
Keesokan harinya, semua penghuni kost beraktifitas seperti biasanya. Hanya saja kali ini mereka masih menceritakan kejadian semalam yang benar-benar mencekam, saat Maura lewat untuk pergi kuliah, si Ranti menatapnya curiga.
"Kenapa menatapnya begitu? Ada yang aneh?" tanya Mbak Shelly.
"Semalam kan Maura gak keluar dari kamarnya, tapi pas kita semuanya sudah masuk kedalam kamar, aku melihatnya keluar dengan cara mengendap-endap, aneh kan?" ujar si Ranti mulai bergosip.
"Hus, tak baik membicarakan orang!" sahut Riska.
"Tapi fakta loh, aku juga pernah melihatnya bicara sendiri, kayaknya anaknya rada-rada gitu dehh.." sahut juga yang lain.
Riska terdiam saat mendengarkan teman-temannya berbicara mengenai Maura, dia tak bisa membantahnya ataupun mengiyakan perkataan mereka, karena dia lihat Maura normal-normal saja meskipun dia agak tertutup orangnya.
"Nak Mauraaa... Semalam ngapain keluar malam-malam?" tanya bi Surti mengagetkan Maura.
Sontak anak-anak yang lain melihat kearahnya dan menatap sinis, Maura bagaikan tertangkap basah mau gak mau harus mencari cara agar tak dicurigai.
"Semalam aku dengar ada suara anak yang sangat berisik dari luar, Bi! Kayak anak kecil menangis, aku berniat ingin melihatnya dan mengantarkannya kepada orang tuanya saja" jawabnya asal.
"Masa' sih?! Emang ada anak kecil menangis semalam?" tanya bi Surti kepada yang lain.
Semuanya terdiam lalu mengiyakan perkataan Maura, mereka jadi ragu dengan pandangan mereka terhadap Maura. Apa betul apa yang dilakukannya semalam atau hanya cari alasan saja?
"Aku pamit dulu ya, Bi.. Duluan yah!" ujarnya sambil melambaikan tangan kepada yang lain.
Semuanya hanya tersenyum kaku kepadanya, kecuali Rizka yang membalas lambaikan tangannya sambil tersenyum ikhlas.
"Bagaimana menurut kalian, apakah dia terlihat mencurigakan? Jangan aneh-aneh deh, mana mungkin dia penyebab semua hal aneh disini! Rubah cara pandang kalian yang selalu menilai orang lain dengan pandangan rendah seperti itu" ujar Rizka sambil meninggalkan mereka.
Sebelum meninggalkan rumah kostnya, Maura sempat melirik keatas pohon mangga itu, dia melihat arwah bayi itu nampak senang bermain-main dengan si Kunti diatas pohon itu.
"Aku tak boleh berlama-lama, sebaiknya aku harus mencari tahu siapa dua orang yang dimaksud dengan si Kunti" gumamnya.
Dia kuliah seperti biasanya, menjalani hidup di dunia perkuliahan seperti mahasiswa lain. Dia tak mengalami hal aneh selama seharian ini, dan tiba waktu siang harinya saat dia hendak pulang kuliah, dia melewati sebuah ruangan dan tak sengaja mendengar suara orang yang terdengar sedang bertengkar.
Bukan ingin ikut campur urusan orang lain, tapi karena dia terlanjur lewat dan sempat mendengar perkataan mereka, dan membuat dirinya penasaran.
"Aku sudah melakukan apa yang kamu minta, Di! Masa iya kamu malah pergi dengan wanita itu?! Aku udah nekat bunuh anak didalam kandunganku demi kamu, tapi kamu sudah mengkhianati aku!" terdengar suara wanita itu berteriak sambil menangis.
"Aku tak memintamu untuk menggugurkannya! Aku hanya minta kau menyembunyikannya, itu yang aku minta! Aku sudah bilang akan bertanggung jawab semuanya, tapi kau malah membunuh anak itu! Sekarang apa yang harus aku tanggung jawabkan?! Tidak ada lagi!
