RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Akhir Dari Ratu Palsu


Pangeran Balaputradewa sangat terpukul waktu itu, dia kehilangan kekasih hatinya. Dia tak menjalankan tugasnya dengan benar, bahkan Raja dan Ratu hendak menikahkannya dengan Putri dari kerajaan lain yang cantik pun dia tak tertarik.


Dia rindu sekaligus benci dengan sang kekasih, dia rindu akan canda tawa dan senyum manisnya. Dia juga benci karena membiarkan kekasihnya mengambil keputusan yang salah itu menurutnya.


Pangeran melampiaskan amarahnya kepada sahabat sekaligus pengawalnya itu, yaitu Panglima Adipati Arialoka. Dia meminta Arialoka menebus kesalahannya dengan dikurung dan dipasung di penjara bawah tanah. Penjara paling mengerikan dan ditakutkan para tahanan lainnya.


Jika ada prajurit atau para tertinggi yang berkhianat, maka penjara itulah tempatnya. Dan kini Arialoka ada disana, disiksa dan hanya diberi makan sehari sekali, hingga Ibunya tak kuat melihat penderitaan putranya itu. Beliau meninggal dalam keadaan sakit dan penderitaan.


Mengenaskan sekali nasib Arialoka, ditinggalkan Ayahnya sejak masih remaja, pujaan hati meninggal mengenaskan hingga ditinggalkan sahabatnya yaitu Pangeran Balaputradewa. Dan terakhir Ibunya sakit dan meninggal dalam keadaan sendirian.


"Apakah kau Panglima Adipati Arialoka? Ada titipan pesan untukmu." Kata seorang lelaki memakai jubah serba hitam hampir menutupi tubuhnya itu.


"Kau siapa? kenapa kau tahu tentangku?" Tanya Arialoka, karena sudah bertahun-tahun dia dipenjara dan hampir dilupakan semua orang.


"Aku akan membawamu dari sini, dan kau akan menemui seseorang nanti." Kata lelaki itu.


Orang itu melepas Arialoka dengan mudahnya, tak ada seorang pengawal pun disana. Biasanya di tahanan dia dijaga ketat.


Saat keluar dari penjara bawah tanah dan melihat dunia luar di sana, Arialoka menyipitkan matanya karena silau oleh sinar matahari.


Maklum, selama ini dia tak pernah merasakan sinar matahari semenjak dipenjara. Diluar dugaan Arialoka, perubahan Kerajaan Sriwijaya sangatlah berbeda. Kemajuan pembangunan dan ekonomi yang membaik di bawah pimpinan Maharaja Balaputradewa.


"Jadi kau adalah Panglima Adipati Arialoka sang legenda itu." Ucap seseorang dari balik bebatuan besar ditengah hutan itu.


Iya Arialoka dibawa ke hutan untuk menemui orang itu.


"Siapa kau, apakah kau yang mengutusnya untuk membebaskanku ?" Tanya heran, dia kagum akan sosok didepannya itu. Seorang Putri cantik berpakaian mewah, dia yakin orang ini itu bukan sembarang orang.


Terlihat begitu banyak yang mengawal dan mendampinginya.


"Jangan lancang kau, rendahkan suaramu! berilah rasa hormatmu kepada Ratu yang telah membebaskanmu!" Kata salah seorang pengawal yang disana, sepertinya dia pemimpin para pengawal lainnya.


" Aku adalah Ratu di negeri ini, atas perintahku dan izin Raja kau kami bebaskan dari penjara busuk itu. Tapi kau tahu, tak ada yang gratis di dunia ini. Kau harus mengikuti perintahku jika tak ingin kembali ke penjara itu lagi." Katanya memberi perintah dengan suara yang tegas penuh wibawa.


Arialoka memang mendengar bahwa Pangeran Balaputradewa sudah naik tahta dan menjadi Raja, bahkan berita pernikahannya pun tersiar sampai ketelinganya. Dia bangga padanya, tidak hanya menjadi raja yang kuat dan berwibawa, tetapi Balaputradewa bahkan sudah melanjutkan hidupnya dengan menikah dengan Putri yang lain.


"Katakan, apa yang harus aku lakukan." Katanya menunduk dengan rasa hormat kepada sang Ratu.


Dia tidak tahu watak asli dan maksud sang Ratu itu, Ratu kehilangan akalnya. Dia tak dapat meraih cinta sang Raja, bahkan untuk melahirkan penerus Raja pun tak bisa. Karena Balaputradewa tak pernah menyentuhnya.


