
Mereka berdua mengendap-endap keluar dari rumah itu, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara sedikit pun agar tidak diketahui oleh para tetua itu.
Maura hanya membawa ponsel ditangannya, dia tidak ingin diketahui jejaknya jika membawa beberapa barang miliknya. Dia membawa sedikit uang di sakunya jika terjadi keadaan darurat saja.
"Maura, apakah kau yakin dengan ini semua?" tanya Nala ragu.
"Kau ini, kau yang begitu bersemangat tadi ingin menyelamatkan Nayra.. Kenapa sekarang kau ragu?!" tanya Maura kesal.
"Bukan soal itu, tapi.." dia bingung harus menjelaskan apa.
"Apakah kau masih ragu denganku? Bukankah kau sendiri tadi bilang kalau aku satu-satunya jalan agar kalian bisa bebas dan pergi dari sana?
Maka percaya saja padaku, dan aku berjanji akan membawa kalian pergi dari sini. Jauh dari mereka semua.." ucap Maura menyakinkan Nala.
Mereka sudah turun dari lantai atas, mereka menuju jalan belakang rumah itu. Mereka melewati sebuah gudang yang sudah lama dibiarkan begitu saja, salah satu tempat terlarang bagi mereka.
"Aaah.. Ssshh, aaahhh.." terdengar suara desa.han dari dalam.
Maura maupun Nala nampak begitu kebingungan dengan suara yang berasal dari dalam gudang itu.
Mereka sedikit mengintip dari luar dibalik lubang pintu itu, didalam gudang itu begitu banyak orang di sana, diantaranya para tetua dan saudara-saudara sepupu mereka yang telah dianggap lulus ujian perguruan sekte itu .
Mereka membentuk sebuah lingkaran dan dikelilingi oleh lilin-lilin kecil ditaburi beberapa jenis bunga-bunga, ditengah-tengah itu terlihat Shalimar dan Anton, kedua sepupu mereka sedang melakukan hubungan intim, di tengah-tengah mereka semua!
Shalimar adalah anak bu Sinta, sedangkan Anton adalah anak pak Haris. Kedua orag tua mereka bersaudara kandung, tapi mereka diharuskan berhubungan inses untuk melengkapi ritual-ritual mereka.
Maura maupun Nala sama-sama terkejut melihat pemandangan tersebut, bukan hanya Shalimar dan Anton saja yang polos tak berbusana, tapi semua orang di sana juga begitu, hanya saja yang lain menutupi tubuh mereka dengan jubah putih transparan, sedangkan dua orang tadi sedang bergumul melampiaskan nafsu mereka.
Krieett!
Tidak sengaja Maura dan Nala sedikit mendorong pintu itu dan akhirnya menimbulkan suara deritan kecil tadi, Nala panik dia menarik baju Maura agar mereka cepat-cepat pergi dari sana.
Tapi Maura ingin mengambil sedikit foto dan video sebagai bukti perbuatan mereka yang menyimpang itu.
"Cepat, Maura! Sebelum mereka mengetahui keberadaan kita!" bisik Nala cemas.
"Sebentar, sedikit lagi. Aku harus mengambil sedikit bukti untuk membubarkan kelakuan laknat ini" ujarnya.
Tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh suara langkah kaki berat dari anak tangga dari lantai atas, keduanya panik tak sempat bersembunyi karena dari arah pintu belakang juga terdengar suara pintu terbuka, ditambah lagi salah satu tetua didalam seperti sedang memperhatikan pintu gudang itu.
"Bagaimana ini, bagaimana ini?!" ujar Nala panik.
Maura harus berpikir cepat agar tidak diketahui oleh semuanya, mereka terjebak dari sana! Tak bisa kembali ataupun pergi sedangkan di sana tak ada tempat bersembunyi.
Mata Maura melihat tumbukan kain-kain disamping gudang itu, sepertinya itu kain gorden atau seprei ataupun selimut yang akan dicuci. Maura menarik Nala untuk bersembunyi kedalam tumpukan kain itu.
"Ta-tapi itu kotor dan bau!" ujar Nala tidak mau.
"Pilih mana, ketahuan dan menjadi korban selanjutnya atau bersembunyi disini?!" tanya Maura memberikan pilihan bagi Nala.