Dan aku lebih memilihnya dibandingkan dirimu karena dia lebih bisa menjaga diri, dan bertanggung jawab! Jika kau saja tega membunuh anak itu, apalagi hal lain!" terdengar juga suara lelaki didalam ruangan itu.
Suara mereka sangat kencang dalam berbicara, bahkan suara teriakan tangis wanita didalam sampai terdengar di koridor tempat Maura berdiri, tapi anehnya semua anak yang lewat lalu lalang cuek bebek aja, tidak menghiraukan mereka.
"Ini sangat aneh sekali, apa yang aku dengar ini nyata atau tidak.." gumamnya.
Prangg!
Terdengar benda jatuh dan pecah dari dalam diiringi suara teriakan suara wanita, lalu terdengar mereka bertengkar seperti sedang memperebutkan sesuatu.
"Berikan padaku, biarkan aku mati saja kalau begini!" teriak sang wanita.
"Baiklah kalau begitu, mati saja kau agar tak menyusahkan aku lagi!" balas sang lelaki.
"Bajingan kau, Hadi!" teriak wanita didalam ruangan itu.
"Hentikan, Maria!" lelaki itu berteriak seperti menghalangi sesuatu.
"Apa katanya tadi, Hadi? Maria?!" gumam Maura heran.
Dia langsung membuka pintu ruangan itu segera dan ingin melihat apa yang terjadi didalam, tapi yang dia lihat hanya deretan bangku kosong dan peralatan kimia.
"Apa ini? Jadi sedari tadi aku hanya mendengarkan suara angin belaka? Ah tidak mungkin, pasti ada sesuatu didalam sini. Apakah ruangan ini menyimpan banyak rahasia terpendam,? Dan tak mampu menyimpannya terlalu lama.
Tapi kenapa harus aku, apakah ini petunjuk bagiku untuk memecahkan semua misteri yang terjadi di kehidupan selama disini?" gumamnya.
Dia jadi teringat kembali dengan Ardian dan teman-temannya, seandainya mereka ada disini mungkin dia takkan kerepotan sendiri dalam memecahkan kasusnya.
"Maria, Hadi.. Siapa mereka? Apakah Maria ini adalah gadis yang sama aku cari, tapi rasanya tak mungkin" ujarnya dalam hati.
Pluk!
Ada yang menepuk bahunya dari belakang membuatnya sangat terkejut, dia melihat pak Hadi ada dibelakangnya menatapnya datar, Maura langsung bersikap sopan didepannya.
"Apa yang kau lakukan disini, Maura? Apa kau ada jadwal kelas lagi disini?" tanyanya menatap penuh selidik.
"Ma'maaf, Pak.. Saya hanya penasaran saja dengan ruangan ini, karena belum pernah melihat ada apa didalamnya" sahutnya sambil tersenyum kikuk.
"Ruangan ini adalah kelas praktek untuk kejuruan ilmiah dan sains, sekarang sudah tak dipakai lagi. Sekarang kamu keluarlah.." ujar pak Hadi melihatnya dingin.
"Kenapa dia? Sikapnya sangat aneh dari biasanya, pak Hadi itu orangnya sangat ramah dan supel, kenapa tiba-tiba berubah begitu?" gumamnya heran.
"Tunggu dulu, Apakah beliau ituu.. Akh! Tidak mungkin!" ujarnya mencoba membantah apa yang dia pikirkan tadi.
Pertengkaran dua makhluk tak terlihat tadi selalu terngiang-ngiang di telinganya, dia tak bisa melupakannya. Sampai ada ide di kepalanya untuk menemui bu Yuli di ruangannya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" terdengar suara bu Yuli didalam.
Maura membuka pintu ruangan bu Yuli dengan hati-hati dan menutupnya kembali, dia melihat ada bu dosen cantik dan killer didalamnya juga.