Bahkan Ratu sengaja mencarikan Selir untuk sang Raja agar mau memiliki garis keturunan jika memang dia tak ingin menyentuhnya.


Tapi tetap saja, Raja tidak pernah mau menyentuh semua istri-istrinya itu. Dia menikah hanya menjalankan amanah dari Raja terdahulu, dan menikahi para Selir itu juga bagian peraturan Kerajaan. Dimana para Raja diharuskan memiliki Selir minimal tiga orang.


" Dengarkan aku, Raja sepertinya kena guna-guna oleh penyihir. Dia tak pernah menyentuhku maupun Selir lainnya, padahal sebagai lelaki normal dia pasti akan tertarik melihat para istrinya yang cantik-cantik itu, terutama aku." Ujar sang Ratu terlihat angkuhnya.


Mendengar hal itu, Arialoka terpancing dan dia hampir tak bisa mengendalikan emosinya. Mendengar kata penyihir saja membuat hatinya panas menggelora. Kebencian itu sudah tertanam di hatinya.


Arialoka disuruh mengambil ramuan ajaib di kediaman Brahmana.


"Kau harus kesana dan berhati-hati, jangan sampai ketahuan Brahmana. Kau tahu Brahmana sangat setia pada Raja meskipun dia tak tahu apa yang terjadi.


Dia memiliki ramuan yang bisa mematahkan sihir itu, dan membuat Raja Kembali normal kembali." Kata sang Ratu.


" Kenapa tak meminta langsung kepada Brahmana? Aku rasa dia akan memberikannya dengan senang hati asalkan kita bicara sebenarnya." Ujar Arialoka dengan penuh kesadaran.


"Aku bisa saja, tapi kau tak tahu betapa kuatnya sihir itu sampai bisa mengalahkan logika. Brahmana pasti akan percaya dengan perkataan Raja kalau dia sebenarnya baik-baik saja padahal tidak." Ujar sang Ratu berusaha membujuk Arialoka.


Segala usaha bujuk rayunya dan tentunya dengan kisah sedih hidupnya mampu meruntuhkan kepercayaan Arialoka kepada Raja, tentunya kisah sedih Ratu itu hanya karangan belaka.


Tentu saja usaha Arialoka berhasil mencuri ramuan itu, bagaimanapun juga dia merupakan salah satu mantan Panglima besar di negeri itu.


Keesokan harinya tersebar berita bahwa Raja mati keracunan makanan. Dan kecurigaan mengacu pada Arialoka, dia dianggap masih mendendam dengan Raja karena di penjara lama olehnya.


Apalagi ada yang melihat Arialoka memasuki pekarangan Brahmana untuk mencuri ramuan ajaib itu yang sebenarnya adalah racun untuk membunuh Raja, dan dia dikambinghitamkan.


Arialoka tak pernah mengira akan kena jebakan Ratu lewat tipu muslihatnya. Ratu memutuskan membunuh Raja, jika dia tak dapat memilikinya maka yang lainpun takkan bisa juga memilikinya.


Ratu cemburu buta melihat kedekatan Raja dengan para Selir, meskipun para Selir itu pilihannya. Dia tetap tak rela jika Raja lebih memilih mereka dibanding dirinya.


Padahal Raja hanya bersikap ramah kepada para istrinya itu dan menebus rasa bersalahnya karena tak bisa menyentuh mereka.


" Dasar pengkhianat! Kau jebak aku melalui kelemahanku, kau yang membunuh Raja bukan aku!" Teriak Arialoka tak terima.


"Kau membunuhnya karena cemburu buta?!" Tanya Arialoka dengan geram.


"Tidak juga, aku tak benar-benar mencintainya. Aku hanya ingin kerajaannya, dan menyebarkan ajarannya yang dititipkan padaku." Kata sang Ratu.


"Ajaran, ajaran apa yang kau maksud?!" Arialoka sudah merasa tak enak dengan firasat itu.


Ratu hanya membalasnya dengan senyuman menyeringai dan tertawa mengerikan, wajah begitu cantik dan menawan itu berlahan-lahan berubah menjadi mengerikan.


Wujud cantik Ratu berubah menjadi nenek-nenek tua. Itulah wujud aslinya.