Karena tak ada jalan lain, mau tak mau Nala pun ikut saran dan ide Maura. Jadilah keduanya berdesak-desakan didalam baskom besar berisi kain-kain itu.
"Bau apa ini?!" tanya Nala berbisik.
"Sst, diam! Tahan aja dulu" ujar Maura berbisik.
Setelah itu mereka mendengar suara langkah berat dari arah pintu belakang menuju pintu gudang, sangat dekat dengan mereka.
Krieeet!!
Terdengar suara pintu gudang itu terbuka oleh seseorang, terdengar semakin jelas suara erangan dari dalam gudang itu, sepertinya dua pasangan inses itu sudah mencapai puncaknya.
"Nenek buyut.." terdengar suara pak Herman menyapa sosok didepan pintu itu.
Setelah itu suara langkah berat datang dari arah dalam yang turun dari lantai atas pun tiba, kali ini terdengar suara bu Sinta yang menyambutnya.
"Ayah..." ujarnya, terdengar suara bu Sinta yang mendayu seperti sedang menggoda itu.
Maura tak mengerti apapun soal itu, dia tak tahu siapa itu nenek buyut ataupun ayah yang disebutkan oleh bu Sinta tadi, tapi setelah dia melihat Nala yang begitu pucat pasi seperti sedang menahan sesuatu itu membuatnya sedikit khawatir.
"Tahan sebentar, sedikit lagi.." ujar Maura menguatkannya.
"Bu-bukan itu, ta-tapiii.." Nala berbicara terbata-bata sambil menunjuk kearah sampingnya.
Maura terkejut dengan apa yang dia lihat, tiba-tiba isi perutnya bergejolak ingin keluar, seketika dia mual tapi dia harus menahannya.
Mereka melihat ada mayat janin didalam tumpukan kain itu, sepertinya itu masih baru. Darah segar bau amis yang Nala cium tadi ternyata berasal dari mayat janin itu.
"Hoek!" Nala mulai mual-mual tak tahan melihat dan mencium bau amis itu.
Kakak, pergilah dari sini.. Jangan sampai kalian ketahuan dan dijadikan korban oleh mereka semua, aku yakin kamu akan membawa perubahan ke keluarga ini.
Jangan biarkan ini terus berlarut-larut... Aku tak ingin ada lagi korban dari keluarga ini maupun dari orang lain, kakak ... Aku percaya padamu ...
Cukup aku saja terlahir seperti ini, jangan ada lagi janin-janin tak berdosa yang dikorbankan lagi...
Maura tak sadar meneteskan air matanya setelah mendengar suara itu, suara dari roh janin yang masih begitu suci itu.
Setelah keadaan kembali tenang, mereka juga sudah mendengar suara pintu gudang itu tertutup kembali, Maura sedikit memberanikan diri melihat keadaan diluar sana.
Sepi dan sunyi, dia menarik tangan Nalan keluar dari tempat itu. Dia lihat anak itu sudah sangat lemas sekali, dia ingin mengambil janin itu untuk dikuburkan dengan layak, tapi logikanya menolak bagaimana jika mereka semua menyadari sesuatu ketika mengetahui mayat janin itu menghilang.
Mereka berhasil keluar dari rumah itu, Maura menarik tangan Nala menjauhi rumah masuk ke perkebunan teh itu menuju hutan belakang rumah.
Malam itu adalah malam pesugihan selanjutnya, nenek Dawiyah sedang bersemedi di suatu tempat tak ada yang mengetahui keberadaannya kecuali jika orang-orang di rumah itu bisa membaca peta yang disimpan oleh Nala.
Saat ini sudah lewat tengah malam, semua makhluk halus keluar dari sarangnya. Bagaikan ada pesta besar mereka semua berkumpul didalam hutan itu sampai ke perbatasan dengan kebun teh belakang rumah itu.
Sedangkan di area perkebunan teh itu sama seperti malam pesugihan sebelumnya, ada banyak makhluk lain yang datang lewat portal gaib yang sengaja dibukakan untuk mereka.
Bagaikan seorang tamu yang diundang oleh tuan rumah, mereka disajikan berbagai hidangan termasuk bangkai-bangkai binatang yang disebar di seluruh kebun teh itu, bau anyir darah segar semerbak lewat di hidung mereka, membuat Nala mual ingin muntah tapi dia harus menahannya sampai benar-benar keluar dari area perkebunan atau rumah itu.