"Selamat siang, Bu Yuli, Bu Catherine.." sapanya hormat.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu.." ujar bu Chaterine, si dosen killer.
"Ada apa, Maura? Apa ada hal penting yang bisa ibu bantu?" tanyanya dengan ramah.
"Maaf sebelumnya, Bu.. Saya boleh bertanya sesuatu, apakah di Universitas ini ada seorang mahasiswi yang bernama Maria?" tanyanya hati-hati.
Terlihat raut wajah bu Yuli sedikit berubah, dia merubah posisi duduknya dan menatap Maura dengan lekat.
"Kenapa kau menanyakan nama anak itu, apa ada yang kau cari?" tanyanya balik.
"Ah tidak ada apa-apa, Bu.. Saya hanya ingin mencari teman saya yang bernama Maria, katanya dia juga kuliah disini. Makanya ketika saya cari tapi kok tidak ada.
Jadi saya hanya penasaran saja, tidak ada yang lain" ujarnya mencoba menjelaskan dengan gugup takut ketahuan bohongnya.
"Emm, Ibu tidak yakin soal itu. Karena di Universitas ini begitu banyak mahasiswa, dan kemungkinan yang bernama Maria itu banyak. Coba kamu lihat didaftar mahasiswa tahun ini atau satu atau dua tahun yang lalu, tapi ia kejuruan apa?" tanya bu Yuli sambil mencoba mencari sesuatu didalam filing kabinetnya.
"Em, aku tak tahu Bu.." jawab Maura pelan.
"Huff, berat juga kalau begitu. Seharusnya kamu tanyakan ke dia apa dia benar-benar kuliah disini? Dan tanyakan juga kejuruannya apa dan sudah semester apa lain kali yah.." ujarnya masih lembut kepada Maura.
"Baik, Bu. Maaf merepotkan, saya permisi dulu.." ujarnya sopan.
Dia keluar dari ruangan bu Yuli dengan rautan wajah kecewa, dia tak mendapatkan informasi apapun darinya.
"Sepertinya aku harus nekat bertanya langsung kepadanya jika bertemu lagi," pikir Maura.
Seperti biasa dia pulang sudah mendekati sore hari, kali ini dia langsung pulang dan ingin bertemu dengan Maria. Dia ingin menanyakan langsung tentang dirinya, dia merasa Maria terlibat dengan semua hal yang terjadi.
Saat dia ingin menuju rumah kostnya, dia melihat Maria berdiri didepan menunggunya, kali ini bukan dengan senyuman ceria, dan celotehan bawelnya, tapi dengan wajah serius dan senyuman tipis menyambutnya.
"Hai, apa yang kau lakukan disini? Bukannya langsung pulang?" tanya Maura berbasa-basi.
"Aku sengaja menunggumu.." jawabnya pelan.
"Oh, baiklah. Ayo pulang.." ajak Maura sambil menatapnya penuh selidik.
"Maura.."
"Iya.."
"Apa penyelidikanmu sudah membuahkan hasil?"
"Apa maksudmu?"
"Ah, tidak ada apa-apa! Bukan apa-apa.." ujar Maria sambil berjalan pelan beriringan dengan Maura.
Sampai di depan rumah, Maria tak masuk kedalam dia hanya mengantar Maura sampai kedepan pintu.
"Kenapa diam, ayo masuk!" ujar Maura menatapnya curiga.
"Maura, aku rasa kau sudah tau.. Namaku Maria Elizabeth, kejuruan kimia dan sains, anak tingkat akhir tahun '80. Cari tahu dan temukan kebenarannya.." ujar Maria sambil menatap Maura sendu.
"Apa maksudnya, aku tak mengerti?" tanya Maura bingung.
Dan tiba-tiba saja tubuh gadis itu transparan dan melayang jauh keatas pohon mangga, Maura ternganga tak percaya, Jika si Kunti adalah Maria..
......................
Bersambung