"Dasar penyihir tua, laknat kau! Bagaimana kau bisa menyusup kesini!" Kata Arialoka tak percaya yang dilihatnya.


"Putri ini sangatlah polos, mudah dijebak. Ketika aku menyuap salah satu pelayan disini, untuk membawanya bersamaku dia percaya jika aku adalah Raja, padahal aku yang menyamar.


Hahaha..


Gadis malang, dia harus mati dan berkorban untukku. Jantung dan hatinya sangat lezat. Emm, aku tak bisa melupakan rasa itu.


Haha.." Kata penyihir itu dengan kejamnya.


"Dasar Iblis.." Arialoka tak bisa berkata-kata lagi melihat tingkah penyihir kejam itu.


" Kini Raja Sudah mati dan bergabung dengan kekasih hatinya, kau juga akan menyusul. Tetapi bukan aku yang akan membunuhmu, melainkan Putri Kenanga Ayu. Putri Mahkota saudari Maharaja Balaputradewa.


Dia sangat kehilangan Saudaranya itu, dan berjanji akan menghukum langsung pelaku pembunuh adiknya itu. Yaitu kau, hahaha..!" Dia tertawa kejam.


Ada satu hal yang tak diketahui penyihir itu, bahwa Putri Kenanga Ayu sangat percaya kepadanya. Dan diam-diam menyelidiki kasus kematian adiknya itu.


"Arialoka, aku sangat mengenalmu sejak kita masih kecil. Aku tahu kau takkan melakukan hal keji itu." Kata Putri Kenanga Ayu yang diam-diam menyusup kedalam penjara.


"Aku hanya hamba hina tuan putri, aku tak kuasa melakukan hal itu. Mendiang sahabatku, aku rela dan iklas menjalani hukuman ini, karena aku pantas menerimanya." Kata Arialoka.


Mendengar ucapan Arialoka, sang Putri tahu dia jujur dan tak mungkin berbohong. Dia juga tahu, ada seseorang sedang mengamatinya dari salah satu sudut penjara itu.


Lalu dia menyusun strategi bersama Arialoka, dan tibalah hari eksekusi itu.


Kerajaan melakukan hukuman gantung kepada pengkhianat yang membunuh Raja, yang dilakukan ditengah lapang disaksikan oleh seluruh rakyat di negeri ini.


Mereka ingin memberi contoh bagi orang yang berusaha berkhianat, karena itulah hukumannya.


"Haha.. Sebentar lagi tak ada penghalang bagiku untuk menguasai negeri ini, aku juga sedang mengandung bayi tuanku. Aku akan memberitahukan semua kalau ini keturunan Raja, haha.."


Tetapi kebahagiannya itu hanya sementara, sesaat semuanya hadir melihat eksekusi itu terjadi. Tiba-tiba Putri mengeluarkan sesuatu ditangannya.


"Aku akan menggantung Arialoka di tiang itu bersama kalung ini. Aku dengar dia salah satu pengikut penyihir, dan kalung ini kelemahannya.


Jika dia digantung bersamaan dengan kalung ini, maka sihirnya pun akan hilang juga."


Tentu saja itu kalung palsu, yang asli masih ditangan punggawa yang berkhianat itu. Mereka membuat replikanya sama persis dengan asli, karena Arialoka masih sangat ingat bentuk asli ukiran kalung itu.


Melihat kalung itu di tangan Putri, Ratu palsu gelagapan. Kenapa dia tertipu, seharusnya dia tahu itu palsu? Tentu saja, karena usaha mereka menjebak Ratu palsu itu takkan berhasil tanpa bantuan Brahmana. Dengan ajian-ajian yang dibacakan Brahmana, maka itu cukup untuk mengelabui Ratu palsu itu.


Brahmana juga merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kematian Raja, dan dia berniat menghukum pelaku sebenarnya.


"Aku akan menggantung pengkhianat ini sendiri." Kata Putri bersandiwara.


Sambil mengalungkan kalung itu dileher Arialoka.


Tiba-tiba Ratu palsu itu merebut kalung dileher Arialoka, dia nampak berkeringat dingin dan menatap nanar semua orang.


Orang-orang yang disana keheranan melihat tingkah laku Ratu yang cukup aneh menurutnya.


"Tidak, tidak ada yang boleh menyentuh kalungku! Ini milikki, milikku..!" Katanya sambil berteriak kalap.


Usaha mereka menjebak Ratu palsu itu berhasil.


......................


Bersambung