Bagaikan de javu, mereka mengulangi kejadian malam itu sama persis seperti kejadian waktu bersama Kevin dulu.
"Maura..." bisik Nala sambil menunjuk arah bawah kakinya.
Nala maupun Maura sama-sama merasa jijik dan mual melihat kaki mereka terbenam oleh kubangan darah para bangkai binatang yang dijadikan korban sebagai sesajen persembahan untuk menyambut para tamu dari alam gaib itu.
Mereka tidak sadar berada ditengah-tengah persembahan itu, para mayit hidup itu menghirup aroma bau anyir darah itu sambil memakan bangkai binatang bercampur kotoran.
Mereka berdua dengan cepat berjalan sambil berjongkok bersembunyi dibalik pohon-pohon teh itu, mereka nekat menerobos para mayit hidup itu yang tengah fokus dengan sesembah itu.
Akhirnya dengan bersusah payah keduanya berhasil keluar dari sana, mereka bisa berdiri tegak merentangkan lengan dan pinggang mereka yang pegal-pegal karena terlalu lama berdiam diri jongkok sedari tadi.
Tapi setelah keluar dari sana bukan berarti mereka bebas dari gangguan dan bahaya, sekarang mereka harus menghadapi beberapa jin hutan yang usil suka mengganggu para manusia yang berada di sana.
Seketika keduanya menjadi pusat perhatian para makhluk itu, bukan karena keduanya manusia saja tapi karena keduanya memiliki aura yang tak biasa dimiliki oleh manusia biasa.
Apalagi aroma tubuh mereka yang mengundang selera makan mereka naik, bekas bercak-bercak darah menempel dibaju, celana dan kaki mereka membuat para jin itu semakin menyukainya.
"Hihihi! Ada mangsa baru, kalian datang tepat waktu! Kami sudah sangat lapar, tak tahan mencium aroma makanan lezat yang ada di sana, tapi kami tak diizinkan masuk!
Sekarang kalian datang sendiri menghadap kami, jadi kalian dengan senang hati menyerahkan diri. Haha! Pasti ini enak sekali, daging keturunan iblis dan darah biruuu.. Kau hidangan utamaku" ujar makhluk bersisik melingkari pohon besar yang ada di sana.
"Maaf saja jika aku akan mengecewakanmu, tapi aku dan saudaraku ini tak ada waktu untuk memuaskan isi perut kalian, kami harus pergi sekarang juga!" ujar Maura menarik tangan Nala yang ketakutan melihat sosok itu.
"Maura, kau tak takut dengannya? Ular itu sangat besar melebihi pohon kelapa! Apalagi matanya begitu merah dengan taring begitu besar dan lancip" ujar Nala heran melihatnya.
"Aku bahkan bisa melihat makhluk yang lebih besar dan lebih berbahaya darinya" sahut Maura sambil mengingat Zea.
"Benarkah?!" tanya Nala terkejut mendengar pernyataan Maura.
Tapi ketika mereka hendak melangkah pergi, ular itu dengan secepat kilat mendahului mereka menghadang jalan dengan tubuh panjangnya.
"Minggir, atau kau akan menyesal!" perintah Maura yang mulai kesal.
"Apa kau menantangku, wahai manusia?!" ujar ular iblis itu.
"Aku tak menantang ataupun mengajakmu bertarung, seperti kataku tadi aku sedang sibuk. Tak ada waktu untuk ini!" ujar Maura marah.
"Dasar manusia sombong, rasakan bisaku ini!" ujar ular itu sambil menyemburkan bisanya kepada Maura dan Nala.
Dengan secepat kilat juga Maura dan Nala menghindari serangan itu, tiba-tiba saja tubuh mereka melayang terbang melewati ular itu, Nala bingung dengan keajaiban itu, bukan dia saja bingung Maura pun demikian.
"Bagaimana bisa kami berpindah dengan cepat? Aku tak memiliki kekuatan seperti itu.." gumamnya heran.
"Cepat pergi kalian dari sini! Kalian tak memiliki banyak waktu sebelum anak itu di tumbalkan" terdengar suara yang sangat familiar oleh Maura.
Dia melihat sosok wanita cantik berpakaian perang seperti ksatria jaman dulu lengkap dengan selendang kuning keemasan sebagai senjata andalannya.
"Dewi.." gumam Maura senang.
......................
Bersambung