediakan rumah sakit untuk sarapannya.


Sementara itu, di dimensi lain. Panglima Arialoka dan Aurora nampak sedang melihat kesebuah layar besar seperti cermin raksasa, dimana itu menampakan situasi Ardian dan Maura saat ini. Mereka tersenyum puas.


"Apa kita perlu ikut campur dalam pengobatan Maura?" tanya panglima Arialoka.


"Bisa, jika itu untuk kepentingan kita bersama.." jawab Aurora.


"Maksudnya?" panglima Arialoka tak mengerti maksud dari perkataan Aurora.


"Jika kita mengobatinya hanya untuk membuat para manusia kebingungan, sebaiknya tidak dilakukan.. Kau tau bukan, tabib manusia itu.." Aurora menjawab.


"Dokter.." ralat panglima Arialoka.


"Apapun itu, dia seperti memandang aneh terhadap Maura. Aku tak ingin gadisku menjadi bahan percobaan mereka.." jawab Aurora dengan pandangan khawatir.


"Soal itu tak perlu khawatir, kita bisa menyembuhkannya tanpa memperlihatkan kecurigaan sama sekali, sembuhkan saja sedikit lukanya. Jangan terlalu berlebihan, setelah dia pulang.. Kita bisa membuatnya sembuh total" ucap panglima Arialoka dengan gamplangnya.


"Tidak semudah itu, tapi baiklah kita akan menyembuhkannya sedikit demi sedikit.." ucap Aurora lagi.


Dan benar saja, hari ini mereka bertahap mengobati Maura dari jarak jauh, pengobatan non medis, lebih tepatnya pengobatan gaib telah mereka lakukan terhadap Maura.


"Pada dasarnya, tubuhnya bisa mengobati dirinya sendiri. Karena sistem kekebalan tubuh Maura berbeda dengan manusia pada umumnya, seharusnya, dalam tiga hari tubuhnya akan pulih dengan benar, tanpa meninggalkan bekas luka tanpa cacat sedikitpun.." ujar Aurora setelah mengamati perubahan bekas luka Maura secara signifikan.


Dan setiap saat pula dokter datang mengecek bekas luka Maura termasuk keadaan Maura itu sendiri, dan anehnya lagi setiap kali dia memeriksa Maura, perubahan bekas lukanya selalu membaik.


"Kalau begini, bisa-bisa nanti malam kalian sudah bisa pulang.." gurau dokter itu.


Maura dan Ardian hanya bisa tersenyum senang, mereka berdua juga tak ingin berlama-lama di rumah sakit. Mereka harus pulang, karena begitu banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan.


.


Sementara itu, di pesantren. Pak Kyai dan para pengurus pondok pesantren dan pondok pencak silatnya nampak sedang sibuk. Semalam tanpa diduga, pesantren mereka juga kena serang oleh beberapa pasukan iblis.


Karena para iblis itu juga mengira jika pesantren itu juga begitu banyak terlibat dalam urusan Maura dengan mereka, para iblis sengaja menyerang pesantren untuk melemahkan iman para manusia yang lain, jika pesantren yang terkenal sangat alim ibadahnya bisa diserang, bagaimana dengan mereka yang hanya manusia awam biasa?


"Kita tak boleh gentar, tak boleh lengah! Kita Manusia derajatnya lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya! Tunjukan kekuasaan yang kita miliki, jangan takut karena Allah selalu ada bersama kita!" ucap pak Kyai menyemangati mereka semua agar tak takut dengan serangan itu.


Saat ini mereka sedang mempersiapkan segalanya jika akan terjadi serangan selanjutnya, para santri dan santriwati segera dipulangkan untuk sementara, untuk menghindari beberapa kemungkinan yang ada.


Hanya tinggal beberapa pengurus pondok pesantren dan pondok pencak silat saja, dan juga beberapa santri dan santriwati yang mumpuni yang bisa membantu mereka menyiapkan segala sesuatunya.


"Jika malam nanti akan ada serangan lagi, bersiaplah.. Kita akan berkumpul didalam masjid, kita berdoa, bershalawat, berzikir atas nama Allah SWT, agar terhindar dari serangan-serangan itu.


Kita juga harus berdoa dan meminta pertolongan Allah, semoga keluarga, para sahabat dan orang-orang diluar sana terhindar juga dari serangan bala tentara iblis itu, dan bersiaplah dengan segala kemungkinan yang ada.." ucap pak Kyai lagi.


Semua orang nampak bersiap dengan segala sesuatu yang akan datang nanti, rupanya para pasukan iblis dibawah pimpinan pohon keramat dan nenek Dawiyah, sudah melakukan penyerangan besar-besaran.


Bukan hanya rumah sakit tempat Maura dirawat, pondok pesantren bahkan keluarga mereka di New York, Amerika pun mereka serang.


Dan untungnya, di sana ada Angga dan Dhania bersama makhluk pelindung mereka, ada juga Julian dan Joanna bersama Rosario menahan serangan-serangan itu.


......................


Bersambung